"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Sampah di Pintu Belakang
Pagi setelah malam yang penuh gairah dan air mata itu terasa sangat abu-abu. Jungkook masih terlelap saat Sheril bangun, napas pria itu teratur di atas bantal, lengannya masih melingkar protektif di pinggang Sheril seolah-olah ia bisa menahan wanita itu dari kenyataan hanya dengan sebuah pelukan. Sheril menatap wajah itu—garis rahang yang tegas namun memiliki kelembutan yang menipu. Bagaimana bisa seseorang yang memegang pisau dengan begitu dingin di pelabuhan tua semalam, bisa menyentuhnya dengan jemari yang begitu gemetar penuh cinta saat mereka bercinta?
Sheril melepaskan pelukan itu perlahan, menggantinya dengan guling agar Jungkook tidak terbangun. Ia harus tahu lebih banyak. Rasa cinta yang besar kini bersaing dengan rasa takut yang sama besarnya.
"Aku mencintaimu, Kook. Tapi aku tidak bisa mencintai rahasiamu," bisiknya nyaris tak terdengar sebelum ia beranjak pergi.
Sore harinya, Sheril tidak langsung menuju laboratorium forensik. Ia mengambil cuti setengah hari dengan alasan sakit—sebuah kebohongan kecil yang terasa pahit di lidahnya. Ia memutuskan untuk pergi ke restoran Le Lapin saat jam persiapan sore, waktu di mana Jungkook biasanya pergi ke gudang bahan makanan atau mengurus administrasi di ruangannya.
Restoran itu tampak tenang. Wangi saus truffle dan mentega yang terbakar mulai tercium, tanda para asisten koki mulai bekerja. Sheril tidak masuk lewat pintu depan. Ia memutar, menuju pintu belakang yang menghadap ke gang sempit tempat pembuangan limbah dapur.
Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa seperti seorang pengkhianat di wilayah kekasihnya sendiri. Ia melihat beberapa kantong plastik hitam besar yang baru saja diletakkan di luar. Sheril mengenakan sarung tangan medis yang selalu ia bawa di dalam tasnya.
Ia membuka kantong pertama. Hanya sisa sayuran dan kulit kentang.
Kantong kedua. Sisa tulang rawan dan lemak sapi.
Namun, di kantong ketiga yang posisinya agak tersembunyi di balik tempat sampah besar, Sheril menemukan sesuatu yang berbeda. Di tumpukan paling bawah, di bawah timbunan tisu dapur yang basah, ia melihat kain putih yang tergulung rapi.
Saat ia membukanya, tangannya gemetar hebat.
Itu adalah serbet makan eksklusif milik Le Lapin, namun warnanya sudah berubah menjadi merah kecokelatan yang pekat. Darah. Dan di dalamnya, terbungkus sebuah barang yang membuat napas Sheril tercekat: sebuah jarum bedah yang melengkung dan seuntai benang sutra hitam yang sering digunakan di ruang autopsi untuk menjahit jaringan tubuh yang robek.
Ini bukan darah hewan. Bau besi yang amis dan pekat ini adalah bau yang ia temui setiap hari di meja forensik. Ini darah manusia.
"Sheril?"
Suara itu seperti petir di siang bolong. Sheril tersentak, menjatuhkan kain itu kembali ke dalam kantong plastik dan berbalik dengan cepat. Jungkook berdiri di sana, tepat di ambang pintu belakang. Ia tidak memakai apron, hanya kemeja hitam dengan lengan yang digulung sampai siku.
Ekspresi Jungkook sulit terbaca. Matanya yang bulat menatap tajam ke arah tangan Sheril yang masih terbungkus sarung tangan medis, lalu beralih ke kantong sampah yang terbuka.
"Kook... aku..." Sheril kehilangan kata-kata.
Suasana menjadi sangat sunyi, hanya suara tetesan air dari pipa AC yang terdengar. Jungkook melangkah mendekat perlahan. Sheril mundur satu langkah, namun punggungnya membentur dinding bata yang dingin.
