Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Langit pagi tampak lebih cerah dari beberapa hari terakhir, tapi suasana hati Arcelia Virellia tidak secerah itu.
Ia duduk di meja belajarnya sebelum berangkat sekolah, laptop terbuka, jari-jarinya bergerak pelan di touchpad.
Artikel yang menyudutkan Alveron Virellia semalam sudah menyebar ke beberapa akun anonim. Tapi semuanya memiliki satu kesamaan.
Sumber awalnya sama, sebuah blog kecil yang tampak tidak berbahaya.
Kenapa orang menyerang lewat tempat sekecil ini? pikirnya.
Karena kecil sering kali luput dari perhatian. Arcelia mengambil ponselnya dan memotret layar.
Bukti.
Ia belajar satu hal akhir-akhir ini, jangan bereaksi tanpa data.
Di sekolah,
Lorong terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa siswa menatapnya dengan rasa ingin tahu yang terlalu jelas. Arcelia berjalan lurus tanpa menunduk.
Kaelion Ravert sudah duduk di bangkunya ketika ia masuk kelas.
“Kau kelihatan tidak tidur,” katanya datar.
“Aku tidur,” jawab Arcelia.
“Dua jam?”
Arcelia meliriknya.
“Empat.”
Kaelion menghela napas kecil. “Kau sedang mencari sesuatu, ya?”
Ia terdiam sejenak.
“Blog pertama yang menyebarkan isu itu.”
Dan untuk pertama kalinya, Kaelion tampak benar-benar tertarik.
“Kau menemukannya?”
“Belum sepenuhnya. Tapi aku tahu siapa yang mengangkatnya lebih dulu.”
Kaelion menatapnya lebih lama.
“Jangan gegabah.”
“Aku tidak akan.”
Siang itu,
Arcelia sengaja duduk di perpustakaan lebih lama. Ia membuka kembali blog kecil tersebut.
Tidak ada nama penulis jelas.
Tidak ada kontak.
Namun ada satu detail yang membuatnya berhenti.
Format tulisan, cara menyusun kalimat, penggunaan tanda baca tertentu. Itu tidak asing.
Arcelia membuka akun media sosial sekolah dan mencari postingan lama. Ia membandingkan gaya tulisan.
Matanya menyempit perlahan, ini bukan kebetulan.
Seseorang di lingkungan sekolah mereka terlibat, bukan sekadar orang luar.
Sore harinya,
Saat Arcelia hendak keluar gerbang sekolah, suara familiar memanggilnya.
“Arcelia.”
Selena Ravert berdiri beberapa langkah darinya.
Wajahnya tenang seperti biasa.
“Kamu kelihatan lelah,” ucap Selena ringan.
“Aku baik-baik saja.”
“Tekanan publik memang berat. Apalagi kalau menyangkut keluarga.”
Arcelia menatapnya lurus.
“Kamu terdengar seperti tahu banyak.”
Selena tersenyum tipis. “Aku hanya membaca berita.”
Hening beberapa detik.
“Lucu ya,” lanjut Selena pelan, “kadang reputasi dibangun bertahun-tahun… tapi bisa retak hanya karena satu isu kecil.”
“Kecuali kalau isunya tidak benar,” balas Arcelia.
Selena mendekat satu langkah.
“Benar atau tidak… yang penting siapa yang lebih dulu dipercaya.”
Kalimat itu seperti bisikan, tapi cukup jelas. Dan Arcelia menangkap sesuatu di mata Selena.
Keyakinan.
Seolah ia yakin Arcelia tidak akan bisa menyentuh sumbernya.
“Terima kasih atas sarannya,” kata Arcelia akhirnya.
Ia berbalik dan berjalan pergi, langkahnya tenang. Tapi pikirannya bekerja cepat.
Malam itu,
Arcelia kembali membuka laptopnya. Ia memperbesar salah satu artikel, lalu menelusuri meta data sederhana yang masih tertinggal.
