Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinta Air Mata
Malam di Jakarta belum sepenuhnya mati, namun di dalam kamar kecil yang hanya disekat triplek tipis itu, waktu seolah berhenti berputar. Hilman duduk di tepi tempat tidur yang sudah reyot, satu-satunya tempat yang ia anggap sebagai zona aman dari dinginnya sikap Andini di luar sana. Suara tawa Andini di ruang depan—yang mungkin sedang asyik menelepon Reno—terdengar samar-samar, seperti sembilu yang terus-menerus mengiris gendang telinganya.
Di atas pangkuannya, sebuah kotak kayu kecil yang sudah kusam warnanya diletakkan dengan penuh kehati-hatian. Kotak itu adalah "kotak rahasia" yang selama ini ia sembunyikan di balik tumpukan kain perca di bawah lemari. Di dalamnya bukan berisi emas atau berlian, melainkan tumpukan buku tabungan, catatan lembur yang kusut, dan selembar kertas putih yang masih bersih.
Hilman menarik napas panjang, yang segera diiringi suara sesak di dadanya. Tangannya yang kasar, dengan jari yang masih dibalut perban kotor akibat kecelakaan kerja kemarin, meraih sebuah pulpen murah. Jemarinya gemetar. Bukan hanya karena rasa sakit fisik, tapi karena beratnya beban emosional yang hendak ia tumpahkan ke atas kertas itu.
Ia mulai menulis. Surat pertama. Sebuah surat yang ia harap tidak perlu dibaca Andini dalam waktu dekat, namun ia tahu, tubuhnya sudah mulai menyerah.
Surat di Dasar Kotak Kayu
"Untuk Andini, Istriku tersayang..."
Hilman berhenti sejenak. Ia menatap kata "tersayang". Apakah Andini masih merasa disayangi? Ataukah selama ini ia hanya merasa terbebani oleh kemiskinan yang Hilman berikan? Hilman menghapus butiran keringat dingin di dahinya dan melanjutkan tulisan itu.
"Andini, mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sedang tidak berada di sampingmu untuk melihat amarahmu atau mendengar keluhanmu. Aku menulis ini di malam yang sunyi, di saat kamu mungkin sedang memimpikan kehidupan yang jauh lebih indah daripada apa yang bisa aku berikan saat ini.
Maafkan aku, Andini. Maaf karena aku belum cukup kaya untukmu.
Aku tahu, setiap hari yang kamu lalui bersamaku adalah perjuangan melawan rasa malu. Aku tahu, setiap kali teman-temanmu memamerkan tas baru, perhiasan berkilau, atau liburan mewah, hatimu menjerit karena suamimu hanya seorang buruh pabrik yang bau oli. Aku melihat bagaimana kamu menatap gaun-gaun indah di etalase mall, lalu menatap bajuku yang kusam dengan pandangan benci. Aku tidak menyalahkan mu, Sayang. Kamu cantik, kamu berhak mendapatkan dunia yang berkilau itu."
Tetesan air mata jatuh ke atas kertas, membuat tinta pulpen sedikit meluber. Hilman tidak menghapusnya. Ia membiarkan noda itu menjadi saksi bisu betapa hancur hatinya saat menuliskan setiap kata.
"Aku ingat awal kita menikah. Kamu adalah bunga paling indah yang pernah aku temui. Aku berjanji pada ayahmu bahwa aku akan menjagamu. Tapi aku lupa, bahwa menjaga tidak hanya soal memberi makan, tapi juga soal memberi harga diri. Dan aku gagal memberimu harga diri yang bisa kamu banggakan di depan teman-temanmu.
Maafkan aku jika kado ulang tahunmu hanyalah perak murahan yang kamu buang ke tempat sampah. Maaf jika jari-jariku yang terluka ini membuatmu jijik untuk menyentuhku. Maaf jika aku sering pingsan dan dianggap akting hanya untuk mencari perhatianmu. Aku benar-benar ingin menjadi pria yang kuat, pria yang bisa menggendong mu ke atas gunung emas, tapi tubuhku ternyata punya batasnya sendiri.
Andini, tahukah kamu? Setiap kali aku bekerja lembur di bawah terik matahari atau di tengah debu pabrik yang menyesakkan, aku tidak pernah memikirkan rasa lelahku. Aku hanya memikirkan satu hal: 'Sedikit lagi, uang ini akan cukup untuk membelikan Andini senyuman.'
