NovelToon NovelToon
Melati Diantara Lima Cinta

Melati Diantara Lima Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.

Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.

Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.

Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: MASUKNYA ELANG INGGRIS

Gedung residen berdiri seperti potongan dunia lain di tengah tanah yang tidak pernah memintanya ada.

Dinding putih tinggi, jendela besar, lampu gantung yang memantulkan cahaya seperti bintang buatan manusia. Di halaman depan, kereta-kereta berbaris rapi, kuda disikat mengilap, para pelayan berlari kecil dengan kepala menunduk.

Di luar pagar besi, dunia yang berbeda bergerak.

Laki-laki pribumi memanggul batu. Perempuan mengangkut pasir. Anak-anak duduk di pinggir jalan dengan mata yang terlalu tua untuk usia mereka. Cambuk tidak selalu dipakai, tetapi keberadaannya cukup untuk membuat punggung tegak dalam kelelahan.

Jalan baru sedang dibangun.

Untuk kemajuan.

Untuk kekuasaan.

Untuk orang yang tidak berjalan tanpa sepatu.

Melati berdiri di ruang belakang gedung residen, jantungnya berdetak tidak seirama dengan musik dari aula utama.

Ia tidak seharusnya berada di tempat seperti ini. Bahkan udara terasa mahal. Kain yang ia kenakan—sutra kiriman itu—membungkus tubuhnya seperti sesuatu yang bukan miliknya.

Ibunya membantu memakaikannya dengan tangan gemetar.

“Jangan bicara banyak,” pesan ayahnya. “Jawab jika ditanya. Jangan menolak jika disuruh duduk.”

Nasihat sederhana yang terdengar seperti panduan bertahan hidup.

Seorang pelayan perempuan merapikan rambut Melati tanpa menatap wajahnya. Sentuhan cepat, profesional, seperti merawat properti.

“Residen memanggil,” katanya singkat.

Melati mengangguk.

Langkahnya terasa ringan dan berat sekaligus.

Ketika pintu aula dibuka, cahaya dan suara menelannya.

Jamuan malam itu penuh bahasa yang Melati tidak mengerti, tawa yang terdengar terlalu tajam, dan gelas kristal yang berbunyi seperti sesuatu yang rapuh.

Para pejabat Belanda berdiri berkelompok. Priyayi duduk dengan postur tegak yang dilatih sejak kecil. Perempuan Eropa mengenakan gaun berlapis, aroma parfum bercampur dengan bau daging panggang.

Melati merasa seperti titik kecil di lukisan besar.

Tatapan datang.

Ia sudah terbiasa.

Namun tatapan malam itu berbeda—lebih penasaran, lebih politis, lebih dingin.

“Ah,” suara residen terdengar. “Gadis itu datang.”

Ia dipersilakan duduk tidak terlalu dekat dengan meja utama, tetapi cukup dekat untuk terlihat.

Cukup dekat untuk menjadi simbol.

Willem belum datang.

Namun bayangannya ada di setiap bisik.

“Anak pangeran Belanda,” seseorang berbisik.

“Gadis desa.”

“Masalah.”

Melati menunduk, jemarinya saling menggenggam di pangkuan.

Di luar jendela, suara palu terdengar samar. Jalan masih dibangun bahkan ketika jamuan berlangsung.

Dua dunia berdampingan tanpa pernah benar-benar bertemu.

Keributan kecil di pintu membuat ruangan berubah.

Bukan gaduh—lebih seperti gelombang perhatian yang berpindah serempak.

Para pejabat berdiri.

Nada suara berubah lebih hati-hati.

Seorang laki-laki masuk dengan langkah yang tidak terburu-buru, tetapi semua orang menyesuaikan diri terhadapnya.

Ia tidak perlu tinggi untuk terlihat dominan. Ia membawa keyakinan yang membuat ruang seolah miliknya.

Raja Edward.

Bukan raja di tanah ini. Namun kekuasaan tidak selalu membutuhkan mahkota di tempat yang sama.

Residen mendekat cepat, tersenyum terlalu lebar.

“Kehormatan besar, Yang Mulia.”

Edward tersenyum tipis, mata mengamati ruangan seperti pemain catur melihat papan.

“Belanda selalu pandai membuat pesta di tanah orang lain,” katanya ringan.

Beberapa tertawa sopan.

Tatapannya bergerak.

Berhenti.

Pada Melati.

Tidak lama.

Namun berbeda dari tatapan Willem.

Willem melihat seperti memilih. Edward melihat seperti menghitung.

Ia berjalan mendekat perlahan.

Residen segera memperkenalkan.

“Seorang… tamu khusus.”

Edward berdiri di depan Melati.

“Kau yang membuat banyak orang gelisah.”

Nada suaranya halus. Hampir hangat. Tetapi ada sesuatu di bawahnya—minat yang tidak sederhana.

Melati menunduk.

“Saya hanya orang desa, Tuan.”

Edward tersenyum lebih jelas.

“Orang desa jarang diundang ke meja kekuasaan.”

Ia duduk tanpa diminta, cukup dekat untuk membuat Melati sadar semua orang memperhatikan.

“Apa kau tahu siapa aku?” tanyanya.

Melati menggeleng kecil.

“Bagus,” katanya. “Orang yang tidak tahu biasanya lebih jujur.”

Ia mengambil gelas anggur, memutar cairan merah seperti sedang berpikir.

“Aku mendengar seorang pangeran Belanda tertarik padamu.”

Sunyi kecil muncul di sekitar mereka. Percakapan lain tetap berjalan, tetapi telinga banyak orang berada di meja itu.

Melati tidak menjawab.

