Jessica yang mati penuh penyesalan tiba-tiba kembali ke umur 19 tahun dengan membawa semua ingatannya di kehidupan yang telah ia lalui.
Kali ini, dia tidak akan ditindas lagi, dia akan bersinar dan mendapatkan kebahagiaannya sendiri.
"Bagaimana bisa Jessica tahu ada racun di minuman itu?"
"Jessica mendapat nilai sempurna? Bukankah dia selalu peringkat akhir?"
"Aku tidak akan membiarkan Jessica mengambil posisiku, lihat saja, aku akan memberinya pelajaran!"
"Heh! Mau menindasku? Tidak! Jessica kali ini bukan lawan yang sepadan untukmu! Jangan macam-macam kalau tidak mau menyesal!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Kesulitan apa yang dialami Jessica
Setelah pernikahan selesai, para keluarga langsung bercerai berai dari tempat itu seolah-olah tidak ada lagi yang perlu dilakukan.
Nyonya Sanjaya yang melihat tempat yang sepi akhirnya berdiri, ia menatap Nolan yang sedang membantu Jessica memperbaiki gaunnya.
"Kau yakin anak di kandungan Jessica itu anakmu?" Tanya Nyonya Sanjaya dengan ketidak kenangan terukir indah di wajahnya.
"Ibu," Suara Nolan tegas, dingin dan penuh peringatan pada ibunya agar tidak membahas hal yang tidak menyenangkan itu lagi.
Jelas-jelas ketika dia dan Jessica tidur bersama, Jessica masih seorang gadis, dan setelah mereka berpisah, Jessica tidak pernah berkenalan dengan satu pun laki-laki, jadi tidak mungkin Jessica menghianati nya.
"Nolan," nyonya sanjaya berusaha sabar, "kita akan melakukan tes DNA setelah usia kandungannya menginjak 7 bulan!" Tegas Nyonya Sanjaya lalu melangkah meninggalkan putranya tanpa mengubah mimik wajahnya.
Luna menggigit bibir bawahnya melihat kepergian nyonya Sanjaya, 'pernikahannya tetap saja berlangsung, tapi ku harap anak itu benar-benar bukan anak Nolan, jadi mereka bisa segera bercerai!' pikir luna dalam hati.
"Ayah, kau baik-baik saja?" Jessica menghampiri tuan Sanjaya saat melihat pria itu tampak tidak baik-baik saja.
"Ini hanya sakit kepala biasa," kata sang ayah mertua.
'Di kehidupan sebelumnya saat berada di kapal pesiar, ketika itulah pria ini tumbang dan dilarikan ke rumah sakit lalu akhirnya mengalami koma, tidak pernah bangun selama beberapa waktu dan ketika bangun pun tubuhnya sudah menjadi cacat,' pikir Jessica dalam hati lalu menatap Nolan, "ayo kita bawa ayah ke rumah sakit, lakukan MRI pada kepalanya," ucap Jessica.
"Sudah kubilang, aku baik-baik saja, nanti setelah minum obat, sakit kepalanya juga menghilang," kata tuan Sanjaya sambil berdiri.
Jessica memberi tatapan tegas pada sang suami membuat Nolan akhirnya menganggukkan kepalanya lalu menatap asistennya, "bawa ayahku ke rumah sakit, lakukan sesuai yang dikatakan Jessica," kata Nolan.
"Baik," ucap sang asisten kemudian memapah tuan Sanjaya meninggalkan tempat itu.
'Aku harap jika pendarahan di otak nya diketahui lebih awal, maka dia akan baik-baik saja,' pikir Jessica dalam hati.
"Ayu pulang," ucap Nolan pada Jessica.
"Hm," Jessica mengganggukan kepala lalu melangkah pergi tanpa menghiraukan Nolan di belakangnya.
Nolan pun melangkah mengikuti Jessica, tetapi saat itu Luna yang masih tinggal langsung menghampiri Nolan dan menghentikan pria itu, "Tuan A baru saja menelpon, katanya besok dia akan langsung pergi ke luar negeri, jadi hari ini rapatnya--"
"Tidak lihat ini hari pernikahan ku? Kalau dia tidak menginginkan kerjasamanya, biarkan saja!" Kata Nolan lalu berjalan meninggalkan Luna dengan wajah yang tidak senang.
Luna menggertakkan giginya, 'ada apa dengannya? Semakin hari dia semakin bodoh, apakah dia masih Nolan yang kukenal?' gerutu Luna dalam hati.
Jessica yang mendengar suara di belakang pun kini tersenyum, dia tahu Luna akan melakukan sesuatu untuk segera memisahkan nya dengan Nolan, apalagi ini adalah hari pernikahan mereka, ini semua juga terjadi di kehidupan sebelumnya.
Tetapi jika dulu Nolan buru-buru pergi karena kerjasama yang takut batal itu, namun sekarang Nolan tampaknya berubah pikiran sehingga Jessica semakin yakin kalau dia bisa mengubah takdirnya.
"Hati-hati jalannya," kata Nolan sambil merangkul Jessica, memastikan Jessica tidak akan terpeleset apalagi di depan mereka ada tangga.
Jessica menatap Bolan, senyuman terukir di wajahnya ketika dia berkata, "kalau kau punya kerjaan mendesak, pergilah, aku baik-baik saja sendiri, sekarang mau pulang untuk tidur."
"Mana ada yang lebih penting dari mu dan anak kita," ucap Nolan yang terlalu cemas untuk membiarkan Jessica sendirian, bagaimanapun kejadian semalam membuatnya merasa tidak tenang.
"Terima kasih," kata Jessica.
Mereka pun kembali ke apartemen, dan sesuai katanya, Jessica yang merasa lebih mengantuk selama hamil langsung melepas gaunnya dan riasannya, perempuan itu membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan segera terlelap.
Sementara di dapur, Nolan membuat makanan untuk mereka dan setelah makanannya siap, Nolan pergi ke kamar untuk membangunkan Jessica, tetapi ketika itu ia melihat Jessica yang sedang tidur tampak gelisah, keringat memenuhi wajahnya yang pucat dan tangannya bergerak tak karuan seolah-olah mencari sesuatu.
Nolan dengan cemas menghampiri istrinya, dan begitu merasakan kedatangan suaminya, seketika Jessica langsung meraih tangan nolan yang terulur padanya lalu memeluknya dengan sangat erat.
"Jangan pergi..." Kata Jessica dalam ketidak saudaranya.
Wajah Nolan tampak begitu buruk melihat sang istri, dia pun berbaring dan menemani Jessica tidur, 'kesulitan apa yang sudah kau lalui hingga membuatmu tidak pernah nyaman dalam tidurmu?' pikiran Nolan dalam hati, dia berharap bisa mengetahui alasannya supaya membantu Jessica lepas dari trauma yang terbawa sampai tidur.