Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 Hari Yang Dinanti
“Semua hari terasa istimewa, namun ada satu hari yang sangat istimewa.”
—Aldivano Athariz—
Pagi itu, ruang kerja Daddy Caesar terasa lebih sunyi dari biasanya. Tirai jendela dibiarkan terbuka setengah, membiarkan cahaya matahari masuk dengan ragu, seolah ikut menjaga rahasia besar yang akan dibicarakan di dalam ruangan itu. Di balik meja kayu berwarna gelap, Daddy Caesar duduk dengan punggung tegak. Wajahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan keseriusan.
Calvin duduk di hadapannya. Sebagai anak sulung, ia sudah terbiasa menghadapi percakapan penting bersama ayahnya. Namun kali ini berbeda. Ada sesuatu di udara—sesuatu yang membuat dadanya terasa lebih berat dari biasanya.
Daddy Caesar menghela napas pelan sebelum akhirnya membuka suara.
“Calvin,” ucapnya dengan nada rendah namun tegas, “Daddy ingin bicara sebagai seorang ayah… dan sebagai wali.”
Calvin mengangguk pelan. “Tentang Celine?” tanyanya, meski ia sudah bisa menebaknya.
Daddy Caesar mengangguk. “Tentang Aldivano.”
Nama itu membuat Calvin terdiam sejenak. Aldivano bukan sosok asing baginya. Lelaki itu sudah lama berada di sekitar keluarganya. Sikapnya santun, tutur katanya terjaga, dan caranya memperlakukan Celine selalu dalam batas yang wajar.
Terlalu wajar, bahkan, sampai tak seorang pun—termasuk Celine—pernah menyangka apa yang tersimpan di hatinya.
“Aldivano datang pada Daddy,” lanjut Daddy Caesar. “Ia meminta satu hal. Ia ingin menikahi Celine.”
Ruangan itu kembali sunyi. Calvin menyandarkan punggungnya ke kursi, menautkan jemari, matanya menatap lantai sesaat. Sebagai abang, hatinya langsung dipenuhi berbagai perasaan yang saling bertabrakan—terkejut, khawatir, sekaligus… lega.
“Bagaimana sikap Aldivano?” tanya Calvin akhirnya.
“Tenang. Yakin. Dan bertanggung jawab,” jawab Daddy Caesar tanpa ragu. “Ia tidak datang dengan emosi. Ia datang dengan niat.”
Calvin tersenyum tipis. “Itu memang Aldivano.”
Dirinya pun dibuat kagum oleh sahabatnya itu, dari caranya memperlakukan Celine tanpa harus mendekat, hingga tahu batas antara lawan jenis.
Daddy Caesar menatap putranya. “Sebagai abang Celine, Daddy ingin mendengar pendapatmu.”
Calvin menghela napas panjang. Ia tahu, apa pun yang ia ucapkan hari itu akan membawa dampak besar. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah adiknya—Celine yang ceria, keras kepala, dan saat ini sedang berjuang mati-matian menyelesaikan skripsinya.
“Kalau Daddy bertanya sebagai ayah,” ucap Calvin perlahan, “jawabanku mungkin akan penuh pertimbangan.”
Daddy Caesar tersenyum kecil. “Dan sebagai abang?”
“Sebagai abang,” Calvin menatap Daddynya dengan mantap, “aku ingin Celine bersama lelaki yang menjaganya. Dan Aldivano… dia tipikal lelaki seperti itu.”
Daddy Caesar mengangguk pelan.
“Tapi?” tanya daddynya, yang melihat keraguan di mata Calvin.
“Tapi Celine belum siap untuk tahu semua ini,” lanjut Calvin jujur. “Dunia Celine sekarang hanya satu: skripsi dan lulus tepat waktu. Kalau hal ini sampai ke telinganya sekarang, aku takut fokusnya pecah.”
Daddy Caesar terdiam. Ia sudah memikirkan hal itu sejak awal.
Calvin melanjutkan, “Kalau aku dan Daddy sepakat, aku hanya minta satu hal. Libatkan Mommy Chailey. Ini keputusan besar.”
Daddy Caesar tersenyum, kali ini lebih hangat. “Itu juga yang Daddy pikirkan.”
***
Mommy Chailey mendengarkan dengan mata yang tak berkedip. Tangannya menggenggam cangkir teh yang sudah dingin, namun pikirannya jauh lebih hangat—dipenuhi rasa haru yang sulit dijelaskan.
“Aldivano?” ulangnya pelan. “Lelaki itu memang selalu menjaga jarak dengan Celine.”
“Itulah yang membuat Daddy yakin,” jawab Daddy Caesar.
