Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di atas salju cendana
Ledakan itu melontarkan serpihan beton dan debu panas ke segala arah. Telinga Selena berdenging hebat, namun ia merasakan sebuah lengan kokoh menyentak tubuhnya ke bawah. Alka Bhanu Vandana mendekapnya, menjadikan punggungnya sendiri sebagai tameng dari rongsokan pintu yang terbang.
"Dahayu! Amankan sayap kiri!" teriak Bhanu di tengah kepulan asap.
Dahayu tidak membalas dengan kata-kata, melainkan dengan rentetan tembakan yang presisi. Rembulan itu bergerak dalam gelap layaknya hantu; setiap peluru yang keluar dari senjatanya menemukan sasaran di balik kabut asap. Sisi dingin Dahayu kini bertransformasi menjadi mesin pembunuh yang efisien.
"Selena, lari ke arah mobil di balik bunker! Jangan menoleh!" Bhanu mendorong Selena menuju celah dinding yang retak, namun ia sendiri tetap diam di tempat, mengokang senjatanya untuk menghadapi tiga orang pria berseragam hitam yang mulai merangsek masuk.
"Aku tidak akan meninggalkanmu di sini untuk mati sebagai pahlawan palsu, Bhanu!" terlak Selena. Ia tidak lari. Sebaliknya, ia memungut sebuah tabung pemadam api yang terjatuh di dekat kakinya.
Saat salah satu penyusup mengarahkan senjata ke arah Bhanu yang sedang mengganti magazen, Selena menarik pin tabung itu dan menyemprotkannya tepat ke wajah sang penyusup. Ledakan bubuk putih itu membutakan lawan, memberi celah bagi Bhanu untuk melepaskan tembakan jarak dekat yang melumpuhkan pria itu seketika.
Bhanu menatap Selena dengan keterkejutan yang nyata. "Kamu... kamu gila?!"
"Aku bilang aku akan membantumu menghancurkan mereka!" Selena terengah-engah, matanya menyala di balik debu. "Sekarang bergerak atau kita berdua akan menjadi sejarah!"
Mereka berhasil mencapai mobil SUV lapis baja yang tersembunyi di bawah hangar tebing. Renggana Putra sudah berada di sana, duduk di balik kemudi dengan wajah yang tak lagi santai. Kemeja birunya compang-camping, dan ada goresan luka di pipinya.
"Masuk! Sekarang!" perintah Renggana.
Mobil itu melesat membelah pagar belakang, meluncur di jalanan setapak yang curam menuju hutan pinus. Di belakang mereka, vila yang menjadi saksi bisu ketegangan mereka mulai dilalap api.
Di dalam mobil yang melaju kencang, Dahayu duduk di kursi depan, sibuk dengan laptopnya yang terhubung ke satelit. Wajahnya pucat pasi. "Bhanu, sistem keamanan pusat di Jakarta juga diserang. Ini bukan cuma serangan ke vila. Ini kudeta."
Bhanu mencengkeram lututnya, mencoba menahan pendarahan di bahunya. "Siapa dalangnya? Alya tidak punya kekuatan militer sebesar ini sendirian."
Dahayu menoleh ke belakang, menatap Selena dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang menyimpan ketakutan sekaligus pengakuan. "Alya tidak sendiri. Dia bekerja sama dengan orang dalam Arunika. Selena... ayahmu tidak hanya menjual sandi itu. Dia menjual lokasi koordinat persembunyian kita malam ini."
Duniaku runtuh seketika. Selena merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Ayahnya? Pria yang selalu memanggilnya 'putri kecil' itu menjualnya demi nyawanya sendiri?
"Tidak mungkin..." bisik Selena pelan.
"Itu mungkin bagi pria yang putus asa, Selena," sahut Renggana dari kursi kemudi, suaranya kini terdengar sangat dingin. "Ayahmu berpikir jika dia menyerahkanmu pada Alya, hutangnya lunas. Dia tidak tahu bahwa bagi Alya Cendana, kamu jauh lebih berharga jika mati daripada hidup."
Bhanu memperhatikan perubahan di wajah Selena. Ia melihat kehancuran di mata wanita itu, namun ia juga melihat sesuatu yang lain muncul dari reruntuhan harga dirinya: Kebencian yang murni.
Bhanu meraih tangan Selena. Tangannya yang kasar dan ternoda darah menggenggam jemari Selena yang gemetar. "Dengarkan aku. Kamu bukan lagi seorang Arunika mulai detik ini. Kamu adalah bagian dari Vandana. Dan di keluarga ini, kami tidak meratapi pengkhianatan. Kami membalasnya dengan kehancuran yang lebih besar."
Selena mendongak, menatap Bhanu. Air matanya tidak jatuh; mereka menguap oleh amarah. "Ajari aku," ucapnya dengan suara yang tenang namun mematikan.
"Apa?" tanya Bhanu.
"Ajari aku cara menjadi 'Racun' seperti Dahayu dan 'Pedang' sepertimu. Jika ayahku berpikir aku adalah barang dagangan, maka aku akan menjadi barang dagangan paling mahal yang akan menghisap seluruh nyawanya hingga kering."
Bhanu menyeringai, sebuah seringai yang benar-benar gelap kali ini. Ia menoleh ke arah saudaranya. "Dahayu, siapkan protokol 'Phoenix'. Kita tidak akan bersembunyi. Kita akan menjemput Alya Cendana di sarangnya."
Dahayu mengetikkan serangkaian kode di laptopnya. "Protokol aktif. Tapi ada satu masalah, Bhanu."
"Apa?"
"Untuk mengaktifkan aset tempur kakek di Singapura, kita butuh sandi kedua. Dan sandi itu... hanya bisa terbuka jika Selena memberikan akses biometrik di markas besar Vandana yang sekarang sedang dikepung."
Renggana melirik melalui spion, menatap Selena. "Jadi, Nona 'Kunci Semesta'... apakah kamu siap masuk ke jantung neraka untuk merebut kembali tahtamu?"
Selena membalas tatapan Renggana, lalu beralih ke Bhanu. Ia tidak lagi melihat Bhanu sebagai penjara, melainkan sebagai senjata yang akan ia gunakan untuk membakar semua orang yang telah mengkhianatinya.
"Bawa aku ke sana," ucap Selena tegas. "Dan pastikan Alya Cendana melihat wajahku sebelum aku mengirimnya menyusul sejarah keluarganya yang terkubur."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...