NovelToon NovelToon
The Boy Next Door

The Boy Next Door

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Saudara palsu / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Suasana di ruang tamu kediaman keluarga Johan terasa lebih tegang dari biasanya. Meskipun lampu gantung kristal memberikan cahaya hangat, atmosfer di dalamnya terasa sedingin es. Ayra duduk di sofa panjang dengan jaket basket Alano yang sudah ia lepas dan ia sampirkan di lengan kursi, sementara di depannya, Papa Johan dan Mama Aura duduk dengan posisi tegap, seolah-olah sedang mengadili seorang terdakwa.

Di sofa seberang, ada Om Malik dan Tante Sandra—orang tua Alano—yang baru saja datang untuk menjemput anak laki-laki mereka yang "terlalu lama" menghilang bersama Ayra.

"Rumah sakit, Lano? Kenapa tidak telepon Papa atau Mama dulu?" suara Om Malik terdengar berat, mengisi kekosongan ruangan.

"Maaf, Pa. Tadi Ayra gatal-gatal parah, alergi udangnya kambuh. Lano panik, jadi langsung Lano bawa ke RS Medika," jawab Alano jujur, meski ia bisa merasakan aura protektif dari empat orang tua di depannya.

Papa Johan berdehem, matanya beralih ke Ayra yang menunduk dalam. Sebagai mantan perwira yang kini menjadi pengusaha sukses, Papa Johan memiliki cara bicara yang tidak bisa dibantah.

"Ayra, Papa berterima kasih Alano sigap menjaga kamu. Tapi, kalian harus ingat satu hal yang sudah sering Papa katakan sejak kalian kecil," Papa Johan menjeda kalimatnya, memberikan penekanan pada setiap kata. "Kalian adalah sepupu. Kalian tumbuh besar bersama seperti kakak beradik. Batas itu... tidak boleh pernah kalian langgar."

Mama Aura menambahkan dengan nada yang lebih lembut namun tetap tegas. "Ay, Lan, kami membolehkan kalian berangkat sekolah bersama, makan bareng, bahkan saling jaga, karena kami percaya kalian tahu posisi masing-masing. Tapi jangan sampai perhatian kalian... berubah menjadi sesuatu yang melebihi hubungan saudara."

Tante Sandra mengangguk setuju. "Benar kata Mama Aura. Sandra tidak mau ada gosip tidak enak di lingkungan sekolah atau keluarga besar. Sepupu tetaplah sepupu. Jangan ada perasaan yang lebih dari itu."

Ayra merasa dadanya sesak. Setiap kata "sepupu" yang keluar dari mulut orang tua mereka terasa seperti duri yang menusuk perlahan. Ia melirik Alano melalui sudut matanya. Cowok yang biasanya selalu punya jawaban jahil itu kini hanya bisa mengepalkan tangannya di atas lutut, wajahnya kaku menahan emosi.

"Tapi Ma, Lano cuma—"

"Cukup, Lano," potong Om Malik. "Bawa jaket kamu, kita pulang sekarang. Ayra butuh istirahat setelah minum obat."

Alano berdiri perlahan. Ia mengambil jaket basketnya dari samping Ayra. Saat tangan mereka bersentuhan sebentar ketika Alano meraih jaketnya, ada sengatan listrik yang menyakitkan—sebuah pengingat bahwa di rumah ini, jarak satu sentimeter pun diawasi oleh delapan pasang mata yang protektif.

Setelah keluarga Alano pulang, Ayra segera masuk ke kamarnya. Ia tidak selera makan malam. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar yang tampak semakin sempit.

"Sepupu..." bisik Ayra lirih. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga.

Logikanya setuju dengan orang tuanya. Secara norma dan silsilah, mereka memang terikat darah. Namun, jantungnya tidak bisa berbohong. Setiap perhatian Alano, setiap suapan kerupuk di warung sate, setiap pasang badan Alano di depan Adinda—semuanya bukan dilakukan sebagai seorang "kakak" kepada "adik".

Ting!

Ponsel Ayra bergetar di bawah bantal. Sebuah pesan dari Alano masuk.

Alano: "Udah minum obatnya? Jangan dipikirin omongan Papa sama Om Malik tadi. Mereka cuma takut kita terluka."

Ayrania.J: "Tapi mereka bener, Lan. Kita sepupu. Harusnya kita nggak sedeket ini."

Alano: "Ay, dengerin gue. Status di kartu keluarga mungkin bilang kita saudara. Tapi hati gue nggak punya kartu keluarga. Di sana, cuma ada nama lo sebagai orang yang pengen gue jaga selamanya, bukan sebagai adek."

Ayra memeluk ponselnya. Ia tahu mereka sedang bermain api. Di sekolah, mereka adalah sang Kapten dan sang Sekretaris yang bersinar. Namun di rumah, mereka hanyalah dua orang anak yang terperangkap dalam ekspektasi keluarga besar.

Ayra bangkit dan berjalan menuju jendela balkonnya. Di seberang, ia melihat Alano juga sedang berdiri di balkon kamarnya, hanya terpisah jarak sekitar lima meter. Alano melambaikan tangannya, lalu menggunakan bahasa isyarat tangan yang hanya mereka berdua yang tahu.

Alano menunjuk matanya, lalu menunjuk ke arah Ayra, dan berakhir dengan tangan yang membentuk setengah hati.

Ayra tersenyum di tengah tangisnya. Ia membalas dengan gerakan yang sama. Sebuah perjanjian tanpa kata bahwa meskipun tembok keluarga setinggi gunung, mereka akan tetap menjadi "rumah" bagi satu sama lain secara sembunyi-sembunyi.

"Maaf ya Pa, Ma... untuk kali ini, Ayra mau egois," gumam Ayra pelan sebelum menutup tirai jendelanya.

Malam itu, SMA Nusantara mungkin tetap mengenal mereka sebagai dua orang yang sering bertengkar, namun di bawah naungan rembulan yang sama, dua hati sedang berdenyut melawan arus takdir yang telah digariskan oleh orang tua mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!