Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Turun Langsung
“Arga, besok Mama dan Papa akan kembali ke luar negeri. Rencananya, kami ingin membawa Luna ikut bersama kami,” ucap Melani saat mereka berkumpul di ruang keluarga malam itu.
Arga yang sedang duduk bersandar langsung menoleh. “Tapi Luna sekolah, Ma.”
“Kamu tenang saja. Mama akan mengurus izin ke pihak sekolah,” jawab Melani lembut namun tegas.
Nicholas ikut menimpali, “Luna mau ikut Kakek dan Nenek, kan?”
“Mau,” jawab Luna singkat tanpa ragu.
Arga pura-pura memasang wajah sedih. “Jadi Luna mau meninggalkan Om dan Tante?”
“Bukan begitu, Om,” jawab Luna cepat. “Luna ikut Kakek dan Nenek cuma sebentar, lagian Om dan Tante pasti sibuk.”
Arga dan Vara saling pandang. Ada rasa kehilangan yang tiba-tiba menyelinap, meski mereka tahu ini hanya sementara.
Belum sempat keduanya berkata apa-apa, Melani sudah berdiri.
“Kalau begitu. Luna, ayo kita berkemas sekarang. Mau bawa apa saja? Supaya tidak ada yang tertinggal.”
Luna langsung berlari kecil ke kamarnya dengan wajah penuh semangat.
Keesokan paginya, tepat pukul delapan, semuanya sudah siap. Arga dan Vara ikut mengantar kedua orangtuanya dan Luna ke bandara, sebelum berangkat menuju perusahaan.
Sepanjang perjalanan, Luna terlihat antusias menceritakan rencananya saat di luar negeri.
“Nanti Luna akan kirim foto ke Tante!” katanya semangat.
Vara tersenyum. “Tante tunggu fotonya.”
Setibanya di bandara, suasana cukup ramai. Pengumuman penerbangan terdengar bersahutan.
Melani memeluk Arga. “Jaga diri baik-baik. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Dan ingat ada Vara yang harus kamu utamakan”
Nicholas menepuk bahu putranya. “Perusahaan memang penting, tapi keluarga tetap yang utama.”
Arga mengangguk singkat. “Papa dan Mama hati-hati di perjalanan.”
Luna kemudian menghampiri Vara dan memeluknya erat.
“Tante, nanti video call, ya.”
“Tentu. Luna juga jangan nakal. Dengarkan Kakek dan Nenek,” pesan Vara lembut.
“Iya, Tante. Luna akan ingat pesan Tante,” jawab Luna patuh.
Arga berjongkok dan merangkul keponakannya itu. “Jangan lupa Om.”
Luna terkekeh kecil. “Tidak mungkin lupa.”
"Sayang Mama pergi dulu, mama titip Arga." Ucap Melani sambil memeluk Vara.
"Ia ma, Mama hati-hati diperjalanan." Pesan Vara sambil membalas pelukan ibu mertuanya.
Pengumuman boarding terdengar. Waktu perpisahan tiba.
Melani dan Nicholas menggandeng Luna menuju pintu keberangkatan. Luna sempat melambaikan tangan sebelum akhirnya menghilang di balik antrean penumpang.
Vara menghela napas pelan. “Rumah pasti terasa lebih sepi.”
Arga menatap lurus ke depan. “Hanya sementara.”
“Ya,” jawab Vara pelan.
“Sudah. Kita langsung ke kantor,” ujar Arga kemudian.
Setibanya di perusahaan, seperti biasa para karyawan menyapa dengan hormat.
“Selamat pagi, Pak Arga.”
Namun Arga hanya mengangguk tipis tanpa banyak tanggapan. Vara berjalan sedikit di belakangnya. Ia bisa merasakan tatapan penasaran beberapa karyawan.
Meski tidak nyaman, ia berusaha bersikap biasa saja.
Saat jam makan siang tiba, Vara tidak lagi diizinkan untuk pergi ke kantin. Ia langsung menuju ruang kerja Arga, sesuai perintah sebelumnya.
Tanpa ia sadari, seseorang memperhatikan langkahnya dari kejauhan.
