NovelToon NovelToon
Am I Really Daddy'S Daughter?

Am I Really Daddy'S Daughter?

Status: sedang berlangsung
Genre:Putri asli/palsu / TimeTravel / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ChikoGin

Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.

Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?

Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 12: Ambang Kedewasaan Sang Mawar

Suasana di bawah naungan pohon ek yang rindang itu mendadak sunyi. Di meja teh yang besar itu, kini hanya tersisa ketegangan yang menyesakkan. Caspian masih terdiam, menatap kosong ke arah cangkir tehnya yang mendingin, sementara Valerius tampak sudah tidak sudi membuang waktu lebih lama lagi di sana.

Tanpa sepatah kata pamit pada sang Pangeran, Valerius tiba-tiba mengulurkan tangan dan menggandeng tangan Rubellite. Jemari kecil Rubellite seolah tenggelam dalam genggaman tangan Valerius yang hangat dan mantap. Valerius menarik gadis itu berdiri, membawanya pergi menjauh dari meja teh, meninggalkan Caspian sendirian dalam keheningan yang menyiksa.

Raze segera bergerak, berjalan di belakang mereka dengan tangan yang siaga di gagang pedang, memberikan perlindungan absolut bagi punggung sang Putri.

Saat mereka hampir keluar dari area taman yang lebih tertutup, Valerius menghentikan langkahnya sejenak. Ia memutar tubuhnya sedikit, mendekat ke telinga Rubellite dan membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat rendah, nyaris hilang tertiup desau angin.

"Malam ini, jam sepuluh. Temui aku di jembatan tua pasar bawah kota. Jangan bawa pengawalmu. Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu sebelum keadaan menjadi semakin rumit."

Rubellite tersentak pelan, jantungnya berdegup kencang karena ajakan yang begitu nekat itu. Namun, ia menatap mata Valerius yang penuh keyakinan dan mengangguk kecil sebagai tanda setuju.

Begitu mereka melewati gerbang taman, Raze yang sejak tadi mengamati dengan insting ksatria yang tajam langsung melangkah maju, menghalangi jarak antara mereka berdua.

"Nona, apa yang dikatakan Tuan Muda Valerius tadi kepada Anda?" tanya Raze dengan nada penuh selidik, matanya menatap bergantian ke arah Rubellite dan Valerius yang tampak tenang.

Rubellite menatap Raze dengan senyum kecil yang misterius, menyimpan binar rahasia di mata merahnya. "Rahasia," jawabnya singkat, membuat Raze hanya bisa menghela napas panjang menahan rasa frustrasinya karena tidak bisa menembus benteng rahasia nonanya sendiri.

Malam harinya, paviliun terasa sangat sunyi. Rubellite menunggu hingga lonceng menara berbunyi pelan. Dengan jantung berdebar, ia menyelinap keluar melalui jendela samping, menghindari rute patroli Raze yang biasanya sangat ketat. Mengenakan jubah pelayan yang kusam dan kerudung tebal, ia berlari menyusuri jalanan kota menuju pasar bawah yang ramai dengan lampion.

Di jembatan batu yang sepi, Valerius sudah menunggunya. Mereka berjalan menyusuri kota malam itu, menikmati udara bebas yang jarang mereka rasakan di dalam tembok istana. Untuk pertama kalinya, Rubellite merasa ia bukan lagi "Putri Valtia", melainkan hanya seorang gadis kecil biasa.

Valerius tiba-tiba berhenti di bawah cahaya rembulan yang memantul di air sungai. Ia menatap Rubellite dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya.

"Rubellite... setelah apa yang terjadi hari ini, bolehkah aku memanggilmu... Ruby?"

Perasaan senang yang hangat seketika membuncah di dada Rubellite. Nama itu terasa seperti sebuah pengakuan bahwa ia memiliki seseorang yang benar-benar memihaknya.

"Tentu," jawab Rubellite dengan senyum tulus yang sangat lebar. "Boleh, Valerius."

Setelah kesepakatan manis soal panggilan "Ruby" itu, suasana canggung di antara mereka mencair. Malam itu, ibu kota Valtia yang biasanya terlihat angkuh dari balik jendela istana, kini terasa begitu hidup dan hangat bagi Rubellite.

Valerius menarik pelan tudung jubah Rubellite agar lebih turun menutupi wajahnya. "Ayo, Ruby. Jangan melamun terus, atau kau akan tertinggal di kerumunan."

Mereka berjalan menyusuri Pasar Bawah yang riuh. Bau daging panggang berbumbu, aroma manis gulali, dan suara tawa rakyat jelata memenuhi udara. Valerius, yang biasanya terlihat kaku dengan etiket bangsawan, kini tampak santai. Ia menarik Rubellite ke sebuah kedai pinggir jalan yang menjual tusukan daging madu.

"Coba ini," ucap Valerius sambil menyodorkan satu tusuk.

Rubellite menggigitnya ragu, namun matanya langsung berbinar. "Ini... jauh lebih enak daripada makanan di perjamuan kaisar!"