Mommy Chailey tersenyum tipis. “Tapi Celine…”
“Kita harus jujur,” potong Calvin lembut. “Tapi pada waktunya.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Hingga akhirnya Mommy Chailey menghela napas panjang.
“Baik,” katanya mantap. “Kalau ini demi kebaikan Celine, Mommy setuju. Tapi ada syarat.”
Daddy Caesar menoleh. “Apa itu?”
“Pernikahan ini disimpan dulu,” ucap Mommy Chailey. “Celine tidak boleh tahu sampai ia benar-benar siap.”
Calvin mengangguk. “Itu keputusan paling bijak.”
Langit malam yang cerah, dihiasi gemerlap jutaan bintang, menciptakan pemandangan yang syahdu. Ribuan cahaya menari-nari dalam selubung malam yang pekat.
“Ya, Allah. Semoga ini menjadi langkah awal untuk menuju hal baik, Ridhoilah hamba,” pinta Aldivano pada sang Pencipta, lewat sepertiga malamnya.
Keesokan harinya...
Hari akad berlangsung sederhana. Tidak ada pesta besar. Tidak ada sorotan kamera. Hanya keluarga terdekat dan saksi yang dipercaya.
Aldivano duduk dengan tenang, mengenakan setelan rapi berwarna terang. Wajahnya terlihat tenang, tapi siapa pun yang mengenalnya tahu—di balik ketenangan itu ada gelombang perasaan yang sedang ia kendalikan.
Ketika ijab kabul diucapkan, suaranya lantang dan jelas.
“Saya terima nikahnya Celine Chadia Cendana…”
Kalimat itu meluncur sempurna. Tidak ada keraguan. Tidak ada jeda.
“Sah.”
Satu kata itu membuat dada Aldivano terasa lapang sekaligus sesak.
Semua tersenyum. Beberapa mengusap mata. Rasa lega mengalir seperti udara segar setelah hujan panjang. Namun ketika Aldivano menoleh ke sampingnya—kursi itu kosong.
Ia tersenyum kecil. Senyum yang penuh makna.
Setelah prosesi selesai, Daddy Caesar dan Mommy Chailey menghampirinya.
“Kami minta maaf,” ucap Mommy Chailey lirih. “Ini bukan pernikahan yang mudah.”
Aldivano menggeleng. “Saya mengerti.”
“Celine menganggapmu seperti abang,” lanjut Daddy Caesar. “Dan ia sedang berjuang dengan skripsinya.”
“Aku tahu,” jawab Aldivano pelan. “Aku melihatnya setiap hari.”
Mommy Chailey menatapnya haru. “Kamu mau menunggu, Nak?”
Aldivano tersenyum. Senyum yang kali ini lebih dalam.
“Kalau menunggu adalah caraku mencintainya,” jawabnya, “insya Allah, aku akan menunggu.”
Mereka mengabadikan momen itu dalam beberapa foto sederhana. Tidak dipublikasikan. Tidak diumumkan. Tapi cukup untuk menjadi saksi bahwa sebuah janji pernah terucap dengan penuh keyakinan.
Tentang resepsi, mereka sepakat menundanya.
“Setelah Celine wisuda,” kata Calvin.
“Insya Allah,” jawab Aldivano.
Malam itu, Aldivano duduk sendiri di kamarnya. Ia membuka ponselnya, menatap nama Celine di layar—nama yang kini sah menjadi miliknya, meski dunia belum tahu.
“Fokuslah,” gumamnya pelan. “Aku di sini. Menunggu.”
Dan di situlah cinta itu tinggal—tenang, sabar, dan penuh doa.
Menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya berdiri di sisi yang semestinya.
***
Langit siang itu tampak cerah, secerah langkah kaki Celine yang menyusuri koridor kampus. Tas ransel berwarna krem tergantung ringan di bahunya, sementara senyum tak pernah benar-benar turun dari wajahnya. Ada kelelahan yang wajar, ada tekanan yang sesekali datang, namun hari-hari Celine belakangan ini dipenuhi oleh semangat yang sulit dijelaskan. Seolah ada dorongan tak kasatmata yang membuatnya terus melangkah, percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
Di antara tumpukan tugas dan revisi skripsi, Celine menemukan caranya sendiri untuk bertahan. Ia tertawa bersama teman-temannya, mengeluh secukupnya, lalu kembali bangkit. Baginya, hidup tak boleh hanya berputar pada deadline dan dosen pembimbing. Ia butuh jeda, meski hanya sebentar.
“Malem ini kita keluar, yuk,” ujar salah satu temannya saat mereka duduk di taman kampus, memanfaatkan waktu luang sebelum kelas berikutnya.
Celine mendongak. Matanya berbinar.
“Ke mana?”
“Arena balap. Lagi rame,” sahut yang lain.
