NovelToon NovelToon
Bangkit Setelah Dihancurkan

Bangkit Setelah Dihancurkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Trauma masa lalu / CEO / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: Kumi Kimut

Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.

Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Jordan Menemani Nana

Ucap Nana lirih, nyaris tak terdengar—tapi cukup jelas untuk menghantam.

Dimas menggeleng keras. “Nana, jangan ngomong waktu kamu lagi kayak gini.”

“Aku justru lagi jujur,” jawab Nana sambil menangis. “Aku sayang kamu. Dan justru karena itu… aku lepaskan.”

Ia menunduk, tubuhnya gemetar.

“Aku butuh waktu buat sembuh,” lanjutnya. “Dan aku nggak mau kamu nungguin aku di titik terendahku. Itu nggak adil.”

Dimas terdiam lama. Matanya berkaca-kaca, rahangnya mengeras menahan emosi.

Jordan mengamati dari kejauhan, napasnya tertahan. Ia tahu—ini bukan percakapan yang bisa ia hentikan. Ini bagian dari proses Nana, betapapun menyakitkannya.

Dimas akhirnya berbicara, suaranya serak.

“Kalau aku pergi sekarang… apa itu benar-benar yang kamu mau?”

Nana mengangguk pelan sambil menangis. “Iya.”

Hening.

Dimas menatapnya lama, seolah ingin menghafal setiap detail wajah Nana. Lalu ia mengangguk kecil, berat.

“Kalau itu caramu bertahan…” katanya lirih, “…aku hormati.”

Ia mundur satu langkah. Lalu dua.

“Nana,” panggilnya sekali lagi.

Nana tidak mengangkat wajah.

“Jaga diri,” ucap Dimas.

Langkahnya menjauh. Kali ini benar-benar pergi.

Begitu sosok itu hilang dari pandangan, lutut Nana melemas. Ia duduk kembali di bangku, menangis tanpa suara, tubuhnya terguncang.

Jordan akhirnya melangkah mendekat—perlahan, hati-hati.

Ia tidak menyentuh.

Ia hanya berkata pelan, cukup untuk didengar Nana,

“Kamu sangat berani.”

Tangis Nana tidak bersuara.

Tak ada isak yang pecah, tak ada raungan. Hanya bahu yang naik-turun tak beraturan, dada yang sesak, dan air mata yang terus mengalir tanpa ia sadari. Wajahnya menunduk, rambutnya jatuh menutupi pipi yang basah. Dari luar, ia tampak diam—namun di dalam, sesuatu runtuh pelan-pelan, lapis demi lapis.

Rasa sakit itu terlalu dalam untuk diteriakkan.

Jordan berdiri di samping bangku, tidak terlalu dekat, tidak pula menjauh. Ia menurunkan tubuhnya perlahan hingga sejajar, duduk di bangku sebelah, memberi keberadaan—bukan tekanan.

Ia tidak berkata apa-apa.

Tidak menasihati.

Tidak menghibur dengan kalimat kosong.

Tidak meminta Nana berhenti menangis.

Ia hanya ada.

Matanya mengamati setiap detail kecil: jari Nana yang gemetar, napas yang kadang tertahan terlalu lama, bahu yang sesekali bergetar lebih keras lalu kembali diam. Jordan tahu—momen seperti ini berbahaya. Bukan karena Nana berteriak meminta tolong, tapi justru karena ia terlalu sunyi.

Terlalu menyerah.

Jordan menggeser posisinya sedikit lebih dekat. Masih tanpa menyentuh.

“Nana,” katanya pelan.

Tidak ada jawaban.

Satu menit terasa seperti sepuluh. Lima belas menit berlalu, lalu tiga puluh. Tangis Nana tak berhenti—hanya berubah bentuk. Dari gemetar hebat menjadi aliran air mata yang tak putus, dari napas tersengal menjadi tarikan panjang yang lelah.

Jordan tetap di sana.

Sesekali ia berbicara singkat, sekadar jangkar.

“Tarik napas pelan.”

“Kamu aman.”

Nada suaranya stabil. Tenang. Tidak panik.

Hampir satu jam berlalu.

Tangis itu akhirnya melemah. Bahu Nana tidak lagi bergetar. Air mata masih jatuh, tapi jaraknya semakin jarang. Napasnya memanjang—terlalu panjang—lalu tertahan.

Kepalanya ter-angguk pelan.

Jordan langsung siaga.

“Nana,” panggilnya lembut.

Jordan mengangkat satu tangannya—ragu sepersekian detik—lalu dengan sangat hati-hati mengusap air mata yang masih tertinggal di pipi Nana. Gerakannya pelan, nyaris tak terasa, seolah ia takut sentuhan sekecil apa pun bisa melukai lebih dalam.

Kulit itu dingin. Basah oleh sisa tangis yang panjang.

Di momen itu, sesuatu di dada Jordan bergetar pelan.

Bukan karena Nana saja.

Tapi karena ingatan lama yang tiba-tiba bangkit tanpa diminta.

Ia teringat dirinya yang dulu.

Anak kecil yang berdiri di ambang pintu, menggenggam tas sekolah dengan tangan gemetar, menatap punggung Mamanya yang pergi tanpa menoleh. Suara pintu mobil yang menutup—itu masih ia ingat jelas. Terlalu jelas untuk sesuatu yang seharusnya dilupakan.

Mamanya memilih pria lain. Lebih muda. Lebih kaya. Lebih menjanjikan hidup yang tidak bisa diberikan oleh Papa.

Dan Jordan ditinggalkan.

Ia hidup bersama Papa yang tersisa—bukan sepenuhnya hidup, juga tidak benar-benar mati. Seorang lelaki yang setiap hari bangun dengan mata kosong, bekerja sekadarnya, pulang membawa lelah yang tak pernah benar-benar reda. Rumah mereka sunyi, bukan karena damai, tapi karena putus asa yang sudah terlalu lama tinggal.

Jordan kecil belajar satu hal sejak dini:

rasa sakit tidak selalu berisik.

Kadang ia diam.

Kadang ia duduk manis di sudut.

Kadang ia tersenyum supaya tidak ditanya.

Dan sekarang, di hadapannya, ia melihat itu semua di wajah Nana.

Bukan drama. Bukan kelemahan.

Melainkan luka yang terlalu lama dipendam sampai akhirnya tubuh menyerah.

Jordan menarik napas perlahan, menahannya sebentar, lalu menghembuskannya pelan. Tangannya masih di sana—bukan untuk menahan, tapi untuk memastikan Nana tahu: ia tidak jatuh sendirian.

“Aku paham apa yang kamu rasakan, Na."

***

Bersambung..

1
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!