NovelToon NovelToon
The Price Of Fate

The Price Of Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Action / Romansa
Popularitas:579
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Neraka

​"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
​Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.

​Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
​Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.

Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Lukisan

"Hei, apakah kita benar-benar akan memberikan kemampuan seperti ini kepada anak ini?" tanya salah satu entitas, suaranya bergema di antara ruang hampa. "Tidakkah ini akan menyiksanya? Hanya demi sebuah keseimbangan, beban yang kita letakkan di pundaknya mungkin akan terlalu berat untuk dipikul."

Entitas lainnya terdiam sejenak, memandangi sosok kecil di hadapan mereka. "Setidaknya... bisakah kita memberikan sedikit keringanan?"

"Entahlah. Jika dia mampu berusaha sebaik mungkin dalam hidupnya, mungkin kita bisa memberikan sebuah 'hadiah' sebagai imbalan atas kesungguhan ia," jawab yang lain dengan nada dingin.

Salah satu entitas kemudian mengulurkan tangan, jemarinya yang tak kasat mata mengusap lembut pipi bayi mungil itu. "Semoga kau kuat menjalani kehidupan ini, Nak. Walau terasa berat, tetaplah kuat dan sabar. Dunia tidak akan mudah bagimu… sama sekali tidak akan mudah"

Meski sang bayi tidak dapat melihat kedua sosok agung tersebut, ia merespons sentuhan itu dengan senyum lebar dan tawa kecil yang polos. Sebuah pemandangan yang ironis…

Keseluruh Entitas menyetujuinya...

"Keputusan sudah bulat. Kita akan memberikan kemampuan ini sekarang," ucap salah satu entitas dengan tegas.

"Namun, biarkan dia tumbuh seperti manusia biasa hingga usia tiga belas tahun. Kekuatan itu akan mulai bangkit secara bertahap hingga ia berusia tujuh belas tahun. Empat tahun masa transisi seharusnya cukup baginya untuk mulai terbiasa dengan 'kemampuan' ini."

"Sama seperti anak-anak terpilih lainnya," sahut entitas kedua. "Hanya saja, yang membedakannya adalah nasibnya yang akan jauh lebih ekstrem. Bukan fisiknya, melainkan batinnya yang akan benar-benar diuji.”

Waktu berlalu, dan bayi mungil itu tumbuh besar mengikuti garis takdir yang telah digoreskan.

Teng... Teng... Teng...

Bel pulang sekolah berdentang nyaring, diikuti suara pengumuman otomatis yang menggema ke seluruh penjuru koridor: “Selamat hari libur untuk semuanya. Semoga waktu istirahat kalian membawa semangat baru untuk esok hari.” Itulah melodi yang paling dinantikan setiap siswa setiap hari Jumat.

Seketika, tangga sekolah dipenuhi lautan siswa SMP. Deru langkah kaki mereka yang terburu-buru menciptakan simfoni keberangkatan yang riuh, sebuah tanda, bahwa pelajaran telah usai.

“Hei, Sen!” seru seorang anak laki-laki sambil menepuk bahu Andersen. “Kata Michelle, kita harus menunggu di depan gerbang. Sopirnya akan menjemput dan mengantar kita langsung ke rumahnya.”

Andersen, sang tokoh utama kita, menoleh dan tersenyum tipis. “Baik, baik... Semoga saja di rumah Michelle nanti kita dapat makan besar, ya?” candanya.

“Tentu saja, Ken! Michelle kan orang kaya, tidak mungkin dia membiarkan perut kita keroncongan,” sahut Ken dengan nada penuh semangat.

Mereka berdiri di bawah terik matahari, menunggu di depan gerbang sekolah. “Masih belum datang juga, ya?” tanya Michelle yang baru saja bergabung dengan napas yang sedikit terengah. “Sebentar, aku telepon supirku dulu.”

Michelle menempelkan ponsel ke telinganya. “Halo, Pak? Bapak di mana?... Oh, baik. Sudah di depan, ya...

Michelle menurunkan ponselnya dan menoleh ke arah teman-temannya. “Ayo, supirku sudah sampai di depan, Guys!”

“Aku sama Killa duduk di tengah ya, biar Michelle yang di depan,” sahut Nadia mengatur posisi duduk agar mereka semua bisa mengobrol dengan nyaman.

Andersen dan Ken masuk lebih dulu, mengisi baris kursi paling belakang. Setelah Michelle masuk ke pintu depan, pintu geser otomatis mobil Alphard itu tertutup dengan suara yang halus, mengunci udara sejuk AC di dalamnya.

