When Gods Grow Bored berlatar di sebuah benua kuno "Nirenva" yang dilanda perang tanpa akhir, tempat kerajaan-kerajaan saling membantai atas nama para dewa yang pernah turun dan meminjamkan kekuatan mereka kepada umat manusia. Di dunia di mana nilai hidup diukur dari restu ilahi, Kai Jhoven: seorang anak tanpa berkah dan tanpa asal-usul tumbuh sebagai sosok terbuang, dipaksa bertahan di tengah kekacauan yang tidak pernah ia pilih. Ketika sebuah kekuatan asing akhirnya menjamah dirinya, Kai Jhoven terseret ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih besar dari perang antar manusia: intrik ilahi, kekuasaan yang dipinjam, dan kebenaran kelam di balik mukjizat yang disembah dunia. Dalam perjalanan dari medan perang hingga jantung kekuasaan, takdir, kepercayaan, dan kemanusiaan diuji; sementara langit yang selama ini dipuja perlahan mulai retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jhoven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vitalii Aizen
Dengan tubuh terantai, Kai berdiri di hadapan para tetua desa. Di sana hadir pula Darwin, Ketua Desa sekaligus ayah Derik.
“Kai… dengan sebenar-benarnya, katakan apa yang telah kau perbuat pada Selina, putri Tetua Khan,” ucap Darwin dengan suara berat.
“Kau terlalu lama, Ayah! Langsung saja eksekusi mati anak buangan itu!” seru Derik memotong.
“Diam, Derik! Ayahmu sedang menjalankan tugasnya,” balas Darwin dengan tatapan yang membuat udara terasa mencekam.
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya berlari tergesa memasuki ruangan.
“Tunggu! Ketua Desa… para Tetua… pasti ada kesalahpahaman di sini! Kai bukan anak seperti itu! Aku mengenalnya sejak ia masih kecil… tolong pertimbangkan kembali!”
Itu Pak Garo, pedagang kecil tempat Kai bekerja.
“Pak Garo!” teriak Kai dengan mata berkaca-kaca.
“Tahan dulu, Pak Garo. Kau mengganggu prosesi pengadilan. Di sini kita hendak menghakimi seorang penjahat—dan putriku adalah korbannya,” ujar Khan, Tetua Desa sekaligus ayah Selina.
“Apa buktinya?” tanya Garo tegas.
“Hah? Apa maksudmu, Pak Tua?”
“Apa buktinya bahwa Kai telah melakukan kejahatan pada putrimu?” ulang Garo, suaranya kini lebih dalam dan serius.
Ketegangan belum sempat mereda ketika Darel muncul—pria yang mengaku sebagai saksi. Dengan tenang ia memutarbalikkan fakta, merangkai kebohongan, dan bersandiwara seolah-olah melihat segalanya dengan jelas.
####
Sekedar info; Darel adalah salah satu dari pria yang di kupingi pembicaraannya oleh Kai di awal, dan dia juga merupakan sepupu dari Derik, masih satu keluarga dengan ketua desa.
Kejadian aslinya adalah Derik (12 Th) yang meminta Darel (17 Th) untuk membuntuti Selina (12 Th) karena ia sadar Selina menunjukkan ketertarikannya pada Kai. Derik tidak ingin Selina berpaling jadi ia menyiapkan rencana untuk mensabotase Kai seperti yang telah terjadi saat ini.
####
“APA? Mustahil!” seru Pak Garo.
“Ketua Desa, dengan kebijaksanaanmu, tentu kau dapat membedakan mana fakta dan mana bualan! Cerita anak itu tidak masuk akal!”
Namun para tetua hanya saling menunduk. Tak satu pun berani menentang arus.
Dan akhirnya, Ketua Desa menjatuhkan hukuman mati pada Kai.
Pedang algojo telah terangkat.
Namun sebelum bilah itu menyentuh leher Kai—
“LAPOR! KETUA DESA! PASUKAN VLADMIR DALAM JUMLAH BESAR SEDANG MENUJU KE SINI!”
Ruangan sontak gempar.
“Apa?! Kau serius?! Di mana para Savior Khanox yang menahan mereka di Dataran Heian?!” tanya seorang tetua dengan wajah pucat.
“M-maaf… kabarnya Komandan Besar Senno Xaverius telah gugur. Pasukan Savior Kerajaan Khanox dipukul mundur oleh Kerajaan Vladmir…”
“APA?! Siapa yang bisa membunuh Komandan Besar Senno?!”
“Itu… salah satu Komandan Besar Vladmir… Vitalii Aizen.”
Nama itu seperti petir yang menyambar ruang pengadilan. Semua orang mengenal reputasinya—kekejaman dan ketidakberperikemanusiaannya.
“Ketua Desa… kita harus pergi,” bisik salah satu tetua.
Darwin menggertakkan gigi.
“BAIK! SEMUA ORANG SEGERA MENGUNGSI! JANGAN ADA YANG TERTINGGAL! LINDUNGI ANAK-ANAK PEWARIS KEKUATAN DEWA! MEREKA ADALAH HARAPAN MASA DEPAN BANGSA KITA!”
Kekacauan pun pecah.
Semua orang berhamburan meninggalkan ruang pengadilan.
Kai masih terantai.
“Bertahanlah, Nak Kai. Aku akan membebaskanmu,” ujar Pak Garo.
Ia berusaha membuka rantai besi itu dengan tergesa.
