💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh,detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 — STOLEN IDENTITY
Arsenio menatap layar tablet beberapa detik lebih lama. Nama pengguna itu tetap tidak berubah, sistem menunjukkan akun Alinea masih aktif di server utama Volt-Tech.
Raka berdiri kaku di samping meja.
Operator keamanan di ruang kontrol menunggu perintah berikutnya. Tidak ada yang berani bicara dulu.
Alinea menatap layar yang sama.
“Periksa alamat IP-nya.”
Raka langsung mengetik di tablet.
Sistem keamanan membuka log koneksi yang lebih rinci, beberapa baris data muncul di layar.Salah satunya menunjukkan lokasi akses.
Raka menelan ludah.
“Server internal.”
Alinea menyilangkan tangan di depan dada.
“Itu berarti seseorang memakai jaringan kantor.”
Arsenio masih menatap layar tanpa bergerak.
“Kunci ruang server.”
Raka langsung mengirim perintah ke tim keamanan. Notifikasi penguncian muncul di sistem gedung. Beberapa pintu akses berubah merah.
Namun aktivitas di server masih berjalan, seseorang masih berada di dalam sistem.
Alinea mendekat sedikit ke meja.
“Kalau dia memakai akun saya, berarti dia juga punya kata sandinya.”
Arsenio akhirnya menoleh padanya.
“Siapa saja yang pernah melihat Anda login?”
Alinea berpikir beberapa detik.
“Ada dua orang,” katanya akhirnya.
“Tim IT… dan staf yang membantu upload proposal Artha.”
Raka langsung membuka daftar nama yang mereka lihat tadi.Namun sebelum ia selesai membaca, satu notifikasi baru muncul di layar.
“Buka log file yang sedang dihapus.” Sela Alinea.
Raka memperbesar layar.
Daftar file yang dihapus muncul satu per satu.Beberapa di antaranya adalah dokumen strategi proyek Artha,tapi satu nama file membuat Arsenio berhenti.
File itu bernama
CONTRACT_PARTNERSHIP_AR
Raka menatap layar.
Alinea langsung mengerti.
“Dia bukan hanya mencuri data perusahaan.”
Arsenio menatap layar dengan tajam.
“Dia mencari sesuatu yang lebih spesifik.”
“Kontrak kita.” Balas Alinea
Ruangan itu terasa lebih berat sekarang.
Seseorang di dalam Volt-Tech bukan hanya ingin menghancurkan proyek Artha.Dia juga ingin membuka rahasia hubungan Arsenio dan Alinea.
Raka memperbesar log akses server di layar. Baris aktivitas terus bergerak, menunjukkan beberapa file masih dipindai oleh akun Alinea.
Operator keamanan menunggu instruksi berikutnya. Tidak ada yang menyentuh keyboard tanpa perintah Arsenio.
Alinea memperhatikan setiap baris data. Waktu akses muncul beberapa menit sebelum mereka melihatnya. Itu berarti orang itu sudah bekerja di dalam sistem cukup lama.
“Periksa lokasi terminalnya.” Sambung Alinea.
Raka langsung membuka peta jaringan internal Volt-Tech. Beberapa titik akses muncul di layar. Satu di antaranya berkedip merah.
Operator menunjuk layar.
“Terminal lantai tiga.”
“Kirim tim keamanan ke sana.” Balas Arsenio
Raka langsung menekan tombol komunikasi di tabletnya. Dua petugas keamanan di gedung menerima perintah melalui radio. Mereka bergerak menuju ruang kerja lantai tiga.
Sementara itu, aktivitas di server masih berjalan.Seseorang di terminal itu belum berhenti.
Alinea memperhatikan jenis file yang dibuka oleh akun itu. Beberapa dokumen proyek Artha muncul di daftar log. Namun bukan itu yang membuatnya berhenti.
Satu folder lain ikut diakses, Alinea menyipitkan mata.Folder itu berisi arsip internal eksekutif Volt-Tech.
Tidak semua karyawan memiliki izin membuka folder itu. Bahkan sebagian manajer tidak bisa melihat isinya.