“Siang ini kamu mau makan apa?” tanya Arga begitu Vara masuk ke ruangannya.
Vara berpikir sejenak, lalu tersenyum. “Karena kamu yang bertanya, aku mau makan ikan bakar dan sayur daun singkong masak santan.”
Arga yang sedang fokus pada layar laptop langsung menoleh. “Apa kamu bilang? Daun singkong?”
“Iya. Kenapa? Itu enak sekali. Kamu pasti belum pernah memakannya,” ujar Vara yakin.
Arga menggeleng kecil. “Kamu ini ada-ada saja. Tidak ada makanan lain?”
“Tapi aku maunya itu. Tadi kamu yang bertanya aku mau makan apa,” jawab Vara santai.
Arga menghela napas tipis. “Baiklah. Nanti aku minta Erick memesankannya.”
Tak lama kemudian, pesanan tiba di ruang kerja Arga. Ikan bakar lengkap dengan sambal dan lalapan, serta sepiring sayur daun singkong bersantan hangat tersaji di meja.
Mereka duduk berdampingan.
Arga menatap sayur itu dengan ekspresi ragu, sementara Vara sudah terlihat tidak sabar untuk menyantap nya.
“Kamu pasti belum pernah makan ini, kan? Ayo coba,” ujar Vara sambil menyendok sedikit dan menyuapkannya ke arah Arga.
Arga sempat ingin menolak.
“Ayo, sedikit saja,” desak Vara lembut.
Akhirnya Arga membuka mulutnya.
Vara memperhatikan dengan antusias saat Arga mulai mengunyah.
“Enak, kan?” tanyanya penuh harap.
Arga menelan perlahan. “Lumayan.”
“Lumayan?” Vara mendengus kecil. “Itu enak.”
Arga menatapnya, sudut bibirnya terangkat tipis. “Mau lagi.”
Vara tersenyum puas. “Tuh, kan.”
“Tapi kamu yang menyuapi,” ujar Arga santai.
Pipi Vara memanas. “Manja sekali.”
Namun tetap saja ia menyuapi Arga lagi. Jadilah mereka makan siang bersama, Vara makan sambil sesekali menyuapi Arga, dan Arga menikmati hidangan sederhana yang justru terasa berbeda karena kebersamaan itu.
Menjelang jam pulang kerja, Erick masuk ke ruangan Arga.
“Arga, malam ini ketua kelompok Black Viper Syndicate akan datang untuk mengambil senjata yang beberapa waktu lalu ia pesan,” ucap Erick serius. “Bagaimana? Kau mau turun langsung untuk transaksi, atau seperti biasa aku dan tim saja yang menangani?”
Arga terdiam sejenak. Tatapannya menerawang, seolah menimbang sesuatu.
Sudah cukup lama ia tidak turun langsung ke lapangan.
“Malam ini aku akan datang,” jawab Arga akhirnya, suaranya terdengar mantap.
Erick tersenyum lebar. “Wah, suhu turun gunung, nih.”
Arga hanya melirik tipis. “Jam berapa mereka tiba?”
“Jam satu dini hari. Di gedung tua di ujung kota, tempat biasa.”
“Baik. Tunggu aku di sana,” ucap Arga singkat.
Ia pun segera merapikan berkas-berkasnya sebelum pulang.
Kediaman Arga malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara riang Luna yang memenuhi rumah.
“Apa Mama bilang kapan Luna akan pulang?” tanya Vara saat mereka sudah berada di kamar.
“Tidak,” jawab Arga singkat.
"Vara." Panggil Arga.
Vara menoleh tanpa suara.
“Apa yang kamu rasakan sekarang?”
“Maksudmu?” Vara balik bertanya.
“Pernikahan kita,” ujar Arga pelan. “Apa kamu sudah merasakan sesuatu… atau masih biasa saja?”
Pertanyaan itu membuat Vara terdiam.
“Jujur… aku sendiri tidak tahu apa yang aku rasakan,” lanjutnya pelan. “Tapi yang jelas, aku bahagia. Bahagia dengan perhatianmu. Bahagia dengan keberadaanmu di dekatku.”