“Sudah cukup, Pak! Pergilah! Rantai ini butuh kunci… dan kita tidak tahu di mana kuncinya! Cepat ikut mereka!” ucap Kai, menahan air mata.
“Diamlah sebentar. Sebentar lagi terbuka.”
####
Di sisi lain…
Tetua Khan membawa Selina dan keluarganya dengan kereta kuda.
“Ayah! Kenapa kita meninggalkan Kai?! Dia masih terkurung di ruang pengadilan! Ayo kita kem—”
PLAK!
Tamparan keras menghentikan kalimatnya.
“Cukup, Selina! Bahkan di saat seperti ini kau masih memikirkan dia? Apa yang kau lihat dari anak buangan itu? Dia bahkan tidak disukai para dewa!”
Ibunya segera memeluk Selina dan menegur suaminya.
Sementara itu, Darwin, Derik, Darel, dan keluarga mereka juga telah meninggalkan desa.
“Ayah… apa para dewa sedang marah pada kita?” tanya Derik lirih.
“Tidak, Nak. Dewa Khae’Thuun akan melindungi kita dari penjajah Vladmir. Terpujilah Dewa.”
“Terpujilah Dewa…”
####
Namun semuanya telah terlambat.
Pasukan Kerajaan Vladmir sudah mengepung jalan keluar Desa Mooire.
“Ayah! Di depan ada prajurit!” teriak Derik.
Mereka sempat berharap itu bala bantuan dari ibu kota Khanox.
“Tunggu… mereka berbeda…” gumam Darel.
“SIAL! ITU PASUKAN MUSUH!”
Darwin memeluk keluarganya.
“Ayah… apa kita akan mati…?”
Ia tak mampu menjawab.
“Terpujilah Dewa…”
BOOOOOOM!
Pembantaian besar-besaran pun terjadi.
####
Di sisi lain, Pak Garo akhirnya berhasil melepaskan rantai Kai.
Mereka berlari keluar—dan mendapati neraka.
Tubuh-tubuh bergelimpangan tak berbentuk. Rumah-rumah terbakar. Bau darah bercampur asap memenuhi udara. Jeritan terdengar dari segala penjuru.
“Apakah… semuanya telah berakhir…” gumam Kai.
Dari kejauhan, kereta musuh mendekat.
“Apa yang kau lakukan?! Ayo pergi sebelum mereka menangkap kita!” teriak Garo.
Ia menyeret Kai.
Mereka berlari, bersembunyi dalam bayangan, sementara pasukan Vladmir menyisir desa tanpa menyisakan kehidupan.
Ketakutan mencengkeram Kai.
Bagaimana ini… aku akan mati… dan para dewa sialan itu tak pernah memberiku berkah…
“Kita akan hidup, Nak Kai,” ujar Garo.
“Tadi… aku melihat tubuh istri dan kedua anakku di jalan. Mereka sudah tak bernyawa. Demi mereka… aku harus tetap hidup.”
Kai terdiam, hatinya diremas.
“Maaf, Pak…”
“Hah! Manusia selalu datang dan pergi! Bergembiralah karena kita pernah bertemu dan membangun kisah bersama!” katanya sambil tersenyum lebar—meski air mata mengalir perlahan.
Kai tahu. Luka itu tak terucap, tapi dalam.
Aku akan membawa Pak Garo keluar dari neraka ini.
####
Namun celah tak pernah datang.
Hingga Garo berkata pelan, “Nak. Kau pergi duluan. Gerbang sudah dekat. Aku akan mengalihkan perhatian mereka.”
“Tapi kalau begitu—!”
“Jangan meremehkanku, bocah.”
Kai melihat tato bintang bermahkota di bahu kiri Garo.
“Tua begini, aku tetap mantan Savior Kerajaan Khanox. Aku tidak berniat mati.”
Kai terdiam, kagum.
“Kenapa? Keren, bukan? Maka hiduplah, dan jadilah Savior terhebat sepertiku! Hahaha!”
####
Kai hanya bisa mengangguk dan menyetujui rencana berbahaya Pak Garo.
*JDERR! JDERR! JDERR!
Peluru energi biru melesat dan menghancurkan kepala beberapa prajurit Vladmir.
“Halo, penjajah. Sudah puas bersenang-senang?”
Pertempuran pun pecah.
Ledakan, kobaran api, dan kilatan cahaya dewa saling beradu.
Kai menyaksikan dari kejauhan, terpukau.
Jadi… inikah seorang Savior…
“Si tua itu hebat sekali, bukan?” terdengar suara dari belakangnya.
“Iya! Pak Garo itu mantan Savior Kerajaan! Sudah pasti kuat!” jawab Kai refleks.
“Begitu ya… jadi namanya Garo…”
Kai membeku.
Perlahan ia menoleh.
Seorang pria sekitar dua puluh delapan tahun berdiri di sana. Rambut hitam, pedang panjang di pinggangnya memancarkan hawa kematian. Ia mengenakan jubah dan zirah dengan lambang pedang dan tengkorak: simbol Kerajaan Vladmir.
Aura yang dipancarkannya… bukan sekadar seperti binatang buas.
Lebih mengerikan dari monster mana pun.
“K-kamu…” suara Kai bergetar.
Pria itu tersenyum tipis.
“Ah, maaf. Aku lupa memperkenalkan diri.”
Ia menatap Kai dengan mata yang tenang.. terlalu tenang untuk seseorang di tengah pembantaian.
“Salam. Aku Vitalii Aizen.”