Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Berduaan Semalaman
Ogi segera mengambil kunyit dari dalam wadah. Ia lalu menghaluskan kunyit tersebut. Selanjutnya, dia mencampurnya dengan bahan lain dan langsung dimasak dengan panci kecil.
Sementara di dalam kamar, Arisa tak berhenti tersenyum saat mengingat kelakuan Ogi kentut tadi. Menurutnya itu sangat manis.
Tak lama kemudian, Ogi datang. Dia mengajak Arisa duduk di meja makan. Katanya sekalian makan malam.
Arisa segera pergi ke meja makan. Di sana makanan sudah disajikan oleh Ogi. Bahkan ada kerupuk melarat khasnya di dalam sebuah toples besar.
"Makasih ya, Kang. Harusnya aku yang masak buat kamu," tutur Arisa sembari duduk.
"Punten atuh, Neng. Lagian kan kita bukan suami istri sungguhan atuh," sahut Ogi. Dia menyodorkan segelas jamu kunyit asam buatannya. "Ayok diminum jamunya, Neng. Biar nyerinya pulih," katanya.
"Makasih ya, Kang..." Arisa lantas meminum jamu buatan Ogi. Dia menyesapnya karena lumayan panas.
"Neng suka jamu kan?" tanya Ogi.
"Suka lah, Kang! Dan ini enak banget! Ini benar Kang Ogi yang bikin sendiri?" pupil mata Arisa membesar. Dia tampak bersemangat menikmati jamu kunyit asam buatan Ogi.
"Alhamdulillah deh kalau Neng Arisa suka..." ungkap Ogi senang. Ia tak kuasa menahan senyuman.
"Suka banget, Kang. Makanan yang dibikin pakai tangan memang lebih enak dibanding yang instan. Soalnya biasanya aku minum yang begitu. Ada kan jamu instan yang pakai botol itu," jelas Arisa.
"Kalau yang instan pasti pakai pengawet, Neng. Nggak bagus atuh," tanggap Ogi.
"Bener tuh!"
Ogi tersenyum sambil menatap Arisa dengan mata yang berbinar-binar. Seolah matanya membentuk bentuk hati yang besar. Lelaki itu benar-benar sudah jatuh cinta pada istri kontraknya.
"Kunyit asam juga bagus buat kulit Neng. Kata Eyang bikin badan sehat dan awet muda atuh. Nanti aku bikinkan tiap pagi deh, Neng..." kata Ogi.
"Jangan, Kang! Ajari saja aku cara bikinnya. Biar aku bisa bikin sendiri," balas Arisa.
"Nanti lain kali ya, Neng..." tanggap Ogi. Dia dan Arisa lantas mulai menikmati makan malam bersama. Kala itu masih ada sayur sop ayam buatan Asih yang baru dipanaskan Ogi.
"Kang! Ini kerupuknya pemasarannya sudah sampai mana sih?" celetuk Arisa.
"Lumayan atuh, Neng. Hampir ke seluruh provinsi Jawa Barat..." jawab Ogi.
"Aku punya ide terkait usaha kerupuk ini, Kang. Mau dengar nggak?"
"Katakan saja atuh, Neng. Kalau idenya bagus buat usahaku dan juga para teteh yang kerja, aku pasti senang sekali menerimanya."
"Produksi kerupuk ini menurutku bisa diperbesar. Kang Ogi bisa bikin kerupuk matang dan yang mentah. Terus kalau yang matang, bisa dikasih berbagai rasa gitu. Nah, aku juga punya saran terkait bentuknya. Sebaiknya bentuknya dibuat berbeda-beda. Dan buat bentuk yang agak kecil agar anak muda tertarik membelinya," jelas Arisa panjang lebar.
"Wah... Idenya bagus juga itu, Neng. Nanti deh aku coba buat," sahut Ogi. Jujur saja, dia sangat suka ide itu.
"Iya! Coba saja, Kang! Nanti aku akan promosikan di internet," tanggap Arisa.
Bersamaan dengan itu, hujan deras mendadak turun. Suaranya yang menghantam atap cukup nyaring. Hawa dingin mulai menyelimuti suasana.
"Pas banget hujan ya, Kang. Jadi lebih enak minum jamunya," imbuh Arisa.
"Iya atuh, Neng..." tanggap Ogi.
Selepas makan malam, Arisa dan Ogi membereskan meja dan mengumpulkan piring dan gelas kotor.
"Biar aku saja yang cuci, Kang!" ujar Arisa seraya berjalan ke arah depan keran. Kebetulan di rumah itu tidak ada wastafel. Biasanya Asih akan mencuci piring di bawah sambil berjongkok.
Namun baru melangkah ke dekat keran, Arisa tiba-tiba terpeleset. Dia jatuh sampai terduduk ke lantai.
"Aduh!" rintih Arisa, di iringi suara terjerembab yang nyaring. Piring yang dipegangnya ikut jatuh dan sebagian besar pecah.
"Neng!" Ogi sontak cemas dan langsung menghampiri Arisa.