Mei Zhiyi dipindahkan ke sebuah dunia kuno oleh sistem setelah mengalami insiden penembakan di markas militer.
Dia diubah menjadi seorang pelayan istana yang akan segera mati karena telah menyinggung seseorang di istana yang dalam.
Untuk mencegah kemusnahan karakter asli, Mei Zhiyi diminta melakukan serangkaian misi penyelamatan diri.
Namun ketika dia bertemu dengan Liu Yan, Kaisar penguasa dinasti yang sangat ditakuti dan sukar diajak kompromi, sistem tiba-tiba berkata: Taklukan dia, cegah dia jadi iblis tiran atau kau akan mati!
***
"Mentang-mentang seorang Kaisar, suka sekali menyuruh-nyuruh bawahan," Mei Zhiyi menggerutu dalam hati.
Kaisar tiba-tiba bertitah, "Pelayan Mei menghina atasan. Hukum cambuk lima kali!"
"Dasar Kaisar jahat. Aku mengutukmu impoten sampai mati!" Mei Zhiyi berseru dalam hatinya.
Tiba-tiba Kaisar menariknya ke tempat tidur dan berkata, "Beraninya kau mengutukku! Akan kubuktikan padamu apakah aku impoten atau tidak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 5: DARAH SERING MEMBANJIR DI AULA
Dalam keheningan malam yang menghanyutkan, Liu Yan tidak pernah bisa memejamkan mata dengan tenang. Instingnya yang tajam selalu bisa menangkap berbagai pergerakan aneh di sekitarnya.
Tangannya dengan erat memegang dokumen laporan yang diantarkan Kementerian Ritus hari ini, matanya terlihat fokus membaca dan memahami. Namun, dia tidak sepenuhnya larut dalam pekerjaan itu.
Tiba-tiba sebuah panah melesat menembus tembok istana, menyasar tepat ke mata Liu Yan. Dengan gerakan ringan yang tidak terlihat, Liu Yan secepat kilat memblokir panah tersebut, menangkapnya dengan tangan kosong. Kulit telapak tangannya robek, darah menetes membasahi dokumen.
“Duan Jiu!”
Seorang pengawal bayangan kemudian muncul tepat saat dua orang pembunuh masuk. Satu lawan dua, Liu Yan menonton dengan tenang di mejanya.
Ia mengepalkan tangan, menahan tetesan darah yang terus merembes dari telapak tangannya. Datang lagi, pikirnya. Jika ia tidak salah menghitung, ini sudah yang keempat kalinya bulan ini.
“Benar-benar tidak ada kemajuan sama sekali.”
Duan Jiu dengan tangkas melawan dua pembunuh tersebut dengan pedang kembarnya. Perkelahian tidak terelakkan. Mungkin malam ini, aula akan digenangi lagi darah.
Bagaimanapun, darah memang sering membanjir di aula. Bukan darah Kaisar, tapi darah para pembunuh dengan berbagai cara menyusupnya.
Satu pembunuh terlempar keluar, jatuh tepat di depan kaki Mei Zhiyi. Satu lagi sudah mati oleh pedang Duan Jiu.
Duan Jiu mengejar. Pembunuh itu lalu mengarahkan pedangnya ke leher Mei Zhiyi dan menyanderanya.
“Ada apa?” tanya Liu Yan dari dalam.
“Yang Mulia, pembunuh itu menyandera seorang pelayan.”
“Bereskan saja sekalian.”
Mei Zhiyi merasa kepalanya disiram air dingin. Dia menyesal sudah ikut campur.
Aku menyesal sudah ikut campur. Seharusnya aku tidur saja tadi.
Liu Yan tiba-tiba keluar. Jubah tidur berwana hitamnya yang longgar tertiup angin.
Rambutnya yang terurai juga ikut tertiup angin. Matanya menatap dingin si pembunuh yang dengan keras kepala menyandera Mei Zhiyi.
“Liu Yan! Kau Kaisar anjing! Bukankah kau sangat menyayangi rakyatmu? Jika aku membunuh pelayan ini, apakah itu termasuk membunuh rakyatmu? Biarkan aku pergi, maka aku akan membiarkan pelayan ini hidup!”
Alis Liu Yan terangkat sebelah. Mei Zhiyi rupanya. Pantas saja suara aneh itu muncul lagi.
Mei Zhiyi melihat tidak ada peluang memohon hidup pada Liu Yan. Bagi seorang Kaisar, nyawa seorang pelayan tidak penting.
