Dara memimpikan indahnya kehidupan setelah menikah. Dara mengira menikah dengan orang yang di cintai akan membuat hidupnya bahagia. namun kenyataannya nasib buruk yang didapatkan di rumah suaminya. dia dilakukan bak babu bahkan sering dara mendapatkan caci maki dari mertua ketika pekerjaan rumah ada yang terlewatkan. tidak hanya diperlakukan seperti babu, ketika dara ada selisih paham dengan mertua nya suaminya tidak membela dara bahkan ikut menyudutkan Dara. hal yang paling menyakitkan lagi ketika dara mendapatkan kabar dari temannya jika suaminya selingkuh dibelakang nya. bagaimana kisah Dara selanjutnya. yuk mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jihan Fahera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kado Spesial Dari Dara
Bagas beserta rombongannya memasuki tempat acara. Berhubung penghulu juga sudah tiba maka akad nikah segera dilaksanakan. Bagas yang tidak terlalu fokus hanya menganggukkan kepala saat ditanya penghulu kalau dirinya sudah siap untuk mengucapkan ijab kabul.
"Saudara Bagas, saya nikah kan engkau dengan Dita Pramesti binti anwar dengan mas kawin seberat 25 gram, serta sertifikat rumah di bayar tunai" ucap ijab wali nikah.
"saya terima nikah dan kawinnya Dara..." ucap Ijab Bagas yang salah menyebutkan nama Dara karena saat ini di fikiran Bagas tentang perubahan dara yang sangat drastis.
"ih, mas,, kamu itu nikah nya sama aku nama aku Dita bukan Dara" sungut Dita dengan emosi yang bercampur malu saat mendengar suaminya salah sebut nama. Sedangkan Bagas yang menyadari kalau dirinya salah menyebutkan nama mencoba menenangkan dirinya.
"sekalian aja gak usah jadi nikah, sertifikat rumah kan bisa aman, tapi aku juga mau gendong cucu. semoga aja ucapan Bagas benar sertifikat rumah ini akan di ganti dengan sertifikat rumah yang baru jadi rumah lama buat Dita aja gak masalah" batin Bu Dewi yang sebenarnya belum benar benar ikhlas memberikan sertifikat rumah yang dia bangun dengan almarhum suaminya untuk di jadikan mahar anaknya.
"aduh,, kok aku senang banget ya si Bagas salah ucap nama. lihat tuh bos wajahnya ular bulu udah merah banget gara gara malu, boleh ketawa yang keras gak sih. pasti si Bagas gak fokus gara gara lihat istrinya hari ini tampil menawan" ucap Riska dengan lirih tapi masih di dengar oleh Dara. Dan ucapan Riska sontak langsung dapat plototan dari Dara.
"maklum lah calon suaminya nyebutin nama istri pertama nya. Soalnya istri pertamanya lebih cantik dari istri kedua palingan Dita cuma di jadikan pabrik pembuatan anak karena istri pertama yang belum ngasih dia keturunan, paling pas udah lahiran si Dita di tendang dari hidup suaminya" terdengar kasak kusuk dari deretan orang orang yang menyaksikan acara akad nikah.
"bener banget, aku kalau jadi suami dari istri pertama udah gak kepikiran buat nikah lagi meskipun belum di kasih keturunan. Toh sekarang juga bisa program bayi tabung atau berobat. Ini mah lakinya aja yang kurang bersyukur" sahut seseorang lagi yang sangat menyayangkan keputusan mempelai pria yang ingin berpoligami.
"saudara Bagas kita ulangi lagi ijab kabul untuk yang kedua. Di harap kan nak Bagas lebih fokus agar acara akad nikah ini berjalan dengan lancar" ucap pak penghulu yang menghentikan kasak kusuk para tamu.
"apakah saudara Bagas sudah benar benar siap?" tanya pak penghulu untuk memastikan.
