Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis finis masa depan
Pagi itu, suasana di kediaman keluarga Kencana terasa jauh lebih lapang. Pengkhianatan Pak Guntur memang meninggalkan luka, namun mengungkap kebenaran memberikan ketenangan yang selama sepuluh tahun ini tidak pernah mereka rasakan. Kalingga kini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, meninjau ulang semua berkas perusahaan dengan bantuan Zelene agar tidak ada lagi celah bagi pengkhianat. Ruang kerja yang biasanya tegang kini sering kali terbuka lebar, membiarkan sinar matahari masuk dan menyinari meja kayu besar yang dulu terasa dingin.
"Cassie, sarapan dulu," panggil Kalingga dengan nada yang jauh lebih lembut.
Cassia turun dengan seragam balap profesionalnya yang baru. Warna dasarnya hitam, dengan aksen perak dan logo Valkyrie di bagian dada. Tidak ada lagi wig. Rambut pendeknya ia biarkan alami, menunjukkan identitasnya sebagai pembalap yang mandiri. Ia tidak lagi bersembunyi di balik identitas "Phantom" yang misterius; hari ini dia adalah Cassia Kencana yang sebenarnya.
"Hari ini kualifikasi pertama untuk liga nasional, kan?" tanya Kalingga sambil memberikan segelas susu dan sepiring roti gandum.
"Iya, Kak. Kak Galaksi sudah menunggu di sirkuit utama. Kami harus melakukan pemeriksaan teknis terakhir pada mesin sebelum sesi latihan bebas dimulai," jawab Cassia penuh semangat. Ia memeriksa sarung tangannya, memastikan pelindung buku jarinya terpasang dengan pas.
Kalingga tersenyum, meski ada sedikit kecemasan di matanya. "Hati-hati. Kali ini lawannya bukan preman jalanan, tapi atlet profesional dengan jam terbang tinggi. Mereka punya strategi tim dan mekanik terbaik. Tapi Kakak tahu, adik Kakak adalah yang terbaik."
Sirkuit Internasional Sentul, 10:00.
Sirkuit resmi terasa sangat berbeda dari jalanan aspal Devil’s Curve. Aspalnya halus, tikungannya memiliki zona pengaman yang luas, dan ada ribuan penonton di tribun. Bau bensin dan karet terbakar memenuhi udara, menciptakan atmosfer kompetisi yang nyata. Cassia merasa sedikit gugup saat melihat deretan motor dari tim pabrikan besar, namun saat ia melihat Galaksi berdiri di depan paddock mereka, rasa gugup itu menguap.
Galaksi mengenakan setelan balap yang serupa. Ia terlihat lebih bugar, meski bekas luka di bahunya akibat insiden masa lalu masih meninggalkan jejak. Saat Cassia mendekat, Galaksi tidak mengatakan apa-apa, ia hanya menyerahkan helm milik Cassia yang sudah dibersihkan kacanya hingga mengilap.
"Ingat teknik yang kita pelajari di sirkuit tua," bisik Galaksi saat Cassia mulai memakai helmnya. "Di sini, kecepatan bukan segalanya. Konsistensi adalah kunci. Jaga suhu banmu di tiga lap pertama, jangan terlalu agresif di tikungan awal."
"Siap, Kapten," sahut Cassia dari balik visor helmnya.
Saat mesin-mesin motor berkapasitas 600cc itu dinyalakan, suara raungannya memekakkan telinga. Getarannya terasa hingga ke tulang. Cassia berada di posisi start ketiga hasil kualifikasi pagi tadi, sementara Galaksi di posisi pertama. Ini adalah pertama kalinya mereka berkompetisi secara legal di bawah nama Kencana Racing Team, tim yang mereka bangun dari puing-puing kehancuran keluarga mereka.
Lampu merah menyala satu per satu, lalu padam seketika. Lampu hijau menyala.
Cassia memacu motor barunya, Valkyrie-01, dengan presisi yang luar biasa. Ia tidak lagi terburu-buru seperti saat balapan liar. Ia mengamati gerakan lawan di sisi kiri dan kanannya, mencari celah di setiap tikungan tanpa membahayakan diri sendiri atau pembalap lain. Galaksi memimpin di depan, mengambil jalur balap yang sempurna, namun ia sengaja menjaga ritme agar Cassia bisa mengikutinya di posisi kedua dan terlindung dari tekanan pembalap di posisi keempat.
Di tribun, Kalingga, Talishia, dan Zelene berteriak mendukung. Zelene tidak sedetik pun melepas pandangannya dari tablet yang terhubung ke sensor motor. "Tekanan ban stabil, suhu mesin di angka 95 derajat. Dia melakukannya," gumam Zelene takjub. "Kecepatan Cassia di tikungan keempat adalah yang tertinggi di sesi ini. Dia mengambil sudut kemiringan yang sangat tajam tapi tetap terkendali."
Di lap terakhir, bendera putih dikibarkan. Cassia melihat kesempatan di tikungan S besar. Ia tidak menyalip Galaksi dengan cara yang kasar atau berisiko. Ia menggunakan arus angin atau slipstream dari motor Galaksi untuk menambah momentum di trek lurus, lalu di tikungan terakhir yang tajam, ia memiringkan motornya hingga sudut yang ekstrem. Lututnya menyentuh aspal sirkuit dengan ringan saat ia melakukan manuver late braking. Ia keluar dari tikungan lebih cepat dan berhasil melewati garis finis dengan selisih waktu hanya 0,1 detik dari Galaksi.
Cassia menang.
Begitu ia melepas helmnya di area parc ferme, Galaksi sudah ada di sampingnya, memberikan tepukan bangga di bahu Cassia. Kerumunan penonton bersorak, dan nama Kencana Racing Team terpampang besar di papan skor digital.
"Selamat, Phantom. Lo resmi jadi pembalap profesional sekarang," ujar Galaksi dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan.
Cassia tertawa, matanya berbinar karena adrenalin dan kebahagiaan. "Kita melakukannya, Kak! Ini baru permulaan."
Kalingga datang berlari dari arah pit, memeluk adiknya dengan erat. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan akan kejaran polisi atau serangan preman. Di bawah terik matahari sirkuit, mereka menyadari bahwa garis finis balapan ini sebenarnya adalah garis start untuk kehidupan baru mereka yang lebih jujur dan bermartabat.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...