akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 – Dunia yang Tunduk
Arsitek tidak kembali dengan ledakan.
Mereka kembali dengan keputusan.
Langit di atas berbagai belahan dunia berubah warna hampir bersamaan—bukan merah menyala seperti invasi monster, melainkan putih pucat, seolah realitas kehilangan saturasinya. Sensor pemerintah di seluruh dunia berbunyi, lalu mati satu per satu.
Bukan rusak.
Dimatikan.
Di kota-kota besar, sosok-sosok humanoid itu muncul tanpa suara. Mereka berdiri di persimpangan jalan, di atas gedung pemerintahan, di pusat-pusat militer. Tidak menyerang. Tidak mengancam.
Mereka hanya… menunggu.
Sebuah suara kemudian menggema—bukan melalui udara, melainkan langsung di pikiran setiap manusia.
“Spesies manusia.
Kalian telah melewati ambang toleransi Cosmic.
Kami, Arsitek, mengambil alih proses stabilisasi.”
Tidak ada teriakan.
Tidak ada perlawanan spontan.
Karena suara itu membawa sesuatu yang lebih kuat dari ancaman.
Kepastian.
Seleksi
Di sebuah kota pesisir, satu regu superhero menolak menyerahkan senjata. Mereka masih mengenakan seragam lama, simbol kebanggaan dan perlawanan.
“Kami tidak tunduk pada entitas asing!” teriak pemimpin regu itu.
“Kami melindungi umat manusia!”
Salah satu Arsitek melangkah maju.
“Dicatat,” katanya datar.
Ia mengangkat tangannya.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada cahaya besar.
Regu itu… lenyap.
Bukan hancur, bukan terbakar—mereka seperti dihapus dari kanvas realitas. Tanah di bawah kaki mereka menjadi rata, seolah mereka tidak pernah berdiri di sana.
Warga yang menyaksikan jatuh berlutut, gemetar.
Di kota lain, pemerintah lokal memilih jalan berbeda.
“Kami… kami akan bekerja sama,” kata seorang gubernur dengan suara bergetar.
“Kami menyerahkan kendali pertahanan.”
Arsitek mengangguk.
“Kepatuhan tercatat. Kota ini distabilkan.”
Langit kembali normal.
Tidak ada korban.
Berita itu menyebar lebih cepat dari ketakutan.
Yang tunduk… selamat.
Yang melawan… dimusnahkan.
Dalam hitungan hari, dunia berubah.
Tidak ada perang global.
Tidak ada invasi terbuka.
Hanya… ketertiban absolut.
Arsitek menghancurkan semua monster yang tersisa dengan efisiensi mengerikan. Gerbang dimensi ditutup satu per satu, dijahit kembali seperti luka yang disembuhkan paksa.
Monster raksasa yang dulu membutuhkan puluhan regu kini dihapus dalam satu gerakan tangan.
“Ancaman biologis lintas dimensi: dieliminasi.”
“Stabilitas meningkat 23%.”
Manusia menyaksikan dari kejauhan.
Takut.
Aman.
Terjebak di antaranya
Sementara itu, Tim Cosmic menghilang dari dunia nyata.
Gerbang ruang dimensi Rey menutup rapat, disamarkan di balik lapisan realitas yang bahkan Arsitek belum menembus sepenuhnya.
Di dalam ruang dimensi, suasana tegang.
Layar-layar menampilkan dunia nyata yang kini sunyi, tertib… dan dikuasai.
“Mereka tidak menghancurkan dunia,” kata Boy pelan.
“Mereka… mengurungnya.”
Leoni memperbesar tampilan kota-kota besar.
“Tidak ada kejahatan. Tidak ada monster. Tidak ada perang.”
Sila mengepalkan tangan.
“Tidak ada kebebasan juga.”
Rey berdiri di tengah ruangan, wajahnya keras.
“Mereka menciptakan kedamaian dengan menghilangkan pilihan,” katanya.
“Itu bukan stabilitas. Itu… penjara kosmik.”
Deva duduk diam, matanya tertutup. Keringat dingin menetes di pelipisnya.
“Waktu di luar…” katanya lirih.
“Terasa… berat. Seperti dipaksa berjalan di rel yang sama.”
Leo menatapnya khawatir.
“Itu efek kontrol Arsitek. Mereka tidak merusak waktu—mereka mengurung kemungkinan.”