"insyaallah saya siap pak" sahut Bagas dengan tegas. Bagas selalu mencuri pandang kepada Dara yang penampilan hari ini mampu menghipnotis dirinya dan mampu membuat dirinya hilang fokus.
penghulu /wali nikah pun mulai menjabat tangan Bagas kembali.
"Saudara Bagas, saya nikah kan engkau dengan Dita Pramesti binti anwar dengan mas kawin seberat 25 gram, serta sertifikat rumah di bayar tunai" ucap wali nikah.
"saya terima nikah dan kawinnya Dita pra...." ucapan kabul Bagas berhenti karena dia lupa nama panjang Dita.
"mas fokus dong, sebenarnya kamu kenapa masak nama panjang aku gak hafal padahal mudah banget loh" ucap Dita yang sudah sangat emosi.
"maaf dek" ucap maaf Bagas.
Dara yang menyaksikan ijab kabul suaminya yang akan gagal segera mengambilkan air suaminya. Lalu maju dengan perlahan menghampiri suaminya lebih tepatnya sudah menjadi mantan suami.
"ini minum dulu mas, biar lebih fokus, ini udah ijab kabul yang kedua kamu salah kalau satu lagi kamu salah dalam mengucapkan ijab Kabul maka ijab kabulnya akan di ulang di lain hari jadi kamu harus fokus, semangat katanya kamu benar benar sayang dengan istri keduamu" ucap Dara yang memberi semangat Bagas.
"aduh,, terbuat dari apa sih hati istri pertamanya, lamaran di anterin, ini ijab kabul di kasih semangat agar lebih fokus dan di suruh minum dulu udah deh mbak mending sama mas aku aja. Aku ridho kok, meskipun mbaknya janda sedangkan mas ku perjaka" ucap seorang tamu.
Setelah beberapa menit kemudian.
"bagaimana saudara Bagas, acara akad nikah mau di lanjutkan atau tidak?, kalau mau ini kesempatan terakhir anda untuk mengucapkan ijab kabul hari ini, dan jika salah maka akan di ganti di lain hari" ucap pak penghulu.
"insyaallah saya siap pak, dan saya yakin tidak akan salah lagi" ucap Bagas dengan tegas.
Pak penghulu pun kembali menjabat tangan Bagas.
"Saudara Bagas, saya nikah kan engkau dengan Dita Pramesti binti anwar dengan mas kawin seberat 25 gram, serta sertifikat rumah di bayar tunai" ucap ijab wali nikah.
"saya terima nikah dan kawinnya Dita Pramesti binti Anwar dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" ucap kabul Bagas dengan lantang.
"bagaimana saksi"
"Sah" sahut serentak para saksi.
Pukul 10:00 pagi resepsi di gelar.
Dara menyaksikan pernikahan mantan suaminya dengan istri dengan tenang tidak ada rasa sedih karena dara sudah benar benar ikhlas melepas suaminya. Untuk orang tua Dara memilih tidak ikut menyaksikan pernikahan Bagas dengan Dita karena ayah Aska takut tidak bisa mengontrol emosinya jadi dia pasrah kan kepada adiknya yaitu paman Agung.
TAP TAP TAP
Terdengar suara langkah kaki Dara beserta rombongan yang berjalan menuju ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Sedangkan Bagas dan Dita menunggu di pelaminan Pandangan Bagas tidak lepas dari sosok Dara. Sedangkan Dita hanya bisa menahan emosinya karena suaminya dari tadi lepas menatap Dara.
"mas,, apakah sebelum kita menikah kamu memberikan perawatan mahal untuk istri pertama mu?" tanya Dita yang mencoba mengalihkan pandangan suaminya.
"enggak yank, tapi bagus loh dengan dia tampil cantik jadi tidak ada ucapan julid orang yang mengatakan aku tidak mengurus istri pertama dengan baik" sahut Bagas yang tidak mau ambil pusing.
