NovelToon NovelToon
Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horror Thriller-Horror
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.

Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.

Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Jejak Yang Disimpan Hujan

Malam belum berakhir.

Hujan hitam turun perlahan seperti abu yang jatuh dari langit. Tidak deras, tapi cukup membuat tanah mengeluarkan bau anyir yang membuat dada sesak.

Ustadz Rahman berdiri di halaman balai desa.

Tasbih di tangannya bergerak pelan.

Bibirnya terus berzikir.

Rina memperhatikan dari samping. Ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda malam ini.

Biasanya makhluk tanpa wajah menyerang liar.

Sekarang… mereka menunggu.

Seolah ada yang memerintah mereka.

“Pak Ustadz…” Rina mendekat.

Ustadz Rahman membuka mata.

“Kita tidak lagi melawan makhluknya.”

Ia menatap langit.

“Kita sedang dilihat oleh pengirimnya.”

Damar langsung menoleh.

“Jadi benar ada dalangnya?”

Ustadz Rahman mengangguk pelan.

“Tidak ada kutukan sebesar ini tanpa manusia yang membuka pintu.”

Angin berputar kecil di halaman.

Kodam pendamping ustadz berdiri di belakangnya. Tidak terlihat jelas, hanya bayangan samar seperti cahaya tipis yang bergerak mengikuti napasnya.

Rina merinding.

Ia sadar… makhluk itu juga sedang mencari mereka.

Ustadz Rahman lalu berkata,

“Kita tidak akan mencarinya dengan mata biasa.”

Ia menatap tanah.

“Hujan menyimpan ingatan.”

Rina mengerutkan dahi.

“Maksudnya?”

Ustadz Rahman berlutut.

Tangannya menyentuh tanah basah.

“Air membawa niat orang yang memanggilnya.”

Ia menutup mata.

Zikirnya berubah lebih dalam.

Udara langsung terasa berat.

Tanah bergetar pelan.

Air hujan yang jatuh di sekitar mereka mulai berkumpul… membentuk lingkaran kecil di tanah.

Warga yang melihat langsung mundur.

Air itu bergerak sendiri.

Seperti hidup.

Tiba-tiba—

Bayangan muncul di permukaan genangan.

Potongan gambar.

Seseorang berdiri di tengah hutan.

Malam.

Hujan pertama.

Rina menahan napas.

“Itu… hari pertama kutukan…”

Bayangan semakin jelas.

Seorang pria.

Membawa sesuatu dibungkus kain hitam.

Ia menggali tanah.

Tangan gemetar.

Suara samar terdengar dari genangan air.

“…tolong… aku tidak punya pilihan…”

Warga saling pandang.

Pak Wiryo langsung pucat.

“Itu suara orang desa…”

Damar maju sedikit.

“Siapa dia?!”

Wajah pria itu hampir terlihat—

Tapi tiba-tiba air genangan pecah.

BYAR!

Angin hitam menyambar halaman.

Lampu balai langsung padam.

Jeritan makhluk tanpa wajah terdengar dari segala arah.

Ustadz Rahman membuka mata cepat.

“Dia sadar kita melihatnya!”

Makhluk menyerang.

Bukan satu.

Puluhan.

Mereka muncul dari kabut, dari atap rumah, dari tanah, bahkan dari bayangan warga sendiri.

Rina langsung menggambar simbol.

“Kita diserang untuk menghentikan pencarian!”

Damar mengambil obor.

Warga panik.

Namun Ustadz Rahman berdiri tenang.

Ia mengangkat tasbihnya.

Doa dibacakan keras.

Tidak seperti sebelumnya.

Kali ini suaranya menggema.

Seperti banyak orang membaca bersamanya.

Kodamnya muncul lebih jelas.

Bayangan tinggi berdiri di belakangnya.

Makhluk tanpa wajah menjerit.

Beberapa langsung mundur.

Namun sebagian tetap menyerang.

Lebih ganas.

Lebih putus asa.

Rina menyadari sesuatu.

“Mereka tidak ingin kita tahu siapa pengirimnya!”

Ustadz Rahman mengangguk.

“Artinya… kita hampir menemukan dia.”

Makhluk melompat ke arah warga.

Rina menulis simbol cepat di udara.

Simbol bercahaya menahan serangan.

Damar menolong seorang anak yang hampir terseret bayangan hitam.

Pak Wiryo membaca doa dengan suara gemetar.

Pertarungan berlangsung cepat.

Namun berbeda dari malam sebelumnya.

Makhluk tidak ingin membunuh.

Mereka hanya mencoba mengacaukan.

Menghentikan.

Menutup ingatan hujan.

Ustadz Rahman tiba-tiba memukul tanah dengan telapak tangan.

“Allahu Akbar!”

Cahaya putih menyebar.

Gelombang energi meluas.

Makhluk terpental seperti daun tertiup badai.

Kabut retak.

Langit seolah terbuka sebentar.

Hujan berhenti.

Sunyi.

Napas warga terdengar berat.

Ustadz Rahman berdiri perlahan.

“Kita lanjutkan sekarang. Sebelum dia menutup jejak lagi.”

