NovelToon NovelToon
Si Imut Milik Ketua Mafia

Si Imut Milik Ketua Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Mafia / Cinta Murni / Berbaikan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERGANTIAN GURU KELAS

Beberapa minggu setelah malam perayaan di halaman rumah Rafi – dimana mereka semua berjanji untuk selalu menjaga persahabatan dan membangun kampung yang lebih baik – awal hari masuk sekolah setelah liburan semester tiba.

Rafi dan Caca berjalan beriringan menuju SD Negeri Kampung Bahagia dengan langkah yang ringan, tangan mereka sesekali menyentuh saat melewati jalan raya kecil yang penuh dengan rerumputan tinggi.

“Kamu sudah siap jadi kakak kelas ya, Caca?” tanya Rafi dengan senyum lebar, sambil menunjukkan pada lencana “Kakak Kelas” yang sudah mereka pasang di dada baju seragam.

Caca mengangguk dengan wajah yang penuh semangat. “Tentu aja! Kita juga harus contoh baik buat anak-anak kecil di klub menggambar. Bu Nina bilang bulan depan ada lomba seni tingkat kecamatan lho!”

Namun ketika mereka memasuki kelas 6 SD, suasana haru mereka langsung sirna. Ruangan yang biasanya ramai dengan suara tawa dan obrolan siswa sebelum pelajaran mulai, kini terdiam sunyi.

Tempat guru Bu Nina yang selalu penuh dengan buku dan karya siswa, kini digantikan oleh meja yang rapi dengan buku pelajaran baru berbaris rapi.

Seorang pria muda dengan wajah tegas berdiri di depan kelas, memeriksa daftar hadir dengan cermat.

“Selamat pagi, anak-anak,” ujar pria itu dengan suara jelas namun sedikit kaku. “Saya Pak Hendra, guru kelas kalian yang baru. Bu Nina telah resmi dipromosikan menjadi kepala sekolah cabang di Kota Palangka Raya dan sudah menyerahkan semua tanggung jawab kalian padaku sejak hari ini.”

Rafi dan Caca saling melihat dengan ekspresi sedih. Bu Nina bukan hanya guru mereka – dia adalah orang yang pertama kali mendukung mereka membuat klub menggambar, sering memberikan bahan seni dari uang pribadinya, dan bahkan pernah datang ke kampung untuk mengajar anak-anak kecil cara menggambar dengan hati-hati. Perpisahan dengan dia rasanya seperti kehilangan bagian dari keluarga.

Selama pelajaran pertama, gaya mengajar Pak Hendra terasa sangat berbeda dengan Bu Nina.

Dia sangat fokus pada nilai akademik dan tidak terlalu menyukai aktivitas ekstrakurikuler yang dianggapnya “mengganggu waktu belajar”. Ketika Rafi menyampaikan rencana klub menggambar yang akan mengikuti lomba seni, Pak Hendra hanya mengangguk pelan.

“Aktivitas itu boleh saja berjalan, namun tidak boleh membuat nilai kalian turun,” ujarnya dengan nada tegas. “Tahun ini kalian harus fokus menghadapi ujian masuk sekolah menengah negeri terbaik di kota. Prestasi akademi lah yang paling penting untuk masa depan kalian.”

Setelah pulang sekolah, Rafi dan Caca langsung berjalan cepat menuju rumah Bu Nina yang terletak di pinggiran kampung.

Mereka menemukan Bu Nina sedang menyusun barang-barangnya ke dalam kotak kayu, dengan rak buku yang sebagian sudah kosong dan foto-foto siswa ditempel di dinding.

“Bu Nina! Kami sudah merindukanmu sejak pagi ini!” teriak Caca dengan suara penuh haru, langsung berlari untuk memeluk gurunya.

Bu Nina tersenyum hangat dan mengelus kepala Caca serta Rafi yang berdiri di sisinya. “Aku juga merindukan kalian berdua, sayang. Sudah siap menghadapi tantangan baru dengan guru baru?”

“Pak Hendra sangat ketat, Bu,” ujar Rafi dengan wajah murung. “Dia bilang klub menggambar bisa mengganggu pelajaran kita.”

