NovelToon NovelToon
Aku Terlahir Kembali Sebagai Bayi Jahat

Aku Terlahir Kembali Sebagai Bayi Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Rebirth For Love / Time Travel / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Pelajaran Politik Awal

Matahari pagi menyusup melalui jendela aula besar istana, memantul di lantai marmer yang berkilau.

Bayi Arvella sudah bangun dari buaian, matanya yang merah menyala menatap lorong panjang yang mengarah ke aula utama.

Suasana hari itu berbeda dari biasanya.

Ada desiran langkah kaki pejabat yang terburu-buru, bisik-bisik yang rendah namun tegang, dan aroma kertas tinta bercampur wangi bunga segar dari vas di sudut ruangan.

Bayi ini merasakan ketegangan yang samar tapi nyata, sebuah energi yang membuat jantung kecilnya berdebar lebih cepat.

Liora menatapku dari pintu kamar, senyum lembutnya disertai nada khawatir.

“Arvella, kau ingin melihat aula hari ini? Tapi kau harus tetap di pangkuanku, ya,” katanya sambil menggendong bayi itu dengan hati-hati.

Aku menggeliat, tangan mungilku meraih jari Liora, seolah menjawab: aku siap.

Bayi ini tahu, setiap langkah di aula penuh kemungkinan; kata-kata yang salah, gestur yang salah, bahkan sebuah dokumen yang tercecer bisa memicu masalah yang jauh lebih besar dari yang terlihat.

Begitu masuk, mata bayi ini langsung menangkap gerakan para pejabat kerajaan.

Ada seorang menteri muda yang tampak gelisah, matanya menatap dokumen dan kemudian ke wajah raja, mencoba menahan ketegangan.

Di sisi lain, juru tulis mencatat dengan cepat, tetapi beberapa huruf di laporan terlihat tidak sesuai fakta.

Bayi ini, meski kecil, mampu merasakan ketidakselarasan energi itu; instingnya dari ingatan masa lalu berteriak lembut: “Hati-hati, ada yang bisa salah.”

“Liora… lihat, Arvella memperhatikan mereka,” bisik seorang pelayan sambil menunduk, kagum.

Aku menggeliat, tangan kecilku menunjuk ke dokumen yang hampir salah.

Bayi ini tahu, jika kesalahan itu tidak diperbaiki, akan ada konsekuensi serius—bukan hanya reputasi menteri muda itu, tetapi juga citra kerajaan secara keseluruhan.

Seorang pejabat tua yang berwibawa berjalan menghampiri menteri muda itu, wajahnya tegas, nada suaranya rendah tapi menegaskan kekuasaan.

“Kau harus memastikan laporan ini akurat, atau konsekuensinya akan berat,” katanya.

Bayi ini menatap gerakan bibir, nada suara, dan ekspresi mata mereka.

Aku bisa merasakan ketegangan yang meningkat, dan tangan kecilku bergerak seolah memberi peringatan halus kepada Liora agar memperhatikan hal yang sama.

“Arvella, kau melihat sesuatu?” tanya Liora, sedikit terkejut tapi tersenyum lembut.

Aku menggeliat dan menunjuk, bayi ini ingin menunjukkan bahwa kesalahan kecil sedang terjadi, tetapi konsekuensinya bisa besar.

Liora mengangguk pelan, mengambil selembar kertas dari meja dan membetulkannya dengan hati-hati.

Bayi ini tersenyum kecil, puas karena instingnya telah mencegah potensi masalah yang bahkan belum disadari orang dewasa di ruangan itu.

Tiba-tiba, terdengar bisik cemas dari sisi aula.

“Laporan ini… salah lagi? Bagaimana bisa?” suara seorang pejabat muda terdengar gugup.

Aku menggeliat, mata merah kecilku memperhatikan setiap gerakan, setiap nada bicara.

Bayi ini tahu, konflik kecil ini bisa berkembang menjadi pertentangan yang lebih besar jika tidak segera diantisipasi.

Aku mencondongkan tubuh kecilku, menyentuh lengan Liora dengan lembut, seakan berkata: “Lihat lebih dekat, ada sesuatu yang harus diperbaiki.”

Liora menatapku kagum, membungkuk untuk membaca dokumen itu, dan membetulkannya tanpa menarik perhatian pejabat lain.

Bayi ini merasa lega, tetapi instingnya memberitahu bahwa ini baru permulaan.

Di sudut aula, bayangan laki-laki misterius terlihat samar di balik kolom.