Jungkook tidak marah. Sebaliknya, ia justru tersenyum—senyum yang sangat lembut, namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Ia meraih tangan Sheril, melepas sarung tangan medis itu dengan gerakan yang sangat pelan, seolah-olah ia sedang membuka kado yang rapuh.
"Kenapa kamu di sini, Sayang? Gang ini kotor, bukan tempat untuk dokter secantik dirimu," bisik Jungkook.
Ia menarik Sheril ke dalam pelukannya, mendekapnya erat-erat hingga Sheril bisa mencium aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau asap dapur.
"Aku melihat kain itu, Kook. Di sampahmu. Ada darah... dan alat bedah," Sheril bicara di dada Jungkook, suaranya pecah menjadi isakan.
Jungkook terdiam sebentar, lalu ia menghela napas panjang dan mengecup puncak kepala Sheril berkali-kali.
"Aku tahu kau takut. Aku tahu pikiranmu sedang pergi ke tempat-tempat yang buruk. Tapi dengarkan aku..."
Jungkook melepaskan pelukannya, menangkup wajah Sheril dengan kedua tangannya. Ibu jarinya menghapus air mata yang jatuh di pipi Sheril.
"Salah satu stafku terluka parah semalam karena kecelakaan di dapur. Aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit karena... kau tahu sendiri, status imigrasinya bermasalah. Jadi aku membantunya menjahit lukanya sendiri. Aku menggunakan alat yang kau tinggalkan di tas kerjamu waktu itu. Aku tidak ingin memberitahumu karena aku tidak ingin kau terlibat dalam masalah hukum kecil ini."
Jungkook menatap mata Sheril dengan sangat tulus.
"Semua darah itu... itu pengorbananku untuk melindungi orang-orang yang bekerja denganku. Sama seperti aku melindungimu."
Sheril menatap mata itu, mencari kebohongan. Namun yang ia temukan hanyalah cinta yang begitu intens, seolah Jungkook benar-benar percaya pada ceritanya sendiri.
"Benarkah?" tanya Sheril lirih.
"Tentu saja," Jungkook tersenyum lagi, lalu ia menarik Sheril masuk ke dalam restoran.
"Ayo masuk. Kau pasti lapar. Aku baru saja mencoba resep pencuci mulut baru—Strawberry Mousse dengan sirup mawar. Manis, seperti dirimu."
Di dalam dapur yang hangat dan terang, Jungkook mendudukkan Sheril di kursi tinggi. Ia mulai sibuk menyiapkan hidangan penutup itu dengan gerakan yang sangat anggun. Ia sesekali menoleh, memberikan kedipan mata atau senyum jail yang membuat Sheril sejenak lupa pada kain berdarah di gang gelap tadi.
Jungkook mendekat, menyuapkan satu sendok mousse lembut ke mulut Sheril.
"Bagaimana? Enak?"
"Sangat enak," jawab Sheril, mencoba tersenyum.
Jungkook mengusap sisa krim di sudut bibir Sheril dengan ibu jarinya, lalu ia menjilat ibu jarinya sendiri sambil menatap Sheril dengan tatapan yang sangat dalam.
"Aku akan memberikan apa pun yang manis untukmu, Sheril. Agar kau tidak perlu merasakan pahitnya dunia luar."
Namun, saat Jungkook berbalik untuk membereskan piring, Sheril melihat ke arah keranjang cucian di sudut dapur. Di sana, menyembul ujung kemeja putih Jungkook yang lain, yang memiliki bercak darah yang sama.
Sheril menyadari satu hal: Jungkook sedang mencoba "memberinya makan" dengan kebohongan yang manis agar ia tidak melihat kenyataan yang berdarah. Dan yang paling mengerikan adalah, Sheril merasa dirinya mulai terbiasa dengan rasa manis yang palsu itu.
"Kook," panggil Sheril.
"Ya, Sayang?" Jungkook menoleh, memegang pisau buah dengan santai di tangannya.
"Terima kasih... karena selalu melindungiku."
Jungkook tersenyum lebih lebar, namun tangannya mencengkeram gagang pisau itu sedikit lebih erat.
"Selalu, Sheril. Sampai akhir."
🤍🤍🤍