Leana putri tunggal seorang pengusaha yang tidak pernah terekspos, sehingga dia di kenal sebagai anak orang miskin yang masuk ke tempat elit demi menaikkan derajat. Menjadi pacar seorang anak miliyader membuatnya menjadi pusat perhatian, Reno putra ke tiga dari keluarga ternama di kotanya, Ketika berkunjung kerumah sang pacar dia mendapati teman baiknya sedang berduaan. Meminta pertanggung jawaban namun tak di hiraukan Reno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhe vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Setelah semua yang terjadi, aku mendapat kabar bahwa Reno dan Melinda akan di nikahkan?
Bukankah mereka baru saja wisuda.
Ray bilang kalau Melinda datang kerumah pada waktu tengah malam sambil menangis-nangis karena dia bilang kalau Melinda sedang hamil anaknya Reno, wajar sih jika sampai terjadi kehamilan toh mereka sudah umur matang untuk memiliki anak.
Ayah Ray marah besar dan meminta Reno untuk bertanggung jawab dengan anak tersebut, awalnya Reno menolak karena dia tidak sanggup menghidupi Melinda kedepannya.
"Bekerjalah di perusahaab ayah agar kamu bisa menghidupi Melinda". Kata Ray menirukan cara bicara ayahnya.
"Lalu dia bilang apa?".
"Manager personalia, lalu dia protes kenapa hanya manager dia ingin jadi kakai tangan ayah, jelas beliau menolak mentah-mentah. Katanya apa kata orang nanti kalau aku cuma manager katanya".
"Semakin lama kok dia semakin tidak tahu diri ya beb, kayak di kasih hati dia malah minta jantung".
"Itulah, aku juga tidak mengerti, lalu bagaimana dengan kita Love".
"Kita jalani aja dulu ya beb". Pelukku pada pacar kesayanganku itu
Selama orang tuaku kembali ke pekerjaan mereka aku jadi sendirian lagi, namun ketika aku merasa bosan aku akan pergi ke apart di sebelah unit Ray atau sekedar jalan-jalan sendirian.
Satu minggu kemudian, Melinda dan Reno menikah secara sederhana karena mengingat bahwa Melinda sudah hamil besar. Namun terlihat jelas bahwa Melinda tidak menyukai acara sederhana ini.
Hanya di hadiri orang terdekat dan keluarga saja, karena belum memiliki rumah mereka akan tinggal di rumah keluarga Wilder.
Di taman belakang rumah keluarga Ray di hias begitu cantik walaupun hanya orang-orangnya saja yang di undang, tapi menurutku beginilah seharusnya pernikahan sederhana tapi memiliki makna mendalam. Pernikahan ala taman begini sangat cantik, cuacanya juga mendukung.
"Cantik banget hiasannya beb".
"Nanti aku bikin yang mewah untuk kamu".
"Bukan begitu, jarang-jarangkan ada pernikahan di alam terbuka begini biasanyakan di dalam gedung-gedung dengan dekorasi yang mewah".
"Kamu suka yang seperti ini". Aku mengangguk.
"Bukan berarti aku suka dengan orang yang akan menikah ini, tapi aku suka dengan dekorasi seperti ini".
"Baiklah baiklah".
Acara pernikahan Melinda dan Reno terasa begitu hikmat dan tanpa ada kendala. Beberapa tamu memberi mereka ucapan selamat termasuk aku dan Ray.
"Selamat ya, semoga langgeng terus kedepannya". Ucapku
"Makasih loh Lea, sebentar lagi kami juga akan punya anak loh, Reno juga sayang banget sama kami".
"Syukurlah, sehat-sehat dedek bayi".
"Ini cucu pertama keluarga Wilder loh". Melinda dengan sombongnya.
Aku hanya tersenyum, aku tahu semua tentang keluarga ini dan hubungannya dengan Reno. Aku hanya takut kedepannya dia akan kecewa dengan apa yang dia ucapkan.
Walaupun Asael dan Isabella belum memiliki anak, tapi aku yakin itu akan terjadi sebentar lagi.
"Aku nggak mau punya anak". Kata Isabella saat kami duduk bersama.
"Loh? Kenapa".
"Aku dan Asa sudah sepakat, kami sibuk jadi tidak punya banyak waktu dengan anak-anak nanti, makanya kami sudah memutuskan jika keluarga kami punya anak kami akan menganggap mereka anak kami juga".
