Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.
Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.
Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.
Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps-2
SMK Al Muhajirin Darussalamah, sebuah nama yang terpasang jelas di dinding gapura sekolah tempat Hajeera menimba ilmu, sekolah yang berbasis islamic school dan merupakan sekolah putra putri dari orang orang kalangan atas.
Seluruh siswi menggunakan baju panjang rok panjang dan kerudung yang menutupi kepala hingga rambut mereka, namun tak ayal bahkan kebanyakan siswi sengaja memakai kerudung dengan menonjolkan hampir seluruh rambutnya dengan gaya ala Jipon ( jilbab poni ).
Berbeda dengan Hajeera, ia memang selalu mematuhi peraturan dimanapun, ia memakai rok panjang yang lebar layak nya anak sekolah dengan baju yang sedikit longgar hingga bentuk tubuh nya tidak terlihat, dan tak lupa ia pun memakai dalaman jilbab untuk menutupi poni poni nya.
"Bu Hajiiiiii....." teriak beberapa orang meledeki Hajeera yang tengah berjalan memasuki gerbang sekolah.
"Thank you..." jawab Hajeera, menjawab teriakan teman temannya.
"Ehhhh, ternyata bintang kelas kebanggaan guru datengnya sama kayak kita yah, kirain dari subuh..." ujar salah satu teman sebaya Hajeera pada yang lain nya.
"Ckkk.... wajar ajah jadi bintang kelas orang umurnya udah tua..." timpal teman lain nya.
"Hahahah... Iyah juga sih, kalo gak dapet juara satu, malu sama umur..."
Dan begitulah hidup Hajeera yang selalu jadi trending topik teman teman sekolah nya, ketika ia mendapatkan juara satu dan jadi siswa terbaik dari seluruh siswa, semuanya mengatakan wajar karena dirinya yang lebih tua dari mereka.
Namun Hajeera merasa acuh tak acuh, ia tidak peduli dengan omong kosong mereka yang seperti raungan anak kecil yang kekurangan jajan, ia tidak peduli selagi mereka tidak bermain fisik dengannya.
"Jer!!! Bisa bisanya loh masuk gerbang duluan..." tegur seorang wanita sebayanya seraya menepuk pundaknya.
Livia! Teman seperledekan nya, seseorang yang sama seperti Hajeera, lebih tua dari kebanyakan siswa di sekolah nya.
"Kenapa emang? Tanpa gue, loh takut sama mereka?" tanya Hajeera pada Livia seraya menunjuk siswa lainnya.
"hahahah... Ngapain gue takut,..." jawab Livia seraya menegakkan bahunya untuk menyembunyikan dadanya yang berdebar dan kaki yang bergetar.
"Kaki loh bergetar, kayak fajar sadboy lagi catwalk.." ujar Hajeera menyekak, dengan bola matanya yang melirik ke arah kaki Livia.
"Aisshhhhh, sial...."
"Bukan takut, gue cuman gak nyaman ajah sama desas desis mereka..." ucap Livia dengan nada suara yang sedikit kelelahan, tangannya menggenggam erat tali tas nya untuk menghilangkan sedikit ketakutan nya.
"Ckkkk... Biasa ajah, lagian kita di sini tinggal beberapa bulan lagi ajah..." ujar Hajeera merangkul sahabat nya untuk sedikit memberikan kekuatan.
"Oh ya, ngomong ngomong si maspupah mana?" tanya Hajeera dengan kepala celingukan mencari sosok teman satunya lagi.
Di dalam kelas, maspupah hanya berdiam diri tanpa melawan saat orang orang meledeki namanya yang terdengar kampungan, bahkan saat dirinya dilempari kertas bahkan sampah sampah plastik pun maspupah tetap diam tanpa ingin melawan sedikitpun, ia tetap memungut sampah sampah yang dilempar ke arah bangkunya.
"Puu~~puuuuuuuuu... Sampah" ucap seorang teman dengan nada mendayu seraya melemparinya dengan gulungan kertas.
Hahahahahahha
Seluruh kelas tertawa saat Chelsea sang bintang kecantikan di sekolah merundungnya.
Yah, Maspupah, kerap kali dibuat bahan perundungan hanya karena dirinya berasal dari keluarga yang kurang mampu di tambah ia memiliki nama yang sedikit kampungan.