“Buka daftar file yang dia cari.” Sambung Arsenio.
Raka menampilkan isi folder di layar. Beberapa dokumen terbuka satu per satu. Riwayat rapat, rencana ekspansi, dan laporan keuangan muncul di log akses.Namun pola pencarian itu terasa aneh,orang itu tidak mengambil semuanya.
“Filter berdasarkan kata kunci.” Sela Alinea.
Raka mengetik cepat di keyboard. Sistem memindai log pencarian yang dilakukan akun itu. Beberapa detik kemudian hasilnya muncul.
Kata yang paling sering dicari hanya satu.
ARTHA
Arsenio menatap layar tanpa bicara.
“Dia tidak sedang mencuri data acak,” kata Alinea.
Arsenio mengangguk sedikit.
“Dia mencari sesuatu yang spesifik.”
Raka melihat daftar file lagi.
“Semua yang berhubungan dengan proyek Artha,” katanya.
Arsenio berjalan mendekati layar. Ia memperhatikan satu dokumen yang baru saja diakses.Nama file itu membuatnya berhenti.
“Buka file itu.” Ucap Arsenio
Raka mengklik file tersebut. Dokumen terbuka di layar besar ruang kontrol. Itu adalah laporan analisis awal proyek Artha.
Alinea langsung mengenali dokumen itu.Dia yang menulisnya,namun ada sesuatu yang berbeda.Beberapa halaman terlihat sudah dimodifikasi, catatan baru muncul di bagian bawah dokumen.
Alinea membaca kalimat itu dengan cepat, ekspresinya berubah.
“Ini bukan catatan saya.”
Arsenio menatap layar.
Catatan baru itu hanya berisi satu kalimat pendek, namun cukup untuk membuat ruangan itu terasa jauh lebih dingin.
Kalimat itu bertuliskan.
“Kalau ingin menyelamatkan kontrakmu, datang sendiri.
Di bawah kalimat itu ada satu alamat.
Arsenio membaca alamat itu sekali.
Lalu membuat keputusan berikutnya.
“Kita ke sana.”
Raka menoleh cepat.
“Pak, ini bisa saja jebakan.”
Arsenio menutup file di layar.
“Kalau ini jebakan,” katanya tenang,
“berarti kita akhirnya tahu siapa yang memasangnya.”
Alinea berdiri dari kursinya.
Dan tanpa berkata apa-apa lagi, dia ikut berjalan menuju pintu.
Mobil Arsenio berhenti di depan gedung parkir tua yang terletak dua blok dari kantor Volt-Tech. Lampu di dalam bangunan itu hanya menyala sebagian. Tempat itu terlihat hampir kosong.
Raka melihat alamat di tablet sekali lagi.
“Ini lokasi yang ada di pesan tadi.”
“Kita masuk.” Jawab Arsenio.
Mereka berjalan melewati pintu parkir yang terbuka setengah. Suara langkah kaki mereka bergema di lantai beton. Beberapa mobil tua terparkir di sudut ruangan.
Alinea memperhatikan sekeliling dengan tajam.Tempat itu terlalu sepi.
“Kalau ini jebakan, orangnya tidak takut terlihat,” katanya.
Arsenio berhenti beberapa langkah di depan.Ia menatap lantai dua bangunan parkir itu,lalu membuat keputusan berikutnya.
“Kita naik.”
Tangga besi di sudut bangunan berderit ketika mereka menaikinya. Lampu neon di atas kepala berkedip pelan. Udara terasa lebih dingin di lantai dua.
Begitu mereka sampai di atas, seseorang sudah berdiri di dekat pagar pembatas.
Sosok itu tidak bergerak.
Alinea langsung mengenali siluet itu.
“Dia dari Volt-Tech,” katanya pelan.
Raka menyipitkan mata mencoba melihat lebih jelas.
Arsenio berjalan beberapa langkah mendekat.
Sosok itu akhirnya bergerak.
Dia melangkah keluar dari bayangan lampu.Wajahnya sekarang terlihat jelas.
Raka langsung berhenti berjalan.
“Itu dia,” katanya.
