Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EMOSI YANG TAK KUNJUNG MEREDA
Sore mulai meluruh, menyisakan semburat jingga yang memudar di balik tirai jendela vila yang berat. Dea terbangun dengan perasaan linglung; matanya terasa panas dan berat—sisa dari pergulatan batin yang melelahkan sebelum ia jatuh terlelap.
Kamarnya yang nampak remang-remang, hanya menyisakan bayangan perabot yang memanjang di lantai, menciptakan suasana sunyi yang justru terasa menekan. Namun, keheningan itu pecah oleh sebuah suara yang mendadak membuat jantungnya mencelos.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan itu tidak keras, namun terdengar tegas dan beraturan. Dea tersentak duduk, merapikan rambutnya yang berantakan dengan gerakan gugup. Napasnya tertahan. Ia tahu ritme ketukan itu. Ia mengenal berat hantaman jemari itu pada kayu pintu kamarnya. "Kak Vhirel..." gumamnya.
"Dea? Kamu di dalam?"
Suara berat Vhirel merembes masuk melalui celah pintu, rendah dan serak, membawa kembali semua memori siang tadi yang seharusnya sudah Dea kubur dalam tidurnya.
Sensasi tubuh pria itu yang menindihnya, aroma khas yang bercampur dengan keringat maskulin, dan tatapan gelap yang tak seharusnya dimiliki seorang kakak—semuanya kembali menghantam dirinya lagi, kali ini dalam satu gelombang besar.
"I-iya, Kak? Suara Dea nyaris hilang, terjepit di kerongkongannya yang kering.
Ia memandang gagang pintu dengan perasaan waswas sekaligus antisipasi yang berdosa. Kini, ada bagian dari dirinya yang ingin berteriak agar Vhirel pergi, menjauh darinya sebelum segalanya menjadi semakin kacau. Namun, bagian lain dari batinnya—bagian yang merasa 'diakui' oleh tamparan Sofia dan tatapan lapar Vhirel—justru menahan napas, menunggu apakah gagang pintu itu akan bergerak turun.
Di balik pintu itu, Vhirel berdiri membeku. Ia baru saja kembali dari pelariannya, namun langkah kakinya justru menuntunnya ke sini, ke depan kamar gadis yang telah mengacaukan seluruh definisinya tentang "keluarga".
"Kenapa jugaa Mama suruh aku yang suruh dia turun!" Gerutu Vhirel sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. "Haish!"
Tok. Tok. Tok!
Pintu itu di ketuk Vhirel, kali ini lebih tergesa. seakan kegelisahan di dadanya tak memberinya pilihan selain segera mendapat jawaban.
"Deeeeeeek!" Pekiknya. "Deeeee..."
Vhirel menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak seolah sedang mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya yang berserakan di sepanjang jalan tadi. Ia maju selangkah lebih dekat ke arah pintu, hingga aroma kayu jati yang dingin itu menyentuh keningnya. "De—"
Krek!
Pintu terbuka dengan gerakan cepat dan lebar, memutus kata-kata Vhirel di udara. Seolah-olah Dea pun sudah berdiri di balik pintu itu sejak lama, menunggu dengan kegelisahan yang sama besarnya.
Dan, di saat itu juga mata mereka beradu.
Dunia di koridor vila yang remang itu mendadak sunyi senyap. Tidak ada suara jangkrik dari luar, tidak ada deru angin. Hanya ada tarikan napas yang tertahan di antara keduanya.
Mata Dea yang sedikit sembab dan memerah menatap langsung ke dalam manik mata Vhirel yang gelap dan keruh. Ada ketakutan di sana, tapi ada juga sesuatu yang jauh lebih berbahaya, sebuah undangan yang tak terucap.
Sementara Vhirel, ia terpaku. Ia tidak menyangka pintu akan terbuka begitu lebar, menelanjangi posisi mereka yang kini hanya berjarak beberapa senti saja. Hingga, ia bisa melihat detak jantung Dea di pangkal lehernya yang terbuka, dan di detik itu juga, aroma khas yang menghantuinya sepanjang jalan tadi kembali menyerang penciumannya lagi. Kali ini, tanpa ada jarak yang menghalangi.
Keheningan itu bukan lagi keheningan yang damai, itu adalah keheningan sebelum badai—penuh dengan gema dari apa yang terjadi di lantai kamar tadi siang, dan ketegangan dari apa yang mungkin terjadi di ambang pintu ini sekarang.
"Kamu..." suara Vhirel pecah, lebih rendah dari biasanya. Lembut, lirih, namun penuh penekanan yang mendadak lolos dari bibirnya.
Dea tertegun. "Ka-Kak Vhirel..."
"Ka-kamu..." Vhirel tertegun. "KAMU KENAPA LAMA BANGET BUKA PINTU KAMAR?!" Maki Vhirel seketika. "Haiiisssh...! Kuping kamu lebar panjang kayak kelinci masa dari tadi Kakak ketuk kamu gak denger?!"
"A-apa?!" Balas Dea tak mau kalah. Matanya yang tadinya penuh keraguan seketika menyala oleh api amarah. "Kakak pikir aku ini satpam?! Aku tadi lagi tidur, Kak! Lagian ketukan Kakak itu pelan banget, mana kedengeran sampai mimpi!"
Benteng pertahanan mereka kembali tegak melalui pertengkaran kakak beradik. Sebab itulah yang Vhirel inginkan. Ia membutuhkan amarah ini. Ia membutuhkan teriakan dan makian kasar itu untuk menghancurkan sisa-sisa kelembutan yang sempat menyusup ke dalam hatinya. Baginya, kemarahan adalah satu-satunya benteng yang tersisa untuk melindungi kewarasannya dari bayangan aroma tubuh Dea yang terus menghantuinya sejak siang tadi.
"Tidur apa mati suri? Pintu diketuk sampai mau roboh juga tetap aja diam!" Sambung Vhirel sambil berkacak pinggang, mencoba mendominasi ruang sempit di antara mereka. "Cepat keluar. Makan siang tadi kamu cuma makan sedikit, sekarang sudah mau malam. Jangan buat Mama sama Papa khawatir, apalagi kalau dapat kabar dari orang-orang nanya kenapa adiknya kurus kering kayak lidi!"
Dea menghentakkan kakinya, merasa kesal karena momen "aneh" tadi hancur seketika oleh mulut tajam Vhirel. "Ya udah, nggak usah pakai teriak! Kakak sendiri kenapa baru pulang? Tadi pergi nggak bilang-bilang, sekarang pulang-pulang malah marah-marah! Kerasukan setan sore darimana?!"
"Vhireeeel.... Deaaaaaa?!"
Panggilan itu memecah ketegangan di udara bak hantaman palu pada kaca tipis. Suara Maudi yang melengking dari lantai bawah, terdengar jelas di telinga keduanya. "Kenapa kalian malah jadi ribut? Ayo cepat turun! Kita di undang Pak Bowo buat makan malam di rumahnya."
"I-Iyaaa, Ma!" Tanggap Dea dengan nada meninggi.
"Gak usah teriak!" Protes Vhirel. "Toh, kita ribut aja kedengeran Mama."
Dea menatap lurus Vhirel. Begitu juga Vhirel yang tak mau kalah. Hingga, keduanya kini saling berhadapan, saling melempar tatapan tajam yang sebenarnya adalah kedok dari rasa frustrasi yang sama. Di balik kata-kata kasar itu, keduanya sedang berteriak dalam hati. Kenapa kamu harus sedekat ini? Kenapa aroma kamu masih sama? Dan kenapa kejadian tadi siang tidak mau hilang dari kepalaku?! Kenapa?!
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,