NovelToon NovelToon
Tergoda Paman Tunanganku

Tergoda Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Cinta Terlarang
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.

------------- 💫

‎Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.

‎Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.

‎"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.

‎Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.

‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19 : Hukuman dari Arsen.

Viona memalingkan cepat matanya dari pandangan Arsen dan beralih menatap kakek Danu. "Aku baik-baik saja, Kek. Kakek tidak perlu khawatir,"

‎‎Kakek Danu mengangguk pelan, meskipun wajahnya masih menunjukkan rasa khawatir yang belum hilang sepenuhnya.

‎‎"Ya sudah, sekarang kamu sarapan dulu sayang," ujar Saskia dengan senyuman hangat. "Jangan sampai nanti kamu pingsan di kantor gara-gara tidak sarapan dan merepotkan Paman Arsen."

‎‎Saat menyebut nama Arsen, mata Saskia melirik ke arah adik iparnya yang sedang makan dengan wajah datar, seolah tidak memperhatikan percakapan mereka.

‎‎Farel menumpukkan tangannya di atas tangan Viona yang ada di atas meja. Sentuhan hangat itu seharusnya membuat Viona merasa aman dan dicintai, namun gadis itu justru merasa semakin gelisah. Dia mencoba menarik tangannya, tapi Farel memegangnya lebih erat.

‎‎"Sayang, nanti setelah sarapan kita berangkat bareng ya? Mulai hari ini kamu tidak perlu naik mobil jemputan lagi, karena aku yang akan mengantar jemput kamu setiap hari." Farel tersenyum lebar, dia sudah merencanakan ide ini sejak kemarin.

‎‎Viona sedikit terkejut mendengarnya, "Tapi Rel---"

‎‎"Biarkan Farel menjalankan tugasnya sebagai tunangan kamu, dengan begitu kalian bisa lebih dekat dan saling memahami satu sama lain." potong Bima dengan suara lembut namun tegas, menatap Viona dengan tatapan yang penuh harapan.

‎‎Viona menatap meja dengan tatapan kosong, ucapan Paman Bima membuatnya merasa tidak punya pilihan lain. Akhirnya dia mengangguk pelan, tidak berani membantah kata-kata Bima yang selalu dia anggap sebagai figur yang patut dihormati dalam keluarga.

‎‎"Baiklah, Paman..." jawabnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

‎‎Arsen melirik sekilas ke arah Viona yang masih menunduk, lalu meneguk kopi hitamnya hingga tandas. Dia meletakkan cangkir dengan tenang, menimbulkan bunyi denting kecil yang memecah keheningan sesaat.

‎‎"Aku pamit berangkat dulu," ucapnya singkat, suaranya seperti biasa, datar dan penuh kendali, namun entah mengapa terdengar sedikit lebih dalam pagi itu.

‎‎Dia bangkit dari kursinya dengan gerakan elegan, merapikan jasnya yang memang sudah sempurna. Tatapannya berhenti sejenak pada sang Ayah dan Bima untuk mengangguk hormat, lalu beralih ke Saskia dengan senyum tipis. Ketika pandangannya sampai pada Viona, ada jeda sepersekian detik yang tak terlihat oleh orang lain, namun terasa bagai sengatan listrik di kulit Viona. Gadis itu bisa merasakan tatapan intens itu, seolah-olah Arsen mencoba menyampaikan ribuan kata tanpa suara.

‎‎"Viona, jangan terlambat sampai dikantor. Aku paling tidak suka dengan orang yang tidak disiplin dan tidak tepat waktu," ucap Arsen dengan suara yang sedikit lebih keras.

‎‎Viona mengangguk kaku, "Baik, Paman."

‎‎Arsen berbalik dan melangkah keluar dari ruang makan. Kepergiannya meninggalkan semacam kekosongan, namun sekaligus kelegaan yang menyesakkan bagi Viona. Dia menatap punggung Arsen sampai benar-benar hilang dari pandangannya.

-

-

-

‎Sesampainya di kantor, Viona langsung duduk di meja kerjanya. Tumpukan berkas dan laporan proyek yang harus diselesaikan tampak menggunung. Semalam tidurnya tidak nyenyak sedikitpun. Pengakuan Arsen dan ciuman pria itu di bibirnya masih terasa nyata dan terus berputar dalam benaknya. Akibatnya sekarang rasa kantuk yang luar biasa datang menyerang.

‎‎"Viona, kenapa wajahmu tidak enak dipandang begitu?" tanya Dinda dengan nada berbisik supaya tidak menarik perhatian karyawan lain, "Apa semalam kamu tidak tidur?"

‎‎Viona menoleh pada Dinda yang duduk di meja sebelahnya, dia mengangguk pelan dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

‎‎"Ya, begitulah," jawabnya singkat, tidak ingin bercerita lebih detail. Bagaimana mungkin dia menceritakan ciuman tak terduga dari pamannya Farel, atau pengakuan cinta yang menggoncangkan perasaannya. Semua itu terlalu rumit.

