Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.
Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.
Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh Tanpa Wajah
Pesan itu tidak dibalas.
Kevin hanya menatap layar ponselnya beberapa detik… lalu menguncinya.
Siska bisa melihat perubahan di matanya.
Bukan panik.
Bukan marah.
Tapi waspada.
“Nomor yang sama?” tanya Siska pelan.
Kevin menggeleng.
“Beda.”
Artinya?
Ada orang lain.
Atau… ada tim.
Malam itu Kevin tidak langsung tidur.
Ia duduk di ruang kerja, memutar ulang semua kejadian beberapa bulan terakhir.
Direktur lama.
Dalang yang ditangkap.
Manipulasi saham.
Semuanya terasa seperti potongan puzzle.
Dan sekarang muncul potongan baru.
Yang tidak terlihat bentuknya.
Keesokan harinya, Kevin memanggil kepala keamanan pribadinya.
“Apa ada pergerakan mencurigakan setelah penangkapan kemarin?”
“Tidak ada yang signifikan, Pak. Tapi memang ada beberapa akun anonim di forum bisnis yang terus menyerang reputasi perusahaan.”
Kevin menyipitkan mata.
“Serangan opini.”
Bukan fisik.
Bukan sabotase langsung.
Tapi perlahan.
Mengikis kepercayaan.
Sementara itu di rumah, Siska mencoba tetap normal.
Ia tidak ingin Cantika merasakan ketegangan lagi.
Tapi instingnya sebagai ibu berkata—
Ini belum selesai.
Sore itu, saat Kevin pulang lebih cepat, Siska langsung bertanya,
“Kamu mau kejar ini lagi?”
Kevin menatapnya.
“Aku nggak mau hidup dalam bayangan ancaman tanpa tahu siapa pelakunya.”
“Kamu janji nggak akan tenggelam lagi?” suara Siska melembut.
Kevin mendekat.
“Aku janji. Kali ini aku nggak akan pilih ego.”
Beberapa hari berikutnya, serangan makin terasa.
Artikel anonim muncul.
Isu lama diungkit kembali.
Seolah ada yang sengaja memancing Kevin bereaksi.
Salah satu direksi datang dengan wajah khawatir.
“Pak, kalau ini terus dibiarkan, citra perusahaan bisa jatuh lagi.”
Kevin terdiam.
Dulu, ia akan langsung melawan dengan agresif.
Sekarang?
Ia berpikir lebih dalam.
“Biarkan mereka bicara,” ucapnya tenang.
Direksi terkejut.
“Pak?”
“Kalau kita menyerang balik tanpa bukti, kita justru terlihat defensif.”
Kevin berdiri.
“Musuh tanpa wajah ingin aku kehilangan kendali.”
Malamnya, Kevin duduk bersama Siska di ruang keluarga.
“Aku sadar satu hal,” katanya pelan.
“Apa?”
“Musuh kali ini nggak mau menjatuhkan perusahaan.”
Siska mengernyit.
“Lalu?”
Kevin menatap lurus ke depan.
“Dia mau menguji aku.”
Menguji apakah Kevin akan kembali menjadi pria lama yang haus kontrol.
Menguji apakah ia akan mengorbankan rumah demi membuktikan diri.
Tiba-tiba ponsel Kevin berbunyi.
Video masuk dari nomor anonim.
Kevin dan Siska saling pandang.
Ia membukanya.
Rekaman singkat.
Video lama.
Rekaman saat Kevin dulu memarahi Siska dengan nada tinggi, bertahun-tahun lalu.
Jelas diambil dari CCTV rumah lama mereka.
Siska membeku.
Itu masa lalu yang ingin mereka lupakan.
Pesan teks menyusul.
Apakah kamu yakin sudah berubah?
Dada Kevin terasa sesak.
Ini bukan lagi soal bisnis.
Ini permainan psikologis.
Musuh ini tahu… luka lama mereka.
Siska menatap Kevin.
Bukan dengan takut.
Tapi dengan cemas.
“Kamu jangan terpancing,” katanya pelan.
Kevin memejamkan mata sejenak.
Dulu, ia akan marah besar.
Sekarang, ia hanya menghela napas.
“Itu memang aku yang dulu,” katanya akhirnya.
Siska terdiam.
“Tapi itu bukan aku yang sekarang.”
Ia menatap istrinya.
“Dan kalau aku mulai berubah lagi… kamu tahu harus ngapain.”
Siska tersenyum tipis.
“Aku paksa kamu pulang.”
Kevin ikut tersenyum kecil.
Di tempat lain, seseorang menatap layar dengan ekspresi datar.
“Kenapa dia nggak meledak?” gumamnya pelan.
Rencananya sederhana.
Membuka luka lama.
Membuat Kevin goyah dari dalam rumahnya sendiri.
Tapi respons Kevin…
Terlalu tenang.
Permainan ini ternyata tidak semudah yang ia kira.
Malam itu, Kevin berdiri di balkon.
Angin malam terasa lebih dingin.
Ia tahu sekarang—
Musuh tanpa wajah ini bukan hanya ingin uang atau kekuasaan.
Ia ingin melihat Kevin runtuh sebagai manusia.
Kevin mengepalkan tangan.
Bukan karena marah.
Tapi karena tekad.
Jika ini perang mental—
Ia tidak akan kalah.
Bukan karena ia kuat sendirian.
Tapi karena sekarang ia tidak lagi menyembunyikan luka.
Ia mengakuinya.
Dan tetap berdiri.
Di dalam kamar, Siska memandangi suaminya dari balik tirai.
Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat pria yang hampir kehilangan segalanya.
Ia melihat pria yang benar-benar belajar dari masa lalu.
Dan jika musuh tanpa wajah itu ingin menghancurkan rumah mereka dari dalam—
Maka ia salah besar.
Karena kali ini—
Rumah itu dibangun bukan hanya dengan ambisi.
Tapi dengan kesadaran.
Dan kesadaran… jauh lebih sulit dihancurkan