NovelToon NovelToon
A WINTER OF MY HEART

A WINTER OF MY HEART

Status: tamat
Genre:Karir / Angst / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan sang fajar

Aku tidak lagi merasa takut. Rasa takut adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang masih punya sesuatu untuk dijaga. Bagiku, saat ini, satu-satunya yang tersisa adalah naskah di atas meja dan harga diri seorang pria yang rela kehilangan segalanya demi kejujuran.

"Mbak Na, dia sudah dekat!" anak kecil itu berteriak lagi sebelum berlari menjauh, takut tertular ketegangan yang memancar dari wajahku.

Aku masuk ke dalam rumah, gerakanku tenang namun pasti. Aku tidak mengemas semua pakaianku. Aku hanya mengambil koper kecil, memasukkan laptop, dan yang paling penting—amplop cokelat berisi foto-foto Biru. Aku membungkusnya dengan kain beludru, melindunginya seolah itu adalah jantungku sendiri.

Suara deru mesin mobil yang berat terdengar berhenti di depan pagar kayu. Suaranya kontras dengan kesunyian desa pesisir ini, terdengar sombong dan mengancam.

Aku melangkah keluar ke teras. Seorang pria bertubuh tegap dengan kacamata hitam turun dari mobil SUV hitam mengkilap. Dia tampak seperti robot dalam balutan setelan jas yang kaku. Di tangannya, ia memegang sebuah map.

"Ibu Aruna Rembulan Maharani?" tanyanya tanpa ekspresi.

"Siapa yang mengirimmu? Abhinara? Atau Tuan Laksmana?" suaraku datar, setajam karang di bawah dermaga.

Pria itu tidak menjawab langsung. Dia membuka mapnya. "Saya diutus untuk membawa Anda kembali ke kota. Tuan Abhinara ingin memastikan Anda menandatangani dokumen pembatalan proyek 'Wajah-Wajah Tersembunyi' dan menyerahkan seluruh aset digital maupun cetak milik perusahaan."

"Aset perusahaan?" aku tertawa sinis. "Yang ada di dalam amplop ini adalah jiwa seseorang, bukan aset perusahaanmu."

"Ibu Aruna, jangan mempersulit keadaan. Kami tahu Anda membawa draf fisik dari kurasi terakhir Biru Laksmana. Serahkan itu sekarang, dan Tuan Abhinara berjanji tidak akan mengusik kehidupan Anda lagi di desa ini."

Jadi itu rencananya. Abhinara ingin menghapus jejak Biru sepenuhnya. Jika naskah ini mati, maka Biru Laksmana Langit benar-benar akan menjadi hantu—seorang pria tanpa nama, tanpa karya, dan tanpa masa lalu.

"Katakan pada Abhinara," aku melangkah turun dari teras, mendekati pria itu hingga hanya berjarak satu meter. "Fajar tidak pernah tunduk pada perintah bayangan. Aku akan kembali ke kota. Tapi bukan bersamamu. Dan bukan untuk menyerah."

Pria itu tampak ragu. "Saya punya perintah untuk membawa Anda, dengan atau tanpa persetujuan."

Tepat saat ia hendak melangkah maju, beberapa nelayan dari tempat pelelangan ikan—pria-pria dengan tangan kasar dan kulit legam yang sering kubantu mencatat administrasinya—muncul dari balik semak-semak. Mereka membawa galah dan kayu, berdiri di belakangku dengan wajah tidak bersahabat. Di desa ini, mereka tidak peduli siapa keluarga Laksmana. Mereka hanya tahu bahwa "Mbak Na" adalah bagian dari keluarga mereka sekarang.

"Ada masalah, Mbak Na?" tanya Pak Darma, nelayan tertua, sambil menatap pria berjas itu dengan pandangan mengancam.

Pria itu terdiam. Dia tahu dia kalah jumlah di wilayah yang asing baginya. Dia menutup mapnya dengan kasar. "Anda membuat pilihan yang salah, Ibu Aruna. Tuan Abhinara tidak suka menunggu."

"Bagus," jawabku pendek. "Karena aku juga sudah selesai menunggu."

Setelah mobil SUV itu pergi meninggalkan debu yang mengepul, aku berbalik ke arah Pak Darma. "Pak, saya harus kembali ke kota. Bisa bantu saya ke stasiun terdekat?"

Perjalanan kembali ke Jakarta terasa seperti perjalanan menuju medan perang. Aku duduk di kereta ekonomi, memeluk koperku erat-erat. Setiap stasiun yang kulewati terasa seperti hitung mundur.

Aku tidak langsung menuju kantor redaksi. Aku juga tidak menuju apartemenku. Aku memiliki tujuan lain. Sebuah tempat yang diberitahukan Seno tempo hari.

Malam telah larut ketika aku sampai di sebuah gang sempit di daerah padat penduduk di pinggiran pelabuhan. Baunya campur aduk antara solar, garam, dan tumpukan sampah. Jauh dari kemewahan The Blue Anchor atau galeri seni yang megah.

Aku menelusuri deretan kos-kosan dengan dinding semen yang lembap hingga aku menemukan pintu nomor 12. Di depannya, ada sepasang sepatu kets yang sudah sangat kusam—sepatu yang sama yang dipakai Biru saat kami pertama kali ke dermaga.

Aku mengetuk pintu itu. Pelan, namun penuh tekad.

Pintu terbuka. Sosok pria yang berdiri di sana membuat jantungku serasa diremas. Biru Laksmana Langit. Rambutnya berantakan, wajahnya tampak lebih tirus, dan ia mengenakan kaos putih tipis yang sudah agak menguning. Namun, di matanya... masih ada kedamaian samudra itu, meski kini sedikit lebih bergolak.

Dia terpaku. "Aruna?"

Aku tidak mengatakan sepatah kata pun. Aku langsung menghambur ke pelukannya, menyandarkan kepalaku di bahunya yang terasa lebih kokoh namun lebih "nyata" daripada sebelumnya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat, sama seperti detak jantungku.

"Kenapa kamu kembali, Na?" bisiknya di rambutku. "Di sini berbahaya. Abhi tidak akan melepaskan naskah itu."

Aku melepaskan pelukan, menatap matanya dalam-dalam, lalu mengangkat koper kecilku.

"Aku kembali bukan untuk lari lagi, Biru," kataku dengan binar yang belum pernah ia lihat sebelumnya. "Aku kembali untuk membantumu menerbitkan fajar ini. Jika mereka mengambil namamu, maka kita akan buat nama baru. Jika mereka mengambil panggungmu, kita akan buat panggung kita sendiri."

Biru menatapku lama, lalu sebuah senyum tipis—senyum yang benar-benar hangat—muncul di wajahnya. "Kamu tahu, Aruna Rembulan Maharani? Kamu baru saja membuat malam di pelabuhan ini terasa sangat singkat."

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Wiwik Darwasih
bagus👍
deepey
bikin meleleh..
deepey
salam kenal kk.
Isti Mariella Ahmad: Salam kenal 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!