Valerius tertawa kecil—tawa yang jarang ia perlihatkan di istana. "Tentu saja. Karena makanan ini dibumbui dengan kebebasan, bukan protokol."

Mereka terus berkeliling. Valerius membelikan Rubellite sebuah gelang tali kepang sederhana dengan batu kerikil biru yang mengilap dari seorang pedagang tua. "Ini bukan berlian dari Keluarga Vermilion, tapi ini tidak akan membuat lehermu pegal karena beratnya."

Rubellite segera memakainya dengan perasaan senang yang membuncah. "Aku akan menjaganya."

Langkah mereka terhenti di depan sebuah toko buku kecil yang hampir tutup. Di sana, mereka menemukan sebuah peta kuno kekaisaran. Valerius membelinya dan memberikannya pada Rubellite. "Pelajari ini. Suatu saat nanti, kau harus tahu ke mana harus lari jika tembok istana itu mulai runtuh."

Saat lonceng menara kembali berbunyi, menandakan tengah malam akan segera tiba, mereka kembali ke jembatan batu. Valerius menatap Rubellite yang wajahnya merona karena terlalu banyak tertawa dan berjalan. Udara malam yang tadinya dingin mendadak terasa hangat saat ribuan cahaya mulai bermunculan dari arah alun-alun kota.

"Lihat itu, Ruby," bisik Valerius sambil menunjuk ke arah langit.

Tepat saat itu, bunyi ledakan rendah terdengar, disusul oleh mekarnya kembang api berwarna merah dan emas yang menerangi cakrawala. Cahayanya memantul indah di permukaan sungai, menciptakan ilusi seolah langit dan air sedang menyatu dalam api. Tak jauh dari mereka, anak-anak kota mulai melepaskan lampion kertas ke udara, ratusan titik cahaya kecil yang terbang perlahan seperti kunang-kunang raksasa.

Rubellite terpaku, matanya yang merah delima berkilau memantulkan cahaya kembang api tersebut. Perasaan senang yang begitu murni membuncah di dadanya—sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan selama hidup di dalam sangkar emas istana.

"Ini... indah sekali," gumam Rubellite tanpa sadar.

Valerius tidak melihat ke arah langit. Ia justru menatap wajah Rubellite yang tampak bersinar di bawah hujan cahaya tersebut. "Aku ingin kau mengingat ini. Dunia ini jauh lebih luas dari sekadar tembok istana yang dingin itu."

Ia lalu mengambil sebuah lampion kecil yang baru saja ia beli dari pedagang di ujung jembatan. Valerius membimbing tangan Rubellite untuk memegang sisi lampion tersebut bersama-sama.

"Lepaskan bebanmu malam ini, Ruby. Biarkan cahaya ini yang membawanya pergi," ucap Valerius lembut.

Mereka melepaskan lampion itu secara perlahan. Saat lampion itu melambung tinggi bergabung dengan ribuan cahaya lainnya, Rubellite merasa seolah-olah kutukan dan luka di hatinya ikut terbang menjauh. Ia menoleh ke arah Valerius dan memberikan senyuman paling tulus yang pernah ia miliki.

"Terima kasih, Valerius. Untuk malam ini... dan untuk nama ini."

Sisa-sisa cahaya kembang api perlahan memudar dari langit, meninggalkan asap tipis yang menari tertiup angin malam. Di tengah jembatan batu yang sunyi itu, Valerius berhenti melangkah. Ia perlahan melepaskan genggaman tangannya, membuat Rubellite merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menyergap telapak tangannya.

"Aku harus kembali sekarang, Ruby," ucap Valerius. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh suara aliran sungai di bawah mereka. "Iring-iringan keluargaku akan berangkat sesaat setelah fajar menyingsing. Kalau aku tidak ada di kamar saat pelayan datang, semuanya akan berantakan."

Rubellite menatap Valerius, ada gurat kesedihan yang tak bisa ia sembunyikan di mata merahnya. "Jadi... ini benar-benar perpisahan?"

Valerius tidak langsung menjawab. Ia menatap Rubellite dengan tatapan yang sangat dalam, lalu mengulurkan tangan untuk membetulkan tudung jubah Rubellite yang sedikit miring.

"Bukan perpisahan. Ini cuma jeda," bisik Valerius dengan nada yang sangat yakin. "Aku pergi untuk membangun kekuatan di luar sana, sementara kau harus bertahan hidup di dalam sini. Jangan biarkan siapapun menginjakmu lagi."

Valerius kemudian merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah belati kecil bersarung perak dengan ukiran mawar yang sangat halus. Ia meletakkannya di telapak tangan Rubellite, memastikan gadis itu memegangnya dengan benar.

"Simpan ini. Kalau suatu saat kau merasa tersudut dan pengawalmu tidak ada di dekatmu, gunakan ini. Belati ini adalah bukti kalau kau adalah orang yang paling berharga buat Keluarga Vermilion," ucap Valerius.

