Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Lily yang menyaksikan semuanya dalam diam, akhirnya bergerak maju. Berdiri ditengah-tengah kedua kakaknya. Sangat dekat, tanpa melakukan apapun. Seolah membiarkan jarak yang membentang diantara mereka mengambil waktu sejenak untuk bernafas. Ia hanya menatap lama ke arah gerbang rumah itu dengan mata menyipit dan kening yang mengerut.
Dari tempatnya berdiri saat ini, masih bisa Lily dengar nyanyian riang dari lagu anak-anak yang berjudul Abang tukang bakso yang dinyanyikan oleh teman-teman sang kakak. Dengan diiringi oleh suara mangkuk yang di pukul menggunakan sendok. Menghasilkan dentingan lembut yang tak seirama.
Jujur saja, suara mereka itu tidak enak di dengar. Sedikit sumbang, bahkan lebih seperti berteriak tak jelas. Di tambah dengan lirik yang asal. Sama seperti ketika Mbak Nurul bernyanyi sewaktu ia memasak di dapur. Namun anehnya, Lily tak merasa terganggu. Sebaliknya, ia justru merasa terhibur. Ada kesenangan tersendiri yang ia rasakan, yang mampu membuat rasa bosannya hilang. Lily pikir, mereka bahkan lebih kekanak-kanakan daripada dirinya yang memang masih anak-anak ini.
"Teman-teman kalian... aneh." Celetuknya tanpa sadar.
Dua orang disamping Lily menoleh serempak, dengan tatapan yang kontras terlihat. Satu orang memutar matanya, seolah merasa jengah. Sementara satu orang lagi hanya menatap geli. Seolah apa yang Lily katakan adalah lelucon paling lucu sedunia.
"Nggak ngaca. Padahal sendirinya jauh lebih aneh." Cibir Andra.
Setelah berkata begitu, ia segera pergi dari sana. Berjalan menuju pendopo untuk berteduh. Jalannya cepat, sedikit menghentak. Entah apa yang terjadi dengannya hingga ia terlihat sangat kesal.
Andra melepas sepatunya asal, kemudian merebahkan tubuhnya dibawah atap, beralaskan keramik yang dingin. Satu tangan terangkat untuk menutupi mata, sementara tangan yang lain berada di bawah kepala. Digunakan sebagai bantal. Sementara dibawah tangan itu, matanya telah terpejam. Seakan telah siap mimpi membawanya ke alam lain.
Lily menyadarinya, tentang sikap aneh sang kakak yang begitu tiba-tiba. Yang terjadi tanpa sebab yang jelas. Di dunia ini, selain perempuan yang katanya sangat sulit dimengerti, ada Andra yang juga sama susahnya untuk dimengerti. Setidaknya untuk hari ini, ketika kondisi emosionalnya naik turun tak terkendali dan terjadi sangat parah.
Nafas Lily terhela panjang. Menatap sang kakak sama kesalnya. Dalam hati yang paling dalam, ia sangat menyayangi kakaknya. Bagaimanapun pria itu adalah saudara satu-satunya yang Lily punya. Tapi anehnya, jenis manusia seperti Andra lah yang justru paling ia benci. Mudah marah, mudah terpancing emosi, mudah tersinggung. Meski semua itu sebagian besar terjadi karena dirinya.
Tapi hari ini, Lily rasa tidak ada hal yang ia lakukan yang bisa memancing emosinya hingga seperti itu. Itu jelas karena hal lain. Sesuatu yang tidak ia ketahui dengan pasti.
Tak sengaja netranya tertuju ke tempat lain. Dimana Jeffrey juga tengah menatapnya lama dan dalam. Seakan sebuah tatapan dapat menembus langsung ke dalam pikiran.
"Mas Andra kenapa sih marah-marah terus?" Tanya Lily tak mengerti. Lebih kepada dirinya sendiri. Tetapi suaranya cukup keras untuk bisa di dengar. Terutama bagi orang disampingnya.
Jeffrey mengangkat bahu. Kemudian berkata singkat tanpa mengalihkan pandangan. "Nggak tahu."
Atau lebih tepatnya tidak mau memberitahu. Yang Jeffrey pedulikan sekarang hanya satu, menyelesaikan semua tugas secepat mungkin. Kemudian menunaikan janjinya pada Lily dengan membawanya ke mall untuk bermain.
"Ayo kita tunggu mereka disana." Jeffrey menunjuk ke tempat dimana Andra tengah mengistirahatkan dirinya. Kemudian berjalan lebih dulu, di depan.
Lily menatap kembali kearah gerbang, lalu beralih pada Jeffrey yang telah menjauh. Ia memutuskan untuk mengikuti pria itu dari belakang. Kakinya terasa pegal karena terlalu lama berdiri, butuh diistirahatkan. Apalagi mereka pergi tak lama setelah ia pulang dari sekolah. Dan sialnya, ada pelajaran olahraga hari ini. Yang mengharuskannya berlari memutari lapangan beberapa kali.
