Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Mona tetiba tersedak, ketika minum air pada kemasan gelas yang selalu Hana siapkan diatas meja tamu.
Hana terkejut, "Mon, kamu nggak papa 'kan? Kok bisa keselek gini sih," cemasnya sambil menyamar tisu untuk dirinya berikan pada sahabatnya itu.
Mona memaksakan senyumnya. "Itu, tenggorokan aku gatel rasanya, Han...."
"O ya, Mon... Kamu akhir-akhir ini sibuk banget, ya... Sampai nggak respon aku telfon?"
Mona menelan ludahnya. Hatinya merasa was-was, entah kenapa tetiba dirinya berkeringat dingin. "O-o, itu... Kan kamu tahu sendiri Han, aku harus ke sana kesini, ikut Bosku keluar kota. Maaf ya," ucapnya menampakan wajah melas.
Hana mencoba memahami itu semua. Sudah hampir 10 tahun berteman baik dengan Mona, tapi baru kali ini Hana merasa ada sesuatu yang sahabatnya sembunyikan.
"Oh ya, kamu tadi 'kan bilang, kamu kemaren diajakin seseorang pergi ke luar kota. Emangnya siapa sih... Syukurlah kamu udah bisa move on dari Mas Sakti, Mon...." Hana juga ikut merasa bahagia.
Mona tersenyum, "Aku belum bisa kasih tahu, Han... Aku takut kalau dia juga tinggalin aku tanpa sebab. Jadi, nanti aja ya... Setelah kita resmi, kamu juga bakal tahu kok siapa orangnya."
Hana mengangguk, merasa lega akhirnya sahabatnya itu menemukan tambatan hatinya kembali.
"Oh ya, Han... Aku mau pulang dulu ya. Soalnya aku nanti mau ada acara, karena calon suamiku ada kenaikan jabatan," pamitnya.
Melepaskan sahabatnya pulang, Hana kembali dilanda sepi dalam hidupnya. Ia masuk kedalam sambil membawa bingkisan dari Mona tadi.
Setelah Mona pulang, tepatnya pukul 11.00 siang.
Hana iseng sekedar membuka gawainya, melihat sosial medianya untuk menghilangkan kesepian dalam hidupnya. Di perumahan yang ia tinggali, tidak seperti di desanya, yang dimana Hana dapat merasa tenang sering mendapat dukungan.
Di Yogjakarta, tepatnya di kotanya, apalagi tinggal di perumahan, semua orang di sibukan dengan aktivitasnya masing-masing.
"Selamat Pak Dzaki, atas naiknya jabatan Anda sebagai Direktur!" ucap salah satu rekan Dzaki, ketika acara tadi di liput berita tv nasional.
Memandang dari jarak jauh saja Hana sudah merasa bahagia, meskipun ia tidak di libatkan dalam hal apapun yang menyangkut pekerjaan suaminya.
"Kok bisa kebetulan sama pacarnya Mona, ya?" pikiran negatif kembali muncul dalam benaknya. Sebagai Istri, Hana merasa semua kebetulan-kebetulan itu memang seolah terjadi bukan tanpa sebab.
Tapi, entahlah!
*
*
Sementara di kantor,
Dzaki kini berdiri dengan senyum mengembang didepan beberapa sorot kamera yang mengabadikan hal penting dalam hidupnya kini.
"Saya ucapkan terimakasih untuk Pak Hardi yang sudah mempercayakan semua ini kepasa saya. Dan, tanpa dukungan kalian semua, saya juga tidak akan sampai di titik puncak seperti saat ini. Sekali lagi terimakasih," ucap Dzaki mengakhiri acaranya. Pria itu sampai tega tidak menyebut nama Istrinya, padahal pencapaiannya itu tak lepas dari doa dan perjuangan sang Istri.
Setelah acara, Dzaki segera bergegas masuk kedalam ruangan barunya sebagai seorang Direktur.
Ceklek!
Wajah tampannya semakin berbinar melihat ruangan luas nan mewah itu. Dengan segera, Dzaki duduk sambil mengeluarkan gawainya.
Pria itu melakukan panggilan video, hingga beberapa detik itu panggilannya sudah terhubung.
"Hallo, Sayang... Kamu siap-siap ya, nanti aku jemput. Ini semua pasti berkat dukungan dari kamu juga, yang udah buat hidupku jadi semangat," ucap Dzaki tersenyum lembut menatap layar gawainya.
Wanita disebrang juga ikut tersenyum. "Iya, Mas... Aku tunggu ya! O ya, nanti malam kita jadi 'kan ke resort baru temenku di Jakarta?"