Mobil mulai melaju membelah kemacetan sore itu. “Kita mau ke mana, Non?” tanya sang supir dengan sopan.

“Kita ke MOI saja, Om,” jawab Michelle singkat.

Jadi nya ke MOI kah?... sanggah Andersen. Iya, soalnya sekalian jalan jalan... setelah mengerjakan tugas paling asik berkeliling di mall soalnya.

"Kalau begitu, aku bilang ke mami aku dahulu ya, saut Nadia sambil mengetik chatnya."

"Iya, kalian jangan lupa kabari ortu... agar tidak dikhawatirkan."

"Oke chell..." sahut Ken.

Suasana di dalam mobil menjadi sunyi sesaat setelah Ken berhenti bicara. Andersen mengalihkan pandangannya ke luar jendela; aspal jalanan tampak beruap karena cuaca yang cukup terik.

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menembus kemacetan. Mobil berhenti dengan halus di parkiran MOI tepat pukul empat sore. Mereka segera melangkah menuju sebuah kafe yang tenang untuk mulai mengerjakan tugas kelompok.

“Kalian pesan saja dulu, aku yang traktir makanannya kok!” ujar Michelle sambil memberikan buku menu.

“Wah, terima kasih banyak, Chelle!” sahut Ken dengan mata berbinar.

“Sen, kamu mau pesan apa?” tanya Nadia yang duduk di sebelah Andersen.

Andersen menatap daftar menu sejenak. “Nasi goreng saja. Minumnya... es lemon tea. Sepertinya segar sekali di cuaca yang panas begini.”

“Hmm, aku juga mau nasi goreng deh, tapi minumnya jus mangga,” timpal Nadia.

“Bisa saja kamu ikut-ikutan, Nad,” goda Killa sambil tertawa sindir. Ia kemudian beralih menatap Andersen.

“Oh ya, Sen, tugasmu sudah selesai belum? Maksudku, bagian PPT-nya?.."

“Sudah kok, sebentar ya... langsung kukirimkan sekarang,” jawab Andersen sambil mengutak-atik ponselnya.

“Oke, masuk. Aku cek dulu ya,” sahut Killa setelah menerima file tersebut.

Setelah bergulat selama beberapa waktu dan menyelesaikan tugas mereka, Michelle meregangkan tubuhnya.

“Killa, Nadia, kita ke atas yuk? ajak Michelle. Ia kemudian melirik kedua teman laki-lakinya.

“Ken, Sen, ayo ikut juga! Temani kami ya.”

Mereka pun mulai berkeliling mal dengan santai. Di beberapa sudut mal yang estetik, Nadia berulang kali mengajak mereka berhenti untuk berfoto bersama.

Mereka juga mampir ke beberapa toko pakaian, sekadar melihat-lihat tren terbaru sambil bercanda gurau.

Di tengah deretan rak busana, Andersen mengambil dua buah jaket dan menunjukkannya kepada Nadia. “Nad, menurutmu mana yang lebih cocok untukku? Yang riding atau varsity ini?.."

Nadia mengetuk dagunya pelan, menimbang-nimbang. “Hmm, yang varsity saja, Sen. Kelihatannya lebih pas dengan gayamu,” jawab Nadia yakin.

“Halah, diskon juga harganya masih di atas tiga ratus ribu, Sen!” sahut Ken yang sejak tadi sibuk mengamati jajaran sepatu di rak sebelah.

Ya dari pada diskon besar masih diatas 500. sepatu Nike... diskon 60% Sen... Cuman 500 mah murah, ucap Ken yang sedang memegang sepatu Nike. Tak sadar diri, ucap Andersen dengan nada pelan nyaris tak terdengar...

“Kalian sudah selesai belanja?” tanya Michelle sambil melirik jam tangannya. “Sudah jam delapan lewat soalnya. Aku takutnya orang tua kalian nanti khawatir.”

Scene berganti ke suasana di dalam mobil. “Sudah jam setengah sembilan,” gumam Andersen pelan sambil menatap layar ponselnya.

Di sekelilingnya, suasana tampak tenang. Killa dan Nadia sudah tertidur pulas karena kelelahan, sementara Ken masih terjaga, tampak serius melakukan push rank di ponselnya.

“Iya, Ayah, ini sedang perjalanan pulang. Tenang saja, aku akan mengantar mereka sampai ke rumah masing-masing,” ucap Michelle yang sedang menerima telepon dari ayahnya.

1
BoimZ ButoN
anak SMA main pistol ga ada kronologis nya dlu
Ahmad Fauzan: kecuali, ada backspace yang lumayan dan sangat mempengaruhinya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!