Tanggal unggah.
Perangkat yang digunakan.
Lokasi server awal.
Ia memang bukan ahli, tapi cukup paham untuk melihat pola. Dan satu pola itu mengarah pada sesuatu yang mengejutkan. Akses pertama ke blog tersebut dilakukan dari jaringan publik dekat sekolah.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Ini bukan permainan besar dari luar. Ini permainan dekat. Terlalu dekat.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Kaelion.
Kaelion:
Jangan bilang kau menemukan sesuatu.
Arcelia mengetik cepat.
Arcelia:
Mungkin.
Beberapa detik kemudian, balasan muncul.
Kaelion:
Kalau ini melibatkan orang yang kau pikir… kau siap?
Arcelia berhenti.
Ia menatap bayangannya di layar gelap laptop.
Siap atau tidak, ia sudah terlalu jauh untuk mundur.
Arcelia:
Aku tidak akan menyerang tanpa bukti, tapi aku juga tidak akan diam.
Ia menutup laptop perlahan.
Di luar,
Malam terasa lebih sunyi dari biasanya, dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai. Arcelia tidak merasa bingung.
Ia punya jejak.
Jejak kecil.
Tapi cukup untuk membawanya lebih dekat pada kebenaran.
Dan jika dugaannya benar… maka konflik ini bukan hanya tentang bisnis keluarga. Ini tentang seseorang yang berdiri jauh lebih dekat dari yang ia kira.
Pukul 22.47.
Arcelia Virellia masih duduk bersila di lantai kamarnya. Laptop kembali terbuka. Lampu meja menyinari wajahnya yang mulai lelah tapi tetap fokus.
Ia menarik napas pelan.
Tenang. Jangan emosional.
Ia membuka kembali riwayat akses blog itu melalui beberapa tools sederhana yang ia pelajari dari forum digital. Tidak ilegal. Hanya analisis terbuka yang memang tersedia untuk publik.
Dan satu detail kecil kembali muncul.
Komentar anonim pertama di artikel itu.
Bukan menghujat.
Tapi memancing.
Seolah sengaja mengangkat isu agar terlihat lebih “ramai”.
Arcelia menyalin isi komentarnya, Ia membaca ulang perlahan. Gaya kalimatnya… Ia pernah membaca ini.
Di mana?
Pikirannya bergerak cepat.
Grup diskusi sekolah.
Komentar debat lomba.
Tulisan opini di mading digital.
Jantungnya berdetak lebih keras. Tidak mungkin… Tapi semakin ia membandingkan, semakin jelas pola itu.
Seseorang yang ia kenal.
Keesokan paginya,
Arcelia bangun dengan mata sedikit sembab. Mama Mirella memperhatikannya saat sarapan.
“Kamu tidur larut lagi Sayang?”
“Sedikit Ma.”
Papa Alveron hanya menatapnya sekilas, lalu kembali pada koran digitalnya. Bang Kaiven duduk di ujung meja, mengetuk layar ponselnya cepat.
“Rapat dewan malam ini,” gumamnya.
Arcelia menegakkan punggung.
“Ada perkembangan?”
Bang Kaiven mengangguk kecil. “Beberapa mitra mulai ragu.”
Elvarin yang sedang menyuap nasi berhenti.
“Papa kenapa sih diserang?”
Suasana meja makan mendadak hening.
Papa Alveron tersenyum tipis pada putri bungsunya.
“Karena kalau kita naik, pasti ada yang merasa tergeser posisinya Dek.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi Arcelia merasakannya lebih dalam. Kalau kita naik, pasti ada yang tidak suka. Berarti benar. Ini bukan serangan acak.
Di sekolah,
Arcelia tidak langsung masuk kelas. Ia berhenti di depan mading digital. Beberapa siswa sedang membaca komentar terbaru tentang isu keluarganya.
Ada yang simpati.
Ada yang sinis.
Ada yang pura-pura tidak peduli.
Ia tidak bereaksi.