"Berarti anak Melinda juga dong". Ucapku polos
"Mending cepat-cepat nikah deh kamu sama Ray". Jawab Isabella santai.
"Ih bella".
"Loh kenapa, kamu tahu sendiri Reno itu siapa, jadi apa hubungannya anak Melinda sama keluarga ini".
Aku hanya bisa tersenyum. Biarlah Melinda dengan mimpinya sesaat sampai suatu hari dia akan tahu asal usul Reno, namun jika aku menikah dengan Ray dan kami punya anak apa anak kami akan menjadi yang pertama dalam keluarga ini?.
Satu meja tanpa Melinda dan Reno rasanya aku merasa sedikit iba pada mereka berdua, dimana harusnya berkumpul bersama keluarga namun mereka terlihat seperti terasingkan.
Gaun pengantin Melinda apa tidak terlalu terbuka, ya ku akui badannya memang bagus tapi itu terlalu seksi nggak sih.
"Ray matanya di jaga ya". Pinta mama Ray
"Duh mata Ray mana bisa kelain ma, ada Leana yang lebih cantik di sini".
"Ih apa sih malu tau".
"Apa yang perlu di maluin sih Love, lah kamu kan memang cantik, kalau lihat wanita modelan Melinda begitu aku merasa ilfil terlalu besar begitu apa dia nggak risih".
"Ya kan pria sukanya begitu beb gimana sih".
Ray hanya tertawa, melihat putranya itu mama Ray hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Sepulangnya dari acara pernikahan Melinda dan Ray kami pamit pulang ke apart.
Entah kenapa semakin lama dengan pria ini membuatku semakin ketergantungan akan keberadaannya dan perasaan ini juga semakin dalam padanya.
"Melamun apa?". Tanya Ray
"Nggak, cuma lagi mikirin tentang kita aja".
"Memangnya kita kenapa?".
"Nggak tau". Aku memeluk erat tubuh priaku ini.
"Beb, jika kita seperti ini terus apa tidak apa-apa".
"Apa sih yang kamu takutin? Takut aku sama perempuan lain? Asal kamu tau saja walaupun banyak wanita yang lebih dari kamu di luar sana, tapi kalau aku sudah milih kamu, aku bakalan sama kamu terus". Ucapnya lembut
"Bukan cuma sekedar kata-kata saja kan?".
"Iya,, kamu mau bukti apa?".
"Udah cukup, ini lebih dari cukup kok".
"Beb, apa mereka berdua bakalan tinggal di sana?".
"Kayaknya iya sih, kenapa memangnya".
"Mama kan nggak suka sama Melin?".
"Nanti aku akan ajak kamu kerumah, kita lihat bagaimana mama memperlakukan Melinda itu dirumah".
"Semoga mama baik-baik saja sama Melin, dia lagi hamil kasihan bayinya".
"Hais inilah aku yang nggak sukanya dari kamu, kamu terlalu baik Love". Peluknya padaku
Jika melakukan semua ini adalah dosa biarlah aku menanggung semua ini, karena aku yakin priaku ini akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padaku.
Hari-hari ku lalui dengan kesibukkan sebagai pengangguran, terkadang aku pergi ke kantor Ray hanya sekedar mencari kesibukkan karena aku bosan di apart. Aku lebih suka tinggal di apart karena aku akan selalu dekat dengan Ray, jika dirumah aku takut di gerebek warga walaupun rumahku tertutup rapat tapi siapa tau dengan hati orang.
"Sibuk banget kamu beb".
"Ya beginilah, namanya cari nafkah buat kamu juga kan nanti".
"Apa benar kamu mau menikahiku beb?".
"Kenapa tiba-tiba? Ya jelaslah aku akan menikahimu".
"Gimana kalau aku hamil kaya Melin".
Ray mendekat ke arahku yang duduk di kursi tamu ruangannya.
"Itu lebih baik, dan ketika aku tahu kalau kamu hamil hari itu juga aku akan menikahimu dan membuat pesta pernikahan megah buat kamu".
"Tapi kan, kalau aku hamil dia jadi anak di luar nikah?".
"Dia kan anakku dan dia juga akan menjadi tanggung jawabku".
Aku memeluk erat Ray dan tidak lupa mengucapkan teriimakasih untuk segalanya.
semangat ngetik thor sampe tamat..