Arga mengangguk pelan.
Semoga suatu hari, perasaan bahagia itu berubah menjadi sayang… dan cinta, batinnya. Ia belum berani mengucapkannya langsung. Ia ingin memastikan hatinya sendiri terlebih dahulu.
“Ayo tidur. Aku sudah mengantuk,” ujar Arga akhirnya.
Vara ikut naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya.
Arga menepuk lengannya pelan. “Tidak mau tidur di sini?”
Vara ragu. “Nanti lenganmu sakit.”
“Tidak akan,” jawab Arga. “Tapi kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa.”
Dengan wajah sedikit memerah, Vara memindahkan kepalanya ke lengan Arga.
Arga tersenyum tipis, lalu memeluknya. Perlahan, keduanya terlelap.
Pukul dua belas kurang, Arga terbangun.
Ia menatap Vara yang masih tertidur dalam pelukannya. Dengan hati-hati, ia melepaskan diri agar tidak membangunkannya.
Arga bersiap cepat, mengenakan pakaian serba hitam, lalu keluar rumah tanpa suara.
Gedung tua di ujung kota tampak gelap dan sunyi. Erick dan beberapa anak buah sudah menunggu.
“Selamat datang, Tuan,” sapa mereka hormat.
Tak lama, beberapa mobil hitam memasuki area. Mesin dimatikan, pintu terbuka. Seorang pria tinggi dengan aura dingin turun lebih dulu—Robert, ketua Black Viper Syndicate.
“Apa kabar, Tuan Arga? Sudah lama Anda tidak turun langsung,” sapa Robert.
“Kabar baik, Tuan Robert. Senang bisa bertemu lagi,” jawab Arga tenang. “Mari kita lihat barang pesanan Anda.”
Arga memberi isyarat. Beberapa anak buahnya membuka peti-peti kayu yang berisi senjata rakitan. Pistol presisi tinggi, senapan serbu, serta amunisi khusus.
Robert memeriksa satu per satu dengan teliti. Ia mengangguk puas.
“Saya tidak pernah kecewa dengan hasil buatan Anda, Tuan Arga.”
“Terima kasih. Senang bisa bekerja sama,” balas Arga.
Transaksi hampir selesai ketika.
Dor!
Suara tembakan menggema dari luar gedung.
Seorang anak buah Arga berlari masuk dengan napas memburu. “Tuan! Kelompok Red Scorpion Cartel menyerang!”
Wajah Arga mengeras. “Kurang ajar. Mereka tidak pernah jera.”
“Tuan Arga, izinkan kami membantu,” ujar Robert.
“Tidak perlu. Biarkan aku dan timku yang menangani. Sebaiknya Anda segera pergi,” jawab Arga tegas.
Robert mengangguk. “Hati-hati.”
Ia dan timnya segera meninggalkan lokasi.
Arga mengambil pistolnya. “Bersiap!”
Baku tembak pun tak terhindarkan. Kilatan peluru dan suara benturan terdengar bersahutan di dalam dan luar gedung.
Meski sudah lama tidak turun langsung, ketangkasan Arga masih tajam. Gerakannya cepat dan terukur. Ia melumpuhkan satu demi satu lawan yang mencoba mendekat.
Namun dalam sebuah duel jarak dekat, seorang lawan sempat mengayunkan pisau. Arga menangkis, tetapi ujung pisau itu tetap menyayat lengan kirinya.
Darah mengalir tipis.
Arga meringis, tetapi tetap berdiri tegak.
“Habisi mereka!” perintahnya.
Pertarungan berlangsung sengit, tetapi akhirnya kelompok Red Scorpion berhasil dikalahkan. Area kembali sunyi, hanya tersisa napas berat dan bau mesiu.
Erick mendekat. “Arga, kau terluka.”
“Hanya goresan kecil,” jawab Arga singkat.
"Ini akibat kau terlalu lama libur." Canda Erick.
Arga hanya mendengus pelan, ia harus segera pulang. Ia tidak ingin Vara bangun sebelum ia kembali.