Tanpa ragu, Celine mengangguk. Ada rasa lepas yang tiba-tiba mengalir di dadanya. Bukan karena balapnya, bukan pula karena keramaian. Tapi karena ia merasa hidup. Merasa menjadi dirinya sendiri, tanpa beban yang berlebihan.
Di kejauhan, Reina memperhatikan dari bangku lain. Ia tidak ikut tertawa. Tidak ikut menyela. Hanya memandangi sahabatnya dengan perasaan yang saling bertabrakan di dalam dada.
Reina menghela napas panjang.
Ia mengenal Celine lebih dari siapa pun di lingkaran pertemanan itu. Ia tahu betul betapa tulusnya hati Celine, betapa mudahnya ia percaya, dan betapa kerasnya ia menyalahkan diri sendiri ketika merasa mengecewakan orang lain. Justru itulah yang membuat Reina sering merasa tak pantas menyembunyikan kebenaran.
Namun setiap kali niat itu muncul, bayangan Aldivano selalu ikut hadir.
Sepupunya itu kini telah mengikat janji suci—janji yang tak diketahui oleh perempuan yang seharusnya berdiri di sampingnya. Sebuah pernikahan yang sah, namun sunyi. Penuh makna, tapi harus ditahan dalam diam.
Reina menggelengkan kepala pelan ketika Celine menghampirinya.
“Kamu ikut, kan?” tanya Celine ceria.
Reina tersenyum tipis.
“Kalian aja.”
Celine mengerucutkan bibir. “Kenapa?”
“Capek,” jawab Reina singkat.
Itu bukan kebohongan sepenuhnya. Ia memang lelah. Bukan fisik, tapi hati.
Celine tak memaksa. Ia hanya mengangguk lalu kembali ke kerumunan temannya, tertawa lepas, seolah dunia sedang baik-baik saja.
Reina menatap punggung sahabatnya yang menjauh. Ada perasaan perih yang merambat perlahan. Celine terlihat begitu bahagia. Begitu hidup. Dan justru itulah yang membuat Reina merasa semakin bersalah.
Kalau kamu tahu, apa kamu masih bisa tertawa seperti itu, Cel?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Malam semakin dekat. Kampus mulai lengang. Sementara di dalam hati Reina, kegelisahan justru semakin ramai. Ia duduk sendirian di bangku taman, menatap layar ponselnya yang gelap. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tapi nama Aldivano selalu hadir di pikirannya.
Ia tahu, sepupunya itu memilih diam bukan karena takut. Melainkan karena cinta. Cinta yang dewasa. Cinta yang bersedia menunggu.
Namun sebagai perempuan, Reina paham betul—menunggu tidak selalu mudah. Terlebih ketika yang ditunggu bahkan belum tahu bahwa dirinya sedang ditunggu.
Ketika malam akhirnya tiba, Reina memilih pulang lebih awal. Di perjalanan, pikirannya melayang pada satu fakta yang sulit ia terima sepenuhnya: bahwa kebahagiaan Celine saat ini dibangun di atas ketidaktahuan.
Sementara itu, Celine berdiri di pinggir arena balap, merasakan dentuman suara mesin dan sorak-sorai penonton. Angin malam menerpa wajahnya, membawa serta tawa dan kebebasan yang ia rindukan. Ia tertawa bersama teman-temannya, menikmati momen tanpa prasangka.
Tak ada satu pun di antara mereka yang tahu, bahwa di tempat lain, ada seseorang yang menyebut namanya dalam doa. Ada seseorang yang telah sah menjadi suaminya—namun memilih berdiri jauh, menjaga jarak, agar Celine bisa tetap berlari tanpa beban.
Di rumahnya, Aldivano duduk di ruang kerja dengan lampu temaram. Di hadapannya terbuka laptop, namun pikirannya tidak benar-benar ada di sana. Tangannya terlipat, matanya terpejam sesaat.
Ia tahu malam ini Celine keluar. Reina sempat memberitahunya. Dan ia hanya menjawab singkat: jaga dia.
Itu saja.
Tak ada larangan. Tak ada kecemburuan. Yang ada hanya kepercayaan dan doa yang tak putus-putus.
Di sisi lain kota, Reina berdiri di depan jendela kamarnya. Ia menatap langit malam yang sama. Mungkin, tanpa disadari, ketiganya sedang berada di bawah satu payung tak kasatmata—takdir yang bekerja dengan caranya sendiri.
“Semoga kamu tetap bahagia, Cel,” gumam Reina lirih. “Meski kebenaran belum sampai padamu.” Dan malam itu berlalu, menyisakan tawa, doa, serta rahasia yang masih disimpan rapi—menunggu waktu yang tepat untuk terungkap.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...