Apalagi Liu Yan adalah tipe Kaisar yang tidak memedulikan hidup dan mati. Nyawa Mei Zhiyi pasti tidak berharga di matanya, tidak mungkin ditukarkan dengan melepaskan pembunuh ini.
Liu Yan memainkan sebuah belati, lalu tanpa ragu melempar belati tersebut. Terdengar bunyi ‘prang’ dari logam belati yang beradu dengan pedang si pembunuh.
Karena dilemparkan dengan tenaga dalam, lemparan menimbulkan dorongan. Pedang bergetar hingga tangan si pembunuh juga ikut bergetar.
Pada saat itulah Mei Zhiyi memanfaatkan kesempatan. Ia menyiku perut si pembunuh sampai mundur, lalu memukul lehernya sampai si pembunuh tumbang.
Tidak mematikan, hanya membuatnya pingsan saja. Pastinya Liu Yan ingin ada yang hidup untuk diinterogasi.
“Orang terakhir yang melukaiku sudah aku ledakkan. Pembunuh kecil sepertimu berlagak sekali,” gumam Mei Zhiyi.
“Duan Jiu, bereskan dia!” seru Liu Yan.
“Kau, kemarilah!” tunjuknya pada Mei Zhiyi.
Duan Jiu memandangi Mei Zhiyi dan Liu Yan, lalu memandangi si pembunuh yang sudah pingsan. Dia tidak salah lihat?
Kaisar baru saja menyelamatkan nyawa seorang pelayan? Yang paling tidak disangka, pelayan itu mengerti instruksi rahasia Kaisar dan bisa melumpuhkan pembunuh? Bisakah dia menyebut ini dengan kerjasama melalui pemahaman rahasia?
Di aula, Mei Zhiyi melihat mayat pembunuh terkapar di lantai dalam kondisi mengenaskan. Darah menggenang, bau anyir bercampur dengan aroma dupa cendana.
Harum, tapi juga bisa membuat perut orang mual. Ada darah menetes di meja kerja, beserta panah yang ujungnya ternoda darah.
Harganya terlalu mahal. Demi memancing pembunuh, dia melonggarkan penjagaan istana, bahkan memblokir panah dengan tangan terbuka. Jelas-jelas punya pengawal bayangan, tapi lebih suka menggunakan tubuh sendiri untuk beraksi.
Liu Yan menatapnya sebentar lalu sebelah sudut bibirnya sedikit terangkat. Sudah masuk sarang harimau pun masih berpikir tentang yang lain.
Jarang sekali dia menemui orang yang begitu tenang saat menghadapi bahaya. Jarang sekali dia menjumpai wanita yang isi pikirannya begitu bermacam-macam.
“Kenapa? Penasaran kenapa aku menyelamatkanmu?”
Mei Zhiyi menunduk. Entah kenapa saat mendengar Liu Yan bicara, hatinya bergetar dan ada semacam perasaan hormat yang tidak biasa, yang membuatnya merasa harus menundukkan kepala.
Rasanya seperti dia sedang berbicara dengan seorang atasan terhormat. Oh, dia lupa, sekarang Liu Yan adalah atasannya.
“Yang Mulia ingin menghilangkan atau menyelamatkan nyawa, pelayan ini tidak akan berkomentar.”
“Mentalmu kuat sekali.”
Mental kuat kepalamu! Jika tidak tenang, pedang itu sudah lama memutus arteri karotisku dan aku pasti mati!
Li Dezai yang baru kembali dari toilet langsung berlari masuk. Matanya sempat melirik mayat pembunuh yang masih terkapar di aula.
Dia pergi sebentar saja, sudah ada pembunuh yang masuk lagi. Benar-benar mengganggu.
“Yang Mulia, biarkan kasim ini mengobati luka di tanganmu.”
Liu Yan mengangguk kecil. Darah masih merembes dari telapak tangannya. Robekannya cukup dalam.
“Kasim Li, biar aku saja,” ucap Mei Zhiyi.
Walau ragu, Li Dezai masih menyerahkan pengobatan Kaisar pada Mei Zhiyi. Dia percaya Mei Zhiyi tidak akan menyakiti Kaisar.
Entah dari mana kepercayaan itu datang. Yang jelas, instingnya tidak pernah salah dalam menilai orang. Karena Kaisar menunjuknya, maka pasti dia punya kelebihan yang dihargai oleh Kaisar.
“Robekannya terlalu dalam. Mungkin harus dijahit.”