Dengan langkah anggun, tenang dan penuh percaya diri Dara dan rombongan menaiki pelaminan. Saat dara sudah sampai di depan Dita, dara memberikan ucapan selamat sambil tersenyum dan berbisik.
"selamat berbahagia, terimakasih sudah bersedia mengambil tugas dan tanggungjawab ku, semoga kamu bisa merubah mas Bagas lebih baik lagi, dan tentunya semoga persalinan mu lancar" ucap Dara dengan senyum tulus.
"apa maksud mu?" tanya Dita dengan bingung.
"kamu nanti pasti akan tahu, aku harap kamu tidak senasib dengan ku" ucap Dara sambil menggenggam dan menepuk punggung Dita
Selesai mengucapkan selamat kepada Dita dara berjalan satu langkah dan mini dia berdiri di hadapan seseorang yang sudah resmi menjadi mantan suami.
"selamat ya mas, akhirnya sekarang impian mas Bagas bersanding dan hidup bersama dengan orang yang di cintai dan dapat memberikan keturunan agar hidupnya sempurna sudah tercapai. Aku juga minta maaf jika selama dua tahun ini aku belum bisa menjadi istri yang sempurna menurut mas Bagas dan tentunya banyak sekali kekurangan dari diriku ini. Oh iya aku sudah menyiapkan kado untuk kalian. Aku yakin mas Bagas dengan ula..maksud ku Dita pasti sangat menyukai nya" ucap Dara.
"Riska tolong gift box yang kamu bawa. Dibawa kesini" perintah Dara.
Sesuai permintaan Dara. Riska pun maju lalu memberikan box yang sudah di bungkus dengan rapi kepada Dara.
sementara semenjak Dara naik di pelaminan Bagas tampak setia berdiri dalam diam. Dia terus mengamati dan mendengarkan apa yang istri pertamanya ini lakukan dan ucapkan. sampai dara berdiri di depannya dia pun masih tetap diam terpaku, antara terkejut dan bingung.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Bagas sampai tidak menyadari saat Riska memberikan gift box kepada Dara.
"ehmm,, ehmm" Dara berusaha menyadarkan Bagas dari lamunannya.
"ini mas kado spesial dari aku. Ini memang tadi aku titipkan di meja penerima tamu karena aku ingin kasih ini sendiri ke kamu. Dan aku harap ini kamu buka bersama dengan istri mu. Aku yakin kado dari aku kalian akan suka. Ya sudah aku pamit mas, semoga bahagia, dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, dan ini menjadi pernikahan terakhir mu" ucap Dara lalu berjalan menuju ke ibu mertua.
"ibu, selamat ya, akhirnya impian ibu mendapat mantu yang kaya terwujud dan ibu sudah tidak malu waktu arisan membawa menantu karena menantu ibu sekarang kaya. Aku harap mantu ibu yang ini nasibnya gak sama kayak aku. Aku harap ibu bisa menerima kenyataan kalau putra ibu sudah mempunyai istri dan uang suami harusnya istri yang pegang bukan ibunya" ucap Dara sambil berbisik. Ucap Dara sontak membuat Bu Dewi melotot kan matanya.
"anak laki laki itu selamanya milik ibunya. Jadi bebas dong Bagas mau menyerahkan uang kepada ibunya. Anggap saja ini itu wujud baktinya karena sudah di besarkan sampai sekolah tinggi" sahut Bu Dewi dengan sengit.
"lagian kamu bisa tampil kayak gini pinjam uang kesiapa?, gak mungkin kan baju yang kamu pakai ini punya mu" ucap Bu Dewi lagi.
"sudah Bu,, ibu gak perlu mengurusi aku dari make up sampai baju dapatnya dari mana. Daripada darah tinggi ibu naik malah pernikahan mas Bagas dengan mantu kaya ibu berantakan gara gara ibu di panggil malaikat Izrail karena darah tinggi. Pesan ku jaga kesehatan ya Bu, aku pamit"