Rina berlutut di samping genangan baru.

“Bantu aku.”

Ia menggambar simbol pengingat.

Ustadz Rahman kembali menyentuh tanah.

Kali ini lebih dalam.

Air berkumpul lagi.

Bayangan muncul kembali.

Pria itu.

Lebih jelas.

Ia menangis saat menggali tanah.

Suara terdengar.

“…maafkan aku… aku hanya ingin dia hidup…”

Rina membeku.

“Dia melakukan ini… untuk seseorang.”

Damar mengepalkan tangan.

“Siapa?!”

Bayangan berputar.

Wajah pria akhirnya terlihat.

Pak Wiryo mundur dua langkah.

Tubuhnya gemetar.

“Tidak mungkin…”

Rina menoleh.

“Pak?”

Pak Wiryo berbisik lirih.

“Itu… Arman…”

Nama itu jatuh seperti petir.

Arman.

Warga desa yang hilang dua minggu sebelum hujan pertama.

Pria pendiam.

Istrinya meninggal sakit setahun lalu.

Anaknya sering sakit-sakitan.

Rina teringat.

Arman pernah datang padanya.

Menanyakan hal gaib.

Ia meminta cara menyelamatkan anaknya.

Rina menolak membantu ritual aneh waktu itu.

Damar menggeram.

“Dia membuat perjanjian?”

Ustadz Rahman mengangguk pelan.

“Keputusasaan adalah pintu paling mudah bagi jin.”

Bayangan memperlihatkan Arman menanam benda hitam di tanah.

Lalu—

Bayangan lain muncul.

Bukan manusia.

Sosok tinggi berwujud kabut.

Tangan panjang.

Tidak memiliki wajah.

Ia berdiri di belakang Arman.

Dan hujan pertama turun.

Genangan air langsung pecah lagi.

Kali ini bukan karena serangan.

Melainkan… sesuatu menolak diperlihatkan lebih jauh.

Ustadz Rahman berdiri.

Wajahnya serius.

“Dia masih hidup.”

Semua orang menatapnya.

Rina tercekat.

“Apa?”

“Arman belum mati.”

Ustadz Rahman menatap hutan di utara desa.

“Dia dijadikan penjaga perjanjian.”

Damar mengangkat obor.

“Berarti dia di hutan?”

Ustadz Rahman mengangguk.

“Di tempat ritual pertama.”

Pak Wiryo terduduk.

“Ya Allah… Arman anak baik… dia hanya putus asa…”

Rina menatap gelap hutan.

Dadanya berat.

Ia tidak marah.

Ia justru sedih.

Kutukan ini lahir dari cinta seorang ayah.

Namun cinta yang salah arah.

Ustadz Rahman berkata pelan,

“Kita tidak bisa membunuhnya.”

Rina menoleh cepat.

“Kenapa?”

“Karena jika penjaga mati… rantai jin akan lepas sepenuhnya.”

Warga langsung panik.

“Lalu bagaimana?!”

Ustadz Rahman menjawab,

“Kita harus membebaskannya.”

Sunyi.

Hanya suara tetes air dari atap.

Rina menarik napas panjang.

“Artinya… kita masuk ke pusat kutukan.”

Ustadz Rahman tersenyum tipis.

“Kau mengerti.”

Damar langsung berdiri.

“Aku ikut.”

Pak Wiryo ragu.

“Itu terlalu berbahaya…”

Ustadz Rahman menatap semua warga.

“Malam ini kita istirahat.”

“Besok sebelum subuh… kita menuju hutan.”

Ia menatap Rina.

“Kau dan aku akan membuka gerbang.”

Rina mengangguk.

Meski ketakutan menggerogoti dadanya.

Ia tahu.

Ini akhir dari perjalanan panjang mereka.

Namun saat semua mulai masuk balai…

Kodam ustadz tiba-tiba bergerak.

Seolah waspada.

Ustadz Rahman berhenti berjalan.

Matanya menatap kegelapan jalan desa.

Lama.

Sangat lama.

Rina merasakan hawa dingin kembali muncul.

“Pak Ustadz?”

Ustadz Rahman berbisik pelan.

“Kita tidak sendirian.”

Kabut di ujung jalan bergerak.

Dan sesosok bayangan berdiri diam di sana.

Mengawasi mereka.

Tidak menyerang.

Tidak mendekat.

Hanya… melihat.

Lalu perlahan menghilang.

Ustadz Rahman menarik napas dalam.

“Pengikat hujan sudah bangun.”

Rina menelan ludah.

“Apakah kita terlambat?”

Ustadz Rahman menatap langit yang kembali gelap.

“Tidak.”

Ia menggenggam tasbih erat.

“Tapi besok… akan menjadi malam paling berbahaya.”

Hujan kembali turun.

Lebih dingin.

Lebih berat.

Dan untuk pertama kalinya desa tahu siapa penyebab kutukan.

Namun mereka belum tahu…

bahwa membebaskan Arman mungkin berarti membuka sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari hujan itu sendiri.

1
anggita
woouu serem juga😯. like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!