Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerjakan Tugasku!
Di tengah penjelasan dosen yang dingin dan monoton, tatapan Naomi kosong. Pena di tangannya bergerak pelan, tapi pikirannya melayang jauh. Ia menyadari satu hal dengan jelas ia tidak mungkin melakukan semuanya sendirian.
Badai salju yang akan datang, perlindungan, persiapan dan sekarang kehidupan kampus. Naomi membutuhkan bantuan. Dan orang-orang yang paling ia percayai ada di sekelilingnya.
Yura yang duduk di sampingnya menyadari perubahan itu. Ia menyenggol bahu Naomi pelan dan berbisik,
“Naomi, ada apa? Sejak tadi kamu melamun.”
Naomi tersentak kecil. Ia menoleh, lalu menggeleng cepat. “Tidak apa-apa.”
Namun dosen di depan kelas sudah menyipitkan mata tajam ke arah mereka.
“Mahasiswi di baris tengah.” suaranya dingin menusuk, “jika tidak tertarik mengikuti perkuliahan, silakan keluar.”
Yura dan Naomi langsung menegakkan badan. Jantung mereka menegang.
Untungnya, sebelum dosen itu melanjutkan omelannya, bel penanda akhir mata kuliah berbunyi nyaring.
“Baik. Kelas selesai,” kata dosen itu datar, lalu berbalik tanpa menoleh lagi.
Tanpa menunggu sedetik pun, Timmy sudah berdiri dan menarik Naomi. “Ayo, sebelum beliau berubah pikiran dan mengejar kita.”
Sonya ikut tertawa kecil sambil berdiri. “Aku lapar. Kita ke kantin, ya.”
Mereka bertiga langaung menyeret Naomi keluar dari kelas.
Kantin Fakultas Bisnis dan Ekonomi sudah ramai. Suara obrolan, denting sendok, dan langkah kaki bercampur menjadi satu. Setelah berkeliling sebentar, mereka akhirnya menemukan satu meja kosong di sudut.
Begitu duduk, Timmy langsung menyingsingkan lengan bajunya. “Oke, kalian pesan apa saja?”
Yura menjawab cepat, “Aku sandwich.”
“Wrap,” tambah Sonya singkat.
Naomi berpikir sejenak. “Salad bar.”
“Aku sup tomat dan roti gandum,” tutup Timmy.
Timmy mengangguk, lalu memanggil pelayan.
Begitu Timmy pergi, Yura langsung menatap Naomi serius. “Sekarang, jujur. Ada apa? Dari tadi kamu tidak fokus.”
Sonya ikut mencondongkan tubuh. “Iya. Kamu kelihatan seperti memikirkan sesuatu yang berat.”
Sebelum Naomi sempat menjawab, Sonya berceletuk setengah bercanda, “Jangan-jangan kamu menyesal keluar dari keluarga Elios?”
Timmy yang baru kembali dan mendengar itu langsung menimpali, “Atau jangan-jangan kamu cemburu sama Viviane?”
Naomi langsung melotot. “Tentu saja tidak.”
Ketiganya terdiam.
“Aku justru lega bisa keluar dari sana,” lanjut Naomi dingin.
Yura mengangkat alis. “Kalau begitu, kenapa kamu melamun?”
Naomi terdiam. Tangannya mengepal perlahan di atas meja. Baru saja ia membuka mulut tiba-tiba.
“Naomi.”
Suara perempuan terdengar tajam.
Empat orang gadis sudah berdiri di sisi meja mereka. Yura, Sonya, dan Timmy langsung memasang ekspresi tidak senang.
Di barisan paling depan berdiri Viola adik Erick. Di belakangnya, tiga temannya berdiri dengan wajah meremehkan.
Tanpa salam, tanpa basa-basi, Viola meletakkan setumpuk buku tebal di meja Naomi dengan suara yang keras.
Brug!
“Kerjakan tugas-tugas ini. Sekalian punyaku dan punya mereka.”
Viola menyilangkan tangan. “Aku belum sempat mengerjakannya karena kamu, tahu? Gara-gara kamu kritis di rumah sakit, tugasku jadi tertunda. Jadi, kamu harus kerjakan semuanya sekarang nuga. Aku tidak mau tahu.”
Naomi menatap buku-buku itu sekilas. Tatapannya dingin. Ia tidak mengatakan apa pun.
Viola mengernyit kesal. Biasanya, Naomi akan langsung mengambil buku-buku itu dan mengerjakannya bahkan sambil melewatkan makan siang.
“Kamu tuli?” bentak Viola. “Kerjakan tugasku sekarang juga.”
Naomi mendongak perlahan. Matanya tajam, suaranya datar. “Apa kamu bodoh? TidK punya tangan dan otak?” tanya Naomi balik.
“Sampai tugas seperti ini pun tidak bisa kamu kerjakan sendiri,” lanjut Naomi tenang.
Viola terkejut. “Apa?!”
Tanpa ragu, Naomi menggeser buku-buku itu ke tepi meja hingga semuanya jatuh ke lantai.
