"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDML 21: HATI YANG TAK TERKATA
Pegunungan telah memberikan ketenangan, tapi juga membuka ruang-ruang kosong yang selama ini terisi oleh rasa takut. Selama dua minggu di rumah kayu kecil di antara pinus dan kabut pagi, mereka tidak hanya beristirahat dari ancaman tapi juga mulai melihat satu sama lain dengan mata yang berbeda, tanpa distraksi krisis.
Suatu sore, saat Laras dan anak-anak tertidur lelah setelah jalan-jalan ke air terjun, Aisha dan Rafa duduk di beranda menghadap lembah yang diselimuti kabut senja. Keduanya memegang cangkir teh hangat, terdiam lama. Diam yang berbeda tidak canggung, tapi penuh dengan segala hal yang tidak pernah terucap selama delapan tahun terakhir.
“Aisha,” ucap Rafa akhirnya, suaranya rendah, hampir tertelan desir angin pegunungan. “Aku ingin bertanya sesuatu. Tapi takut jawabannya.”
Aisha menatapnya, mengetahui arah percakapan ini. “Tanya saja.”
“Kalau… kalau dulu suratmu sampai. Kalau aku tahu tentang Arka dari awal. Menurutmu, kita akan seperti apa sekarang?”
Pertanyaan yang menggantung selama bertahun-tahun. Aisha memandangi cangkirnya, lalu ke lembah yang mulai gelap. “Mungkin kita akan menikah muda. Berjuang bersama. Atau… mungkin kita akan bertengkar karena tekanan keluarga dan finansial, lalu berpisah dengan penuh kebencian.”
“Kamu tidak pernah membayangkan kita bisa bahagia?”
“Aku membayangkannya setiap malam saat hamil sendirian,” bisik Aisha, matanya berkaca. “Tapi semakin kubayangkan, semakin sakit, karena itu tidak akan terjadi.”
Rafa menarik napas dalam. “Delapan tahun. Kita kehilangan delapan tahun.”
“Tapi kita dapat Arka. Dan kita… masih di sini. Berbeda, tapi masih.”
“Berbeda,” ulang Rafa, lalu terdiam lagi. “Aisha… apa kamu masih merasa sesuatu padaku? Atau… semua sudah menjadi kenangan?”
Udara seketika berubah. Pertanyaan yang selama ini mereka hindari. Karena ada Laras. Karena ada keluarga yang sudah dibangun. Karena ada kenyataan yang lebih rumit daripada sekadar perasaan.
Aisha menatapnya lama. “Aku akan selalu mencintaimu, Rafa. Karena kamu ayah dari anakku. Karena kamu orang yang memberinya hidup kedua kali. Tapi…” dia berhenti, mencari kata. “Cinta itu sekarang… berbeda. Bukan lagi cinta antara pria dan wanita. Tapi cinta antara orang tua dari anak yang kita sayangi.”
“Jadi tidak ada lagi… percikan?”
“Ada,” jawab Aisha jujur, suara bergetar. “Tapi kita tidak boleh menyalakannya. Karena itu akan membakar segalanya keluarga yang sudah kau bangun dengan Laras, kedamaian yang sudah susah payah kita dapat.”
Rafa mengangguk, mengusap wajahnya. “Aku tahu. Tapi kadang… melihatmu setiap hari, tinggal di rumah yang sama, mengasuh anak kita bersama… itu sulit.”
“Untukku juga,” akui Aisha. “Tapi kita memilih jalan ini. Dan kita harus menghormati pilihan itu.”
Mereka terdiam lagi, ditemani nyanyian jangkrik malam. Dua hati yang pernah bersatu, dipisahkan waktu, disatukan lagi oleh anak, tapi terpisah oleh komitmen dan kenyataan.
---
Percakapan itu menggantung di antara mereka sepanjang sisa liburan.
Mereka lebih banyak diam ketika berdua. Tapi juga lebih sering bertukar senyum kecil senyum penuh pengertian bahwa beberapa perasaan harus tetap terkubur, demi kebaikan semua.
Laras memperhatikan. Wanita itu cerdas, peka. Dan dia mengenali tatapan antara Rafa dan Aisha tatapan yang bukan sekadar persahabatan, tapi ada sisa-sisa api yang belum padam.
Malam terakhir di pegunungan, saat Aisha sedang mencuci piring di dapur kecil, Laras masuk.
“Bisa kita bicara?” tanya Laras, suaranya tenang.
Aisha mengangguk, mengeringkan tangan.
Mereka duduk di bangku kayu di luar, ditemani lampu taman kecil.
“Aku melihat,” kata Laras langsung. “Antara kamu dan Rafa. Ada sesuatu yang belum selesai.”