Nama yang mereka lihat di log server tadi.Koordinator proyek junior dari divisi administrasi.
Arsenio langsung menghampiri pria itu.
“Matikan ponselmu.”
Pria itu mengangkat kedua tangannya sedikit.
“Santai saja,” katanya.
“Kalau saya mau kabur, saya sudah kabur dari tadi.”
Alinea menatapnya tajam.
“Kenapa memakai akun saya?”
Pria itu tersenyum kecil.
“Karena itu satu-satunya cara supaya Anda datang.”
Raka menatapnya dengan kesal.
“Untuk apa?”
Pria itu menoleh ke arah Arsenio.
“Kita perlu bicara tentang proyek Artha.”
Arsenio berdiri tepat beberapa langkah di depannya.
“Bicara,” katanya singkat.
Pria itu mengeluarkan ponsel dari sakunya. Layar ponsel itu menampilkan beberapa file.
Dokumen yang sama yang tadi mereka lihat di server, namun ada satu file tambahan.
Pria itu memutar layar ponsel menghadap Arsenio.
“Ini yang sebenarnya mereka cari,” katanya.
Arsenio membaca nama file itu.
Matanya berhenti di satu kata.
ACQUISITION PLAN VOLT-TECH
Raka langsung mengerti maksudnya.
“Itu rencana pengambilalihan perusahaan.”
Pria itu mengangguk pelan.
“Dan Artha bukan klien kalian,” katanya.
“Artha adalah perusahaan yang ingin membeli Volt-Tech.”
Alinea menatap Arsenio,ini pertama kalinya dia mendengar hal itu.
Arsenio tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu, sampai akhirnya Arsenio bicara.
“Siapa yang menyuruhmu mencuri data?”
Pria itu tidak menjawab,ia hanya menatap Alinea beberapa detik, lalu tersenyum tipis.
“Bukan saya yang mencuri data.”
Raka mengerutkan kening.
“Lalu siapa?”
Pria itu menunjuk pelan ke arah gedung Volt-Tech yang terlihat dari kejauhan.
“Seseorang yang lebih dekat dengan Anda.”
Arsenio menyipitkan mata.
Pria itu memasukkan kembali ponselnya ke saku,lalu berkata pelan.
“Direktur Anda sendiri.”
Udara malam terasa lebih berat dari sebelumnya.
Alinea langsung menoleh ke Arsenio.
Karena hanya ada satu orang yang cocok dengan posisi itu.
Direktur operasi Volt-Tech.
Orang yang selama ini duduk di meja rapat yang sama dengan Arsenio.Dan orang yang memiliki akses penuh ke semua proyek perusahaan.
Namun sebelum Arsenio sempat mengatakan apapun, suara mesin mobil terdengar dari bawah bangunan parkir.Lampu mobil menyala terang,beberapa kendaraan masuk sekaligus.
Raka menoleh cepat ke arah tangga.
“Pak…”
Pria itu juga menoleh ke arah yang sama.Senyumnya menghilang.
“Sepertinya mereka datang lebih cepat dari yang saya kira.”
Langkah kaki mulai terdengar di tangga besi, beberapa orang sedang naik ke lantai dua.
“Kita pergi sekarang.” Jelas Arsenio.
Namun ketika mereka berbalik menuju tangga lain, satu suara terdengar dari atas tangga utama.Suara yang sangat dikenal oleh Arsenio.
“Tidak ada yang pergi.”
Sosok seorang pria berdiri di ujung tangga, jasnya rapi dan ekspresinya tenang.
Direktur Operasi Volt-Tech.
Orang yang baru saja disebut oleh pria tadi.Dia menatap Arsenio dengan senyum kecil.
“Sudah lama kita tidak bicara di luar kantor,” katanya pelan.
Arsenio berdiri kaku beberapa langkah dari Alinea.
Dan permainan sebenarnya baru saja dimulai.
👍
🙆✨🔥
kalo gak aku gakan UP lagi loh🫸
🙌 eitss!! becanda yak readers 😹
terimakasih banyak buat pembaca setia 🫶✨✍️🔥
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