Di dunia nyata, pemerintah global menyatu dalam satu struktur pengawas di bawah Arsitek. Tidak ada lagi regu superhero independen. Semua kekuatan manusia diregistrasi, diawasi, dan dibatasi.
Seorang pejabat tinggi berani bertanya,
“Apakah kami… masih berdaulat?”
Arsitek menjawab tanpa emosi.
“Kedaulatan adalah konsep sementara.
Stabilitas adalah tujuan permanen.”
Manusia tidak membantah.
Karena setiap contoh perlawanan… telah dihapus.
Di sebuah fasilitas rahasia tua—yang bahkan pemerintah manusia tidak lagi ingat—Armand berdiri sendirian. Layar-layar di sekelilingnya menampilkan kekuasaan Arsitek yang kini merata.
Ia tertawa kecil.
“Luar biasa…”
“Mereka melakukan apa yang tidak bisa kulakukan.”
Ia berbalik, hendak mengaktifkan protokol terakhir.
Namun ruang di depannya… melipat.
Dua Arsitek muncul begitu saja, seolah sudah ada di sana sejak awal.
“Spesies manusia, Armand,” kata salah satu.
“Anomali penyebab.”
Armand tidak panik. Ia justru tersenyum lebar, tangannya dengan cepat mengamankan sesuatu sebelum Arsitek sempat menyadarinya.
“Akhirnya kalian datang.”
“Kau memanipulasi energi dimensi tanpa otorisasi kosmik,” lanjut Arsitek.
“Kau menciptakan ketidakstabilan lintas realitas.”
Armand membuka tangan.
“Aku mempercepat evolusi.”
“Tanpaku, kalian tidak akan turun tangan secepat ini,harusnya kalian berterimakasih padaku.”
“Evaluasi selesai,” jawab Arsitek.
“Keberadaanmu… tidak lagi diperlukan.”
Rantai cahaya membungkus tubuh Armand. Energi yang dulu ia kendalikan kini menolak dirinya sendiri.
“Satu hal lagi,” kata Armand cepat.
“Rey. Dia tidak akan tunduk pada apapun.”
Arsitek berhenti sejenak.
“Kami tahu.”
Armand tertawa—lalu menghilang, diseret keluar dari realitas menuju lokasi yang tidak terjangkau oleh apapun. Namun tanpa disadari Arsitek, Armand membawa sesuatu di tangannya yang akan menuntunnya kembali ke realitas.
Ditangkap.
Bukan oleh manusia.
Tapi oleh Cosmic itu sendiri.
Kabar tentang penangkapan Armand sampai ke Tim Cosmic melalui celah data yang hampir tertutup.
“Armand… ditangkap Arsitek,” kata Leoni pelan.
Tidak ada sorak.
Tidak ada kepuasan.
Rey menatap kosong ke langit buatan ruang dimensi.
“Dia bukan kemenangan,” katanya.
“Dia hanya bab yang ditutup.”
Sila menoleh.
“Lalu kita apa sekarang?”
Rey menghela napas panjang.
“Kita… bayangan.”
“Kita satu-satunya kekuatan yang belum mereka kontrol.”
Deva membuka mata.
“Dan mereka tahu itu.”
Di kejauhan, langit ruang dimensi berdenyut pelan—tanda bahwa Arsitek mulai memetakan batas-batasnya.
Hari berganti hari.
Tidak ada monster.
Tidak ada kehancuran.
Anak-anak pergi ke sekolah tanpa takut.
Kota dibangun ulang dengan cepat.
Penyakit menurun drastis.
Namun setiap manusia merasakan hal yang sama.
Mimpi mereka… tidak ada.
Pilihan mereka… tidak ada.
Masa depan mereka… diatur.
Dan di balik semua itu, Arsitek mengawasi.
Di ruang dimensi, Tim Cosmic berdiri di depan peta kosmik yang terus berubah.
Rey berbicara pelan, namun tegas.
“Kita bersembunyi bukan karena takut,” katanya.
“Kita bersembunyi… karena perang ini bukan soal kekuatan.”
Ia menatap satu per satu wajah timnya.
“Kita masih menunggu sampai kita tahu kelemahan Arsitek.”
"Tanpa persiapan yang matang kita hanya akan berakhir dihapuskan." lanjut Boy.
Di kejauhan, simbol Arsitek kembali muncul—kali ini lebih dekat dari sebelumnya.
Mereka telah menguasai dunia.
Dan sekarang…
Mereka mulai mencari yang tersisa.