Tapi sepertinya, senyumanmu sudah tidak lagi dijual di pasar yang mampu aku jangkau. Kamu sudah menemukan senyuman itu di tempat lain, bersama pria lain yang mungkin jauh lebih kaya dan lebih hebat dariku. Aku melihatmu hari ini di kafe itu. Kamu terlihat sangat bahagia. Aku tidak marah, Sayang. Aku justru sedih karena ternyata bukan aku yang bisa memberikan kebahagiaan itu padamu."
Hilman terbatuk hebat. Ia membekap mulutnya dengan kain handuk agar suaranya tidak menembus pintu. Darah kembali mewarnai kain itu. Ia menatap merahnya darah itu dengan tatapan kosong, lalu kembali menulis dengan tenaga yang tersisa.
"Di dalam kotak ini, di balik surat ini, ada sebuah buku tabungan. Aku sudah mengumpulkannya selama tujuh tahun ini. Aku tidak pernah memakan uang itu sepeser pun, bahkan di saat perutku melilit karena lapar atau di saat aku harus makan nasi garam agar bisa menabung lebih banyak. Angka di sana hampir mencapai satu miliar rupiah.
Aku ingin kamu tahu, uang itu adalah bukti bahwa meskipun aku tidak kaya hari ini, aku telah menyerahkan seluruh hidupku untuk masa depanmu dan Syifa. Tolong, jangan buang buku tabungan ini seperti kamu membuang kado perakku. Pakailah untuk membeli rumah yang ada tamannya, rumah yang tidak pengap, rumah yang tidak akan pernah mengingatkanmu pada pria pecundang sepertiku.
Andini, jika nanti aku pergi, janganlah menangis. Kamu sudah sering menangis karena malu menjadi istriku, jadi jangan buang air matamu lagi untuk kematianku. Pergilah cari kebahagiaanmu. Tapi tolong satu hal, jangan pernah tinggalkan Syifa. Dia adalah satu-satunya hartaku yang paling berharga yang pernah kamu berikan padaku.
Terima kasih telah bersedia menjadi istriku selama tujuh tahun yang berat ini. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk mencintaimu, meskipun cintaku ternyata tidak cukup untuk memenuhi keinginanmu.
Aku sangat mencintaimu, Andini. Lebih dari nyawaku sendiri. Maafkan aku yang tidak cukup kaya ini."
Hilman meletakkan pulpennya. Ia melipat kertas itu dengan rapi, memasukkannya ke dalam amplop putih, dan meletakkannya tepat di atas buku tabungan depositonya. Ia menutup kotak kayu itu, menguncinya, dan menyembunyikannya kembali ke tempat persembunyiannya yang paling dalam.
Di luar, suara pintu depan terbuka. Andini pulang. Hilman mendengar suara langkah kaki istrinya yang terburu-buru, lalu suara bantingan pintu kamar di sebelah. Tidak ada sapaan, tidak ada pertanyaan apakah suaminya sudah makan atau belum.
Hilman mematikan lampu kamarnya. Ia berbaring di atas kasur tipisnya, menatap kegelapan. Ia merasa sedikit lebih ringan setelah menulis surat itu. Seolah-olah ia sudah menitipkan nyawanya pada secarik kertas tersebut.
"Satu juta lagi, Andini..." bisiknya lirih sebelum matanya terpejam. "Besok, satu juta terakhir itu akan ada. Dan setelah itu, aku akan membiarkanmu membuka kotak rahasia itu."
Ia tidak tahu, bahwa di kamar sebelah, Andini sedang menatap cincin palsu dari Reno dengan penuh ambisi, merencanakan bagaimana cara mencuri kunci dari saku Hilman besok pagi untuk mengambil "harta karun" yang selalu dibicarakan suaminya. Andini menganggap kotak itu adalah tiket menuju kemewahan bersama Reno, tanpa pernah menyadari bahwa kotak itu adalah peti mati dari cinta suci yang baru saja ia injak-injak dengan kejam.
Malam itu, Hilman tidur dengan senyum getir. Ia bermimpi tentang Andini yang sedang berlari di taman bunga yang luas, tertawa bahagia, tanpa ada lagi noda oli atau bau keringat pabrik yang mengganggunya. Di dalam mimpi itu, Hilman hanya melihat dari jauh, merasa cukup menjadi bayangan yang pernah ada untuk memastikan sang ratu mendapatkan kerajaannya.
Namun, kenyataan di luar sana jauh lebih dingin. Dan surat pertama di dalam kotak kayu itu kini menunggu saat di mana ia akan dibasahi oleh air mata penyesalan yang paling pahit sepanjang sejarah hidup seorang Andini.