Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11# Keberanian di Ujung Tanduk
di camp Saka terasa sangat sunyi, namun bagi Harry, kesunyian ini terasa berbeda. Ia berdiri di dekat tumpukan logistik, menatap sepuluh remaja yang kini memenuhi rumahnya. Ada yang sedang mengobrol, ada yang merapikan senjata, dan ada Naya yang sedang fokus membantu Cicilia menjaga Leo.
Harry merasakan dejavu yang sangat kuat. Memorinya terlempar ke sembilan tahun lalu, saat timnya masih lengkap. Suasana ramai seperti ini adalah hal yang paling ia rindukan, namun juga hal yang paling ia takuti karena mengingatkannya pada kehilangan yang pedih.
Zephyr mendekati Harry, melihat tatapan kosong pria tua itu. Ia bisa melihat di mata Harry ada kesedihan pahit yang sangat dalam, namun ada binar kebahagiaan dan harapan baru karena camp ini tidak lagi sepi. "Kau terlihat seperti sedang melihat masa lalu," ucap Zephyr pelan.
Harry tersenyum tipis. "Hanya merasa lega, Zephyr. Aku tidak lagi sendirian."
Tak lama kemudian, Arlo muncul dengan wajah yang sangat pucat. Ia memberi isyarat agar Harry dan Zephyr menjauh dari kerumunan. Di sudut gua yang gelap, Arlo berbisik, "Pelindung ini... tidak akan lama lagi akan hilang. Energinya kritis."
"Berapa lama lagi?" tanya Harry tegang.
"Aku tidak tahu pasti, tapi sangat segera," jawab Arlo. "Hanya kita bertiga yang tahu. Jangan beritahu yang lain, aku tidak mau mereka panik di saat Leo masih dalam pemulihan."
Namun, tanpa mereka sadari, Rick dan Dokter Luz muncul dari balik pilar batu. Mereka ternyata mendengar pembicaraan rahasia itu.
"Menyembunyikan fakta bahwa benteng kita akan runtuh bukan gaya kepemimpinan yang baik, Arlo," ucap Rick dengan nada tegas namun gelisah. Jiwa kepemimpinannya sama kuatnya dengan Arlo, tapi ia lebih tak sabaran.
Dokter Luz pun tampak sangat gelisah. "Tanpa energi baru, kita semua tamat."
Tiba-tiba, Naya melangkah maju dari bayang-bayang. Rupanya dia juga menguping. "Tunggu! Waktu kita di laboratorium kemarin, aku sempat mengambil sebuah barang." Naya mengeluarkan sebuah tabung kristal aneh dari tasnya. "Aku tidak tahu ini apa, tapi kelihatannya sangat penting."
Mata Dokter Luz membelalak. "Ini... ini adalah inti energi Flux! Naya, kau luar biasa! Benda ini bisa membuat energi baru untuk pelindung kita!"
Rick, dengan sifatnya yang berjiwa pemimpin tapi lebih gegabah, langsung meraih tombaknya. "Bagus! Berikan padaku, aku akan memasangnya sekarang juga di panel luar!"
"Jangan, Rick!" Naya menahannya. "Di luar tidak aman sekarang, dan kau tidak tahu cara menyambungkan sirkuitnya!"
"Biar aku saja yang ambil risiko!" seru Rick keras kepala.
"Tidak!" Dokter Luz melarang keras. "Hanya Naya yang cukup cerdas untuk memahami diagram sirkuitnya di bawah arahanku."
Zephyr akhirnya menengahi, "Besok pagi saja kita pasang. Saat ini kabut terlalu pekat. Kita butuh rencana pengawalan."
Keesokan paginya, suasana Saka dipenuhi ketegangan. Arlo, Zephyr, Harry, Rick, dan Cicilia keluar dari mulut gua untuk melindungi Naya dan Dokter Luz yang akan memperbaiki panel energi di luar. Rick sebenarnya melarang Cicilia ikut karena bahaya, tapi Cicilia yang keras kepala tetap memaksa ikut demi melindungi temannya.
Baru beberapa menit Naya membongkar panel, seekor Phenix Omega raksasa muncul dari balik kabut secara mendadak.
Monster itu mengamuk hebat. Terjangannya membuat Arlo, Zephyr, Rick, dan Harry terkapar. Harry terlempar menghantam batu, sementara Zephyr kehilangan keseimbangan. Bahkan Cicilia pun terlempar jauh hingga busurnya terlepas. Mereka semua kehabisan energi dan tergeletak di tanah, berusaha mengumpulkan kesadaran.
Monster itu, melihat musuh-musuhnya tumbang, mulai berjalan pelan ke arah Naya dan Dokter Luz yang masih fokus memperbaiki panel. Keduanya gemetar, terpaku menatap maut yang mendekat.
Tiba-tiba, seorang remaja berlari keluar dari dalam gua dengan teriakan yang memecah kesunyian.
"PERGI DARI MEREKA!!!"
Itu adalah Rayden. Dengan sifatnya yang penakut, Rayden justru melakukan hal paling gila. Ia membawa sebuah tabung gas kecil yang sudah dipasangi api dan potongan besi tajam milik Arlo. Rayden melompat ke punggung monster itu, menghantamkan tabung gas ke arah kepalanya hingga meledak kecil, lalu menghujamkan besi itu berkali-kali ke leher monster tersebut dengan tenaga sisa ketakutannya.
Monster itu mengerang dan akhirnya jatuh mati. Rayden jatuh terduduk, napasnya memburu, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ia berhasil menyelamatkan mereka semua.
Naya segera menekan tombol terakhir. BZZZZZZT! Perisai listrik biru yang sangat kuat menyala kembali, menyelimuti tebing Saka dengan energi yang lebih stabil dari sebelumnya.
Mereka semua segera masuk kembali ke dalam camp dengan langkah lemas namun lega. Keberanian Rayden menjadi pembicaraan hangat di antara mereka. Setelah semua tenang kembali dan Leo mulai membaik. Arlo, Zephyr, Rick, dan Harry duduk melingkar di dekat perapian.
Mereka tidak lagi meributkan perisai. Fokus mereka kini menyatu. "Kita tidak bisa selamanya di sini," ucap Rick sambil menatap Arlo.
"Ya," sahut Arlo. "Saka sudah aman untuk sementara, tapi tujuan kita adalah keluar dari dunia sialan ini. Kita harus menyusun rencana ke Menara."
Keempatnya mulai berdiskusi secara serius, menyatukan kekuatan dan pengalaman masing-masing untuk satu misi terakhir: Menyerang jantung dari hutan ini.