Silvia pun kerap kali mendapatkan perundungan padahal keluarganya merupakan salah satu orang terkaya di kota ini, hanya karena orang tuanya menjalani bisnis club malam Silvia sering di juluki sebagai LC Premium.
Akan tetapi saat menghadapi perundungan, hinaan, cacian, makian dari semua siswa, Maspupah dan Silvia tampak baik baik saja asal ada Hajeera di samping mereka, entah mengapa Hajeera tak pernah merasa takut sedikitpun pada siswa perundung di sekolah.
Ia malah berubah jadi preman jika salah satu temannya mendapatkan perundungan fisik, seperti hal nya sekarang yang di alami Maspupah.
"Ya!!!! Bangsatttt sialannnn!!!!!!" Hajeera berteriak di depan kelas berlari ke arah chelsea yang tengah menoyor noyor kepala maspupah yang hanya diam saja.
Brughhhhhh
Awwww.....
Chelsea berteriak kesakitan saat tubuhnya di banting oleh Hajeera hingga terpental ke loker di belakang.
"Jangan sok kecentilan peyang..." umpat Hajeera seraya menginjak pundak chelsea yang tengah duduk menyandar ke loker.
"Sialannnnnn!!! Gue bilangin bapak gue loh anj**g!!" teriak Chelsea tak terima.
"Sorry, jangan kan sama tikus, chaebol sekalipun gue gak gentar..." jawab Hajeera dengan wajah dinginnya.
Tak lama guru pun datang atas laporan siswa lain dengan adanya perundungan terhadap putri walikota yakni chelsea, namun saat mengetahui yang tengah menginjak chelsea adalah Hajeera para guru segera menyuruh semua siswa untuk diam tertib dan duduk yang rapih karena sebentar lagi pelajaran akan di mulai.
"Semuanya diam!!! Kembali ke kelas masing masing...." teriak pan Anton sang kepala sekolah.
"Chelsea, Hajeera, balik kursi masing masing..." ujar pak Anton lalu melegang pergi keluar kelas kembali.
"Aishhhh, sialann! Gue laporin ke papah, guru di sini pura pura buta!!!" teriak Chelsea tak terima saat para guru pergi kembali dengan begitu saja, termasuk pak Anton yang padahal pak Anton sendiri cukup dekat dengan ayahnya.
"Silahkan hubungi ayah Anda..." jawab Pak Anton lalu berlalu begitu saja.
"I---ihhhhh,,,, nyebelinnnnn" teriak Chelsea
Kelas pun di mulai, tanpa kericuhan dan drama lagi.
Di sebuah Bandara, seorang pria dengan tubuh atletis yang di balut dengan baju kemeja putih yang di gulung tangannya hingga lengan dan celana berwarna abu abu dengan langkah tegap ia berjalan ke arah pintu keluar seraya menyeret koper besar berwarna hitam di tangannya di tambah wajah bulenya dan kulit eksotis yang tidak membosankan membuat hampir semua pasang mata menatap ke arah nya dengan tatapan kagum namun penuh tanya.
Seolah mata mereka bertanya pada otak memikirkan siapa kira kira pria yang tengah berjalan di depan mereka, apakah mereka pernah melihat nya di sebuah drama atau majalah atau televisi.
"Excuse me, are you an artist?" tanya salah seorang wanita muda yang tengah menatap nya dengan kagum.
"No, I'm a businessman..." jawab Demian, dengan bibir merekah memamerkan senyuman indahnya yang membuang semua pasang mata semakin terpesona padanya.
"Upss, sorry,... I thought you were an artist.." ucapnya lagi meminta maaf dengan wajah merona tersipu malu.
"No problem..."
"Then, where are you from?" tanya nya lagi penuh semangat.
"Aku berasal dari Indonesia, hanya saja kemarin aku tinggal di luar negri.." jawab Demian yang semakin membuat si wanita shock dengan mata yang melotot sempurna.
"Akhhh--- aku pikir mas asli luar negri, soalnya wajah nya ngebule banget...." ujar si wanita lagi.
"Kalo boleh tahu, mas namanya siapa?"
"Demian"
"Aku, Zoey.." ucap si wanita seraya meraih tangah Demian menyelipkan sebuah kartu dengan mata mengedip.