Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 - Closer
Keesokan harinya, kami berempat sarapan dalam diam. Mama dan Papa tidak mengungkit lagi soal perjodohan Ana dan Henry. Mungkin mereka memberi waktu Ana untuk berpikir sendiri.
Setelah sarapan, aku berangkat kerja menggunakan motor—motor yang dibelikan Papa saat aku masuk kuliah. Sementara Ana, yang kuliah di fakultas kedokteran, diberi mobil. Alasan Papa sederhana: hadiah karena prestasinya, sekaligus keamanan Ana, mengingat anak kedokteran pasti sering pulang malam.
Aku sendiri tidak mengikuti jejak Ana. Aku tidak ingin menjadi dokter; bau rumah sakit saja membuatku ilfil, dan aku sadar, kemampuan akademikku tidak cukup untuk masuk fakultas kedokteran. Sebaliknya, aku memilih mengikuti jalur Henry mengambil jurusan bisnis, meski ia kuliah di luar negeri.
Setelah cukup lama melewati jalanan ibu kota yang ramai, akhirnya aku sampai di Gedung Natura Foods. Aku langsung masuk ke basement untuk memarkirkan motor.
Begitu aku memasuki area parkiran basement, suara Caca terdengar memanggil dari ujung barisan motor. “Lia… Lia… sini!”
Aku langsung memarkir motor di sebelah milik Caca.
“좋은 아침… (Selamat pagi…)” sapa Caca.
“좋은 아침… (Selamat pagi…)” balasku.
Caca adalah temanku sejak SMA. Dialah yang mengenalkanku pada segala hal tentang Korea. Sayangnya, kami bekerja di divisi berbeda: Caca di R&D, aku di Marketing.
“Lia… matamu kenapa? Kamu habis nangis?” tanya Caca.
Deg!
Bagaimana dia tahu?
Apa yang harus kukatakan? Caca tahu aku menyukai Henry, tapi haruskah aku memberitahunya soal rencana perjodohan Henry dengan Ana?
“Ah… aku tahu! Kamu nangisin episode terbaru drama Traces of Love, waktu Ji-hye dan Jin-ho berpisah, kan?” tebak Caca.
“I… iya… karena itu.” jawabku bohong. Padahal tadi malam aku tidak menonton sama sekali, berita dari Mama terlalu mengejutkan untuk kutanggapi.
“Emang sedih banget, ya, adegan itu.” ucap Caca.
“Ya udah, yuk naik lift.” ajakku, berusaha mengalihkan topik.
Kami berjalan menuju lift. Kupencet tombol, dan tak lama pintu terbuka.
Aku langsung terdiam. Henry berdiri di dalam lift, bersandar di dinding.
“Eh, Pak Henry? Pagi, Pak…” sapa Caca.
“Pagi…” jawab Henry, suaranya datar seperti biasanya.
Caca langsung menyenggol lenganku.
“Lia…”
“Hah?” Aku menoleh ke arahnya.
“Kenapa kamu diam?” tanya Caca.
“Nggak apa-apa… Pagi, Pak.” jawabku, berusaha terdengar santai.
“Pagi…” ucap Henry, menatapku sekilas.
Aku masuk lift dan berdiri di depannya, sementara Caca tetap di sampingku. Jantungku berdegup kencang. Aku ingin bertanya tentang perjodohan Henry dengan Ana, tapi sekarang bukan waktu yang tepat, apalagi ada Caca.
Lift naik sampai ke lantai satu. Pintu terbuka, dan orang-orang mulai masuk bersamaan. Tanpa sadar, Caca terdorong ke arahku, hampir membuatku terhimpit. Sebelum aku sempat menyeimbangkan diri, tiba-tiba tangan Henry meraih tanganku, menarikku hingga tubuh kami berhadapan. Jarak kami sangat dekat.
Aku terkejut. Jantungku berdetak kencang.
“Tadi kamu kayak mau terhimpit Caca, jadinya saya tarik. Kalau saya biarkan, nanti kamu terhimpit dan melaporkan sebagai kecelakaan kerja lagi.” ucap Henry dengan tenang.