Aisha menunduk. “Kami sudah bicara. Dan kami memutuskan untuk… tidak membuka luka lama.”
“Tapi apakah dengan menutupnya, lukanya benar-benar sembuh?”
Pertanyaan itu jujur, tanpa amarah. Aisha terkejut. “Apa maksudmu?”
“Aku menikahi Rafa delapan tahun lalu. Saat itu, dia masih menyimpan fotomu di laci. Dia masih terbangun tengah milan menyebut namamu. Aku tahu… aku bukan cinta pertamanya. Dan mungkin, bukan cinta terbesarnya.”
“Laras, jangan…”
“Biarkan aku selesaikan,” Laras tersenyum getir. “Aku menerima itu. Dan aku mencintainya cukup untuk berbagi dengan masa lalunya, dengan anaknya, dengan… denganmu.”
Aisha terdiam, tidak percaya.
“Aku tidak bodoh, Aisha. Aku tahu ada ketegangan antara kalian. Dan aku juga tahu… kalian berdua terlalu baik untuk bertindak atasnya. Tapi menyimpannya dalam-dalam juga tidak sehat.”
“Jadi apa yang kau sarankan?”
“Aku tidak tahu,” Laras menghela napas. “Tapi aku ingin kalian jujur pada dirimu sendiri, pada Rafa, dan padaku. Karena jika ini terus dipendam, suatu hari bisa meledak. Dan itu akan melukai anak-anak.”
Kedewasaan yang luar biasa. Pengorbanan yang tidak semua wanita mampu berikan.
“Aku tidak ingin merusak pernikahanmu,” bisik Aisha. “Aku sudah merusak cukup banyak.”
“Tapi kamu sudah menjadi bagian dari pernikahan ini, Aisha. Kamu tinggal di rumah kami. Kamu mengasuh anak-anak kami bersama. Kamu… keluarga.”
Air mata Aisha jatuh. “Aku tidak pantas.”
“Tapi kamu ada di sini. Dan kita harus menemukan cara untuk hidup dengan nyaman semua orang.”
---
Pulang dari pegunungan, suasana di rumah terasa berbeda. Lebih jujur. Lebih transparan. Tapi juga lebih rentan.
Rafa merasa bersalah pada Laras. Aisha merasa tidak pantas. Dan Laras… Laras justru menjadi penengah yang tenang.
Suatu malam, setelah anak-anak tidur, Laras mengajak mereka berdua duduk di ruang keluarga. “Kita perlu bicara bertiga. Sebagai orang dewasa.”
Mereka duduk membentuk segitiga Rafa dan Laras di sofa, Aisha di kursi tunggal.
“Aku tahu kalian berdua masih ada perasaan,” kata Laras langsung. “Dan aku tidak marah. Karena itu manusiawi. Kalian punya sejarah. Kalian punya anak bersama. Tapi kita harus memutuskan: kita akan seperti apa ke depannya?”
Rafa menatap istrinya. “Aku mencintaimu, Laras. Aku tidak pernah ragu tentang itu.”
“Tapi kamu juga mencintai Aisha.”
“Dengan cara yang berbeda.”
“Tapi tetap cinta,” tegas Laras. “Dan Aisha, kamu juga masih mencintai Rafa.”
Aisha mengangguk, tak bisa menyangkal. “Tapi aku tidak akan pernah bertindak atasnya. Aku menghormati pernikahan kalian.”
“Aku tahu. Tapi kita tidak bisa terus seperti ini tinggal serumah dengan ketegangan yang tidak terucap. Jadi aku usulkan sesuatu.”
Mereka menunggu.
“Mari kita coba terapi keluarga. Dengan psikolog. Untuk mengolah perasaan ini dengan sehat. Dan untuk memutuskan… apakah lebih baik Aisha punya rumah sendiri yang dekat, agar kita semua punya ruang bernapas.”
Solusi logis. Tapi menyakitkan. Karena artinya Aisha harus pindah dari rumah ini rumah yang sudah menjadi rumahnya juga.
“Aku setuju,” kata Aisha cepat. “Aku akan cari rumah kecil dekat sini.”
“Tidak,” kata Rafa tiba-tiba. “Aku tidak mau Arka harus berpindah-pindah antara dua rumah lagi. Dia sudah melalui cukup banyak.”
“Tapi kita tidak bisa terus begini, Rafa,” kata Laras lembut. “Aku kuat, tapi aku bukan batu. Aku juga butuh merasa… menjadi satu-satunya wanita di rumahku sendiri.”
Pengakuan itu jujur. Dan itu menyadarkan Rafa bahwa selama ini, Laras telah berkorban jauh lebih banyak dari yang dia tunjukkan.
