NovelToon NovelToon
Sumpah! Arwah

Sumpah! Arwah

Status: tamat
Genre:Hantu / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:101.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..

Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutang yang harus di bayar

"Pak," bisik salah satu warga bernama Jaka, memecah keheningan. Pak Warsito, Jaka dan beberapa orang lainnya tengah berada di pos ronda. Bersiap untuk keliling desa.

"Apa Bapak kepikiran soal ucapan Ratmi tadi? Tentang... hutang darah?"

Pak Warsito mengusap wajahnya yang kasar. Bayangan kuku Ratmi yang mencakar tanah hingga berdarah kembali melintas.

"Jangan sembarangan bicara, Jak. Bisa saja itu cuma tipu daya setan agar kita menjadi takut dan was-was." Ujarnya, ucapan itu sebenarnya lebih dia tujukan untuk dirinya sendiri. Bagaimanapun, sebagai RT dia harus terlihat berani.

"Tapi Pak, sekarang desa sudah seperti tidak aman lagi bagi warga." Ucap Jaka.

"Sejak kematian Aning di susul Sapri, kini malah Ratmi yang kesurupan." Sambung Jaka lagi.

Pak Warsito terdiam. Dia juga tidak punya jalan keluar untuk apa yang terjadi.

Dia menatap jalan desa yang lengang. Biasanya masih ada beberapa warga duduk bercengkerama sampai larut. Sekarang? Pintu-pintu rumah tertutup rapat.

Pak Warsito menghela napas panjang. Ia teringat bagaimana Ratmi menggeliat di lantai, matanya memutih, kukunya mencakar tanah sampai berdarah.

"Semoga saja badai yang menghantam desa cepat berlalu." Gumam Pak Warsito di susul dengan helaan nafas yang berat.

"Tapi Pak, Tadi Ratmi benar-benar menakutkan. Sampai sekarang jika ingat kejadiannya kesurupan aku masih merinding." Ujar Udin.

" Sudah, jangan di bahas lagi. Sebaiknya kita ronda saja seperti biasa. Jangan sampai warga makin panik." Ajaknya, dia tidak ingin jika apa yang sempat terjadi terus di bahas.

Udin, Jaka dan dua orang lainnya pun mengangguk. Mereka berdiri.

Langkah mereka menyusuri jalan desa terdengar jelas di antara kesunyian malam. Krik-krik jangkrik terdengar nyaring, seolah menggantikan suara manusia yang kini memilih berdiam diri.

Saat mereka melewati rumah Bu Darsia, langkah Pak Warsito melambat.

Lampu rumah itu masih menyala.

Jendela depan terbuka sedikit, tirainya bergerak pelan tertiup angin.

"Bu Darsia belum tidur?" bisik Jaka.

Pak Warsito tidak menjawab. Dia melirik jam yang ada di tangannya. Jam 11:50 malam.

"Ayo, kita bertanya." Kata Pak Warsito lalu berjalan menghampiri rumah Bu Darsia. Namun, baru saja beberapa langkah. Lampu rumah itu padam.

"Lampunya sudah padam pak.." ujar Udin.

"Ya, Sudah. Mungkin dia sudah akan tidur." Kata Pak Warsito. Lalu mereka pun pergi, Kembali untuk berkeliling.

Di tempat lain beberapa pria tampak berkumpul dengan wajah khawatir.

"Kita harus bagaimana?" tanya salah satunya dengan wajah pucat.

"Diam saja, anggap saja hal itu tidak pernah terjadi." Ujar satunya.

"Tapi... Kematian Sapri.. apakah mungkin berkaitan dengan Aning?"

"Sudah! Jangan di bahas lagi. Kematian Sapri itu bisa saja karena di bunuh oleh musuhnya. Dia itu banyak yang tidak suka." Ujar pria berkumis.

"Tapi... Kejadian Ratmi kesurupan tadi...."

"Sudah cukup!” bentak pria berkumis, meski suaranya tak setegar sebelumnya. "Kalau kalian terus ketakutan begini, justru kita yang mencurigakan.”

Salah satu dari mereka menelan ludah. "Tapi Sapri sudah mati…"

"Sudah.. tidak ada hantu di dunia ini." Bentaknya.

"Sebaiknya kita pulang." Sambungnya.

Mereka pun bubar dengan langkah tergesa, seolah malam bisa mendengar percakapan mereka.

Namun malam memang seperti menyimpan telinga.

Angin berdesir lebih kencang saat para pria itu berpencar menuju rumah masing-masing. Salah satu dari mereka,

Salah satu dari mereka, pria berkumis tadi, memilih jalan pintas melewati pematang sawah. Jaraknya memang lebih dekat, meski sejak kematian Aning tak ada lagi warga yang berani melintas sendirian.

