NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Bocah

Transmigrasi Menjadi Bocah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:35.7k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.

Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.

​Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.

​"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.

"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.

"Om?"

Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

Pagi itu rumah besar keluarga Sean terasa sedikit berbeda. Tidak terlalu sunyi, meskipun para pelayan tetap melakukan tugasnya seperti biasanya.

Queen berdiri di tengah ruang makan sambil membawa sebuah buku kecil bergambar makanan. Wajahnya nampak sangat serius. Seperti seorang jenderal yang sedang menyusun strategi perang.

"Misi kehangatan tahap enam," gumamnya pelan. Ia sebenarnya malas. Sangat malas. Karena rencana kali ini jelas membutuhkan tenaga. Banyak tenaga. Dan kesabaran.

Queen menatap dapur besar di ujung ruangan. Ia pun menghela napas panjang.

"Queen ingin Luca…"

Namun ia segera menggeleng.

Kalau rumah ini benar-benar hangat, mungkin semuanya akan lebih mudah. Mungkin Sean tidak akan menghalangi Luca lagi.

Dengan langkah mantap, Queen berjalan menuju ruang kerja Sean.

Tok!

Tok!

Tidak ada jawaban. Queen langsung membuka pintu.

Sean sedang duduk di balik meja besar dengan beberapa berkas terbuka dengan kacamata tipis bertengger di hidungnya.

"Kau tidak diajari mengetuk sampai diizinkan masuk?" tanyanya datar.

"Queen sudah mengetuk kok!"

"Itu bukan izin."

"Tapi Queen sudah masuk."

Sean terdiam. Logika bocah itu selalu menyebalkan. Dan ya, Sean tetap mengalah tanpa protes.

"Ada apa?" tanyanya akhirnya.

"Hari ini kita memasak."

"Apa?"

"Kita buat cookies. Em maksud Queen, paman yang buat," lanjut Queen penuh keyakinan.

"Kau bicara padaku?" Sean menunjuk dirinya sendiri dan hampir mengira ia salah dengar.

"Iya."

"Aku punya pekerjaan."

"Program kehangatan tidak boleh ditunda," jawab Queen cepat sambil membuka buku resepnya.

Sean menghela napas panjang. Ia bahkan sudah membuka mulut untuk menolak. Namun entah kenapa, bayangan Queen menangis dalam tidur semalam muncul di kepalanya.

Ia menutup berkas.

"Aku hanya punya satu jam."

Queen tersenyum lebar.

"Itu cukup!"

Sepuluh menit kemudian, mereka berdua sudah berada di dapur. Hyera yang baru saja bangun, hampir menjatuhkan cangkir kopinya.

"K—kalian sedang membuat ulah apalagi?!" Suara teriakannya menggema di dapur.

Hyera terkejut melihat Sean berdiri di sana dan memakai apron. Apron putih polos yang jelas terlalu kecil untuk tubuh tingginya.

Queen yang memakaikannya tadi bahkan harus berdiri di kursi.

"Diam," kata Sean dingin.

Hyera menunjuk sang kakak dengan tangan gemetar. "Aku harus mengabadikan momen spesial ini."

"Coba saja kalau berani!" ancam Sean tanpa menoleh.

Hyera langsung menyimpan ponselnya dan mengurungkan niat untuk memotret.

"Ya Tuhan… aku bermimpi atau dunia mau kiamat?" gumamnya.

Queen berdiri bangga di samping Sean. "Bibi lihat, Paman jadi asisten Queen."

Sean memejamkan mata sebentar. "Aku CEO," gumamnya pelan.

"Hari ini asisten," balas Queen cepat.

Hyera menahan tawa. Ini benar-benar pemandangan langka. Andai saja kedua orangtuanya ada di sini mereka pasti juga ikut tertawa.

Queen mulai membaca resep.

"Kita butuh tepung."

Sean langsung mengambil satu wadah besar.

"Itu gula, Kak!" komentar Hyera santai.

Sean berhenti. Menatap wadah itu. Lalu menatap Queen.

"Kau sengaja mengerjaiku?"

Queen mengangkat bahu polos. "Queen juga tidak tahu."

Sean mendesah panjang. Lima menit pertama berjalan dengan kacau. Tepung tumpah ke meja. Mentega terlalu keras karena lama berada di kulkas.

Dan saat Queen meminta telur, Sean memecahkannya terlalu kuat.

Isi telur jatuh bersama pecahan kulit. Hyera akhirnya tak tahan dan tertawa keras.

"Dia tidak pernah masuk ke dapur selama hidupnya," ejeknya lirih.

Sean menatapnya dingin. "Untuk apa aku ke dapur? Aku bisa membayar orang untuk melakukan hal bodoh seperti ini."

"Makanya Paman dingin dan ketus," sahut Queen.

