"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Malam semakin larut saat Abdi berdiri mematung di depan teras rumah Rini yang megah. Hatinya hancur, harga dirinya runtuh, tapi perut dan logikanya butuh sandaran. Begitu pintu kayu jati itu terbuka, sosok Rini muncul dengan daster sutra merah yang elegan. Tidak ada gurat kemarahan di wajahnya, yang ada hanyalah senyum kemenangan yang disembunyikan dengan rapi.
"Mas Abdi? Akhirnya kamu datang juga," suara Rini terdengar lembut, sangat kontras dengan sikap dinginnya tadi sore di rumah Mama Ratna.
Abdi menunduk dia tidak berani menatap mata wanita yang dulu pernah ia tolak demi Disa. "Rini, aku... aku butuh bantuanmu saat ini. Hari ini Mama masuk rumah sakit dan aku benar-benar buntu."
Rini melangkah mendekat aroma parfum jasmine-nya yang mahal langsung membuai indra penciuman Abdi. Ia menyentuh lengan Abdi dengan lembut, sebuah sentuhan yang sudah lama tidak Abdi rasakan dari seorang wanita.
"Mas Abdi, jangan salah paham soal kejadian tadi sore ya," bisik Rini pelan sambil menuntun Abdi masuk ke dalam rumahnya yang megah. "Tadi itu aku sengaja bersikap tegas supaya istrimu maksudku, Disa tidak curiga kalau aku ada di pihakmu. Kalau aku terlihat terlalu membantumu di depan petugas pengadilan, dia bisa makin gila menyerang aset-asetku juga. Aku cuma melindungi kita, Mas."
Abdi tersentak karena kaget mendengar taktik yang di terapkan oleh Rini. Ada rasa lega yang luar biasa menjalar di dadanya Andi saat mendengar penjelasan janda kaya ini. "Jadi, kamu masih mau membantu aku, Rin?"
Rini mengajak Abdi duduk di sofa beludru yang sangat empuk. Ia mengambilkan segelas air putih untuk Abdi dengan tangannya sendiri. "Cintaku ke kamu itu nggak pernah berubah, Mas. Sejak kamu masih bujang dulu, aku selalu menunggu momen ini. Aku nggak tega lihat kamu menderita karena wanita yang nggak tahu cara menghargai laki-laki sehebat kamu."
Rini menggenggam tangan Abdi yang kasar dan dingin. "Aku akan bayar semua biaya rumah sakit Mama Ratna malam ini juga. Soal Amel? Seratus juta itu urusan kecil, Mas untuk Aku. Pengacaraku akan urus semuanya besok supaya dia nggak perlu mendekam di sel. Bahkan, soal rumah..." Rini menjeda, menatap mata Abdi dengan dalam. "Aku punya satu cluster perumahan yang baru selesai dibangun.
Aku akan kasih satu unit yang paling bagus untuk Mama dan adik-adikmu tinggal. Mereka nggak akan luntang-lantung di jalan."
Air mata Abdi hampir jatuh. Di saat Disa menghancurkannya, Rini datang membawa segalanya. "Rin... aku nggak tahu harus balas pakai apa. Aku benar-benar nggak punya apa-apa lagi sekarang."
Rini tersenyum manis jemarinya mengelus pipi Abdi. "Aku nggak butuh harta kamu, Mas. Aku sudah punya segalanya tentang harta tapi Aku cuma butuh satu hal... jadilah suamiku yang penurut. Tinggalkan semua beban masa lalumu. Mulai sekarang hidupmu, keputusanmu dan hatimu harus ada di bawah kendaliku. Kamu cukup duduk manis, bantu aku kelola toko emas dan bahagiakan aku. Bisa?"
Abdi seolah terhipnotis. Tawaran Rini seperti oase di tengah gurun pasir yang membara. Tanpa pikir panjang, ia mengangguk mantap. "Aku janji, Rin. Aku akan turuti semua maumu. Aku akan ceraikan Disa secepatnya."
Rini tertawa kecil, tawa yang penuh dengan rasa puas. Ia akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan selama bertahun-tahun. Baginya, Abdi adalah trofi yang akhirnya berhasil ia beli dari keterpurukan.
"Pintar," puji Rini sambil mengecup kening Abdi. "Malam ini, tidurlah di sini. Besok pagi kita selesaikan semua urusan keluargamu. Aku ingin kamu tahu Mas, di tangan wanita yang tepat, kamu akan tetap jadi raja, bukan gelandangan seperti yang Disa inginkan."
Abdi merasa seolah beban seberat gunung di pundaknya terangkat. Di dalam rumah mewah itu, ia merasa aman. Ia tidak menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan kemerdekaannya demi rasa nyaman yang semu. Sementara itu di benak Rini dia sudah menyusun rencana besar untuk memastikan Abdi tidak akan pernah bisa lepas lagi darinya, bahkan jika suatu saat Disa kembali datang.