Setelah semua terlepas, Lily menaruh sepatunya disamping sepatu milik sang kakak. Lantas tertunduk lama. Tatapannya terus mengarah ke bawah. Dan perbedaan itu terlihat nyata adanya. Perihal ukuran kaki mereka. Kini Lily akhirnya tak dapat mengelak soal betapa kecil dirinya. Kemudian dengusan keluar begitu keras karena perasaan tak senang.
Lily memilih tempat diujung, duduk bersandarkan tiang tinggi yang menyangga bangunan. Kakinya yang pendek, terjulur kedepan. Lurus dan lurus. Sedikit melunturkan letih yang terasa. Sementara Jeffrey telah berbaring disamping Andra. Dengan posisi serupa. Mulutnya bergerak-gerak, entah apa yang dibicarakannya. Lily tak dapat mendengarnya karena suaranya begitu lirih. Dan ia tak berniat mencari tahu juga.
Suara berisik datang dari arah depan. Orang yang mereka tunggu, akhirnya datang satu demi satu dengan semangkuk penuh bakso ditangan. Mereka berbaris lurus kebelakang seperti prajurit perang. Langkah mereka selaras. Dengan hentakan yang pas.
Dari mulut mereka, keluar seruan-seruan yang tak Lily mengerti. Entah dengan maksud apa, entah dengan tujuan apa. Atau bahkan hanya keisengan belaka.
Satu orang di depan, yang tidak Lily ketahui namanya, berhenti ketika tatapan mereka bertemu. Dengan mata terbelalak seperti melihat hantu. Membuat orang-orang yang berada dibelakangnya, yang tak siap, berakhir menabrak punggungnya.
Mangkuk setiap orang bergoyang. Kuah otomatis berjatuhan tanpa bisa dicegah. Beberapa mengenai kaki, menyebabkan rasa terbakar yang tak dapat dihindari. Beberapa jatuh ke tanah, meninggalkan jejak basah.
Orang kedua dari barisan, menepuk keras bahu orang didepannya. "Gimana sih Jhon? Berhenti kok nggak bilang-bilang!" Protesnya dengan rasa kesal yang tak dapat ditutupi.
Begitu juga dengan orang di baris berikutnya. Yang juga ikut meluapkan kekesalannya. "Jadi tumpah ini baksonya! Ah! sayang banget ini kuahnya. Padahal sengaja minta banyak."
Orang yang di panggil Jhon itu mengarahkan telunjuknya ke arah Lily. Kemudian berkata dengan suara yang sangat pelan. Seolah suara sekecil apapun dapat menganggu ketenangan sosok didepannya. "Lihat itu disana..."
Semua orang kompak menoleh. Dengan ekspresi wajah yang tak jauh berbeda dengan pria bernama Jhon tadi. Bahkan lebih lucu. Andai Lily membawa kamera, ia ingin memotret mereka dan memajangnya dikamar. Setidaknya wajah-wajah lucu itu bisa dijadikan penghibur saat ia sedih nanti.
"Dia... manusia kan bro?" Suara si Jhon sedikit terbata saat bertanya pada orang disampingnya.
Lily bisa mendengar dan melihat. Dan ia tidak senang dengan apa yang telinganya tangkap. Apa dia terlihat seperti hantu? Lily meneliti dirinya sendiri. Dari atas sampai bawah tanpa terkecuali. Dan ia merasa tak ada yang salah.
Rambut lurus sampai pinggang, gaun putih panjang dan wajah yang... Ia pikir wajahnya baik-baik saja. Tak ada luka, tak ada goresan yang menakutkan. Tapi karena kelelahan, apa sekarang ia terlihat pucat?
"Kayaknya sih iya. Harusnya setan nggak menampakkan diri disiang bolong kan?"
Ditempatnya, Lily hanya bisa terperangah kala sadar bahwa dirinya memang benar-benar dikira hantu. Tangannya mengepal kuat dalam pangkuan, merasa tak terima. Sementara pupil matanya bergerak-gerak tak tenang, sedikit memerah. "Aku bukan setan." Ucapnya tegas. Mencoba membantah semua tuduhan.
Wajah mereka terlihat lega. Bahu yang semula tegang, perlahan mengendur. Turun perlahan-lahan. Orang di depan, yang wajahnya terlihat paling galak diantara yang lain, berjalan mendekatinya. Dia seseorang yang di panggil Jhon tadi.
Tubuh Lily gemetar, merasakan takut yang tidak biasa. Perlahan duduknya mundur sedikit demi sedikit. Hingga pantatnya sampai di tepi dan ia hampir kehilangan keseimbangan.
"Hati-hati!!!"
Mangkuk di tangan, ditaruh dilantai pendopo dengan bunyi yang keras. Kemudian ia bergegas menghampiri Lily. Memegangi tubuhnya yang hampir jatuh terjerembab karena permukaan lantai berlapis keramik itu lebih tinggi dari tanah disekelilingnya.