Sean hampir tersedak. Ia menatap bocah itu.

Queen sudah mencampur adonan dengan penuh semangat, wajahnya sedikit belepotan tepung.

Tanpa sadar, sudut bibir Sean terangkat. "Berikan itu," katanya sambil mengambil mangkuk.

Gerakannya kaku di awal. Namun perlahan, ia mengikuti arahan Queen.

"Pelan-pelan, Paman," kata Queen.

"Kau banyak bicara!"

"Karena Paman tidak pintar."

Hyera langsung berbalik pura-pura sibuk agar Sean tidak melihatnya menahan tawa.

Beberapa saat kemudian, adonan berhasil dibuat. Queen bersorak kecil.

"Hore, kita berhasil!"

Sean melihat tangannya yang penuh tepung.

"Ini berhasil?"

"Belum. Kita tinggal membentuknya." Queen mengambil sedikit adonan dan membuat bentuk hati kecil.

Sean memperhatikannya. Ia mencoba meniru. Namun bentuknya malah seperti batu penyok.

"Itu apa, Kak? Kenapa aneh sekali?" tanya Hyera.

Sean menatap dingin. "Modern art."

Queen tertawa keras. Tawa itu memenuhi dapur. Tanpa sadar, Sean ikut tersenyum.

Benar-benar tersenyum.

Hyera membeku. Ia bahkan hampir menangis melihatnya.

"Aku tidak salah lihat kan? Kakakku tersenyum?" batinnya.

Cookies akhirnya masuk oven.

Mereka menunggu di meja dapur. Sementara, Queen duduk sembari mengayunkan kaki.

"Apa Paman senang?"

Sean tidak langsung menjawab. Ia melihat dapur yang berantakan. Tepung di lantai. Sendok berserakan. Hyera yang masih terkikik.

Biasanya ia akan marah besar.

Namun sekarang tidak.

"Lumayan," jawabnya singkat.

Queen tersenyum puas. Akhirnya usahanya tak berakhir sia-sia. Ia sudah tak sabar ingin kembali ke villa Luca.

Tak lama, aroma manis memenuhi ruangan. Saat oven dibuka, sebagian cookies ternyata gosong.

Queen melongo. Hyera langsung tertawa lagi.

Sean mengangkat satu cookies hitam itu. "Kita berhasil membunuh makanan," komentarnya datar.

Queen cemberut sembari melipat kedua tangan. "Itu salah oven."

Sean mencicipinya sedikit.

Hyera menunggu reaksi sang kakak dan Queen juga.

"Rasanya sangat mengerikan."

Queen langsung panik. "Kalau begitu jangan dimakan!"

Sean mengambil satu lagi. Meski rasanya buruk, ia tetap menggigit.

"Queen bulang jangan di makan, kenapa Paman keras kepala sekali?" tanya Queen bingung.

Sean menatapnya sebentar. Lalu berkata, "Karena kau yang membuatnya. Sayang kalau dibuang begitu saja"

Jawaban sederhana itu membuat Queen dan Hyera terdiam.

"Apa dia sedang menggombaliku?" gerutu Queen dalam hati.

1
tinie
ditunggu kabar baiknya
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁
Senja: Siappppp🤭
total 1 replies
partini
luca dah bangun dari semedi udah dapat Ilham 🤣🤣🤣
Tiara Bella
wow Luca KY anak remaja lg LG jatuh cinta ya.....makasih Thor up nya triple.....
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Maria Hedwig Roning
thnks thor ceritanya sangat menarik...
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ: Lanjut thor, seru and semangat ya💪
total 2 replies
Murni Dewita
double up donk thor
Senja: Heheh, udah triple up hari ini kak🤭 besok ya up seperti biasa 3bab
total 1 replies
partini
good
partini
luca lagi semedi kah Thor
Senja: Hooohh
total 1 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Senja: Siappp
total 1 replies
Ita Xiaomi
Aku jg mau kue gosongnya 😁
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣.
Evi Marena
wkwkwkwwkk
ternyata Sean juga manusia biasa😌
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Kinara Widya
atau jangan2 Edgar dulu yg mencelakai orang tua queen....bakal ribet ni klo benar Edgar...
Ita Xiaomi: Berharap bukan Edgar. Kasihan nanti Sean, Queen ama Luca.
total 1 replies
Tiara Bella
wow Sean sangat mengharukan ...
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
tinie
mulut naga katanya🥺😁😄
Ita Xiaomi
Sama aja kalian berdua tuh kan sama-sama baru belajar tentang kehangatan 😁.
Ita Xiaomi
Sabar Luca. Ini Sean lg belajar menjd hangat😁. Ndak boleh panas.
Ita Xiaomi
Msh mencerna😁
Senja: Wkwkw😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!