Bruk.
Pada saat yang sama, pelayan datang membawa pesanan. Naomi langsung mengambil mangkuk saladnya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Viola membelalak. “Naomi! Apa yang kamu lakukan?!”
Naomi menatapnya malas. “Ada sampah di mejaku. Jadi sudah seharusnya aku menyingkirkannya.”
Wajah Viola memerah. Tangannya mengepal kuat. “Kurang ajar!”
Ia mengangkat tangannya hendak menampar Naomi.
Namun sebelum tangan itu menyentuh wajahnya, Naomi sudah lebih dulu menangkapnya dengan satu tangan, sambil tetap duduk dan menyuap makanannya.
Viola terkejut. “Lepaskan aku!”
Ia berusaha menarik tangannya, tapi genggaman Naomi seperti besi.
“Lepaskan aku, sialan!” teriak Viola panik.
Dengan tenang, Naomi menyentak tangan Viola dan melepaskannya. Tubuh Viola terdorong mundur dua langkah, membuatnya meringis dan hampir kehilangan keseimbangan.
Suasana kantin berubah hining. Baru kali ini mereka melihat Naomi memperlakukan Viola seperti itu. Biasanya Naomi si bodoh akan mengerjakan apa yang diperintahkan Viola demi mendapatkan kepercayaan dan dukungan antara hubungannya dengan Erick.
Viola semakin murka. Tangannya yang semula mencengkeram lengan salah satu temannya dilepaskan dengan kasar. Dadanya naik turun menahan amarah. Harga dirinya terasa diinjak-injak oleh Naomi, terlebih di hadapan begitu banyak murid yang kini mulai memperhatikan mereka.
Dengan langkah lebar, Viola maju dan menggebrak meja tempat Naomi duduk.
Brak!
“Berani sekali kamu,” desisnya tajam.
Sebelum siapa pun sempat bereaksi, Viola meraih mangkuk salad milik Naomi dan menumpahkannya tepat ke atas kepala gadis itu. Daun selada dan saus mengotori rambut serta seragam Naomi.
“Hei!” ketiga teman Naomi serempak bangkit, wajah mereka dipenuhi amarah.
Namun Naomi mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka diam. Ekspresinya tetap tenang, nyaris acuh. Ia perlahan membersihkan sisa salad di rambut dan bahunya, lalu berdiri. Tatapannya mengeras saat menatap Viola.
Viola menyeringai penuh tantangan. “Kenapa? Mau marah?” ejeknya. “Harusnya aku yang marah!”
Naomi terkekeh kecil, sinis. “Kau yang marah?” katanya datar. “Kamu benar-benar bodoh, ya.”
Viola terdiam sesaat, tidak menyangka kata itu keluar dengan begitu ringan.
“Pantas saja kamu sering menyuruhku mengerjakan tugas-tugasmu,” lanjut Naomi tanpa mengalihkan pandangan. “Harusnya yang marah itu aku. Kamu itu siapa aku, sampai merasa berhak memerintahku, hm?”
Ia sedikit memiringkan kepala. “Bahkan joki tugas pun dibayar. Lalu kamu? Apa yang kamu berikan?”
Wajah Viola memerah. Amarahnya meledak.
“Kurang ajar!” bentaknya. “Awas saja. Aku akan mengadukanmu pada kakakku. Biar semua orang tahu siapa kamu sebenarnya. Aku pastikan kamu akan dibenci oleh Kal Erick!”
Viola tersenyum puas, yakin ancaman itu akan membuat Naomi gentar.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Naomi tersenyum tipis dan dingin. “Silakan,” ujarnya santai. “Katakan pada kakakmu. Katakan juga bagaimana adiknya yang bodoh ini sering menyuruhku mengerjakan semua tugasnya bahkan tugas ketiga temannya yang sama bodohnya.”
“Apa?!”
Viola dan ketiga temannya langsung tersinggung. Dua orang temannya maju selangkah, sementara satu lainnya menunjuk Naomi dengan marah.
“Kamu bilang siapa bodoh?!” hardik salah satu dari mereka. “Coba ulangi!”
Naomi menatap mereka tanpa gentar. “Kalian ....” Naomi menatap keempat gadis itu bergantian lalu berkata, “Bodoh! Bodoh! Bodoh!” ulamg Naomi santau.
kedua orang tua dan Kaka Naomi suatu saat hancur dan akan menyesal telah memilih ular seperti Viviane itu
tp kek mana kira2 nnti reaksi max ya klo tau mobil yg baru di beli di rusak carlos hadeh apa g mikir tuh belakangnya naomi ada siapa 🙈🙈🙈
udh di bilang naomi bukan bodoh lagi ehhh masih cari gara2
batu nya sebesara pa ya 🤔🤔🤔
emng msti gtu kl ngsih pljran sm orng dungu....kl prlu,lmpar aja sklian sm orangnya....bkin ksel aja......
hiiiihhhhh.....pgn getok....