NovelToon NovelToon
A Penliba

A Penliba

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:104
Nilai: 5
Nama Author: Kacang Kulit

"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.

"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.

Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.

***

Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 - Dasar Pendek!

"Amanda Giselle."

"Bolos, Bu."

"Hadir, Bu."

Bu Wanda yang sedang mengabsen murid-murid kelas XI IPS 2 seketika menatap sumber suara. Wanita itu mendengus karena sudah sering menghadapi kelakuan muridnya yang terkadang jahil.

Giselle menatap pemuda yang duduk di sebelahnya dengan kesal. Lagi-lagi dia memfitnah dirinya. Jelas-jelas Giselle duduk tepat di sampingnya. Apa mata pemuda itu buta?

"Saya hadir, Bu." Giselle tersenyum meminta maaf pada Bu Wanda. Absen pun dilanjutkan.

Libra--si tersangka--justru dengan santainya mengunyah permen karet. Padahal jelas-jelas ada peraturan dilarang makan saat jam pelajaran. Memang apa pedulinya?

"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.

"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.

Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu. 

Tidak tahan melihat Giselle yang menggemaskan, tangan Libra terangkat untuk mengacak-acak rambut gadis itu. Bukannya senang, Giselle semakin kesal karena tatanan rambutnya kini berantakan. Ia memang menggerai rambutnya dan karena tangan nakal Libra, sekarang rambutnya terlihat seperti habis terserang badai.

"Apa sih pegang-pegang rambut gue. Jauh-jauh sana!" Giselle menepis tangan Libra. Dia paling tidak suka jika ada yang menyentuh rambut panjangnya.

"Jangan ngambeklah, Pen. Nanti gue beliin coklat, deh." Libra mencoba membujuk Giselle dengan coklat. Pemuda itu sangat tahu apa yang dia sukai.

"Gak mau kalau cuma satu," jawab Giselle ketus. Sebenarnya dia ingin tersenyum, tetapi gengsi. Berusaha untuk bersikap biasa saja, padahal hatinya menjerit karena mendengar kata coklat. Ayolah, siapa yang tidak suka coklat? Tentu saja Giselle tidak akan pernah menolak.

Libra mendengus geli, "Mau berapa, hm?"

"Terserah." Lagi-lagi Giselle berusaha untuk tidak tertarik.

Libra menarik kepala Giselle dengan tangan kirinya dan membenamkan wajah gadis itu di ketiaknya. "Iya-iya, nanti kita beli yang banyak. Gak usah ngambek lagi."

Giselle tersenyum lebar, terima kasih pada Libra yang baik hati. Beruntung keduanya duduk di meja pojok paling belakang sehingga Bu Wanda--yang sedang duduk di meja guru--tidak terlalu memperhatikan mereka.

"Pacaran mulu lo berdua." Celetukan itu datang dari arah depan. Tepat di bangku depan Libra.

Libra dan Giselle saling pandang untuk sesaat sebelum mendengus secara bersamaan.

"Siapa juga yang pacaran. Kita mah bestfriend. Ya nggak, Pen?" jawab Libra sembari merangkul bahu Giselle.

"Iyalah, gue mah gak mau pacaran sama Libra." Giselle menjulurkan lidahnya ke arah Libra. "Gantengan juga Kak Rafka."

Farhan yang mencium bau-bau friendzone diantara mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya. Merasa heran, mereka bersahabat tapi terlihat seperti pacaran. Sangat romantis.

"Iya dah, suka-suka kalian."

Libra dan Giselle memang bersahabat sejak kecil. Terbiasa melakukan banyak hal bersama membuat mereka nyaman bersahabat. Mungkin banyak yang mengatakan bahwa tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Lalu, bagaimana dengan mereka? Hanya sang penggaris takdir yang tahu bagaimana kisah mereka berlanjut.

...***...

Jam pelajaran terakhir sebelum pulang adalah matematika. Giselle rasanya ingin menangis karena sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh guru. Berkali-kali dia mencoba untuk memahami, tetapi hasilnya malah kepalanya semakin berdenyut. Dia benar-benar menyerah.

"Baa, Libaa."

Giselle memanggil Libra dengan suara lirih. Takut-takut guru yang sedang berjalan mengelilingi meja murid-murid itu memergokinya yang tengah berniat menyontek. Tangannya menarik-narik ujung seragam pemuda itu--berusaha untuk merebut perhatian Libra yang sedang fokus mengerjakan soal-soal.

"Apa, Pen?" Walaupun tahu maksud Giselle memanggilnya, tetapi Libra tetap saja pura-pura tidak tahu. Pemuda itu ingin langsung mendengarnya dari mulut Giselle. Fokusnya masih tertuju pada buku yang ada di depannya tanpa menoleh sedikit pun pada Giselle.

"Ajariiiin," lirih Giselle. Dia benar-benar putus asa jika Libra tidak mau membantu. Siap-siap saja mendapat nilai merah, lagi. Mampus.

"Ajarin apa nyontek?" goda Libra. Dia jelas tau Giselle sangat tidak suka belajar matematika. Bukan hanya matematika sebenarnya, tetapi hampir semua mata pelajaran Giselle tidak suka.

"Nyontek, boleh?" Giselle menatap polos pada Libra. Kini pemuda itu tengah menatap Giselle sembari terkekeh geli. Sahabatnya itu memang sedikit polos.

"Nih, besok-besok belajar yang rajin, jangan kebanyakan main," ujar Libra seperti sedang menasehati anak kecil. Meskipun ia tahu nasihat itu tidak akan berpengaruh.

"Nanti kalau inget," jawab Giselle, dia sudah sibuk menyalin jawaban Libra. Beruntungnya guru yang sedang mengajar tidak ada di kelas. Beberapa detik yang lalu beliau keluar untuk menerima panggilan telepon. Jika sampai Giselle ketahuan menyontek oleh Bu Karin, habis sudah dirinya. Hukuman membersihkan toilet yang akan ia dapatkan.

"Dasar, Pendek," ejek Libra gemas.

"Dasar, Tinggi," balas Giselle tak mau kalah.

Libra menggelengkan kepalanya. Masih ada beberapa menit sebelum bel pulang berbunyi. Pemuda itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi sembari memejamkan matanya. Siang hari seperti ini memang waktu yang tepat untuk tidur.

...***...

16 Januari 2026

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!