NovelToon NovelToon
Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.

Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.

Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Jalan yang Tidak Lagi Sempit

Bangunan batu hitam kembali sunyi setelah kepergian para pengamat asing itu.

Kesunyian kali ini tidak hanya kosong, tapi lebih berat, menekan, seolah dinding-dinding batu masih menyimpan gema kehadiran makhluk-makhluk yang datang hanya untuk memastikan satu hal, Yuda memang ada.

Udara terasa lebih dingin dari biasanya, meski tidak ada angin. Setiap tarikan napas Yuda terasa sedikit tertahan, bukan karena lelah, melainkan karena pikirannya belum sepenuhnya tenang.

Yuda duduk bersandar pada dinding batu yang dingin. Punggungnya terasa nyeri, bukan jenis nyeri yang tajam, melainkan rasa pegal yang dalam dan menetap.

Tubuhnya terasa sangat lelah, tetapi pikirannya justru bergerak cepat, melompat dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain.

“Jadi, aku baru saja diperhatikan oleh orang-orang yang kelihatannya tidak suka berbicara panjang lebar.” kata Yuda akhirnya, memecah keheningan yang terlalu lama dibiarkan.

Tara pun langsung melompat ke batu di sampingnya dan duduk dengan santai setengah dipaksakan.

Ekor kucing putih kecil itu mengibas dengan perlahan, tapi matanya tetap waspada.

“Kalau mereka tidak suka basa-basi, kau pasti sudah mati sambil mendengarkan ceramah tentang tatanan dunia, meoww—” jawab Tara dengan candaan yang sinis.

“Hmm, kau tidak pernah membuat situasinya terasa lebih baik, dasar kucing jelek.” balas Yuda.

“Ya karena memang bukan tugasku untuk membuatmu merasa nyaman,” jawab Tara tak mau kalah.

Mendengar itu, Yuda pun hanya mampu menghela napasnya dengan panjang.

“Baiklah, baiklah, setidaknya aku masih hidup.” ucap Yuda kemudian.

“Itu mungkin hanya untuk sekarang,” jawab Tara cepat dengan menggoda.

Yuda pun hanya diam dan mengabaikannya, karena jika ia menjawabnya lagi, pasti si kucing buntal ini tidak mau kalah lagi.

Di saat mereka berdua sedang berbincang, terdengar langkah kaki Guruh perlahan mendekat.

Bunyi sepatu tuanya di lantai batu bergema pelan namun jelas.

Pria itu berhenti beberapa langkah dari Yuda dan menancapkan tombaknya ke tanah dengan gerakan yang tenang.

“Kau masih hidup,” kata Guruh dengan datar.

“Pengamatanmu memang sangat tajam, Guru." jawab Yuda dengan mendengus kesal.

“Hei, Itu pun bukan pujian, tapi itu penilaian.” lanjut Guruh.

Akhirnya, Yuda pun membuka mata sepenuhnya dan menatap Guruh.

“Penilaian untuk apa?” tanya Yuda akhirnya.

“Untuk menentukan apakah kau bisa melangkah lebih jauh,” jawab Guruh.

Tara yang mendengar itu, seketika mendongak.

“Hmmm.. Biasanya bagian ini diikuti kabar buruk,” kata Tara dengan mata yang terlihat sangat penasaran.

“Benar,” jawab Guruh tanpa ragu.

Guruh memandang lingkaran latihan yang kini retak di beberapa bagian.

Garis-garis energi yang dahulu stabil kini tampak kusam dan terputus-putus, seperti bekas luka lama yang dipaksa terbuka kembali.

“Tempat ini tidak lagi cukup,” kata Guruh akhirnya.

Yuda mengernyit.

“Maksudmu bangunan batu hitam ini?”

“Ya,” jawab Guruh. “Itu dibuat untuk menyembunyikan, bukan menantang perhatian.”

“Tapi sekarang aku malah sudah menarik perhatian,” kata Yuda pelan.

“Iya, dan lebih dari yang seharusnya,” jawab Guruh.

Yuda pun menoleh ke Tara untuk memberinya penjelasan,

“Katanya tempat ini aman.” ucap Yuda.

“Hei bocah bebal, aman itu relatif,” jawab Tara.

Persiapan dimulai malam itu juga.

Tidak ada upacara, tidak ada pengumuman.

Guruh hanya membuka lorong tersembunyi di sisi bangunan batu hitam.

Lorong itu sempit, menurun, dan dipenuhi batu kasar serta udara lembap yang membuat napas terasa berat.

“Ke mana ini akan membawa kita?” tanya Yuda sambil berjalan.

“Keluar dari jalur yang biasa diawasi,” jawab Guruh.

