NovelToon NovelToon
SILENCE OF JUSTICE

SILENCE OF JUSTICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Karir / Duniahiburan / Bullying di Tempat Kerja / Cinta Murni / Balas Dendam
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Black _Pen2024

"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "

Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.

Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Mengendus Jejak Dingin

Fei berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap pantulan dirinya. Wajahnya masih pucat, matanya merah dan bengkak, sisa-sisa trauma dari rekaman neraka yang baru saja ia saksikan. Namun, di balik kelelahan itu, ada kilatan baru—kilatan baja yang dingin dan tak tergoyahkan. Ia telah membersihkan dirinya dari muntahan, membersihkan tubuhnya dari kengerian yang menempel, tetapi jiwanya kini terukir dengan tekad yang mengerikan. Duka yang mencengkeram telah bermetamorfosis menjadi amarah yang membakar, dan amarah itu, pada gilirannya, telah diubah menjadi sebuah tujuan tunggal: keadilan.

"Mereka akan membayar," bisiknya pada pantulan dirinya, suaranya serak namun penuh kepastian. "Setiap tetes darah, setiap tetes air mata."

Dia kembali ke ruang tengah, tempat laptopnya tergeletak seperti saksi bisu. Di dinding, foto Yu masih tersenyum, namun kini senyum itu tampak seperti sebuah panggilan, sebuah tantangan. Fei duduk, bukan lagi dengan ketakutan, melainkan dengan fokus seorang pemburu yang sedang mengamati mangsanya.

Tugas pertamanya adalah menganalisis video itu lagi. Bukan untuk merasakan horornya, tetapi untuk mengurai setiap detail, setiap petunjuk, sekecil apa pun. Dia memutar ulang video itu, kali ini dengan volume yang sangat rendah, matanya menyipit, mencari anomali.

Pertama, para pelaku. Topeng putih polos mereka, seragam dan tanpa ekspresi, berbicara tentang organisasi. Jubah hitam yang menutupi seluruh tubuh mereka, tidak meninggalkan jejak identifikasi. Ini bukan pembunuh bayaran acak. Ini adalah kelompok yang terstruktur, yang memiliki protokol, dan yang tahu bagaimana menyembunyikan jejak. Fei mengamati postur tubuh mereka, cara mereka bergerak. Profesional. Terlatih.

Kemudian, suara latar. Dia mengaktifkan perangkat lunak analisis suara yang Yu pernah tunjukkan padanya—sebuah program sederhana namun efektif untuk menyaring kebisingan dan memperjelas suara. Dia memutar bagian di mana bisikan-bisikan dan tawa rendah terdengar. Bahasa itu masih asing, namun ada beberapa kata yang terdengar berulang. Dia mencatatnya. Bisa jadi itu adalah kode, atau nama-nama tertentu yang akan menjadi petunjuk di kemudian hari. Di luar bisikan itu, ada suara samar lain: sirene yang jauh, sangat jauh, mungkin dari jalan raya atau pelabuhan. Dan suara tetesan air yang konsisten, seolah-olah ada kebocoran di suatu tempat.

"Sirene... tetesan air..." Fei bergumam, menuliskan catatan di buku kecil yang ia temukan di laci Yu. "Tempat yang lembap? Dekat air? Atau daerah industri?"

Dia mem-pause video, membekukan gambar di mana simbol burung gagak dengan sayap terentang dan mata tunggal terukir di dinding beton. Simbol itu. Dia yakin Yu pernah menyebutkannya sekali, dalam bisikan paranoid, menghubungkannya dengan "orang-orang tua yang haus kekuasaan dan ritual aneh." Yu tidak pernah menjelaskan lebih lanjut, selalu mengabaikannya sebagai "omong kosong industri." Tapi sekarang, itu adalah petunjuk yang mengerikan. Dia segera mencari di internet, menggunakan kata kunci seperti "simbol gagak mata satu," "sekte ritual," "organ vital." Hasilnya mengerikan, mengarah pada kelompok-kelompok bawah tanah yang terkait dengan praktik okultisme dan jaringan perdagangan organ gelap, seringkali melibatkan elit kaya yang percaya pada keabadian melalui ritual pengorbanan.

"Jadi, ini bukan hanya dendam pribadi," Fei menyimpulkan dengan dingin. "Ini jauh lebih besar."

Dia beralih ke benda-benda aneh di ruangan itu: meja baja dengan peralatan bedah. Kilatan baja itu bukan kilatan pisau dapur. Itu adalah instrumen bedah profesional. Ini berarti para pelaku memiliki akses ke fasilitas medis, atau bahkan ahli medis yang terlibat. "Klinik gelap," ia menulis. "Dokter yang korup."

Fei menghabiskan berjam-jam, menyaring setiap frame, setiap desibel. Dia menemukan beberapa partikel debu yang terlihat samar di udara, yang dengan bantuan fungsi pembesar digital, tampak seperti partikel logam atau semen. Lingkungan industri, sekali lagi.

Setelah analisis awal yang mendalam, Fei menyadari bahwa dia membutuhkan informasi dari dunia luar. Dia tidak bisa terus mengurung diri. Dia harus mulai mengumpulkan potongan-potongan teka-teki dari orang-orang yang mengenal Yu.

Dia mengambil ponsel burner yang sudah lama Yu siapkan untuk komunikasi rahasia mereka. Nomornya tidak terdaftar atas namanya, dan dia punya beberapa kartu SIM prabayar yang belum terpakai. Dengan suara yang ia samarkan agar terdengar lebih dalam dan serak, ia mulai menghubungi beberapa kenalan lama Yu. Dia tidak bisa menyebutkan namanya, apalagi identitas aslinya. Dia harus menjadi anonim.