Aku hanya diam, mencerna ucapannya. Jika dia bukan orang yang aku sukai, mungkin aku akan kesal. Tapi Henry… Henry terkenal dingin, kadang ucapannya memang menyakitkan, tapi tetap saja… ada sesuatu tentang caranya memperhatikanku.
Pintu lift menutup dan lift bergerak naik. Karena canggung, aku menundukkan kepala, mataku terpaku ke lantai dan kakiku yang berdekatan dengan kaki Henry.
Pintu lift terbuka di lantai dua, divisi Marketing.
“Lia, lantai divisi-mu.” ucap Caca.
“Ah… iya.” jawabku.
Beberapa orang turun dari lift, dan aku ikut turun lift dengan jantung masih berdebar kencang.
“Pagi…” sapaku saat masuk ruanganku.
“Pagi…” balas semua orang.
Aku berjalan menuju mejaku.
“Mbak Lia… gimana rasanya?” tanya Merry, staf junior yang duduk di belakangku.
“Rasanya apa?” tanyaku bingung.
“Bertatapan sama Pak Henry.” jawab Merry polos.
Deg!
Mataku membelalak.
Bagaimana bisa Merry menanyakan hal itu begitu saja?
“Apa?!” Fera dan Riki, yang duduk di sampingku, terkejut.
“Merry, maksudmu apa?” tanya Fera.
“Tadi di lift… Mbak Lia hampir terhimpit Mbak Caca, terus Pak Henry narik Mbak Lia, jadinya mereka berhadap-hadapan.” jelas Merry panjang lebar.
“Merry… nggak usah diceritain.” cegahku.
“Cerita aja, Mer. Aku pengen tahu. Nggak usah peduliin Lia.” tambah Fera.
Aku hanya menghela napas, menyalakan komputer, dan membiarkan Merry bercerita.
“Kalau aku jadi Mbak Lia, mungkin aku udah pingsan kali, lihat tatapan Pak Henry yang tampan itu.” ucap Merry dengan ekspresi serius.
“Kenapa Pak Henry kayak gitu ke Lia?” tanya Fera.
“Katanya sih biar Mbak Lia nggak terhimpit dan nggak dilaporin sebagai kecelakaan kerja.” jawab Merry.
“Kok aku kesel dengernya, ya?” ucap Fera.
“Apa Pak Henry suka sama Lia?” tiba-tiba tanya Riki.
Aku dan yang lain serentak terkejut.
“Nggak mungkin, Riki.” jawabku.
“Kalau bukan karena itu, terus karena apa?” tanya Riki lagi.
“Ya, mungkin cuma alasan kayak yang Pak Henry bilang tadi. Udah ah, nggak usah ngomong yang aneh-aneh.” ucapku.
“Aku cuma nebak aja kok. Kalau salah ya udah.” tambah Riki.
“Tapi yang dibilang Mas Riki benar juga, Mbak. Tadi aku liat tatapan Pak Henry beda ke kamu.” kata Merry.
“Merry, daripada kamu membaca tatapan orang, mending baca pasar.” ucapku sambil tersenyum. Dina dan Beni menahan tawa di samping Merry.
“Selamat pagi…” sapa Pak Arman, kepala divisi, masuk menandai dimulainya hari kerja.
“Pagi, Pak…” jawab kami serentak.
“Lia, Fera, Riki… kalian sudah siap presentasi produk baru hari ini?” tanya Pak Arman.
“Sudah, Pak.” jawab kami bertiga serempak.
“Bagus. Nanti kita persentasikan di depan Pak Henry langsung seperti biasa.” ucap Pak Arman.
“Baik, Pak.” jawab kami lagi serempak.
Setelah aku, Fera, dan Riki menyiapkan semua hal untuk presentasi produk baru, tepat jam sepuluh pagi rapat pun dimulai.
Henry duduk di sebelah kiri, sendirian, ekspresinya seperti biasa: dingin dan sulit ditebak. Sementara aku dan yang lainnya duduk di seberangnya, di sisi kanan. Pak Arman menempati kursi tepat di seberang Henry.
