Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 14
PERLAWANAN BERTAHAP
Lorong timur mansion terasa lebih dingin dari bagian lain rumah itu.
Langkah Feracrus bergema berat di lantai marmer, sementara Elizabeth mengikutinya dengan jantung yang semakin tak tenang. Dinding-dinding tinggi dihiasi lukisan leluhur Holloway—mata mereka seperti mengawasi, menilai, menghakimi.
“Di mana telepon itu disimpan?” tanya Elizabeth pelan.
“Di ruang komunikasi lama, Nyonya,” jawab Feracrus singkat tanpa menoleh. “Sudah lama tidak digunakan.”
Itu saja cukup membuat perut Elizabeth mengeras.
Mereka berhenti di depan pintu besi kecil yang tersembunyi di balik tirai beludru gelap. Feracrus membuka kunci dengan satu gerakan terlatih. Ruangan itu sempit, berdebu, berbau logam dan kabel tua.
Di atas meja kayu, tergeletak sebuah telepon seluler yang harusnya dipajang di meja ruang tamu. Tapi di Holloway, seolah sengaja disembunyikan.
“Silahkan Nyonya.” Kata kepala pelayan tersebut, namun pria itu tak pergi, melainkan berdiri diam di dekat pintu saat Elizabeth mulai meriah telepon tersebut. Tentu, wanita itu sudah faham, bahwa Feracrus menjadi seperti mata-mata atas perintah Luis.
Jari-jari Eliza mulai menekan satu persatu nomor secara acak, menunggu jawaban dari kediaman Taylor. Cukup lama ia menunggu, tak ada jawaban di sana.
Feracrus sendiri memperhatikan bagaimana Eliza berulang kali mencoba menelepon keluarganya, namun tak ada yang membalas panggilan tersebut.
-‘Tidak biasanya pelayan mengabaikan telepon masuk.’ Batin Eliza yang terheran-heran juga merasa cemas.
“Apa mereka tidak bisa dihubungi?” tanya Feracrus. Elizabeth menoleh, lalu menggeleng dengan tatapan sendu.
Sudahlah dia tekanan batin serta luka fisik di Holloway dan sekarang, tidak ada lagi yang bisa membuat Eliza pulang dengan damai.
Wanita itu meletakkan telepon nya dan tersenyum kecil saat menatap Feracrus. “Terima kasih.” ucap Eliza yang dibalas senyuman oleh kepala pelayan yang sudah berusia 60 an.
“Anda wanita yang sopan, Nyonya. Semoga Anda diberikan kebahagiaan.”
Mendengar kata-kata itu dari seorang pelayan, Eliza hanya diam meratapi nasibnya yang pasti jauh dari kata bahagia. “Semoga saja.” Balasnya dengan yakin.
Mereka keluar dari ruangan tersebut, sampai Eliza memanggil Feracrus dan membuat pria itu berbalik menatapnya lagi dengan tanda tanya.
“Anda butuh sesuatu lagi, Nyonya?”
Elizabeth terdiam sejenak. Sedikit ragu tapi dia harus. “Ruangan yang ada di tengah lorong.... Aku melihat bingkai foto besar yang terlihat seperti foto keluarga— ”
Feracrus langsung tegang dan nampak kebingungan saat harus mendapati pertanyaan seperti itu dari Eliza. Sementara Eliza bisa membaca mimik wajah Feracrus sehingga dia berhenti sejenak.
“Ada apa?” tanya Eliza terheran.
“Ti-tidak ada Nyonya. Hanya saja...” pria itu menengok ke kanan dan kiri, seolah memastikan baik-baik bahwa tidak ada sesiapapun di sana. “Sebaiknya Anda jauhi ruangan itu, tuan Luis akan marah jika membahas mereka yang ada di dalam foto itu.”
Tentu saja kedua alis Eliza berkerut. Ia bisa mengingat wajah sosok pria di dalam foto tersebut, namun naman Vale... Nama yang pernah diucap oleh Luis.
“Aku mengerti, terima kasih!” kata Eliza yang bergegas pergi dari sana. Dia memiliki sebuah rencana kecil yang hanya untuk memastikan saja, apakah yang dipikirkan nya itu benar? Atau salah.
Elizabeth melangkah pergi dengan kepala sedikit tertunduk, namun pikirannya justru berlari liar. Ruangan di tengah lorong… foto keluarga… mereka, atau sebaliknya.
Kata mereka berputar di kepalanya seperti pisau tumpul yang mengikis perlahan.
Ia tidak langsung kembali ke sayap kamarnya.