“Sebagian,” tambahnya setelah jeda singkat.

“Itu tidak menenangkan sama sekali,” gumam Yuda sembari melihat sekeliling.

Perjalanan melalui lorong berlangsung lama. Waktu terasa kabur. Tidak ada cahaya alami. Hanya langkah kaki mereka dan napas yang terdengar bergantian.

Beberapa kali Yuda hampir tersandung, dan setiap kali itu terjadi, Tara mengomentarinya tanpa belas kasihan.

“Aku bisa berubah jadi besar dan menggendongmu,” kata Tara.

“Hahaha.. Aku akan pura-pura pingsan kalau itu terjadi,” jawab Yuda dengan tawanya.

Lorong akhirnya berakhir pada celah sempit yang terbuka ke lereng pegunungan. Udara malam langsung menyambut mereka, dingin dan segar, membuat Yuda tanpa sadar menarik napas dalam-dalam.

Di kejauhan, cahaya kota kecil terlihat redup, berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.

“Mulai sekarang, kau tidak lagi berlatih di tempat tertutup.” ucap Guruh menatap Yuda.

Sedangkan Yuda saat ini malah menatap langit malam.

“Jadi aku akan kembali ke dunia?” gumam Yuda sembari menatap rembulan malam.

“Apa kau tahu, bahwa kau tidak pernah benar-benar meninggalkannya, ini hanya karena kau telah disembunyikan dari waktu.” jawab Guruh dengan membingungkan.

Yuda pun hanya terdiam, mencoba mencerna setiap perkataan Guruh.

Malam itu mereka tidak langsung berjalan jauh.

Guruh mengajari Yuda teknik pernapasan baru yang bukan untuk menekan tenaga, melainkan untuk menyamarkannya.

Teknik itu terasa aneh, seperti menahan diri untuk tidak bernapas terlalu dalam meski tubuh meminta.

“Orang kuat akan menarik perhatian, sedangkan orang yang tidak terlihat kuat bertahan lebih lama.” ucap Guruh pelan.

“Apakah aku harus berpura-pura lemah?” tanya Yuda.

“Tidak, tapi kau harus belajar menjadi orang biasa.” jawab Guruh meluruskan.

Hari berikutnya, perjalanan pun akhirnya dimulai.

Mereka melewati hutan lebat, sungai dangkal, dan jalan-jalan kecil yang jarang dilalui orang.

Beberapa kali Yuda merasakan tatapan dari kejauhan, namun tidak ada yang mendekat. Setiap kali itu terjadi, Tara akan berhenti dan mendengus pelan.

“Pengamat kecil, bukan sebuah ancaman.” gumam Tara pelan.

“Iya untuk sekarang,” balas Yuda singkat.

Menjelang senja, mereka tiba di sebuah desa kecil.

Desa itu sederhana. Rumah-rumah kayu berdiri rapat. Orang-orang berjalan dengan urusan masing-masing, tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan arus besar yang sedang bergerak di dunia.

“Ini mungkin menjadi bagian yang sulit,” kata Guruh.

“Memangnya kenapa, Guru?” tanya Yuda.

“Karena di sinilah kau akan belajar menahan diri,” jawab Guruh.

Yuda akhirnya mengamati seorang anak kecil yang kesulitan membawa kayu bakar.

“Apakah aku boleh membantunya?” tanya Yuda.

“Boleh, tapi tanpa menggunakan kekuatanmu, biasakan itu." jawab Guruh memperingatinya.

Yuda pun hanya menghela napas kembali.

“Hmm, sepertinya ini akan jauh lebih sulit daripada latihan.” gumam Yuda lirih sedikit mengeluh.

Malam itu, mereka bermalam di tepi desa.

Api unggun kecil menyala, memberikan cahaya hangat yang kontras dengan dinginnya malam. Yuda duduk menatap nyala api.

“Hei Tara, Kucing jelek, kalau dunia benar-benar bergerak ke arah perang, apakah aku akan siap?” tanya Yuda dengan ragu.

Tara hanya menatap api sejenak sebelum menjawab.

“Hei bocah bebal, bisakah kau lebih sopan sedikit!" jawab Tara kesal.

"Hmmm, tapi tidak ada yang benar-benar siap, karena kita semua di dunia ini bergerak maju, bukan mundur, jadi tidak akan ada yang tahu." lanjut Tara dengan suaranya yang dalam dan bijak, padahal sebelumnya ia memaki Yuda.

Guruh pun hanya mengamati dan berdiri di belakang mereka.

......................

1
JUNG KARYA
/Coffee/
JUNG KARYA
mohon dukungannya teman-teman🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!