---
Mereka memulai terapi keluarga minggu berikutnya.
Dengan psikolog yang berpengalaman menangani dinamika keluarga kompleks. Sesi pertama penuh air mata Aisha menangis meminta maaf, Laras menangis mengakui rasa tidak amannya, Rafa menangis karena merasa gagal melindungi kedua wanita dalam hidupnya.
Tapi dari sesi-sesi itu, muncul kejujuran yang menyembuhkan.
Fakta 1: Aisha tidak ingin kembali dengan Rafa secara romantis. Dia hanya ingin stabilitas untuk Arka.
Fakta 2: Laras tidak ingin Aisha pergi jauh, karena dia juga sudah menganggap Aisha saudara dan tahu anak-anak butuh ibunya dekat.
Fta 3: Rafa merasa terjepit, tapi komitmennya pada Laras dan Nadia Arkana tidak tergoyahkan.
Solusi akhir: Aisha akan pindah ke rumah kecil di kompleks yang sama, jarak 5 menit jalan kaki. Arka akan punya kamar di kedua rumah. Dan mereka akan tetap menghabiskan waktu bersama sebagai keluarga besar, tapi dengan batas-batas yang jelas.
Bukan perpisahan. Tapi redefinisi.
---
Proses pencarian rumah dan pindahan berlangsung cepat.
Aisha menemukan rumah kecil dua kamar yang nyaman. Saat hari pindahan tiba, Arka membantu membawa barang-barang kecil dengan semangat.
“Jadi Arka punya dua rumah ya?” tanyanya pada Aisha.
“Iya, sayang. Tapi Bunda tetap dekat. Setiap hari kita tetap ketemu.”
“Arka senang. Jadi bisa nginep bergantian.”
Tapi malam pertama Aisha di rumah barunya, kesepian itu datang dengan dahsyat. Delapan tahun dia sendirian, lalu beberapa bulan tinggal dengan keluarga Rafa yang ramai, dan sekarang… sendirian lagi. Tapi kali ini, dengan pilihan.
Rafa mengantarkan makan malam untuknya Laras yang memasak.
“Laras bilang, kamu mungkin belum sempat masak,” kata Rafa, meletakkan rantang di meja.
“Dia selalu baik,” bisik Aisha.
“Dia memang luar biasa.” Rafa berdiri di ambang pintu, tidak masuk. “Aku harus kembali. Tapi… telepon kalau butuh apa-apa.”
“Rafa,” panggil Aisha sebelum dia pergi. “Terima kasih. Untuk semuanya.”
Rafa tersenyum kecil, lalu pergi. Batas itu jelas sekarang. Dan mereka berdua berusaha menghormatinya.
---
Hidup baru mulai berjalan.
Pagi hari, Aisha sarapan di rumahnya, lalu berjalan ke rumah Rafa untuk antar Arka sekolah. Sore, mereka sering makan malam bersama. Weekend, mereka jalan-jalan bertiga atau berenam.
Tapi suatu Sabtu sore, saat Laras mengajak Nadia dan Arkana ke rumah orangtuanya, Rafa dan Aisha kebetulan sedang berdua di rumah Aisha membantu memperbaiki keran yang bocor.
Pekerjaan selesai. Mereka duduk di teras kecil, minum air putih. Matahari sore menyorot wajah Aisha, dan Rafa tiba-tiba teringat pada suatu sore delapan tahun lalu di kampus, saat mereka duduk di tangga fakultas dengan cara yang sama.
“Kamu masih pakai parfum yang sama,” ucap Rafa tanpa sadar.
Aisha terkejut. “Kamu ingat?”
“Aku ingat segalanya tentangmu, Aisha.”
Diam yang tegang. Udara terasa pekat. Delapan tahun perasaan yang dipendam tiba-tiba mendidih di permukaan.
Rafa berdiri, hendak pergi sebelum melakukan sesuatu yang akan disesali. Tapi Aisha memegang lengannya.
“Jangan,” bisiknya. “Jangan pergi dulu.”
Mereka saling tatap. Delapan tahun penyesalan, kerinduan, dan cinta yang tak pernah benar-benar padam. Dan di sore itu, tanpa rencana, tanpa niat, mereka berpelukan.
Bukan pelukan biasa. Tapi pelukan erat, penuh isakan, penuh segala yang tak terucap. Rafa menangis di bahu Aisha, Aisha menangis di dada Rafa. Dua jiwa yang terluka, yang akhirnya mengakui bahwa mereka masih mencintai, meski tahu tidak boleh.
“Aku minta maaf,” bisik Rafa. “Untuk tidak mencarimu. Untuk tidak ada saat kamu butuh.”
“Aku juga minta maaf. Untuk lari. Untuk mengambil pilihan sendirian.”