‎‎Dinda mengerutkan kening, pandangannya mengamati Viona dengan saksama. "Jangan bilang gara-gara memikirkan si Paman tampan yang sekarang merangkap jadi bos, aku lihat kemarin dia begitu perhatian padamu saat di restoran."

‎‎Mendengar perkataan Dinda, Viona reflek membelalakkan matanya. Dia segera menoleh ke Dinda dengan ekspresi panik yang tidak bisa disembunyikan.

‎‎"Dinda! Jangan sembarangan bicara!" bisik Viona tajam, matanya melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka. "Aku hanya merindukan ibuku jadi aku tidak bisa tidur dengan nyenyak,"

‎‎Dinda yang tidak menyadari kepanikan Viona hanya terkekeh pelan. "Lho, memang kenapa? Aku kan cuma menebak. Kamu juga aneh, wajahnya langsung merah begitu. Apa benar karena merindukan ibumu, atau karena Paman Arsen?"

‎‎Viona mendengus kesal, ingin sekali rasanya dia menyumpal mulut Dinda saat itu juga. "Sudah, sudah. Jangan membahas itu lagi. Aku harus fokus pada pekerjaanku. Kamu juga, ayo cepat selesaikan pekerjaanmu."

‎‎Viona kembali membalikkan tubuhnya menghadap komputer, berharap Dinda tidak lagi mengungkit topik sensitif itu. Matanya mencoba fokus pada layar komputer, namun kelopak matanya terasa semakin berat. Perlahan, kepalanya tertunduk di atas meja, diantara tumpukan kertas. Napasnya teratur, menandakan bahwa dia telah jatuh tertidur, mengabaikan keramaian di sekitarnya.

‎‎Beberapa saat kemudian, suasana kantor yang semula dipenuhi suara ketikan keyboard dan bisikan percakapan, tiba-tiba menjadi hening. Viona tidak menyadarinya. Hening yang mencekam itu berlangsung beberapa menit, sebelum sebuah suara berat memecah kesunyian.

‎‎"Viona." panggil Pak Bobby yang kini sudah berdiri di depan meja kerjanya. Namun Viona tidak merespon dan tengah asyik mengarungi mimpi-mimpi indahnya.

‎‎Dinda yang duduk di samping Viona segera menegakkan duduknya dengan wajah panik, dia menoleh pada Viona yang tengah tertidur pulas.

‎‎Pak Bobby menghela napas panjang, kekesalan jelas terpancar di wajahnya. Dia mengetukkan jari telunjuknya beberapa kali di meja Viona, namun Viona tetap tidak bergeming.

‎‎"Viona!" suaranya kali ini lebih tegas.

‎‎Viona terlonjak kaget, dia mengangkat kepalanya dengan cepat dan melihat Pak Bobby sudah berdiri didepan mejanya dengan wajah datar, sorot mata pria itu penuh kekesalan.

‎‎"Maaf, Pak," Viona segera berdiri tegak, merapikan bajunya yang sedikit kusut. Rasa kantuknya langsung lenyap, digantikan rasa malu dan cemas.

‎‎Pak Bobby mendengus. "Ini jam kerja, Viona. Bukan waktunya untuk tidur. Kamu pikir kantor ini hotel?" Suaranya cukup keras, menarik perhatian beberapa rekan kerja lain yang kini melirik ke arah mereka dengan pandangan penasaran.

‎‎Wajah Viona memerah. "Saya minta maaf, Pak. Saya semalam kurang tidur."

‎‎"Kurang tidur bukan alasan untuk bersikap tidak profesional," potong Pak Bobby tajam. "Saya tidak peduli apapun masalah pribadi kamu. Di sini kamu dibayar untuk bekerja, bukan untuk tidur."

‎‎Tepat saat Pak Bobby mengucapkan kalimat terakhirnya, pintu lift terbuka di ujung koridor. Arsen melangkah keluar dengan langkah tenang dan berwibawa, diikuti oleh sekretarisnya, Sinta, yang membawa beberapa berkas di tangannya.

‎‎"Kalau kamu tidak sanggup, lebih baik kamu pulang saja!" Pak Bobby kembali menegaskan, suaranya sedikit meninggi.

‎‎Ketegangan itu mengundang perhatian Arsen, dia melangkahkan kakinya mendekati meja Viona. Karyawan-karyawan lain yang tadinya sedang menonton kembali berpura-pura sibuk saat melihat kehadiran Arsen disana.

‎‎"Ada apa ini?"

‎‎Suara Arsen yang berat dan tenang memecah ketegangan. Pak Bobby yang tadinya bersikap tegas langsung mengubah raut wajahnya, dia sedikit terkejut dengan kehadiran Arsen yang tiba-tiba muncul.