Bu Nina menarik mereka berdua untuk duduk bersamanya di teras rumah. Dia mengambil dua buku besar dari laci meja dan memberikannya pada Rafi dan Caca. “Ini adalah buku tentang teknik menggambar dan buku soal matematika yang pernah aku gunakan waktu mengajar. Aku sudah menandai bagian-bagian yang penting.”

Dia kemudian mengambil sebuah amplop putih dan memberikannya pada Rafi. “Ini surat untuk Pak Hendra. Aku sudah menjelaskan tentang kampung kita, klub menggambar yang kalian kelola, dan bagaimana aktivitas itu membantu anak-anak menjadi lebih percaya diri. Berikan padanya ya, semoga dia bisa memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang angka dan nilai.”

Keesokan harinya, Rafi dengan hati-hati memberikan surat dari Bu Nina kepada Pak Hendra setelah jam pelajaran selesai. Guru muda itu membacanya dengan cermat, ekspresi wajahnya perlahan berubah dari tegas menjadi lebih lembut.

“Bu Nina memang selalu memikirkan kesejahteraan siswanya,” ujar Pak Hendra dengan suara yang lebih lembut. “Saya minta maaf jika saya terlihat terlalu keras padamu berdua. Saya hanya ingin memastikan kalian punya masa depan yang baik – saya pernah melihat banyak anak berbakat yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena kurang fokus pada akademik.”

Dia kemudian mengundang Rafi dan Caca untuk masuk ke kantor guru. Di sana, mereka melihat beberapa karya seni yang terpajang di dinding – lukisan pemandangan alam dan gambar karakter kartun yang dibuat dengan sangat baik.

“Saya juga pernah suka menggambar waktu sekolah,” ujar Pak Hendra dengan sedikit tersipu. “Hanya saja orang tua saya bilang seni tidak akan memberi makan di masa depan. Saya tidak ingin kalian mengalami hal yang sama.”

Rafi dan Caca saling melihat sebelum Caca membuka mulutnya. “Pak, klub menggambar bukan hanya tentang seni saja. Anak-anak di kampung kita banyak yang tidak bisa pergi ke kursus atau les tambahan. Klub itu adalah tempat mereka bisa belajar, bermain, dan menemukan bakat mereka. Pak Bara juga bilang, nanti kita akan mengembangkannya jadi usaha kerajinan tangan yang hukum lho!”

Pak Hendra terdiam sejenak sebelum tersenyum perlahan. “Kalau begitu, ayo saya ikut mengunjungi klub kalian sore ini. Saya ingin melihat sendiri bagaimana aktivitas itu berjalan dan mungkin bisa membantu mengajarkan teknik menggambar yang lebih baik.”

Sore harinya, Pak Hendra datang ke balai desa bersama Rafi dan Caca. Dia langsung terpukau melihat puluhan anak-anak dari berbagai usia sedang duduk berbaris, menggambar dengan penuh fokus pada tema “Kampung Kita yang Sehat”. Anak-anak kecil seperti Dika langsung berlari ke arah Rafi dan Caca, menunjukkan karya gambar mereka dengan bangga.

“Ini sungguh luar biasa,” ujar Pak Hendra dengan penuh kagum. “Saya tidak menyangka ada banyak anak berbakat di sini. Kalian benar-benar telah membuat sesuatu yang berharga, Rafi – Caca.”

Dari hari itu, Pak Hendra menjadi bagian dari klub menggambar. Dia mengajarkan anak-anak teknik menggambar yang lebih profesional, seperti cara mengatur komposisi dan menggunakan warna dengan tepat.

Dia juga membantu mereka mempersiapkan karya untuk lomba seni tingkat kecamatan, sambil tetap memastikan bahwa Rafi dan Caca tidak mengabaikan pelajaran sekolah.

“Sekarang kalian sudah tahu kan,” ujar Pak Hendra saat mereka sedang membimbing anak-anak menggambar. “Pendidikan akademik dan aktivitas kreatif bisa berjalan bersama-sama jika kita bisa mengatur waktu dengan baik. Itu yang akan membuat kalian kuat dan siap menghadapi masa depan yang lebih kompleks.”

Rafi dan Caca mengangguk dengan penuh pemahaman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!