Bayi ini menatapnya sekilas, merasakan energi hangat dan familiar, sebuah pertanda bahwa sosok itu akan muncul kembali, tapi hari ini fokus utama adalah intrik yang ada di depan mata.

Seorang pengawal kerajaan hampir menabrak meja saat membawa gulungan dokumen penting.

Aku menggeliat, tangan kecilku menahan gulungan itu sebentar, menghindari dokumen itu terjatuh dan menciptakan kekacauan.

Pengawal itu menatapku heran, sementara Liora tersenyum, “Arvella… kau selalu selangkah lebih cepat dari bahaya.”

Bayi ini tersenyum kecil, menyadari bahwa kemampuan untuk membaca situasi adalah kekuatan yang membedakannya dari bayi lain.

Di sisi lain aula, dua pejabat mulai berselisih karena perbedaan interpretasi catatan sejarah.

Nada bicara mereka meninggi, potensi konflik sosial di depan raja dan bangsawan lain mulai terasa.

Aku menggeliat, tangan kecilku menunjuk ke bukti dokumen yang bisa membuktikan siapa yang benar.

Liora menatapku, tersenyum dan mengambil inisiatif memberi dokumen itu kepada raja sebelum perselisihan bisa memanas.

Bayi ini tersenyum lega, instingnya telah mencegah masalah besar sekaligus menenangkan ketegangan sosial di aula.

Seorang menteri muda berbisik kepada koleganya tentang strategi aliansi dengan kerajaan tetangga, matanya berkilat penuh ambisi.

Aku menatap nada suara dan gesturnya; bayi ini bisa merasakan bahwa ada niat tersembunyi di balik kata-kata itu.

Tangan kecilku mencondong ke arah dokumen sejarah yang relevan, seakan memberi sinyal bahwa fakta harus diperhatikan sebelum keputusan dibuat.

Liora menyadari hal itu, mengambil gulungan dokumen dan menaruhnya di depan raja secara diam-diam.

Bayi ini puas; tindakan sederhana telah mencegah kemungkinan keputusan yang salah dan potensi intrik diplomatik.

Waktu siang tiba, cahaya matahari memantul hangat di lantai marmer.

Bayi ini duduk di pangkuan Liora, mengamati semua orang yang masih sibuk.

Aku merasakan ketegangan yang perlahan memudar karena intervensi tepat waktu, tetapi insting bayi ini memberi sinyal bahwa hari-hari berikutnya akan menghadirkan tantangan yang lebih besar.

Bayi ini menutup mata sejenak, menarik napas kecil, dan merasa siap untuk pelajaran berikutnya tentang kekuasaan, intrik, dan takdir.

Bayangan laki-laki misterius terlihat sekali lagi di pintu aula, hanya sebentar.

Bayi ini menatapnya, rasa penasaran yang kuat muncul, tetapi fokus tetap pada lingkungan sekitarnya.

Aku tahu, suatu hari ia akan hadir sepenuhnya dalam hidupku, membimbing dalam konflik yang lebih kompleks, dan mungkin menjadi teman, sekutu, atau lebih dari itu.

Malam menjelang, aula kembali tenang.

Para pejabat meninggalkan ruangan satu per satu, masih membawa rasa hormat dan kekaguman terhadap tindakan bayi kecil yang mampu mencegah konflik.

Bayi ini duduk di pangkuan Liora, tangan mungilnya menggenggam kain selimut.

Aku menatap setiap sudut aula, membaca ekspresi wajah, nada bicara, dan bahasa tubuh orang-orang di sekitarku.

Bayi ini tahu, pelajaran politik awal ini hanyalah langkah pertama untuk memahami intrik, kekuasaan, dan peran yang akan dimainkannya kelak.

Ketika lampu gantung menyala, menciptakan cahaya hangat di seluruh aula, bayi ini menutup mata sejenak.

Aku merasakan damai tapi juga antisipasi, sadar bahwa setiap momen adalah pelajaran berharga.

Dan malam itu, Arvella menutup mata, siap menghadapi hari-hari berikutnya penuh misteri, intrik, dan pelajaran penting di istana besar.

1
Passolle
lanjut ka
LOL #555
Hebat banget ,baru lahir udah bisa buka mata ,mendengar, ngendaliin kekuatan magis , serba bisa , kayak budak koporat
LOL #555: gak sih kak , biasanya juga kalau reinkarnasi gini ,baru lahir udah bisa ngalahin naga 🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!