NovelToon NovelToon
London’S Heart Surgeon

London’S Heart Surgeon

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pernikahan rahasia / Kehidupan alternatif
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan

Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
​Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Lyra merasa dadanya mulai sesak. Bukan karena aroma kopi, melainkan karena atmosfer di meja itu yang mendadak terasa menghimpit. Tanpa menunggu kopinya benar-benar habis, ia segera menyambar tas kerja dan ponselnya.

​"Aku harus balik, Rey. Ada laporan pasien yang harus kuselesaikan sebelum shift besok," ucap Lyra cepat, memberikan senyum formal yang paling tipis yang ia punya.

​Ia berjalan cepat keluar dari kafe. Begitu loncing pintu berdenting dan udara malam yang segar menerpa wajahnya, batinnya langsung meledak.

​> APAANSI?? Gak jelas banget ini orang! Emang dia siapa, bapak gue? Kok jadi dia yang ngatur-ngatur gue sanggup atau enggak di London?!

​Lyra terus melangkah cepat di atas trotoar, tumit sepatunya berbunyi ritmis di atas paving blok. Namun, baru beberapa meter, suara langkah kaki yang lebih berat mengejarnya dari belakang.

​"Ly! Lyra, tunggu dulu!"

​Tangan Rey sempat menyentuh lengan jas Lyra, membuat dokter muda itu terpaksa berhenti dan berbalik. Wajahnya tetap terlihat tenang, datar, dan profesional—ciri khas Dokter Lyra yang selalu terkendali di depan pasien. Namun, di dalam kepalanya, badai makian sedang berlangsung.

​> LAHH ANJIRR KOK JADI GINI! Ngapain sih pakai adegan kejar-kejaran segala? Ini depan umum, Rey! Malu-maluin banget, dokter syalan! Lo pikir ini drakor apa?!

​"Ly, maaf kalau aku lancang tadi. Aku cuma... aku cuma nggak mau kehilangan kamu. London itu jauh banget, dan kalau kamu pergi ke Delphi, lingkungan di sana bakal beda. Orang-orang di sana ambisius semua," ujar Rey dengan napas yang sedikit terengah, menatap Lyra dengan tatapan memelas yang justru membuat Lyra ingin menghilang saat itu juga.

​Lyra menarik napas panjang, menatap Rey lurus-lurus. Secara lahiriah, ia tampak seperti seorang dokter yang sedang memberikan penjelasan medis yang tenang kepada keluarga pasien.

​"Rey, aku menghargai perhatian kamu. Tapi ini keputusan profesional. Aku nggak butuh orang untuk meyakinkan aku soal kemampuanku sendiri, karena aku tahu batasanku," suara Lyra terdengar sangat stabil, meski di otaknya ia sedang berteriak:

​> Sumpah ya, ini orang makin lama makin creepy! Bisa nggak sih sehari aja nggak usah drama? Gue mau jadi perwakilan rumah sakit ke London, bukan mau pergi ke medan perang! Berisik banget mulutnya!

​"Tapi kita bisa bicarakan ini baik-baik, kan? Makan malam besok?" Rey masih mencoba meraih kesempatan.

​"Besok aku sibuk mengurus dokumen keberangkatan dengan Dokter Aris. Maaf ya, Rey. Aku harus duluan," Lyra memutar tubuhnya dengan gerakan tegas, tidak memberikan celah bagi Rey untuk membalas.

​Ia berjalan pergi dengan langkah lebar, meninggalkan Rey yang terpaku di bawah lampu jalan yang temaram. Begitu ia sudah cukup jauh dan masuk ke dalam mobilnya, Lyra memukul setir pelan sambil mengembuskan napas frustrasi yang sedari tadi ia tahan.

​"Dokter gila! Untung aku nggak jadi sama dia," gumamnya pelan sambil menyalakan mesin. Pikirannya kini sudah terbang jauh melintasi samudra, menuju gedung megah Rumah Sakit Delphi, menjauh dari drama Rey yang menyesakkan.

Pagi terakhir di Rumah Sakit Medika terasa lebih berat dari yang Lyra bayangkan. Meski otaknya sudah dipenuhi daftar barang yang harus dibawa ke London dan makian sisa semalam untuk Rey, langkah kakinya di koridor bangsal anak terasa sedikit melambat.

