NovelToon NovelToon
TINDER LOVE

TINDER LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Kontras Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Apung Cegak

Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.

Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

memasak

Setelah beberapa hari bersama Moses di Bali, aku merasa ingin membuat pengalaman yang berbeda untuknya. Dinner di Shihi Club memang menyenangkan, tapi aku ingin sesuatu yang lebih pribadi, lebih hangat, dan meninggalkan kesan mendalam. Aku memutuskan untuk memasak sendiri untuknya.

Hari itu aku pergi ke pasar, membeli bahan-bahan sederhana: tempe, sayur sawi, telur, dan beberapa bumbu. Saat memasak, aku merasa gugup tapi senang. Bayangan Moses duduk di meja, tersenyum melihatku sibuk di dapur, membuatku bersemangat.

Ketika dia datang, aku menyambutnya dengan senyum.

Moses: “Wow, smells good! What are you making?”

Nanas: “Just simple food… tempe, vegetables, and eggs. I hope you’ll like it.”

Dia duduk di meja, menatapku memasak. Aku menyiapkan piring, dan kami mulai makan. Aku memilih makan dengan tangan, cara yang sederhana tapi terasa hangat. Moses menatapku penasaran.

Moses: “You eat with your hands?”

Nanas: “Yes… it’s more fun this way. You want to try?”

Moses: laughs “Sure! I want to learn how to eat like that.”

Dia mengambil tempe dengan tangannya, menatapku sambil tertawa. Saat aku mulai menyiapkan mie goreng, Moses ingin ikut makan pakai tangan juga.

Moses: “Wait… can I try the noodles with my hands too

Nanas: “No, noodles are tricky. You’ll make a mess!”

Kami tertawa bersama. Suasana begitu hangat dan ringan, tanpa tekanan. Aku merasa bahagia melihatnya santai dan menikmatinya. Tidak ada lampu klub, musik keras, atau keramaian—hanya kami dan makanan sederhana yang kubuat sendiri.

Setiap hari selama lebih dari seminggu itu, aku bertemu Moses.

Minggu itu menjadi minggu terakhirnya di Bali karena dia akan kembali ke Australia. Setiap momen bersamanya terasa berharga, terutama malam itu. Melihat dia mencoba makan dengan tanganku, tertawa, dan bercanda, membuatku merasa bahwa perhatian kecil dan usaha sederhana bisa jauh lebih berarti daripada hal-hal mewah.

Setelah makan, kami duduk sebentar di sofa. Moses menatapku serius tapi lembut.

Moses: “I really like this… you didn’t have to do all this, but it means a lot.”

Nanas: “I just wanted to give you a different experience… something personal.”

Dia tersenyum, dan aku merasakan kehangatan yang dalam. Malam itu bukan hanya tentang makan atau memasak, tapi tentang koneksi, perhatian, dan ketulusan. Aku sadar, pengalaman sederhana seperti ini bisa meninggalkan kenangan yang lebih kuat daripada malam di klub atau restoran mewah.

Sebelum pulang, Moses memelukku sebentar.

Moses: “Thank you for tonight. I’ll remember this.”

Aku tersenyum dan menjawab,

Nanas: “Me too… this was special.”

Ketika aku menutup pintu, aku duduk sebentar dan menarik napas panjang. Malam itu mengajarkanku sesuatu: perhatian kecil, usaha pribadi, dan ketulusan bisa membuat pengalaman sederhana menjadi momen yang sangat berkesan. Perasaan campur aduk itu muncul kembali—antara bahagia karena bisa membuatnya tersenyum, dan sedih karena tahu dia akan kembali ke Australia sebentar lagi.

Namun, aku tersenyum. Aku belajar bahwa hubungan tidak selalu soal kemewahan, tetapi tentang bagaimana kita peduli dan menghadirkan perhatian yang nyata untuk seseorang. Malam itu meninggalkan kesan yang hangat, dan aku tahu perasaan itu akan tetap teringat, meski jarak nanti memisahkan kami.

aku merasa damai. Aku sadar malam itu bukan hanya tentang makanan atau tawa, tapi tentang bagaimana kita memberi perhatian tulus pada seseorang. Malam itu mengukir kenangan hangat yang akan terus kurasakan meski jarak nanti memisahkan kami. Aku menutup mata sambil tersenyum, menyadari bahwa aku sedang belajar membuka hati lagi, sedikit demi sedikit, dan itu terasa menyenangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!