Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji
"Devan! Untung kamu pulang, Sayang. Liat nih, Putri... dia ngamuk-ngamuk dan nuduh aku yang enggak-enggak, terus dia pura-pura ja—"
"JANGAN SENTUH ISTRI AKU!"
Teriakan Devan menggelegar, memotong sandiwara Tamara seketika. Suara bariton itu begitu keras dan penuh amarah hingga membuat Tamara tersentak mundur dua langkah.
Devan tidak menatap Tamara, matanya terkunci pada sosok Putri yang meringkuk kesakitan di lantai. Dengan langkah lebar, Devan berlari menghampiri Putri, berlutut di sampingnya.
"Put... Putri..."
Suara Devan bergetar, berubah drastis menjadi lembut namun panik. Tangannya dengan hati-hati menopang kepala istrinya. "Mana yang sakit? Bilang sama aku, mana yang kena?"
Putri membuka matanya yang sayu, menatap Devan dengan pandangan buram. "M-mas Devan... Mas udah pulang?"
"Aku di sini." Devan mengecup kening Putri sekilas yang penuh keringat dingin, lalu beralih menatap Tamara dengan tatapan yang bisa membunuh.
Tamara membeku, ia belum pernah melihat Devan memandangnya dengan tatapan sejahat itu, tatapan jijik.
"Devan, kamu kenapa bentak aku? Aku cuma mau kasih pelajaran sama dia karena dia kurang ajar sama kakaknya," bela Tamara gugup.
Devan berdiri perlahan, setelah memastikan posisi Putri cukup nyaman. Ia melangkah mendekati Tamara, mengikis jarak hingga Tamara terpojok ke dinding.
"Kurang ajar?" Devan tertawa hambar, mengerikan. "Yang kurang ajar itu kamu, Tamara. Datang ke rumah orang, menghina pemilik rumah, dan melukai orang yang sedang sakit."
Devan mengangkat ponselnya, menunjukkan layar yang masih menyala.
"Aku liat semuanya," desis Devan dingin, "aku pasang CCTV di sini. Aku denger semua omongan kamu. Tentang aku yang cuma mesin ATM, tentang kamu yang takut miskin karena fasilitas dari papa ditarik."
Wajah Tamara pucat pasi seputih kertas. "I-itu... itu aku cuma emosi, Van. Aku nggak bermaksud_"
"Cukup," potong Devan, "aku bener-bener bodoh ya selama ini? Aku kira kamu balik karena kamu sadar kamu cinta sama aku. Ternyata kamu balik cuma karena kamu butuh sponsor buat gaya hidup kamu."
"Enggak, Van! Aku cinta kamu!" Tamara mencoba meraih tangan Devan, air mata buayanya kembali keluar. "Jangan dengerin Putri, dia hasut kamu!"
Devan menepis tangan Tamara dengan kasar, seolah tangan itu membawa virus.
"Putri bahkan nggak ngadu apa-apa ke aku. Dia justru belain aku di depan kamu!" bentak Devan. "Dia, perempuan yang kamu sebut parasit itu, bilang kalau dia bakal tetep sama aku biarpun aku jatuh miskin. Sementara kamu? Kamu cuma peduli sama 'fasilitas'!"
Devan menunjuk pintu keluar dengan jari telunjuknya yang kaku.
"Keluar!"
"Van..."
"KELUAR DARI RUMAH AKU" bentak Devan lebih keras, membuat Tamara gemetar ketakutan. "Dan jangan pernah tampakkan muka kamu di depan
aku atau istri aku lagi. Mulai detik ini, kita asing. Jangan harap kamu bisa minta tolong apapun dari aku."
Kamu bakal nyesel, Van! Kamu bakal nyesel pilih si pesakitan itu dibanding aku!" teriak Tamara sambil menyambar tasnya.
"Satu-satunya penyesalan aku adalah pernah ngasih kesempatan kedua buat wanita sejahat kamu," balas Devan tajam.
Tamara menghentakkan kakinya, lalu berlari keluar rumah dengan perasaan malu dan hancur.
Suara mobil Tamara yang menderu pergi menjadi penanda berakhirnya drama masa lalu itu.
Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu.
Bahu Devan merosot turun. Napasnya masih menderu sisa emosi. Ia berbalik, menatap Putri yang masih terbaring lemah di lantai, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Devan segera kembali berlutut, mengangkat tubuh ringan Putri ke dalam gendongannya. Ia membawa istrinya ke sofa yang lebih empuk.
"Maaf," bisik Devan parau, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Putri saat meletakkan istrinya. "Maafin aku, Put... Aku telat lagi. Aku biarin dia nyakitin kamu lagi."
Putri mengangkat tangannya yang gemetar, mengusap rambut belakang Devan. "Mas Devan nggak telat kok, Mas Devan pulang."
Devan mengangkat wajahnya, menatap manik mata Putri dalam-dalam. Tidak ada lagi keraguan di sana, kejadian hari ini menamparnya hingga ia sadar dan melihat kenyataan dengan jelas.
"Aku pulang, Put," ucap Devan sungguh-sungguh.
Putri menatap suaminya dengan tatapan haru.