‎‎"Ah, Pak Arsen. Tidak ada apa-apa, Pak. Hanya sedikit masalah disiplin dengan karyawan baru kita ini." suaranya terdengar lebih lunak, hampir merendah.

‎‎Arsen melangkah maju beberapa langkah, tatapannya kini fokus pada Viona yang masih berdiri dengan kepala tertunduk.

‎‎"Masalah disiplin?" tanyanya datar, namun ada nada yang tidak bisa diartikan dalam suaranya.

‎‎Viona merasakan jantungnya berdebar kencang. Dia tidak tahu harus berharap apa dari Arsen. Apakah pria itu akan membelanya, atau justru memperparah keadaannya.

‎‎"Ya, Viona tertidur di mejanya saat jam kerja, Pak," lapor Pak Bobby, tidak berani melebih-lebihkan atau mengurangi.

‎‎Arsen menghela napas pelan, lalu pandangannya beralih ke Viona.

‎‎"Apa benar kamu tidur di jam kerja?" tanya Arsen, suaranya pelan namun menusuk. "Kamu tahu betul saya tidak suka dengan karyawan yang tidak disiplin."

‎‎Viona menunduk. "Maaf, Pak. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi."

‎‎"Janji saja tidak cukup, Viona," ucap Arsen, nadanya kini lebih tegas. "Kamu melanggar aturan. Dan di perusahaan ini setiap pelanggaran ada konsekuensinya."

‎‎Viona mengangkat kepalanya, menatap Arsen dengan tatapan pasrah. "Saya siap menerima konsekuensinya, Pak."

‎‎Arsen mengangguk, pandangannya tidak lepas dari Viona. "Bagus. Untuk hukumanmu, saya tidak akan mengurangi gajimu atau memberimu surat peringatan."

‎‎Viona sedikit bernapas lega, dia yakin Arsen tidak akan mungkin sampai berani memberinya hukuman.

‎‎"Tapi," lanjut Arsen, membuat Viona kembali menahan napas, "Mulai hari ini, setelah jam kerja, kamu harus membersihkan semua toilet yang ada di lantai ini selama seminggu penuh."

‎‎Mata Viona membulat sempurna. Membersihkan toilet? Dia tidak salah dengar kan? Bagaimana mungkin Arsen memberinya hukuman seperti itu?

-

-

-

Bersambung...

1
Zuri
drama perpisahan di depan mata noh paman Bima🤧🤧
Zuri
mna bisa begitu... cobranya udah dapet sarang yg enak mana mau dilepas.. ehh/Silent//Silent/
Zuri
jujur lebih baik ya Vio
Zuri
mana bisa bgituu... yg jebol gawang Arsen loh/Slight//Slight/
Zuri
Farel itu ngamuknya gegara gagal unboxing🤣🤣
Zuri
disidang🤧🤧
zee
wah tambah seru nih
🔥Violetta🔥: Terimakasih kakak masih setia menyimak 🙏😁
total 1 replies
Zuri
salah sendiri punya pikiran kotor🤧🤧
🔥Violetta🔥: Nggak kotor nggak anuuun🤣🤣
total 1 replies
Zuri
sadar kali kak, bukan dasar/Silent/
🔥Violetta🔥: Efek mabok tulisan 🤣🤣🤣
total 1 replies
Zuri
tenang saja vio.. pamanmu akan melindungimu🤭🤭
🔥Violetta🔥: Melindungi sampai kedalam-dalam 😅😅
total 1 replies
Mita Paramita
Arsen dan viona udh ga bisa dipisahkan ini🤣 🤣🤣
🔥Violetta🔥: Sudah menyatu seakar-akarnya, Kak🤭🤣🤣
total 1 replies
Zuri
mereka lagi main bareng🤣
🔥Violetta🔥: Main bola /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zuri
sedia payung sebelum hujan🤣🤣
🔥Violetta🔥: Udah nahan dia dari lama 😅😅😅
total 1 replies
Zuri
jebol juga akhirnya kalo godaannya gini
🔥Violetta🔥: Mana tahan /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zuri
mau nerkam apa gimana dirimu Arsen😏😏
🔥Violetta🔥: Sudah tidak tahan dia 🤭🤭🤭
total 1 replies
Zuri
dirimu kn emang gak bisa jaga Vio. mau ngrusak iya/Smug/
Zuri
udah di bawa kabur🤣🤣
Zuri
rencanamu mau unboxing gagal total rell🤣
Zuri
mendadak jadi maling/Facepalm//Facepalm/
🔥Violetta🔥: Maling cinta 😅😅😅
total 1 replies
Zuri
bukannya eemang itu ya yang kamu harapkan? hayoo ngakuu😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!