​Lyra sedang melakukan visit terakhirnya ketika ia sampai di bed nomor empat, tempat seorang pasien kecil bernama Baim sedang duduk sambil memegang robot-robotan yang salah satu lengannya sudah copot. Baim baru berusia enam tahun, pejuang kecil yang sudah seminggu ini bertarung melawan demam berdarah.

​"Halo, jagoan. Gimana hari ini? Masih mual?" sapa Lyra sambil berjongkok agar tingginya sejajar dengan tempat tidur Baim.

​Baim tidak langsung menjawab. Ia menatap Lyra dengan mata bulatnya yang besar, lalu meletakkan robotnya dengan lesu. "Dokter Lyra beneran mau pindah ya ke tempat jauh?"

​Lyra tertegun. Ia belum sempat mengumumkan hal ini secara luas, tapi rahasia di rumah sakit memang lebih cepat menyebar daripada virus flu. Ia tersenyum lembut, tangannya terulur mengusap rambut Baim yang sedikit berantakan.

​"Dokter cuma pergi sebentar buat belajar, Baim. Biar nanti kalau Dokter balik, Dokter punya 'jurus' baru buat bikin anak-anak makin cepat sembuh," jawab Lyra berusaha terdengar ceria.

​Namun, bibir kecil Baim justru melengkung ke bawah. "Tapi nanti aku sama siapa? Dokter lain nggak ada yang bisa benerin robot aku pakai plester luka kayak Dokter. Nanti kalau aku takut disuntik, siapa yang mau kasih stiker dinosaurus?"

​Mendengar itu, hati Lyra seperti dicubit. Sisi empatinya sebagai dokter spesialis anak langsung bereaksi, rasa haru mulai merayap di dadanya. Namun, seperti biasa, isi kepalanya punya cara sendiri untuk memproses emosi itu secara liar.

​> YA AMPUN, DEK! Jangan bikin Dokter nangis di sini dong! Masa gue harus batalin tiket ke London gara-gara stok stiker dinosaurus? Mana nih suster, tolongin gue, ini pasiennya terlalu gemoy, gue nggak kuat!

​"Baim dengerin Dokter ya," Lyra mengatur suaranya agar tetap tenang dan meyakinkan. Ia merogoh saku jas putihnya, mengeluarkan sebuah stiker hologram langka bergambar T-Rex yang selama ini ia simpan. "Ini stiker paling kuat yang Dokter punya. Selama Dokter di London, Baim yang pegang ini. Ini tandanya Baim harus jadi anak paling berani di sini. Janji?"

​Baim menatap stiker itu dengan takjub, lalu perlahan mengangguk dan menautkan jari kelingking kecilnya ke kelingking Lyra. "Janji, Dok. Tapi Dokter jangan lama-lama ya di London. Di sana banyak orang jahat nggak?"

​Lyra tertawa kecil sambil bangkit berdiri. "Di sana banyak dokter hebat, Baim. Dokter mau belajar sama mereka."

​Begitu keluar dari kamar Baim, Lyra menyandarkan punggungnya di tembok koridor dan mengembuskan napas panjang. Matanya sedikit berkaca-kaca, tapi pikirannya kembali berputar cepat.

​> Aduh, London... Delphi... Kepala rumah sakit yang katanya ganteng itu... Gue harus beneran belajar banyak di sana. Gue nggak boleh malu-maluin di depan 'The Best' itu, demi pasien-pasien kayak Baim! Tapi bentar, gue belum beli koper baru yang rodanya nggak bunyi 'ngik-ngik' kan? Gengsi dong kalau di Delphi koper gue bunyi!

​Tepat saat itu, Mira muncul dari arah poli gigi sambil membawa dua cup kopi. "Hayo, habis drama perpisahan ya sama pasien favorit?"