Mereka berpelukan lama, sampai matahari hampir tenggelam. Tapi kemudian, Aisha menarik diri.
“Kita tidak bisa,” katanya, air mata masih mengalir. “Kita sudah pilih jalan berbeda.”
Rafa mengangguk, hancur. “Aku tahu.”
“Pergilah, Rafa. Sebelum kita melakukan hal yang akan kita sesali.”
Rafa pergi dengan langkah berat. Dan Aisha duduk sendirian di teras, menangis sampai malam tiba. Cinta itu nyata. Tapi terkadang, cinta bukanlah alasan untuk bersama. Terkadang, cinta adalah alasan untuk melepaskan.
---
Laras tahu.
Wanita itu cerdas. Dia melihat mata Rafa yang merah saat pulang. Melihat Aisha yang tidak muncul untuk makan malam dengan alasan sakit kepala. Dan dia mengerti.
Malam itu, di tempat tidur, Laras bertanya: “Kamu ke rumah Aisha tadi?”
Rafa mengangguk, tidak bisa berbohong.
“Dan terjadi sesuatu?”
“Kami… berpelukan. Tapi hanya itu. Dan kami tahu itu salah.”
Laras diam lama. Lalu dia memegang tangan suaminya. “Aku tidak marah. Karena aku tahu betapa sulitnya bagi kalian berdua.”
“Aku mencintaimu, Laras.”
“Aku tahu. Dan aku percaya padamu. Tapi… mungkin kalian butuh closure yang benar-benar tuntas. Bukan hanya pindah rumah. Tapi… katakan semua yang perlu dikatakan. Lalu tutup bab itu dengan baik.”
---
Minggu berikutnya, dengan sepengetahuan dan restu Laras, Rafa dan Aisha pergi berdua ke suatu tempat—kafe tua di kampus mereka dulu yang masih bertahan.
Mereka duduk di sudut yang sama seperti dulu. Dan mereka bicara. Benar-benar bicara. Tentang cinta mereka di masa lalu. Tentang penyesalan. Tentang apa yang bisa terjadi dan apa yang tidak.
“Aku akan selalu mencintaimu, Aisha,” kata Rafa, jujur. “Tapi cintaku pada Laras dan anak-anakku adalah komitmen yang aku pilih. Dan aku tidak akan menghancurkannya.”
“Aku juga mencintaimu, Rafa. Tapi cintaku pada Arka lebih besar. Dan aku tidak ingin dia tumbuh dalam keluarga yang retak karena ego kita.”
Mereka tersenyum—senyum sedih, tapi lega. Ini closure. Ini akhir dari bab romansa mereka. Dan awal dari bab persahabatan yang lebih sehat.
“Jadi kita berteman?” tanya Aisha.
“Kita sudah lebih dari teman. Kita keluarga.”
Mereka berjabat tangan, lalu tertawa, tawa yang ringan, pertama kalinya dalam delapan tahun.
---
Di rumah, Laras menunggu dengan jantung berdebar.
Saat Rafa pulang, dia bertanya: “Sudah selesai?”
“Sudah,” jawab Rafa, memeluk istrinya erat. “Dan terima kasih. Untuk pengertianmu. Untuk cintamu.”
“Aku mencintaimu, Rafa. Dan karena itu, aku ingin kamu bahagia meski terkadang bahagiamu bukan hanya bersamaku.”
Cinta yang dewasa. Cinta yang tidak posesif. Cinta yang percaya.
Malam itu, Rafa tidur dengan tenang pertama kalinya sejak Aisha kembali ke hidupnya. Dia akhirnya menemukan kedamaian di antara dua cinta, cinta pada masa lalu yang harus dilepas, dan cinta pada masa kini yang dipilihnya setiap hari.
---
Dan Aisha, di rumah kecilnya, menatap foto Arka. Dia tersenyum. Dia mungkin tidak memiliki cinta romantis. Tapi dia memiliki cinta yang lebih besar cinta anaknya, cinta dari keluarga yang menerimanya, dan cinta pada dirinya sendiri yang akhirnya berdamai dengan masa lalu.
Dia mengetik pesan untuk Laras: "Terima kasih sudah mempercayaiku. Dan terima kasih sudah menjadi saudara yang tidak pernah kumiliki."
Balasan cepat: "Kita keluarga. Selamanya."
---
(Di luar jendela Aisha, bulan purnama bersinar terang. Dan di suatu tempat di masa depan, mungkin ada cinta baru yang menunggu. Tapi untuk sekarang, ini cukup. Damai dengan diri sendiri. Damai dengan pilihan. Dan damai dengan cinta yang bertransformasi bukan lenyap, tapi berubah bentuk.)