"Aku bener-bener pulang ke kamu. Nggak akan ada Tamara lagi, nggak akan ada masa lalu lagi, cuma kamu."
Devan menggenggam tangan Putri yang dingin, lalu mengecupnya lama.
"Kamu menang, Put. Kamu udah menangin hati aku tanpa perlu perang. Sekarang tugas kamu cuma satu... sembuh. Sembuh buat aku, ya?"
Putri tersenyum, air mata bahagia menetes di pipinya. Rasa sakit di tubuhnya seolah terbius oleh kelegaan yang luar biasa. Perjuangannya, kesabarannya, dan keberaniannya hari ini terbayar lunas.
"Iya, Mas. Aku sembuh," bisik Putri.
Di luar, matahari mulai terbenam, membawa pergi panasnya hari dan menyisakan senja yang tenang.
Di dalam rumah itu, untuk pertama kalinya, Devan merasa benar-benar memiliki seorang istri. Sedangkan Putri, untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki seorang pelindung, seorang pelindung yang akan selalu setia bersamanya.
Enam bulan berlalu.
Waktu seolah berjalan berbeda bagi Devan dan Putri. Tidak ada lagi hari-hari yang dihabiskan dengan saling diam atau saling menyakiti. Setiap detiknya kini diisi dengan perjuangan bersama.
Devan menepati janjinya, ia menjadi bayangan Putri. Ia yang mengantar Putri ke setiap sesi kemoterapi, ia yang memegang baskom saat Putri mual, dan ia yang memotong rambutnya sendiri menjadi botak sebagai bentuk solidaritas saat rambut Putri rontok parah.
Hari ini, di ruangan dokter onkologi yang sama tempat vonis kematian dulu dibacakan, mereka duduk berdampingan. Tangan Devan menggenggam tangan Putri erat, dingin dan berkeringat karena gugup.
Dokter tersenyum lebar sambil memegang hasil Pet Scan terbaru.
Dokter tersenyum lebar sambil memegang hasil Pet Scan terbaru.
"Ini benar-benar luar biasa, Pak Devan, Bu Putri. Saya jarang menggunakan kata ini, tapi ini adalah sebuah keajaiban. Sel-sel kanker di tubuh Ibu Putri sudah tidak terdeteksi. Ibu dinyatakan remisi total."
Putri menutup mulutnya, menahan isak tangis. "Sa... saya sembuh, Dok?"
"Untuk saat ini, ya. Tubuh Ibu merespons pengobatan dengan sangat baik, ditambah semangat hidup Ibu yang luar biasa," jelas dokter, "namun, kita tidak boleh lengah. Ibu tetap harus kontrol rutin setiap bulan untuk memastikan sel kanker tidak tumbuh lagi. Pola hidup harus dijaga ketat."
"Saya yang akan jaga, Dok," sambar Devan cepat, matanya berkaca-kaca. "Saya pastikan dia nggak akan capek, makannya sehat, dan nggak stres."
Dokter mengangguk setuju. "Peran Bapak sangat besar dalam kesembuhan ini."
Begitu keluar dari ruangan dokter, Devan langsung menarik tubuh Putri ke dalam pelukannya. Di koridor rumah sakit yang ramai, pria arogan itu menangis haru di bahu istrinya.
"Makasih, Put... Makasih udah berjuang," bisik Devan serak, "makasih udah nggak ninggalin aku."
Putri tersenyum, mengusap punggung suaminya. "Kita berjuang sama-sama, Mas."
Sementara itu, di sebuah pemakaman umum yang tenang di pinggiran kota.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal, berlutut di samping sebuah makam sederhana yang nisan batunya mulai kusam. Rumput liar yang dulu tumbuh subur kini sudah bersih dicabuti.
Pak Brahma meletakkan buket bunga lili putih, bunga kesukaan Laras di atas gundukan tanah itu.
"Assalamualaikum, Laras..." sapanya lirih.
Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan pohon kamboja.
"Mas datang lagi," ucap Brahma, air mata menetes di pipinya yang mulai membentuk garis-garis halus. "Mas bawa kabar gembira. Anak kita, Putri kita. Dia sembuh, Ras. Dia kuat, persis seperti kamu."
Brahma mengusap nisan bertuliskan 'Larasati' 'itu dengan jempolnya.
"Maafin Mas, Laras. Butuh puluhan tahun buat mas sadar betapa berdosanya mas sama kamu. Mas menikahi kamu demi warisan, mas mengabaikan kamu, dan mas membiarkan anak kita menderita di rumahnya sendiri."
Isak tangis Brahma semakin terdengar pilu.
"Harta yang mas kejar mati-matian itu...
ternyata nggak bawa kebahagiaan, Ras. Justru harta itu yang bikin keluarga kita hancur, bikin Anggun dan Tamara jadi monster. Sekarang, mas mau perbaiki semuanya. Mas sudah alihkan sebagian besar aset pribadi mas atas nama Putri. Bukan sebagai hadiah, tapi sebagai hak dia yang mas rampas dulu."
Brahma menunduk, mencium nisan itu lama.
"Tenanglah di sana, Ras. Mas janji, sisa hidup mas akan mas pakai untuk menebus dosa. Mas akan jadi ayah yang pantas buat Putri."