NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIDAK TERIMA

“Hujannya belum reda, ayo masuk dulu Mas." Ucap Vina pelan saat mereka sampai di depan rumahnya.

Farid menoleh, menatap rumah itu sebentar, lalu kembali melihat wajah Vina yang masih basah kuyup meski sudah setengah kering. Meski rumah Vina letaknya tak jauh dari rumah ibunya, tapi tetap saja ada rasa canggung yang sulit dihindari.

“Sepertinya saya ke rumah ibu saya saja, mau ganti baju disana." Ucap Farid sambil tersenyum tipis.

Ia bermaksud menjaga jarak. Bukan karena berpikiran buruk, tapi karena ia tahu batas. Ia sudah beristri dan masuk ke rumah seorang perempuan yang bukan siapa-siapanya, meski hanya sebentar tetap saja membuatnya tak nyaman.

Namun langkahnya terhenti saat ia melirik ke arah Vina. Perempuan itu menunduk, menggigit bibir bawahnya pelan—wajahnya tampak murung karena kecewa.

“Maaf ya, Mas. Harusnya aku yang hati-hati tadi waktu nyebrang… sekarang malah bikin Mas ribet, basah segala, sampai harus ganti baju…” Ujar Vina dengan lirih.

Farid terdiam melihat Vina yang tampak merasa bersalah. Ia pun sadar, penolakannya tadi mungkin terdengar dingin. Padahal, perempuan ini hanya mencoba menunjukkan perhatian karena merasa berutang budi.

“Kalau Mas Farid nggak enak mau masuk ke rumah Vina... ya nggak apa-apa.” Ucap Vina lagi, lebih pelan. “Cuma… Vina juga nggak enak kalau Mas jadi harus pulang dalam keadaan basah, padahal itu semua karena Vina."

Vina melirik sekilas ke arah Farid dengan mata sendu, berharap pria itu paham akan maksudnya. Dan sesuai dengan apa yang diinginkannya, Farid yang awalnya tampak ragu, pada akhirnya hanya bisa mengangguk pelan.

“Baik." Jawabnya yang bahkan melupakan penyebab pertengkarannya terakhir dengan Maira terakhir kali, karena ia berduaan dengan Vina di rumah ibunya.

Jawaban Farid membuat Vina tersenyum dan langsung membuka pintu rumahnya lebar-lebar, mempersilakan Farid untuk masuk ke dalam.

Sementara dari belakang, Vina turut mengekori tapi kali ini ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Dan tak lama, Vina kembali muncul dari dalam kamar dengan mengenakan pakaian kering, membawa handuk bersih dan sepasang pakaian pria.

“Ini, Mas… ganti baju dulu ya, biar nggak masuk angin." Ujar Vina, menyodorkan pakaian itu dengan dua tangan.

Farid menerimanya pelan. Tangannya menyentuh ujung kaos yang sedikit dingin, sementara matanya sekilas menatap pakaian itu—kaos pria, dan celana training. Ada jeda dalam gerakannya, tapi cukup membuat Vina langsung menyadari apa yang mungkin dipikirkan pria itu.

Ia buru-buru menjelaskan, nyaris tergesa.

“Ini… punya abang Vina. Kadang dia nginep di sini kalau lagi main ke rumah. Jadi bajunya memang suka ditinggal di lemari.” Katanya, mencoba terdengar biasa saja, tapi nada gugupnya tak bisa sepenuhnya disembunyikan.

Farid mengangguk pelan, tak ingin memperpanjang.

“Oh, iya…” sambung Vina, cepat-cepat mengalihkan suasana. “Kamar mandinya di belakang, Mas. Lewat dapur, nanti belok kanan.”

“Iya, makasih ya Vin.”

Farid pun melangkah menuju arah yang ditunjukkan, membawa pakaian ganti di tangannya. Sementara Vina berdiri sejenak di ruang tamu, memandangi punggung Farid yang mulai menjauh. Ia menarik napas dalam-dalam menghilangkan rasa gugupnya.

Beberapa menit kemudian, Farid keluar dari kamar mandi. Kaos longgar abu-abu dan celana training hitam yang ia kenakan tampak sedikit kedodoran di tubuhnya, tapi jauh lebih nyaman daripada pakaian basah yang ia kenakan sebelumnya.

“Ini, Mas… tehnya." Ucap Vina, menyodorkan cangkir hangat yang masih mengepulkan asap.

Farid menerima sambil duduk bersandar di sofa, mencoba menenangkan suhu tubuh yang mulai kembali normal. Matanya kemudian bergerak, memindai perlahan ruangan mungil namun bersih itu.

“Kamu tinggal sendiri di sini?” Tanyanya, sekadar membuka percakapan.

Vina mengangguk. “Iya, Mas. Tapi kadang Ibu Vina suka datang dari kampung. Biasanya sama suaminya… numpang nginap beberapa hari.”