Orang pertama yang maju adalah Riki. Ia mempresentasikan Sandwich Wrap Instan, dengan berbagai isian: ayam, tuna, dan sayuran segar. Menurut Riki, produk itu sangat cocok untuk pekerja kantoran maupun mahasiswa yang membutuhkan makanan cepat tapi tetap nyaman.
Henry mengangguk setelah presentasi Riki. Entah dia menyukai produknya atau tidak, aku tak bisa menebaknya.
Orang kedua adalah Fera, yang mempresentasikan Smoothie Bowl Instan, sarapan cepat sehat yang tinggal ditambahkan susu atau yogurt. Cocok untuk mereka yang sibuk, pekerja maupun mahasiswa.
Setelah presentasi Fera, Henry kembali mengangguk, tetap diam seperti biasanya.
Kini tiba saatnya aku. Napasku tercekat sejenak, jantung berdegup lebih cepat dari biasanya.
“Produk yang akan saya presentasikan untuk produk baru perusahaan kita adalah… Tteokbokki dan Jajangmyeon instan.” ucapku dengan suara sedikit gemetar, tapi berusaha tegas.
Pak Arman dan Henry tampak terkejut.
“Lia… kenapa kamu memilih makanan itu? Bukannya itu makanan Korea?” tanya Pak Arman, suaranya menahan rasa penasaran.
“Betul, Pak. Itu makanan Korea. Saya memilih dua makanan ini karena memang dua makanan Korea kesukaan saya.” jawabku, menahan gemetar sedikit di lidah.
Henry menatapku, matanya penuh rasa ingin tahu. “Jadi kamu memilihnya karena diri kamu sendiri?”
“Iya… eh, bukan…” aku terbata, bingung harus menjawab bagaimana.
“Iya atau bukan?” tanya Henry, nada suaranya ringan tapi menuntut jawaban pasti.
“Tentu saja saya memilihnya setelah melihat pasar. Sekarang banyak orang yang menyukai Korea. Jadi saya terpikirkan makanan Korea apa yang bisa dibuat instan. Lalu saya ingat dua makanan Korea kesukaan saya ini.” jelasku, berusaha terdengar meyakinkan.
“Ah… begitu. Tapi itu saja alasanmu memilih dua makanan ini? Karena banyak yang suka Korea?” ucap Henry, matanya menatapku tajam.
“Iya, Pak. Tapi yang menyukai Korea bukan hanya kalangan atas. Kalangan menengah ke bawah juga banyak. Sementara restoran Korea di sini rata-rata mahal. Jadi saya ingin menghadirkan produk baru ini bagi pecinta Korea dari semua kalangan. Sebagai pecinta Korea, saya tahu betul bagaimana rasanya ingin mencoba makanan yang ada di drama Korea.” jawabku, menahan debar jantungku agar tetap terdengar tegas.
Henry menatapku beberapa saat, lalu tersenyum tipis. “Bagus. Saya suka ide kamu.”
Deg! Jantungku seakan berhenti sejenak. Setiap melihat Henry tersenyum, rasanya dunia di sekitarku menjadi lebih hangat. Aku tahu reaksi yang sama pasti membuat yang lain terkejut juga—karena Henry jarang sekali menunjukkan senyumnya.
Aku menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Fera dan Riki saling bertukar pandang, tampak kaget tapi juga sedikit kagum. Pak Arman mengangguk pelan, ekspresinya serius tapi menyiratkan penghargaan.
Saat itu aku menyadari sesuatu: bukan hanya ideku yang diapresiasi, tapi juga percaya diri dan caraku mempresentasikan sesuatu yang aku sukai. Perasaan campur aduk antara gugup, bangga, dan… entah, perasaan aneh melihat Henry tersenyum padaku.
Aku menundukkan kepala sebentar, mengambil napas dalam-dalam, dan meyakinkan diri sendiri: hari ini baru awal. Masih banyak yang harus kuhadapi, tapi untuk pertama kali, aku merasa… cukup percaya diri bahwa langkah kecilku ini bisa membuat perbedaan.
Dan satu hal yang jelas, senyuman Henry hari ini akan terus terngiang di pikiranku.