Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Aneh
Pikiran Felicia tidak bisa tenang. Kalimat Anissa di kantor tadi, tentang kejutan ulang tahun yang sudah menjadi "tradisi tahunan", terus berputar di kepalanya. Ada rasa tidak nyaman yang mencubit dadanya—sesuatu yang ia sebut sebagai rasa penasaran, meski jauh di lubuk hati, ia tahu itu adalah benih cemburu.
Sampai di kost, Felicia bahkan tidak berniat melepas sepatunya. Ia langsung merebahkan tubuh di atas sprei motif bunga miliknya, menatap langit-langit kamar sejenak sebelum merogoh ponsel dari tas.
Jemarinya bergerak lincah membuka aplikasi Instagram. Ia tidak mencari akun utama Anissa yang penuh dengan foto estetik dan filter profesional. Tujuannya adalah akun kedua—second account yang biasanya lebih "jujur" dan tidak difilter.
"Sebenarnya mereka sedekat apa sih?" gumamnya pelan.
Setelah melakukan sedikit usaha pencarian lewat daftar pengikut teman kantor lainnya, ia menemukannya. @nisss_daily. Akun itu tidak dikunci. Begitu halamannya terbuka, napas Felicia seolah tertahan di tenggorokan.
Ia mulai menggulir layar. Satu per satu foto dan video muncul, dan hampir di setiap unggahan penting, sosok James ada di sana.
Ada sebuah foto makan malam tim di sebuah restoran mewah. James duduk di ujung meja, tampak gagah dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Di sampingnya, Anissa berpose sangat dekat, memegang gelas wine dengan senyum lebar. Keterangannya berbunyi: “Best team, best leader. Thanks for the treat, Pak Boss!”
Felicia menggulir lagi. Kali ini sebuah video pendek. Sepertinya diambil saat waktu senggang di kantor. Kamera menyorot James yang sedang fokus membaca dokumen, lalu Anissa memanggil namanya dengan suara manja yang dibuat-buat. James mendongak, menatap kamera dengan senyum tipis—jenis senyum yang Felicia pikir hanya milik dirinya.
Jari Felicia sedikit bergetar saat ia menemukan sebuah unggahan video TikTok yang sedang tren setahun lalu. Di sana, Anissa melakukan gerakan dance kecil di depan James, sementara James hanya berdiri di belakangnya dengan tangan di saku, tampak terhibur sambil sesekali tertawa rendah melihat tingkah Anissa.
“He’s cold to everyone, but a softie to me,” tulis Anissa di kolom caption, lengkap dengan emoji hati berwarna putih.
Felicia mematikan ponselnya dengan gerakan kasar, melemparkannya ke sisi bantal. Kamar kost yang sempit itu mendadak terasa semakin menyesakkan.
Belum lagi soal unggahannya yang memperlihatkan perayaan ulang tahun James tahun lalu. Mereka berdua berfoto dengan posisi yang sangat dekat. Bahkan pipi mereka nyaris bersentuhan.
Semua momen itu terjadi jauh sebelum ia masuk ke dalam radar James. Namun, melihat betapa santainya James di lingkaran sosial Anissa membuat Felicia merasa... seperti orang asing yang baru saja menerobos masuk ke dalam cerita yang sudah lama berjalan.
"Hanya rekan kerja, ya?" bisik Felicia pada kegelapan kamar. Air matanya hampir jatuh, bukan karena ia tidak percaya pada James, tapi karena ia menyadari bahwa sejarah James dengan wanita lain ternyata jauh lebih berwarna daripada yang ia bayangkan.
Mood Felicia buruk sekali malam itu. Padahal, biasanya malam menjelang hari libur adalah momen yang paling ia tunggu—waktunya untuk me-time dengan maraton drama Korea atau sekadar berburu jajanan kaki lima bersama teman-teman kostnya. Namun sekarang, melihat tumpukan bantal di kasurnya saja terasa menyesakkan.
Di tengah rusaknya suasana hati itu, ponselnya bergetar di atas kasur. Nama "Mas Jimmy" terpampang di layar. Alih-alih merasa senang, Felicia justru merasa dadanya sesak. Bayangan video TikTok Anissa yang baru saja ia lihat seolah menari-nari di depan matanya.
Satu panggilan terlewati begitu saja. Felicia hanya menatap layar yang berkedip itu dengan pandangan kosong. Namun, saat panggilan kedua kembali berdering, ia akhirnya mengangkatnya dengan gerakan malas.
"Ya, Mas?" jawab Felicia, suaranya terdengar datar dan ogah-ogahan.
"Kamu pulang duluan, Fel? Tadi aku ada urusan mendadak sama Tuan Douglas, tapi pas aku balik ke kubikelmu, kamu sudah nggak ada," suara James terdengar sedikit terengah di seberang sana, seperti baru saja berjalan cepat.