Kaelion Ravert muncul di sampingnya tanpa suara. “Kau terlihat seperti sedang menghitung sesuatu.”
“Aku memang sedang menghitung.”
“Apa?”
“Siapa yang terlalu aktif membicarakan ini.”
Kaelion menoleh padanya.
“Kau mencurigai seseorang.”
“Bukan hanya satu.”
Hening sebentar.
“Termasuk Selena?” tanya Kaelion pelan.
Arcelia menatapnya.
“Aku tidak menuduh tanpa bukti.”
“Tapi kau memikirkan kemungkinan itu.”
Ia tidak menjawab. Karena jawaban itu terlalu jelas.
Jam istirahat.
Arcelia sengaja duduk di kantin yang agak sepi. Ia membuka tablet kecilnya, menampilkan dua layar berdampingan.
Tulisan di blog.
Tulisan di akun sekolah.
Ia memperbesar detail tanda baca.
Penggunaan tanda titik tiga… Cara memulai kalimat dengan huruf kecil untuk efek dramatis…
Itu ciri khas.
Terlalu khas.
Tiba-tiba kursi di depannya ditarik.
Selena Ravert duduk dengan santai.
“Kamu serius sekali.”
Arcelia menutup layar tablet tanpa panik. “Kamu juga.”
Selena tersenyum ringan.b“Aku dengar keluarga kamu mulai kehilangan satu kontrak besar.”
Arcelia tidak menunjukkan reaksi. “Berita cepat sekali menyebar.”
“Memang.”
Hening tipis.
Lalu Selena mencondongkan tubuh sedikit.
“Kamu tidak capek?”
“Capek apa?”
“Berpura-pura kuat.”
Kalimat itu lembut.
Tapi nadanya seperti ujung jarum.
Arcelia menatapnya lurus.
“Aku tidak berpura-pura.”
“Semua orang berpura-pura, Arcelia.”
Detik itu, Arcelia melihat sesuatu di mata Selena.
Bukan hanya kompetisi.
Tapi kepuasan.
Seolah ia menikmati situasi ini. Dan itu membuat Arcelia semakin yakin.
Sore hari,
Arcelia menemui Kaelion di ruang latihan bela diri sekolah. Suara benturan sarung tangan dan matras terdengar keras.
Puk! Buk!
Kaelion sedang sparring dengan siswa lain.
Gerakannya cepat, tegas.
Duk!
Lawan terjatuh.
Napas Kaelion sedikit berat, tapi ekspresinya tetap dingin. Arcelia berdiri menunggu.
Setelah latihan selesai, Kaelion menghampirinya.
“Kau datang bukan untuk menonton.”
“Aku menemukan kecocokan pola tulisan.”
Ekspresi Kaelion berubah tipis.
“Siapa?”
“Aku belum bisa memastikan.”
“Kau takut salah.”
“Aku tidak mau ceroboh.”
Kaelion menatapnya lama.
“Kalau ini benar melibatkan keluargaku juga… kau tetap akan maju?”
Kalimat itu membuat Arcelia terdiam. Ia tahu maksudnya.
Selena Ravert.
Adiknya.
Saudari Kaelion.
Jika benar Selena terlibat.... ini bukan sekadar konflik sekolah. Ini konflik keluarga.
Arcelia mengangkat dagunya sedikit.
“Aku tidak menyerang orang. Aku mencari kebenaran.”
Angin sore berembus pelan di ruang latihan yang mulai sepi.
Kaelion mengangguk tipis. “Kalau begitu… aku di pihakmu.”
Arcelia terdiam. “Kenapa?”
“Karena kalau ini permainan kotor… aku juga ingin tahu siapa yang memulainya.”
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai. Arcelia tidak merasa sendirian. Tapi di saat yang sama, ia sadar satu hal.
Langkah berikutnya akan jauh lebih berbahaya. Karena sekarang, garis antara bisnis, sekolah, dan keluarga… mulai menyatu.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....