​"Berisik, Mir," sahut Lyra sambil merebut salah satu kopi dari tangan sahabatnya.Meja bundar di sudut kantin rumah sakit itu menjadi saksi bisu sesi istirahat terakhir mereka sebagai trio lengkap sebelum keberangkatan Lyra. Suasana kantin sedang berada di puncak keramaian jam makan siang. Bunyi denting sendok yang beradu dengan piring porselen bersahutan dengan suara bising mesin pencuci piring dari arah dapur. Seorang petugas kebersihan tampak sibuk mengepel lantai yang baru saja terkena tumpahan sup, sementara beberapa perawat dari bangsal bedah berjalan terburu-buru membawa nampan makanan mereka menuju meja kosong.

​Layla menyesap jus jeruknya dengan antusiasme yang tidak bisa disembunyikan, sementara Mira sibuk menusuk potongan buah potongnya. Lyra sendiri hanya mengaduk-aduk saladnya, pikirannya masih terbagi antara wajah sedih Baim dan tumpukan baju yang belum masuk koper.

​"Ly, kamu tahu nggak," Layla memulai dengan suara yang sengaja direndahkan, membuat Lyra dan Mira otomatis condong ke depan. "Aku baru saja baca di artikel jurnal eksklusif minggu lalu. Kepala Rumah Sakit Delphi itu bukan cuma sekadar pemimpin administratif. Dia itu benar-benar pemegang rekor untuk operasi saraf pediatrik paling rumit di dunia."

​Seorang residen muda lewat di samping meja mereka, hampir menyenggol bahu Mira, namun Layla tidak peduli. Ia terus melanjutkan narasinya dengan binar mata yang penuh kekaguman.

​"Orang-orang di London memanggilnya dengan sebutan 'Tangan Tuhan' karena saking presisinya dia di ruang operasi. Tapi di balik kejeniusannya itu, dia dikenal sangat dingin. Dia tidak suka basa-basi, sangat perfeksionis, dan kabarnya dia bisa mengenali kesalahan diagnosis hanya dengan sekali melihat grafik pasien dari jarak dua meter. Kamu harus benar-benar siap mental, Ly. Jangan sampai kamu kena semprot di hari pertama!"

​> WADUH! Batin Lyra berteriak panik. Tangan Tuhan? Dingin? Perfeksionis? Ini gue mau belajar kedokteran apa mau masuk kamp militer sih?! Jangan-jangan kalau gue salah sebut nama obat, gue langsung disuruh pulang ke Indonesia pakai rakit?!

​"Tapi ya itu," Mira menimpali sambil tersenyum jahil. "Sifat dinginnya itu yang bikin dia makin legendaris. Katanya, kalau dia sudah jalan di koridor Delphi dengan jas dokter yang dikancing rapi, semua suster dan dokter muda di sana otomatis bakal merapikan barisan. Karismanya itu... luar biasa. Dan yang paling penting, Ly, namanya itu sangat ikonik di dunia medis Inggris. Namanya adalah..."

​Layla menarik napas panjang, seolah nama yang akan ia ucapkan adalah sebuah mantra suci yang bisa mengubah suasana kantin yang berisik ini menjadi senyap seketika.

​"Namanya..." Layla menggantung kalimatnya, matanya menatap Lyra dengan intensitas yang membuat Lyra hampir tersedak air mineralnya sendiri.

​> DUH, CEPETAN DONG! Keluh Lyra dalam hati. Ngapain sih pakai acara dramatis segala? Tinggal sebut doang susah amat! Layla ini bener-bener ya, hobi banget bikin jantung gue olahraga lari marathon pagi-pagi begini!

​Seorang pelayan kantin tiba-tiba meletakkan pesanan tambahan berupa sepiring gorengan di meja sebelah dengan suara brak yang cukup keras, memecah ketegangan sesaat di antara mereka. Lyra memutar bola matanya, berusaha tetap terlihat tenang meskipun di dalam kepalanya ia sudah ingin mengguncang-guncang bahu Layla agar sahabatnya itu segera menyelesaikan kalimatnya.

​"Nama pria yang bakal jadi bos kamu di London itu..."

1
Cici Winar86
di sinopsis nya pharma dokter jantung..tapi ini di bilangnya di sini dokter saraf...
AEERA♤: terimakasih atas koreksi‐an nya kak👍
total 1 replies
AEERA♤
bacaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!