Rubellite menggenggam belati dingin itu erat-erat. "Aku akan menunggumu, Valerius. Aku tidak akan membiarkan diriku hancur."

Valerius tersenyum tipis—senyum yang terasa begitu hangat di bawah cahaya bulan. "Jangan cuma menunggu. Tumbuhlah jadi mawar yang punya duri paling tajam di kekaisaran ini, Ruby. Sampai jumpa lagi."

Valerius berbalik dan menghilang dengan cepat ke dalam kegelapan lorong kota, meninggalkan Rubellite yang berdiri sendirian memandangi bayangannya yang menjauh. Dengan perasaan yang campur aduk, Rubellite pun berbalik untuk menempuh jalan pulang yang berisiko menuju paviliunnya.

Setelah berpisah dengan Valerius di jembatan tua, Rubellite berlari kecil menembus kegelapan malam menuju paviliunnya. Berkat pengetahuannya tentang rute patroli Raze, ia berhasil menyelinap melewati taman tanpa terdeteksi sedikit pun. Dengan lincah, ia memanjat kembali jendela kamarnya yang terbuka.

Begitu kakinya menyentuh lantai marmer, Rubellite bergerak secepat kilat. Ia menarik kain panjang yang ia gunakan sebagai tali untuk turun tadi, menggulungnya dengan terburu-buru, dan menyembunyikannya jauh di bawah tumpukan pakaian di dalam lemari. Ia segera melepas jubah kusamnya, menggantinya dengan gaun tidur sutra, dan memastikan jendela tertutup rapat serta terkunci dari dalam.

Krieet...

Suara pintu terbuka membuat jantung Rubellite serasa berhenti berdetak. Ia segera melompat ke atas ranjang dan menarik selimut hingga ke dagu, memejamkan mata tepat saat cahaya lampu minyak dari arah pintu masuk ke kamarnya.

Anna melangkah masuk dengan nampan berisi segelas susu hangat. Ia berhenti di dekat tempat tidur, menatap Rubellite yang tampak begitu tenang.

‘Hampir saja...’ batin Rubellite. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang masih menggila di balik dadanya, berusaha keras mengatur napas agar terdengar seperti orang yang sedang tidur lelap.

Anna meletakkan gelas itu di meja samping, lalu ia duduk di tepi ranjang. Ia mengulurkan tangan, menyentuh dahi Rubellite yang sedikit lembap. "Nona? Anda sudah bangun?" bisik Anna pelan.

Rubellite perlahan membuka matanya, pura-pura baru saja terbangun dan sedikit mengantuk. "Anna? Kenapa kau kemari malam-malam?"

Anna menatap Rubellite dengan tatapan menyelidik. Meskipun Rubellite merasa sudah rapi, Anna menyadari ada sesuatu yang tidak biasa. Tatapan Anna beralih ke jendela, lalu kembali ke wajah Rubellite yang sedikit memerah.

"Hamba membawakan susu hangat, Nona. Hamba merasa gelisah dan ingin memastikan Anda baik-baik saja," ucap Anna lembut. Namun, wajahnya berubah menjadi sangat cemas. Ia menggenggam tangan Rubellite yang masih terasa dingin akibat udara malam.

"Nona... apakah Anda sedang menyembunyikan sesuatu dari hamba?" tanya Anna, suaranya sedikit bergetar karena khawatir. "Kenapa Anda tidak memberitahu hamba? Hamba tahu hamba tidak punya pedang untuk menjaga Anda, tapi hamba sangat takut jika sesuatu terjadi pada Anda tanpa hamba tahu. Anda bisa mempercayai hamba untuk apa pun, Nona."

Melihat kekhawatiran yang begitu nyata di wajah Anna, Rubellite terdiam. Rasa bersalah mulai menyelinap, menyadari bahwa pengasuhnya ini benar-benar tulus menyayanginya.

"Maafkan aku, Anna," bisik Rubellite lirih. Ia menatap mata Anna dengan sungguh-sungguh. "Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak akan pergi diam-diam lagi tanpa memberitahumu. Aku benar-benar minta maaf."

Anna menarik napas panjang, tampak lega sekaligus masih sedikit was-was. "Hamba memegang janji Anda, Nona. Sekarang, minumlah susunya dan tidurlah. Besok pagi Yang Mulia Kaisar sudah menunggu Anda."

1
Raine
heh bukannya si raze bela kamu ya, kok jadi marah ke si raze ?? trus mengulang waktu kan, tumbang cuman karna diketawain ck
★Xia★
🥳🥳🥳
★Xia★
semangat kak, ak selalu nunggu up nih tapi cuma 1bab aja, semangat terus biar bisa up banyak kedepannya
★Xia★: gppp kok, akan ku tunggu
total 4 replies
★Xia★
seru banget
★Xia★
semangat kakkkk😍😍😍😍
★Xia★: Sama-sama
total 2 replies
Zimbabwe Zimbabwe01
mantap bro walaupun agak kureng💪🤣🤣
Nico Ardi: baru belajar buat novel sih hhe👍
total 1 replies
Steven Stevennn
p
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!