Sebaliknya, Elizabeth memperlambat langkah, menunggu sampai suara sepatu Feracrus benar-benar menghilang di ujung lorong lain.
Sunyi kembali menelan mansion.
Hanya detak jam tua dan tarikan napasnya sendiri yang terdengar.
Ia berbalik.
Lorong tengah berdiri seperti tenggorokan gelap, memanjang lurus dengan satu pintu besar di ujungnya—pintu yang tadi dimaksud Feracrus.
Elizabeth menelan ludah. “Aku hanya melihat,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Hanya sebentar.”
Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara. Gaunnya menyapu lantai seperti bayangan.
Semakin dekat, hawa di sekitarnya terasa berubah—lebih dingin, lebih berat. Pintu itu tidak terkunci.
Hanya sedikit terbuka.
Elizabeth mendorongnya dengan ujung jari.
Klik!
Ruangan itu gelap, hanya diterangi satu lampu kecil di langit-langit.
Dan di dinding utama… Foto itu. Bingkai besar berwarna emas gelap, menampilkan beberapa sosok pria dewasa dalam setelan hitam. Wajah mereka keras, dingin—wajah orang-orang yang terbiasa memerintah, bukan memohon.
Dan di tengah mereka…
Seorang pria muda. Rahang tegas. Tatapan tajam. Mata yang seolah menatap lurus keluar dari bingkai. Wanita dan pria paruh baya, serta gadis remaja.
Napas Elizabeth tercekat melihat ukuran di bingkai tersebut. “Itu dia…” bisiknya.
Nama yang menghantui pikirannya sejak hari pertama di Holloway.
“Vale…” Nama itu keluar dari bibirnya tanpa sadar.
“Sedang apa kau di sini?”
Sontak Elizabeth berbalik, tegang saat melihat keberadaan ibu mertuanya, Esperance. Wanita yang kini menatap dengan mata terbuka lebar dan menajam bak pisau yang ingin membelah. Sedangkan Cili, menguping di luar pintu yang terbuka dengan penuh penasaran.
“Aku hanya ingin melihat.”
“Tapi tidak seharusnya kau lancang, Elizabeth! Apa keluargamu tidak mengajarimu adab dan sopan santun? Aku pikir seorang Taylor memiliki itu.... Aku jadi ragu.” Kata Esperance dengan tegas dan emosi yang mendalam, seolah-olah Elizabeth melakukan kesalahan besar.
Mendengar cacian seperti itu, Elizabeth berkerut alis. “Jangan pernah meragukan keluargaku. Mereka mendidik ku dengan baik sampai aku menjadi wanita penurut. Dan tidak membuka mulut demi kehormatan.” Tegas Elizabeth yang seketika mendapat tamparan keras di pipinya dari Esperance detik itu juga.
Kedua mata Cili terbuka lebar namun dia berusaha untuk tidak pergi dari sana.
“Alu jadi tahu, bagaimana sifatmu yang sesungguhnya.” ucap Esperance yang masih menatapnya marah.
Sementara Elizabeth terdiam dengan kepala sedikit menoleh ke kanan tanpa menatap wanita tua itu. Dengan penuh keyakinan, Eliza memberanikan diri menatapnya balik dengan tatapan datar namun perlahan penuh emosi.
“Aku memiliki prinsip, begitu juga dengan orang lain.” Elizabeth masih menatap Esperance dengan tenang penuh emosi. “prinsipku, bersikap sopan, anggun dan bertutur kata baik. Jika aku menurutmu melewati semua itu... itu artinya bukan aku yang tidak memiliki batas, tapi seseorang yang membuat orang seperti ku sampai berani bertindak.” Jelas Eliza yang berhasil membungkam Esperance.
Wanita itu tak bisa berkata-kata lagi selain diam seribu bahasa. Hingga Eliza menoleh ke belakang, menatap ke bingkai foto di sana lalu kembali menatap ke Esperance.
“Aku tidak akan bertanya apa-apa, Nyonya Esperance. Aku hanya ingin melihat dan mengamati lebih dekat.” ujar Eliza yang kini tersenyum tipis.
“Jika Luis Holloway tahu, maka kau akan hancur di tangannya.” Kata Esperance yang menatap marah.
Nama suaminya, Eliza baru ingat bahwa dia punya seorang suami. Dan kini dia hanya diam menatap datar dan lelah.
“Aku sudah hancur setelah menginjakkan kaki di rumah ini.” Kata Eliza yang benar-benar mengejutkan Esperance malam ini.
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl