NovelToon NovelToon
Chasing Her, Holding Him

Chasing Her, Holding Him

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / One Night Stand / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."

Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.

Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Amelie membanting pintu apartemennya hingga dentumannya menggema ke seluruh ruangan. Tas mahalnya dilempar asal ke sofa, sementara ia mengacak rambutnya dengan frustrasi. Napasnya masih memburu, adrenalin dari kejadian di kafe tadi masih memompa jantungnya hingga ke titik maksimal.

"Sialan! Brengsek! Kenapa gue bisa se-bego itu?!" Amelie mengumpat keras, suaranya pecah di antara amarah dan tangis yang tertahan.

Ia berjalan mondar-mandir di ruang tengah, tidak lagi memedulikan citra wanita karir yang anggun. "Lima tahun, Amelie! Lima tahun lo buang-buang waktu cuma gara-gara lonte kayak gitu! Bodoh! Tolol!" ia memaki dirinya sendiri, tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.

Namun, di tengah makiannya yang semakin menjadi-jadi, sebuah suara berat yang sangat familiar memecah keheningan dari arah sudut kamarnya yang remang.

"Ternyata putri keluarga Marius bisa bicara se- kasar itu juga, ya?"

Amelie tersentak hebat, tubuhnya membeku. Ia menoleh ke arah ambang pintu kamarnya dan menemukan Alex sedang bersandar di sana. Pria itu sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka dan lengan yang digulung hingga siku.

Alex tidak tampak marah. Sebaliknya, ada binar jenaka sekaligus lapar di matanya. Ia telah menonton segalanya, mulai dari aksi labrak di kafe hingga pertunjukan emosi Amelie di apartemen ini.

"Amelie yang dulu pemalu sekarang jadi se-barbar ini?" batin Alex sambil menatap lekuk tubuh Amelie yang naik turun karena napas yang memburu.

Sudut bibir Alex terangkat, membentuk senyum kecil yang sangat tipis namun mematikan. Pikirannya mulai berkelana liar. Ia membayangkan bagaimana jadinya jika mulut yang sedang mengumpat kasar itu berada di bawah kuasanya.

Apa dia bakal tetep cerewet begini saat gue kunci di bawah badan gue? Atau makiannya bakal berubah jadi desahan yang jauh lebih manis?

"Alex?! Gimana bisa lo masuk ke sini?! Keluar!" teriak Amelie, wajahnya memerah bukan hanya karena marah, tapi juga karena malu tertangkap basah sedang menggila.

Alex mulai melangkah maju, perlahan namun pasti, seperti predator yang sedang menyudutkan mangsanya. "Gue nggak akan keluar sebelum lo selesai mengumpat, Amelie. Gue suka versi lo yang ini. Lebih... menantang."

Alex berhenti tepat di depan Amelie, membuat wanita itu terpaksa mendongak. Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat pekat oleh ketegangan seksual yang sudah tertahan selama lima tahun.

"Tadi lo bilang lo bodoh?" bisik Alex, tangannya terangkat untuk menyelipkan helaian rambut Amelie yang berantakan ke belakang telinga. "Lo nggak bodoh, Sayang. Lo cuma terlalu mencintai gue sampai lo nggak bisa mikir jernih saat denger gue diklaim orang lain. Dan sekarang..."

Alex merendahkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh telinga Amelie. "Gue mau denger semua makian lo itu berubah jadi nama gue. Bisa?"

Amelie tertegun. Jarak yang begitu tipis di antara mereka membuat semua amarah yang tadi membara seolah tersiram air es, menyisakan bara rindu yang terasa perih. Ia ingin mendorong dada bidang itu, ingin meneriakkan kata-kata kasar lagi agar Alex menjauh, namun tubuhnya justru terasa kaku, terpaku oleh tatapan Alex yang begitu intens.

"Alex, jangan..." bisik Amelie, namun suaranya sendiri terdengar tidak meyakinkan bahkan di telinganya.

"Shh..." Alex meletakkan jari telunjuknya di bibir Amelie, membungkam protes wanita itu. "Satu hal lagi, Amelie. Hentikan panggilan lo-gue itu. Aku benci mendengarnya keluar dari mulutmu."

Amelie mengerjap kan mata, bingung dengan perubahan nada bicara Alex yang mendadak melembut namun posesif.

"Panggil aku seperti dulu," tuntut Alex dengan suara rendah yang menggetarkan.

"Panggil aku kamu. Aku ingin mendengar suara Amelie-ku yang dulu, bukan Direktur Operasional yang dingin ini."

Amelie menelan ludah. "Tapi, Al..."

"Sebut, Amelie. Aku-kamu," potong Alex lagi, matanya mengunci mata Amelie, menanti kepatuhan yang sudah lama tidak ia dapatkan.

"Aku... aku belum siap, Alex," gumam Amelie akhirnya, suaranya melemah. Ia menggunakan kata aku, dan itu sudah cukup untuk membuat pertahanan Alex runtuh.

Tanpa peringatan lagi, Alex menarik pinggang Amelie, merengkuh tubuh ramping itu ke dalam pelukan yang sangat erat, pelukan pertama setelah lima tahun yang menyiksa.

Amelie tersentak, tangannya sempat tertahan di udara, berniat untuk menjauhkan tubuh pria itu. Namun, aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau tubuh khas Alex, aroma yang selama lima tahun ini hanya ada dalam mimpinya, merasuk ke indra penciumannya.

Dinding pertahanan yang dibangun Amelie selama bertahun-tahun di luar negeri hancur dalam hitungan detik. Kepalanya perlahan jatuh di bahu Alex, dan tangannya yang tadi berniat mendorong, kini justru meremas kemeja hitam Alex, memeluk pria itu kembali dengan kekuatan yang sama besarnya.

Amelie menangis tertahan di dada Alex. Ia benci dirinya karena begitu lemah, ia benci karena ternyata pelukan inilah yang paling ia butuhkan untuk merasa pulang.

"Aku merindukanmu, Amelie. Sangat merindukanmu sampai rasanya mau gila," bisik Alex, membenamkan wajahnya di leher Amelie, menghirup dalam-dalam aroma mawar yang masih ada di sana.

Alex memeluknya seolah-olah jika ia melonggarkan sedikit saja, Amelie akan kembali menghilang menjadi debu. Dan bagi Amelie, pelukan ini terasa begitu pas, seolah-olah potongan puzzle yang hilang dari hidupnya akhirnya kembali ke tempatnya. Ia tidak bisa menolak, ia tidak ingin menolak. Tubuhnya mengenali Alex sebagai pemiliknya, jauh sebelum logikanya bisa memproses rasa bersalah itu.

"Jangan pergi lagi," gumam Alex di sela napasnya yang mulai tak beraturan. "Kamu milikku, Amelie. Dulu, sekarang, dan selamanya."

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 🥰

1
Retno Isusiloningtyas
mdh2an happy ending
Retno Isusiloningtyas
mmm....
masih nyimak 🤣
Paon Nini
sinting
falea sezi
ngapain ngintil mulu g ada krjaan mending prgi sejauh nya lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!