Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Levin Byantara
Malam mulai larut, namun keheningan dalam kamar itu justru membuat suasana di toko bunga tadi siang terasa makin nyata. Aroma khas lili dan mawar seolah masih menempel di ujung hidung Sebria, membawa kembali bayangan sosok kecil yang ia temui di sana.
Anak laki-laki itu.
Sebria masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana jemari mungil bocah itu menyentuh kelopak bunga krisan dengan penuh kehati-hatian, seolah sedang memegang sesuatu yang paling rapuh di dunia. Tatapan matanya yang besar dan jernih saat mendongak menatap nya masih terngiang, sebuah binar tulus yang jarang ia temukan pada orang dewasa.
'Boleh minta waktu tante ? Jadi mama ku sehari saja'
Sebria memejamkan mata, namun memori itu justru makin tajam. Ia teringat bagaimana Levin tersenyum lebar hingga matanya menyipit saat menerima satu paper bag berisi miniatur mobil dari kardus. Momen singkat itu memberinya perasaan hangat di dada, seperti menemukan kebaikan sederhana di tengah hari yang sibuk.
Hingga lampu dipadamkan, bayangan anak kecil dengan tas hitam di punggung itu tetap tinggal, menjadi pengantar tidur yang paling lembut malam ini.
...****************...
Aroma khas pagi bercampur mawar memberikan rasa segar dan semangat untuk Sebria. Secangkir kopi panas di atas meja lengkap beberapa bronis untuk memperbaiki mood. Di atas meja kaca sudah ada beberapa bunga yang siap di rangkai sesuai pesanan.
Sambil menyesap kopi hangat dan menikmati beberapa bronis. Sebria mendengarkan radio yang membaca perkiraan cuaca hari ini. Duduk bersandar nyaman menghadap kaca menampilkan depan sekolah yang menyambut kedatangan anak-anak pagi ini. Tidak seperti kemarin penuh drama. Semua anak datang langsung masuk ke sekolah.
Lonceng pintu berbunyi mengalihkan atensi Sebria. Manik matanya bergulir ke pergelangan dimana jam tangan terpasang. masih menunjuk pukul tujuh pagi. Sementara tokonya buka pukul delapan dan tulisan 'Tutup' juga belum dibalik. Namun Sebria tetap berdiri dari tempatnya duduk ketika melihat seorang wanita bertubuh gempal dengan pakaian rapi khas pengasuh berdiri di ambang pintu.
"Selamat pagi maaf menggangu waktu anda."
Sebria tersenyum tipis. "Tidak apa-apa tapi toko saya belum buka."
Wanita itu tersenyum ramah sambil melangkah mendekat. "Maaf kedatangan saya tidak untuk memesan bunga tapi ingin memberikan ini." Ujarnya menyodorkan paper bag.
Sebria enggan menerima karena merasa tidak mengenali wanita itu. Ia hanya menatapnya tanpa berniat mengambilnya. Seolah faham wanita bertubuh gempal itu terkekeh.
"Maaf saya lupa mengenalkan diri. Saya Merry pengasuh Nak Byan. Terimakasih sudah membantu Nak Byan kemarin."
"Byan ?" Sebria semakin bingung seingatnya anak yang kemarin ia tolong nama nya adalah Levin.
"Iya, Nak Byan menceritakan semuanya kemarin. Anda sudah menemaninya ke acara pameran kemarin dan Tuan muda meminta saya membuatkan anda sesuatu sebagai ucapan terimakasih."
Sebria menganggu meski masih terlihat bingung. Byan Nama itu tidak asing tapi nama manusia banyak yang sama di dunia ini. Sebria tidak mau memikirnya lebih jauh.
"Kemarin saya menemani seorang anak namanya Levin bukan Byan."
"Ah, benar. Disekolah dia biasa di panggil Levin tapi di rumah di panggil Byan. Saya harap anda menerimanya." Iris mata Merry tertuju pada paper bag yang di taruh nya di atas meja.
Sebria menganggu pelan. "Terimakasih tapi anda tidak perlu repot seperti ini."
"Saya tidak merasa repot. Sepertinya nak Byan akan sering datang kesini. Dia bilang menyukai anda. Dia belum pernah bicara seperti itu selama ini. Saya pamit dulu."