Jantung Lily rasanya hampir turun ke dasar, terperosok pada lubang terdalam. Degupnya begitu kencang layaknya genderang perang. Kuat, cepat dan penuh tekanan. Tubuhnya dingin, tangannya gemetar dan kakinya lemas.
"Anak kecil, kamu nggak papa?" Tanya pria yang masih mengenakan seragam sekolah itu pada Lily dengan nada khawatir, sembari menilai dan mengamati. Gerombolan lainnya datang mendekat, ikut mengerubungi.
Lily mengangguk lemas. "Nggak papa. Cuma kaget aja."
"Syukurlah. Lain kali hati-hati yah." Ucapnya pelan, penuh kelegaan. Nadanya begitu lembut dan halus. Seolah tak ingin membuat Lily ketakutan.
Tak ada balasan. Hanya senyum tipis dan anggukkan ringan yang pria itu dapatkan sebagai jawaban. Lily masih dalam keterkejutannya. Masih belum bisa merespon dengan baik. Di tambah wajah-wajah asing yang kini mengelilinginya membuatnya gugup tanpa sadar.
Disisi lain, Jeffrey yang sempat terlelap, terbangun karena mendengar suara gaduh disekitarnya. Ia menoleh ke segala penjuru untuk mencari dimana sumbernya. Dan netranya menemukan Lily bagai cahaya yang dikerubungi ngengat. Atau bagai bunga dengan banyak kumbang yang mengelilingi.
Jeffrey segera mendekat. Membelah kerumunan dengan kedua tangannya. Membuat orang-orang itu satu demi satu tersingkir dengan tekanan yang kuat. Tepat di depan Lily, ia segera memeriksa keadaannya, memeriksa tubuh kecilnya. Memastikan apakah ia baik-baik saja atau tidak.
Merasakan ada yang tidak beres, Jeffrey menatap tajam teman-temannya. "Kalian apakan dia?"
Semua orang saling berpandangan, kemudian mengangkat tangan, mengibas di depan wajah dan menggeleng sembari mundur perlahan. Rasa dingin menyelimuti punggung mereka saat merasakan aura disekitarnya berubah menjadi lebih horor dan mencekam.
"Kami nggak ngapa-ngapain, sumpah. Iya kan gais?" Kata si Jhon. Pria dengan perawatan tinggi besar itu.
Ke empat temannya mengangguk serempak, membenarkan apa yang pria itu katakan. "Iya Jeff. Kita cuma mau liat keadaan dia aja."
Merasakan tegangan diantara mereka, Lily menarik-narik ujung baju Jeffrey. Meminta perhatiannya. Saat pria itu akhirnya menoleh, ia berkata dengan suara lirih. "Apa yang mereka katakan bener Mas. Mereka memang tadi cuma mau nolongin aku."
Ditatapnya wajah Jeffrey lama, mencoba meyakinkannya. Kekhawatiran pria itu membuatnya merasa tak enak hati pada orang-orang asing ini.
Lily tak mengerti, juga tak paham. Ia hanya hampir jatuh. Dan kata 'hampir' ini sepertinya perlu di bold dalam otak mereka agar tak lupa apa maknanya. Lagipula, jarak antara permukaan tanah dengan tempat ia duduk saat ini hanya 30 cm. Bukannya setinggi gedung Burj Khalifa yang hampir menyentuh langit itu. Kalaupun ia jatuh, paling tidak hanya luka ringan seperti lecet di bagian tertentu.
Sorot tajam itu perlahan melunak. Berganti menjadi perasaan lega. Jeffrey menatap Lily dengan sayang, kemudian memeluk tubuhnya erat-erat.
"Jangan buat aku khawatir." Katanya.
Lily mengangguk. Tak lagi bersuara. Tetapi nafasnya sudah jauh lebih normal, lebih stabil.
Kemudian tatapan Jeffrey berpindah pada teman-temannya. "Maaf, udah berburuk sangka."
"Nggak papa Jeff. Adik mu juga adik kami juga. Kita bakal jagain."
Tak jauh dari sana, Andra yang masih setengah sadar, mencoba memahami situasi. Kerutan di dahinya terbentuk samar. Sementara netranya masih berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang menyilaukan. Mengerjap-ngerjap pelan. Berulang kali. Dengan ritme yang konstan. Ia berucap dengan lirih, namun mampu membuat semua orang menyadari atensinya.
"Adik apa yang kalian maksud?"
Salah satu dari mereka menjawab. "Adiknya Jeffrey Ndra, tadi mau jatuh."
Kerutan di dahi Andra terlihat semakin dalam. "Jeffrey mana punya adik."
"Lohh? Bukannya itu adiknya?"
Saat kerumunan itu mulai menyebar, Andra menatap Lily dengan seringai yang menakutkan. "Hehh bocah!! Adik siapa kamu?!"
Lily mendengus kesal saat penggilan itu kembali ia dapatkan. Kemudian ia berkata dengan lantang. "Adik Mas Andra!!"