"Iya, jadi dong sayang... Kebetulan besuk 2 hari aku dapet cuti. Apa sih yang nggak buat cantiku ini," gemas Dzaki.
Ternyata, wanita disebrang bukanlah Hana-Istrinya. Entah siapa, yang jelas Dzaki begitu tega menghianati Istrinya dalam keterpurukan yang Hana jalani kini.
Begitu panggilan kepada wanita tadi berakhir, kini panggilan dari Hana masuk dalam gawainya.
"Ck!" decaknya merasa malas. Dzaki langsung saja menggeser tombol hijau, membuka suara tak berselera. "Ada apa, Han?"
"Mas... Selamat ya! Aku ikut seneng banget kamu akhirnya naik jabatan," ucap Hana. Suaranya menyirat rasa kebahagiaan yang begitu dalam. Sebagai sang Istri yang menemani perjalanan hidup Dzaki dari nol, seolah semua lelahnya terbayarkan dengan semestinya.
Disebrang, Hana tersenyum lembut, berjalan keluar dan kini duduk di teras. Meskipun ia mendengar helaan napas berat dari suaminya, hal itu tak akan mengurangi rasa syukurnya pada Tuhan.
"Iya lah, ini semua berkat kerja kerasku! Kamu tau apa selain meminta?" cetus Dzaki tersenyum sengit.
Dada Hana terasa sesak mendengar jawaban Dzaki. Namun, ia tidak ingin merusak hari bahagia suaminya. Jadi, ia beri candaan sedikit, agar dapat memecah suasana.
"Mas... Bukanya dulu kamu yang minta aku risen dari kerjaanku. Kalau bukan minta sama kamu, minta sama siapa lagi," jawabnya sambil tertawa getir.
Lagi-lagi Dzaki menghela napas berat. "Sudahlah, Hana... Kerjaanku itu banyak, kamu ini cuma bisa bikin pusing aja."
"Eh, Mas... Nanti mau aku masakin buat makan malam apa? Sebentar-sebentar, atau... Bagaimana kalau aku buatkan nasi kuning sebagai bentuk rasa syukur atas naiknya jabatan kamu... Gimana, Mas?"
Dzaki kembali berdecak, "Ck! Kamu itu kampungan banget! Udah, aku nanti malam ada acara sama temen-temenku! Aku udah boking resort buat mereka."
Deg!
Hana menelan getir ludahnya. Namun, meksipun sejak tadi dadanya terasa sesak. Ia masih tetap tersenyum, "Mas... Nanti kamu ajakin aku 'kan?"
"Ngajakin kamu? Yang ada, mau aku taruh mana mukaku, Hana! Istri temen kantorku aja pada bening, kinclong! Sedangkan kamu, habis melahirkan tubuhmu sudah mirip anakan kuda nil!" cercanya lagi.
Ucapan Dzaki begitu pedas hingga bukan matanya saja yang berair, tapi hatinya terasa panas dan berdarah.
Pangilan itu terputus dengan semestinya.
Hana yang sudah terlalu sering merasakan sakit, kini hanya mampu tertawa hambar. Seolah hati kecil berbisik, 'Ini rumah tangga kaya apa sih? Aku nggak salah denger 'kan? Suamiku sendiri bilang aku kayak anakan kuda nil? Ya Allah, tega sekali Mas Dzaki....'
Padahal, sejak dulu, mengandung, bahkan sampai melahirkan, berat badan Hana hanya stuck di angka 50. Tapi akhir-akhir ini, berat badanya itu turun drastis hanya bekisar 45 kg.
"Mas Dzaki buta atau gimana sih? Aku kurus kering kaya gini, dibilang kaya anakan kuda nil. Hanya karena perutku yang masih gelambir kaya gini. Tapi, ini 'kan memang selesai melahirkan. Masa nifas aja belun selesai," gumam Hana seolah ia kini tengah bebicara pada ari-arinya.
Malam harinya pukul 23.15 wib.
Dan benar saja, malam ini Dzaki tidak pulang. Hana sejak tadi mondar mandir di ruang tamu, menggenggam gawainya, dan sesekali menyibak korden ketika ada deru mobil lewat.
"Mas Dzaki nggak jadi pulang ternyata? Dia kemana sih?" Hana sibuk dengan pikiranya.
Karena sudah lelah, ia terduduk lesu diatas sofa, membuka Whatsaapnya, story Dzaki menyebutkan "Party in Jakarta" dan mengabadikan potret resort mewah di pinggir pantai dengan lampu temaram indah.
"Mas Dzaki ke jakarta? Ya Allah, dia pergi sama siapa ke Jakarta?" tiba-tiba saja perasaan Hana mendadak kalut.