“Aiya, kalau begitu aku akan memanggil tabib!”
Mata Liu Yan menatap tajam Li Dezai. “Pergi saja jika ingin membuat seluruh istana tahu. Besok pagi sekalian tempelkan pengumuman di gerbang kota, pembunuh sudah memasuki istana kekaisaran.”
“Tidak perlu memanggil tabib. Biar aku saja yang menjahitnya. Izinkan aku mengambil peralatan.”
Mei Zhiyi keluar sebentar. Dia mengunjungi toko kesehatan sistem dan membeli satu kotak perlengkapan pertolongan pertama.
Demi kotak tersebut, Mei Zhiyi harus menukarkan 20 poin miliknya. Seluruh poinnya sudah habis sekarang dan dia miskin lagi.
“Nona Mei, ini kotak obatmu? Kenapa bentuknya sangat aneh dan warnanya berbeda dengan milik tabib istana?” tanya Li Dezai.
“Aku bawa dari kampung halaman. Tentu saja berbeda dengan milik kalian.”
Mei Zhiyi mulai mengobati luka Liu Yan. Dia membersihkannya dengan cairan desinfektan, lalu menjahitnya dengan tenang.
Dia lupa memberikan bius lokal. Namun selama proses penjahitan, sama sekali tidak ada suara ringisan yang terdengar. Liu Yan tampaknya sangat tahan akan rasa sakit.
“Hasil jahitannya rapi sekali. Nona Mei, kau ternyata juga mengetahui pengobatan?”
“Hanya sedikit pengetahuan.”
Jika bahkan tidak tahu cara mengobati diri sendiri, aku pasti sudah lama mati. Demi kotak ini, aku menguras habis semua uangku.
Menjadi pasukan khusus bukan hanya harus mahir bela diri dan daya tahan bagus. Mei Zhiyi juga dituntut untuk menguasai berbagai keterampilan agar bisa bertahan hidup ketika menjalankan misi. Menjahit luka dan memberi pertolongan pertama menjadi keterampilan dasar yang harus dikuasai.
Mei Zhiyi merasa hatinya sakit. Namun, tidak ada yang lebih penting dari menyelamatkan nyawa. Kotak pengobatan juga sangat berguna, tidak seperti rolling pin yang ia beli tadi. Dia ingin memaki sistem yang sangat pelit dalam memberi hadiah misi.
Selesai menjahit, Mei Zhiyi menutupnya dengan kasa. Terakhir, ia menempelkan plester untuk merekatkan kasa agar tidak terlepas.
Liu Yan memutar tangannya, memperhatikan hasil pengobatan lukanya yang diselesaikan Mei Zhiyi. Pelayan ini bahkan tidak menjerit melihat darah dan tidak pingsan, juga tidak bergetar tangannya saat menusukkan jarum ke kulit telapak tangan.
“Yang Mulia, lukanya sudah dibalut. Pelayan ini pamit undur diri.”
Liu Yan hanya mengangguk pelan. Setelah membereskan peralatan, Mei Zhiyi keluar dari Istana Zhaoyang. Dia sempat melirik mayat pembunuh yang masih ada di aula, lalu menggelengkan kepala sambil menghela napas.
Duan Jiu masuk lagi bersama beberapa pengawal untuk membereskan mayat pembunuh dan membersihkan lantai aula. Dia melihat sang Kaisar sedang membolak-balik tangannya dan mengernyit heran.
“Kaisar, satu di antara pembunuh itu memiliki tato sayap elang di pergelangan tangannya.”
Liu Yan mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya. Di antara puluhan pembunuh, ternyata ada yang berasal dari jauh. Dia terkekeh, merasa bahwa orang-orang itu sangat tidak sabaran.
“Kirim mayat pembunuh tanpa tato itu ke kediaman Raja Yun. Sisanya biarkan dipenjara.”
“Baik, Kaisar,” ucap Duan Jiu patuh.
“Tutup rapat mulut kalian soal kejadian malam ini.”
“Baik, Kaisar.”
Liu Yan mengangkat kedua sudut bibirnya. Akhirnya ada yang menarik juga di sini. Pasti akan sangat menyenangkan bermain-main dengannya.
Duan Jiu dan Li Dezai malah bergidik. Senyuman Kaisar benar-benar terlihat berbahaya!
Takut knp knp sama Liu yan
😁😁😁😁
nebak" aja dulu
Emang enak di ghibahin sama Mei