"Iya. Tadi aku kira Mas bakal lama," sahut Felicia singkat, sangat singkat untuk ukuran dirinya yang biasanya ceria.
James terdiam sejenak, sepertinya menyadari nada bicara Felicia yang tidak biasa. Namun, ia mencoba mencairkan suasana. "Ya sudah, kamu siap-siap sekarang, ya? Aku jemput. Kita jalan-jalan sebentar, mumpung besok tanggal merah."
Felicia menghela napas panjang, matanya menatap langit-langit kamar yang kusam. Seharusnya tawaran itu membuatnya melompat senang, tapi rasa kesal yang mengganjal di hatinya jauh lebih besar. "Aku lagi malas keluar, Mas."
"Kamu sakit, Fel? Kepalamu pusing lagi?" Nada suara James mendadak berubah cemas. "Aku ke kostan kamu sekarang, ya?"
"Nggak usah. Aku nggak apa-apa, kok."
"Kalau kamu nggak mau jalan-jalan, kita ke apartemenku saja yuk? Kita pesan makanan dan nonton di sana," bujuk James lagi, masih berusaha mencari cara agar bisa bertemu.
"Mas... aku lagi butuh waktu sendiri," potong Felicia. Kalimat itu dingin, tajam, dan sanggup membuat James di seberang sana terbungkam.
James tertegun. Sebagai pria dewasa, ia mulai menangkap sinyal bahaya. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi—entah itu masalah di kantor atau pikiran-pikiran yang sedang berkecamuk di kepala kekasihnya. James mengembuskan napas perlahan, mencoba tidak memaksakan kehendak meski ia sangat merindukan wanita itu.
"Baiklah kalau itu maumu. Kamu istirahat, ya," ucap James, suaranya melunak, penuh pengertian yang justru membuat hati Felicia sedikit mencelos. "Tapi besok aku jemput, ya? Mas nggak mau kamu cuma diam di kost sendirian saat libur."
"Iya," jawab Felicia singkat sebelum akhirnya memutus sambungan telepon itu secara sepihak.
Ia melempar ponselnya ke samping, lalu membenamkan wajahnya ke bantal. Ada rasa bersalah karena telah bersikap dingin pada James, namun bayangan Anissa dan James yang tertawa bersama di layar ponselnya tadi masih terasa begitu nyata. Malam yang seharusnya menyenangkan, kini berubah menjadi malam yang penuh dengan sisa-sisa rasa cemburu yang tak tersampaikan.
James memutar kunci apartemennya dengan gerakan lesu. Ruangan yang biasanya terasa seperti tempat pelarian yang tenang, malam ini justru terasa terlalu luas dan sunyi. Ia melempar kunci mobil ke atas meja konsol, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa tanpa sempat menyalakan lampu utama. Hanya cahaya remang kota dari balik jendela besar yang menerangi wajahnya yang tampak letih.
Pikirannya saat ini seperti benang kusut. Di satu sisi, ucapan Tuan Douglas terus terngiang—tentang jabatan Direktur di Surabaya yang menuntut pengorbanan profesionalitas hubungannya dengan Felicia. Di sisi lain, sikap dingin Felicia di telepon tadi benar-benar di luar prediksinya.
Ia memijat pangkal hidungnya, mencoba mengingat-ingat apakah ia melakukan kesalahan di kantor tadi. Apa karena aku terlalu keras saat membahas soal shrinkage? Atau karena aku cemburu pada Pak Setya tadi? James mengembuskan napas panjang, menatap langit-langit apartemennya yang gelap. Ia merasa sudah memberikan segalanya, mencoba menjadi pelindung sekaligus kekasih yang baik, namun suasana hati Felicia tetap saja sulit ditebak seperti cuaca di musim pancaroba.
"Ternyata mengencani gadis muda memang sangat menguji kesabaran," keluhnya pada keheningan ruangan.
Ia bangkit, berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin. James teringat bagaimana tadi siang Felicia begitu manis mengusap tangannya dan meyakinkannya bahwa jalan mereka "bersih" dari saingan. Namun hanya dalam hitungan jam, dinding es itu kembali berdiri kokoh.
"Apa dia mulai ragu soal hubungan ini? Atau dia merasa terbebani?" gumam James lirih.
James meneguk airnya hingga tandas, lalu menyambar ponselnya lagi. Ia sempat ingin mengirim pesan singkat untuk sekadar mengucapkan selamat tidur, namun ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin terlihat terlalu mendesak.
"Sabar, James. Dia butuh ruang," bisiknya menguatkan diri sendiri.
Jangan lupa Likeeee dan tinggalkan komentar
Loveeee all 💓✨