Target pertamanya adalah seorang aktor senior yang pernah dekat dengan Yu, seorang pria yang dikenal sebagai gosip berjalan di industri. Fei mengirimkan pesan singkat, mengaku sebagai "seorang penggemar yang sangat prihatin" yang ingin tahu lebih banyak tentang Yu sebelum kematiannya.

"Halo. Saya sangat sedih mendengar berita tentang Yu. Saya adalah salah satu penggemar beratnya. Saya mendengar desas-desus bahwa ia tampak berbeda sebelum... kepergiannya. Apakah Anda tahu sesuatu?"

Balasan datang beberapa jam kemudian, singkat dan hati-hati: "Maaf, saya tidak tahu apa-apa. Yu adalah pria yang hebat, tapi dia punya masalah pribadi. Itu saja." Ada nada ketakutan dalam balasan itu, sebuah keengganan untuk membahas lebih lanjut.

Fei mencatat. "Masalah pribadi." Narasi resmi. Semua orang tutup mulut.

Target berikutnya adalah seorang kru produksi yang pernah bekerja lama dengan Yu, seorang wanita yang dikenal karena kejujuran dan ketidakpuasannya terhadap industri. Kali ini, Fei mencoba pendekatan yang lebih halus. Dia bertanya tentang "suasana di lokasi syuting terakhir Yu," tentang "apakah ada tekanan yang tidak biasa."

Wanita itu membalas dengan lebih banyak detail, tetapi tetap dalam batas aman. "Yu memang tampak tegang. Dia sering menyendiri. Ada beberapa kali dia terlihat berdebat dengan manajernya, Chen. Tapi itu biasa, kan? Tekanan kerja."

"Apakah dia pernah menyebutkan sesuatu yang aneh? Ancaman? Atau orang-orang yang tidak dia sukai?" Fei mengetik, mencoba menjaga nada netral.

"Tidak secara langsung. Hanya saja... dia sering melihat ke belakang. Seperti dia merasa diawasi. Tapi itu mungkin hanya paranoia aktor, kan?"

Paranoia aktor. Fei mendengus. Itu bukan paranoia. Itu adalah kenyataan. Yu tahu dia dalam bahaya.

Fei mencoba menghubungi beberapa orang lagi. Seorang penata rias, seorang asisten sutradara, bahkan seorang jurnalis hiburan yang pernah menulis profil mendalam tentang Yu. Setiap kali, dia mendapatkan respons yang serupa: duka yang dangkal, penerimaan narasi resmi, dan keengganan yang jelas untuk membahas lebih dalam. Beberapa bahkan terdengar terintimidasi, seolah-olah ada kekuatan tak terlihat yang mengawasi percakapan mereka.

"Semua orang tutup mulut," Fei menyimpulkan, matanya menatap kosong ke layar ponsel. "Atau mereka memang tidak tahu, atau mereka terlalu takut untuk berbicara."

Konflik internal Fei semakin menguat. Ia berperang melawan duka yang terus-menerus mengancam untuk menelannya, tetapi kini, ia memiliki perisai: kecerdasan strategis. Emosi harus disingkirkan. Logika harus mengambil alih. Jika orang-orang ini tidak mau berbicara, maka ia harus mencari bukti yang tidak bisa dibantah.

Dia menyadari bahwa penyelidikan ini tidak akan bisa dilakukan dengan cara-cara konvensional. Polisi telah menutup kasus ini. Media telah menelan kebohongan. Dia sendirian, melawan sebuah sistem yang tampaknya tak tertembus.

"Aku harus menjadi lebih pintar," pikirnya. "Lebih dingin."

Dia mulai membuat daftar. Nama-nama yang disebut Yu secara samar, simbol yang ia lihat, lokasi-lokasi yang mungkin, orang-orang yang ia hubungi. Dia menyusun sebuah peta pikiran di dinding apartemen rahasianya, menghubungkan titik-titik yang masih buram.

Ketika malam semakin larut, Fei merasa lelah namun pikirannya masih berputar. Dia telah mengumpulkan potongan-potongan kecil, tetapi belum ada yang konkret.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi berita dari aplikasi koran digital yang ia langgan. Judulnya menarik perhatiannya:

"Kremasi Cepat Aktor Yu: Alasan Kesehatan Masyarakat Ditegakkan Demi Ketenteraman."

Fei merasakan darahnya mendidih. Kremasi cepat? Jasad Yu 'tidak ditemukan' hanya beberapa hari setelah 'overdosis', dan kemudian mereka mengumumkan kremasi? Ini adalah upaya untuk menghilangkan bukti, untuk menutupi jejak.

Dia membaca artikel itu dengan saksama. "Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa jasad Yu telah dikremasi di Rumah Sakit Saint Glory, mengikuti protokol ketat untuk mencegah penyebaran desas-desus yang tidak beralasan dan menjaga ketenteraman publik."

Rumah Sakit Saint Glory.

Fei mencatat nama itu di buku kecilnya, di bawah simbol gagak dan daftar nama-nama samar. Sebuah lokasi baru. Sebuah titik masuk baru.

Dia tahu persis apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Dia tidak akan mencari keadilan di pengadilan, tidak untuk saat ini. Dia akan mencari kebenaran, satu per satu, di tempat-tempat gelap yang mereka coba sembunyikan. Dan Saint Glory, rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat penyembuhan, kini menjadi target pertamanya. Tempat di mana kebohongan publik dimulai.

1
Ita Xiaomi
Menegangkan. Kasihan Yu😢
Ita Xiaomi: Berharap keadilan bs ditegakkan.
total 2 replies
Ita Xiaomi
Saat ini hanya Fei sendirian yg menolak utk percaya pd berita yg tersebar.
Ita Xiaomi: Sama-sama kk. Semangat berkarya. Berkah&Sukses selalu.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!