Tiba-tiba langkahnya terhenti.

Di tengah sawah, samar-samar terlihat sosok berdiri membelakangi. Rambutnya tergerai panjang, gaunnya putih kotor tersapu angin malam.

"Siapa di sana?" teriaknya, suaranya dengan suara yang melengking tinggi.

Sosok itu tidak menyahut, namun bahunya mulai bergetar hebat. Dia tertawa tawa lirih.

Perlahan, sosok itu memutar lehernya. Gerakannya kaku, diikuti bunyi tulang yang berderak patah, krek, krek.

Wajah itu pucat pasi, namun yang membuat jantung seakan berhenti berdetak adalah matanya. Mata itu tidak memiliki bagian hitam, persis seperti mata Ratmi saat kesurupan tadi sore tadi.

"Kau harus membayar! Hutang... harus lunas,..." bisik suara itu, parau dan dingin, terbawa angin yang tiba-tiba menderu kencang.

Pak Warsito Udin dan Jaka mendadak mematung. Langkah sepatunya yang bergesekan dengan kerikil terhenti seketika saat suara teriak terdengar dari jauh.

"Pak... itu seperti orang berteriak," kata Jaka. Wajahnya seketika pucat pasi di bawah temaram sinar senter. Mereka kembali menjadi was-was. Hal buruk apa lagi yang akan terjadi?

Udin menoleh ke arah hamparan gelap di ujung desa.

"Sepertinya dari arah pematang sawah, Pak." Tanpa komando, Pak Warsito langsung mengayunkan senternya berlari ke arah sumber suara.

Cahaya senter Pak Warsito membelah kegelapan, menari-nari liar mengikuti langkah kaki mereka yang berlari tergesa.

Sementara itu, di kediamannya, Ustaz Sakari tidak langsung beristirahat. Beliau duduk di sajadahnya, memutar tasbih dengan cepat. Keringat dingin masih sesekali muncul di pelipisnya.

Tiba-tiba, angin kencang menghantam jendela kamarnya. Brak! Ustaz Sakari menoleh. Di luar sana, di balik kaca yang berembun, ia melihat sekelebat bayangan hitam berdiri di bawah pohon kamboja. Sosok itu tidak bergerak, hanya berdiri menatap.

Ustaz Sakari menghentikan putaran tasbihnya. Mulutnya tak henti merapalkan ayat kursi.

"Astaghfirullah..." bisik Ustaz Sakari.

"Innalillahi wainnailaihi rojiun."

1
Mur Wati
ternyata kepala desa pun sama bejadnya 😡😡
Mur Wati
kenapa gak ada yg mengaku sama pak kades bicara sendiri saja siapa saja pelaku nya supaya aning yg di salahkan terus
Mur Wati
hantu aning yg di salahkan terus tapi gak ada yg mencari penyebab nya aning bisa balas dendam seperti itu😡😡 dasar
Zainuri Zaira
bgus ceritax..aq smpai nangis dn emosi bacax..utk cerita ini aq ksih bintang 5 dech😊👍
Zainuri Zaira
kl gtu ceritax bunuh semua warga desa biar jdi kampung mati..biadap
Zainuri Zaira
habisi semua warga desa itu sma mirasih biar jdi kampung mati
Zainuri Zaira
knp arwah miratih tk merasauk warga biar tau pembinuhuh dia yg sebnarx..ini mlha ibux di siksa.
Mur Wati
lah koq minta ampun min min di mana kesombongan mu min .. tunjukkan 🤣🤣
Mur Wati
khilaf koq di rencanakan min Karmin 😡
Nurr Tika
ceritanya tidak membosankan, semangat berkarya terus thor
si kecil nikkey
😄😄
si kecil nikkey
oh ini manusia pertama ketemu aning kok modarnya justru terakhir Ning?
Kenzo Andius Haryo P
thanks atas karyanya Thor... sukses terus dalam berkarya... 😍😍😍
Itoh
kerennnn
Itoh
🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳
Mur Wati
gak usah berkoar terus min kenapa kau lari kalau gak takut
Mur Wati
eeh minta tolong pak Karmin bukannya paling berani paling songong nik aki"
Mamake Nayla
trima ksh jg kak...akhirnya and jg👍👍👍👍👍
di tunggu crta horor2 nya lg....
May Maya
makasih jg Thor dah kasih kami hiburan gratis lewat karya mu ini,,
d tunggu karya mu yg lain nya semoga bs lbh keren lg . salam dari kyu
Maple latte: Baca karya baruku ya. judul: The Mask Of Love🤗🙏
total 1 replies
Cucu Doank
ceritanya seru
Maple latte: Baca karya baruku ya. judul: The Mask Of Love🤗🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!