Sebria ternganga lalu memandangi paper bag tadi. Ia melangkah mendekat dan membuka perlahan. Ada sekotak makanan dan Sebria membukanya perlahan. Ada sandwich yang begitu mahal terlihat sekali di masak oleh seorang koki. Sebria melihat kedalam piring bronisnya yang terisa satu. Ah, kesenjangan apa ini. Ia terkekeh tapi tetap menyimpannya. Akan ia makan nanti.
...----------------...
Di sudut ruangan yang dipenuhi aroma harum sedap malam dan mawar, Sebria masih fokus pada pekerjaannya. Jemarinya yang lincah dengan hati-hati menyatukan tangkai-tangkai bunga aster putih dengan krisan kuning, mencoba menciptakan harmoni warna yang sempurna. Radio tua di pojok ruangan mengalunkan lagu jazz pelan, seirama dengan ketenangan yang ia rasakan. Baginya, merangkai bunga bukan sekadar profesi, melainkan cara ia berbicara pada dunia tanpa suara.
Keringat tipis muncul di dahi Sebria, namun ia tidak peduli. Rangkaian bunga untuk sebuah acara pernikahan esok hampir selesai. Saat ia hendak memotong sisa batang lili yang terlalu panjang, tiba-tiba sebuah suara cempreng memecah konsentrasi.
"Bunga nya cantik sekali..."
Sebria tersentak kecil gunting di tangannya nyaris terlepas saking konsentrasi nya. Ia tidak mendengar lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian olahraga masuk dan mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Kamu sudah pulang."
"Hm, boleh aku nunggu jemputan disini?"
"Boleh..." Sebria tersenyum kecil tapi tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Papa suka bunga matahari tapi bunga matahari susah dicari. Papa pernah nanam tapi mati." Anak itu berkata sedih.
"Benarkah?" Sebria menghentikan kegiatannya. "Nama lengkap kamu apa?"
"Levin Byantara."
Sebria mengangguk. "Nama yang bagus." Ujarnya melanjutkan pekerjaan. "Jadi, tante panggil kamu Levin atau Byan?"
"Byan." Sahut anak laki-laki itu cepat. "Di rumah, aku di panggil Byan dan di sekolah di panggil Levin. Karena tante baik hati jadi boleh panggil nama spesial ku."
"Nama kamu mirip sama anaknya teman tante."
"Siapa yang paling tampan di antara kami?" Byan merasa tidak terima karena ada nama yang sama dengan nya.
"Tante belum pernah melihatnya. Waktu itu dia masih kecil."
Sebria terkekeh mengusap lembut pucuk kepala Byan. Celotehan anak laki-laki berusia delapan tahun itu membuat senyum di bibir Sebria tidak pernah pudar. Byan tidak mengganggu tapi banyak bertanya karena rasa ingin tahu dan Sebria selalu menjawab dengan sabar.
Mereka di kejutkan dengan suara klakson di luar toko.
Byan menoleh lalu meraih tas nya. "Jemputan aku sudah datang. Aku pulang dulu ya..."
"Ambil ini buat kamu. Terimakasih atas makanannya tadi pagi."
"Boleh aku kasih ke papa?" Iris mata Byan berbinar karena senang.
"Boleh, karena sudah jadi milik kamu." Sebria memberikan setangkai bunga matahari dari vas yang paling terang warnanya.
"Terimakasih tante bunga, sampai jumpa besok." Byan berlari menuju pintu.
Sebria menatap punggungnya yang menjauh. Seketika sunyi datang lagi. Ia melanjutkan memotong tangkai bunga. Namun, atensi nya teralihkan karena getaran ponselnya. Ia meraih benda pipih itu dan membaca pesan yang masuk.
Pulanglah makan malam bersama malam ini
Bibirnya tertarik meletak ponsel itu kembali. Suara potongan pada tangkai sedikit mendominasi. Sebria sudah nyaman dengan hidupnya saat ini. Bunga-bunga itu bak teman yang menghiburnya meski tanpa bicara. Musik jazz masih terdengar bersamaan aroma bunga yang semakin menenangkan. Sebria hanya butuh itu bukan yang lain. Disaat kesibukan merangkai, Sebria juga melayani para pembeli. Menjelaskan filosofi bunga-bunga yang dirangkai nya.