Edward tampak menikmati diamnya.

“Kekuasaan,” katanya pelan, “sering ditunjukkan lewat hal kecil. Tanah. Perjanjian. Atau… seseorang.”

Melati merasakan kalimat itu bukan percakapan biasa.

“Apakah kau ingin berada di sini?” tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan sederhana. Sulit.

Melati menatap meja.

“Saya datang karena dipanggil.”

Edward tertawa kecil.

“Jawaban yang aman.”

Ia memberi isyarat. Seorang pelayan membawa kotak kecil. Dibuka di depan Melati.

Perhiasan. Lebih besar. Lebih mencolok. Batu berkilau yang memantulkan cahaya lampu seperti api kecil.

“Inggris selalu membawa hadiah yang lebih baik,” katanya santai.

Bukan untuk Melati.

Untuk ruangan.

Untuk siapa pun yang mendengar.

Beberapa pejabat Belanda menegang tipis.

Melati tidak menyentuhnya.

“Cantik,” kata Edward. “Seperti simbol.”

Melati menelan.

“Saya tidak mengerti politik, Tuan.”

“Tidak perlu,” katanya lembut. “Orang lain mengerti untukmu.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit.

“Apa Willem baik padamu?”

Pertanyaan itu terdengar pribadi. Namun ada ketajaman di baliknya.

Melati menjawab hati-hati.

“Saya belum mengenalnya.”

Edward mengangguk, seolah itu jawaban yang ia harapkan.

“Orang Belanda sering mengira sesuatu yang mereka lihat adalah milik mereka,” katanya ringan, tetapi cukup keras untuk didengar meja sebelah.

Residen tersenyum kaku.

Edward menatap Melati lagi.

“Aku tidak suka kebiasaan itu.”

Kalimat itu melayang di udara sebagai pernyataan yang lebih besar dari seorang gadis.

Di luar, suara batu jatuh terdengar lebih keras seolah malam ikut mendengar.

Jamuan berlanjut.

Edward berbicara tentang pelabuhan, perdagangan, jalur laut, angka-angka yang terdengar seperti bahasa lain. Ia tertawa, memuji, mengkritik—semuanya dengan keanggunan seseorang yang tahu kekuasaan tidak perlu dinaikkan suaranya.

Sesekali ia kembali ke Melati.

Pertanyaan kecil. Senyum kecil. Perhatian yang tidak pernah terasa polos.

“Kau suka sungai?”

“Kau pernah melihat laut?”

“Kau takut pada istana?”

Pertanyaan yang tampak sederhana. Namun setiap jawaban seperti dicatat.

Melati mulai memahami.

Ia bukan tamu. Ia bagian dari permainan.

Di luar jendela, lampu obor pekerja bergerak seperti kunang-kunang yang lelah. Jalan itu akan selesai. Orang-orang akan pergi. Kekuasaan akan tetap.

Edward mengikuti arah pandangan Melati.

“Mereka membangun sesuatu yang tidak akan mereka miliki,” katanya pelan.

Melati berani menjawab kali ini.

“Mereka membangun karena disuruh.”

Edward tersenyum tipis.

“Dan yang menyuruh merasa hebat.”

Ia menatap Melati lagi.

“Aku lebih suka membuat orang ingin datang.”

Perbedaan metode. Tujuan sama.

Melati merasakannya.

“Kau tidak perlu takut pada Willem,” lanjut Edward. “Dunia lebih luas dari satu pangeran.”

Kalimat itu terdengar seperti tawaran.

Atau peringatan.

“Aku tidak mencari dunia luas, Tuan,” kata Melati pelan. “Saya hanya ingin hidup tenang.”

Edward menatapnya lama.

“Orang seperti kau jarang dibiarkan tenang setelah terlihat,” katanya.

Itu bukan ancaman.

Itu fakta.

Malam semakin larut. Musik melambat. Gelas kosong bertambah.

Willem belum datang.

Namun namanya ada di setiap percakapan kecil yang berhenti saat Edward lewat.

Dua kekuasaan yang tidak perlu bertemu untuk saling menantang.

Edward berdiri akhirnya.

“Katakan pada Willem aku menikmati… seleranya.”

Kalimat itu membuat beberapa orang menahan napas.

Ia menoleh ke Melati terakhir kali malam itu.

“Burung kecil sering terbang lebih jauh dari yang diperkirakan,” katanya lembut. “Terutama jika sangkar berubah pemilik.”

Ia pergi.

Dan ruangan terasa berbeda.

Ketika jamuan selesai, Melati keluar melalui pintu samping.

Udara malam lebih jujur.

Ia berhenti di pagar.

Para pekerja masih ada. Duduk di tanah. Punggung penuh debu. Beberapa makan nasi dingin dari daun pisang. Tidak ada musik. Tidak ada lampu kristal.

Seorang anak kecil menatap gedung dengan mata kosong.

Melati memegang kain sutranya. Kilau itu terasa berat.

Di dalam, orang berbicara tentang kekuasaan seolah permainan. Di luar, tubuh membayarnya.

Langkah kaki pelayan memanggilnya kembali ke kereta.

Melati menoleh sekali lagi ke jalan yang sedang dibangun.

Ia mulai mengerti: dirinya juga sedang dibangun menjadi sesuatu.

Simbol. Perebutan. Bukti.

Bukan karena ia meminta.

Malam itu, elang Inggris tidak hanya datang ke wilayah itu.

Ia menandai langit.

Dan Melati merasakan sesuatu yang baru—bukan sekadar takut pada satu pangeran, tetapi pada permainan besar di mana dirinya menjadi bidak yang terlihat terlalu jelas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!