Farid menoleh singkat. Dari penjelasan itu, ia menyimpulkan satu hal: ayah kandung Vina sudah tidak ada atau berpisah, dan kini ibunya hidup bersama pria lain. Tak bertanya lebih jauh, Farid hanya mengangguk pelan.

“Oh ya, Mas…” Vina menatapnya dengan sedikit ragu, sebelum akhirnya melanjutkan, “Maaf ya… gara-gara Vina tadi, Mas jadi harus repot, basah, ganti baju segala…”

Farid menggeleng. “Udahlah, Vin. Yang penting kamu nggak kenapa-kenapa.”

“Tadi itu Vina mau nyebrang ke halte, mau neduh sekalian nunggu angkot. Hujannya deras banget. Tapi… nggak sadar ada mobil..." Tambahnya pelan, dengan nada penuh penyesalan.

Farid mengernyit, menatap Vina lebih serius. “Kamu darimana sih, kok sampai malam gini?”

“Pulang ngeles, Mas." Jawab Vina. “Biasanya habis ngajar di sekolah, Vina ada jadwal les privat juga. Ya… buat nambah-nambah bayar kontrakan sama kebutuhan.”

Farid hanya mengangguk pelan. Tak ada komentar, tapi sorot matanya berubah. Sedikit lebih lembut dan sedikit lebih peduli.

Setelah itu, percakapan mereka mengalir lebih ringan. Vina mulai merasa lebih santai, begitu pula Farid. Obrolan kecil tentang pekerjaan, tentang murid-murid les Vina yang kadang lucu dan kadang bikin lelah, membuat tawa kecil sesekali terdengar di antara mereka.

Hingga tanpa sadar, hujan yang sejak tadi mengguyur deras di luar telah benar-benar berhenti. Suara air dari talang pun mereda.

Vina menoleh ke arah pintu keluar rumahnya, lalu kembali menatap Farid. “Udah reda, Mas." Katanya pelan.

Farid ikut menoleh, lalu mengangguk. Tapi entah mengapa kali ini hatinya masih berat untuk berdiri. Percakapan singkatnya di ruang kecil itu, membuatnya merasa lebih hangat.

“Ah, sial!” Teriak Bayu sambil menendang pintu kamar hingga terbuka lebar dan menghentak ke dinding dengan keras.

Ia berdiri di ambang pintu dalam keadaan basah kuyup, air menetes dari rambut dan ujung bajunya karena hujan yang ia terobos. Nafasnya terengah, dadanya naik turun, wajahnya merah oleh kemarahan.

Dini yang baru saja tertidur dengan anak mereka sontak tersentak bangun. Ia menoleh kaget ke arah suaminya, lalu melirik anak mereka yang hanya menggeliat gelisah, sebelum kembali tidur seperti tak terjadi apa-apa.

“Mas! Kamu kenapa sih?! Gila ya?! Nggak lihat anak kita lagi tidur?!” Bentaknya kesal sambil bangkit berdiri.

Namun Bayu tak menjawab. Matanya menatap tajam ke arah istrinya. Rahangnya mengeras, dan suara berikutnya terdengar nyaris seperti menggertak.

“Mbakmu itu… wanita jahat! Mentang-mentang punya duit, bisa seenaknya ngancam mau laporin aku ke polisi!”

Dini mengerutkan kening. “Apa? Mas ngomong apa sih?”

Bayu maju satu langkah, tubuhnya masih meneteskan air ke lantai. Suaranya pecah antara marah dan panik.

“Aku… ketahuan. Semuanya kebongkar. Mbak Maira ngancam, katanya dalam dua hari kalau uang yang aku ambil dari proyek itu nggak balik, aku mau dipenjara Din!”

“Apa?!” Dini memekik, wajahnya langsung berubah tegang. Ia melangkah cepat mendekat. “Mas serius?! Dia ngancam kayak gitu?!”

Bayu mengangguk dengan rahang mengatup. “Tadi wanita iru marah besar. Nggak ada negosiasi. Katanya, dia udah tahu semuanya. Aku disuruh balikin uangnya full, atau dia yang akan proses hukum. Terus juga aku diberhentikan."

Dini mengepal tangannya. “Nggak! Ini nggak bisa dibiarin!” Serunya marah. Emangnya dia pikir dia siapa ngancam terus mecat kamu!"

“Besok..." Ujar Dini penuh tekanan, “kita ke rumah Mbak Maira. Aku nggak terima kamu dipecat, terus disuruh balikin uang itu. Uang dia itu udah banyak, masak cuma gara-gara hal ini sampai lapor ke polisi segala!"

Mendengar ucapan istrinya, Bayu mengangguk perlahan. Sejujurnya ia masih tak terima jika semuanya akan terbongkar secepat ini, dan juga ucapan Maira yang tak bisa lagi ia bantah tadi seolah tengah mempermalukannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!