NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Gus Azkar

Istri Pilihan Gus Azkar

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.

Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.

Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

Ketukan keras di pintu kayu jati itu merobek kesunyian sepertiga malam di pojok sawah. Gus Azkar, yang baru saja hendak memejamkan mata setelah terjaga hampir sepanjang malam, langsung terduduk tegak. Ketukan itu bukan ketukan biasa; itu adalah ketukan darurat.

"Gus! Gus Azkar! Punten, Gus!" suara Ustadz Fadly terdengar panik dari luar.

Gus Azkar melirik jam dinding. Pukul tiga subuh. Ia segera memakai kembali baju kokonya dengan terburu-buru. Rina yang tidurnya mulai terusik pun ikut terbangun. Ia melihat suaminya tampak tegang.

"Ada apa, Mas?" tanya Rina serak, matanya masih

merah karena kurang tidur.

"Tetap di sini, Sayang. Mas cek depan sebentar," ujar Gus Azkar sambil mengecup kening Rina kilat.

Saat pintu dibuka, Gus Azkar mendapati Ustadz Fadly, Ustadz Bian, dan Ustadz Zidan berdiri dengan wajah pucat dan napas tersengal. Ustadz Zidan, yang biasanya tampak tenang, kali ini hanya bisa menunduk, tangannya mengepal—seolah sedang menahan rasa sakit hati dan kecewa yang mendalam atas keamanan pesantren yang jebol.

"Gus, gawat. Dua santri putra dan tiga santri putri kabur dari pondok. Kami baru saja mengecek absen tahajud dan kamar mereka kosong. Barang-barangnya juga raib," lapor Ustadz Bian cepat.

Gus Azkar menggeram. "Bagaimana bisa? Penjagaan di gerbang belakang ke mana?"

"Mereka lewat tembok samping yang sedang diperbaiki, Gus," jawab Fadly.

Mendengar keributan itu, Rina tidak bisa tinggal diam. Ia merasa tidak tenang jika ditinggal sendirian di rumah tengah sawah ini dalam kondisi seperti ini. Dengan cepat, ia menyambar mukena putihnya dan mengenakan cadar marunnya kembali. Ia keluar dari kamar dan berdiri di belakang Gus Azkar.

"Mas... aku ikut," ucap Rina lirih namun tegas.

Gus Azkar menoleh. "Di sini saja, Rina. Mas tidak akan lama, ini urusan laki-laki."

Rina menggeleng, ia memegang ujung baju koko Gus Azkar dengan erat. "Aku takut kalau di sini sendirian, Mas. Lagipula, kalau ada santri putri yang tertangkap, mungkin aku bisa membantu menenangkan mereka."

Gus Azkar terdiam sejenak. Ia melihat ketakutan di mata istrinya. Di sisi lain, Ustadz Zidan yang melihat Rina keluar dengan mukena dan cadar hanya bisa membuang muka. Rasa sakit di hatinya kembali berdenyut; wanita yang dulu ia harapkan kini benar-benar telah menjadi milik sahabatnya secara utuh.

"Ya sudah, ikut Mas. Tapi tetap di dalam mobil, mengerti?" putus Gus Azkar.

"Siap, Gus!" Ustadz Fadly menyela, mencoba mencairkan suasana. "Ayo cepat, sebelum mereka semakin jauh. Kabarnya ada yang melihat mereka menuju arah terminal lama."

Gus Azkar segera mengunci rumah. Ia menuntun Rina dengan protektif menuju mobil. Rina yang mengenakan mukena lengkap tampak seperti bayangan putih yang anggun di bawah cahaya lampu teras. Sepanjang jalan menuju mobil, Gus Azkar tidak melepaskan genggamannya pada tangan Rina, seolah tidak peduli pada tatapan Ustadz Zidan yang terus mengawasi dari kejauhan.

Pengejaran di sepertiga malam itu pun dimulai. Di dalam mobil, suasana sangat tegang. Gus Azkar menyetir dengan kecepatan tinggi, sementara Rina terus merapalkan doa di sampingnya.

Mobil melaju membelah kegelapan malam yang dingin. Suara mesin dan guncangan halus kendaraan di jalanan aspal yang sepi ternyata menjadi pengantar tidur yang tak terelakkan bagi Rina. Rasa lelah yang teramat sangat—akibat aktivitas pindahan, cedera kaki, hingga "drama" tengah malam bersama Gus Azkar—membuat pertahanan matanya runtuh.

Gus Azkar yang fokus menyetir sesekali melirik ke samping kiri. Ia melihat kepala Rina mulai terangguk-angguk kecil. Tak lama kemudian, kepala istrinya itu perlahan terkulai dan bersandar di kaca jendela mobil. Mukena putih yang ia kenakan tampak sedikit berantakan di bagian bahu, namun cadar marunnya masih terpasang rapi, naik-turun seiring dengan napasnya yang mulai teratur.

Melihat hal itu, Gus Azkar memelankan sedikit kecepatannya. Saat lampu merah di persimpangan jalan menuju terminal, ia mengulurkan tangan kirinya. Dengan sangat lembut, ia menarik kepala Rina agar bersandar di bahunya, bukan di kaca mobil yang keras dan dingin.

"Tidurlah, Sayang... maaf sudah menyeretmu dalam urusan ini," bisik Gus Azkar nyaris tak terdengar.

Di kursi belakang, Ustadz Fadly, Ustadz Bian, dan Ustadz Zidan terdiam. Fadly dan Bian memilih membuang muka ke arah jendela, pura-pura tidak melihat kemesraan itu demi menjaga perasaan. Sementara Ustadz Zidan, ia hanya bisa menatap pantulan wajah Rina yang terlelap dari kaca spion tengah dengan tatapan yang sangat sulit diartikan—campuran antara rindu, perih, dan penyesalan.

"Fad, tolong ambilkan selimut kecil di jok belakang," perintah Gus Azkar tanpa menoleh.

Fadly dengan sigap memberikan kain sarung bersih yang ada di tas cadangan. Gus Azkar kemudian menyelimuti tubuh Rina hingga sebatas dada dengan satu tangan. Ia memastikan istrinya itu tetap hangat di bawah embusan AC mobil yang cukup kencang.

Rina sama sekali tidak terusik. Ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di bahu Gus Azkar, mencari posisi nyaman. Bagi Rina, bahu suaminya adalah tempat paling aman di dunia, bahkan di tengah pengejaran santri yang kabur sekalipun.

"Gus, itu di depan! Ada kerumunan di dekat pangkalan ojek," bisik Ustadz Bian tiba-tiba, menunjuk ke arah sekumpulan remaja yang tampak mencurigakan dengan tas-tas besar di pundak mereka.

Gus Azkar menajamkan pandangannya. Amarah kembali naik ke dadanya melihat santri-santri itu, namun ia tetap menjaga tubuhnya agar tidak banyak bergerak, tidak ingin membangunkan "mutiara" yang sedang tidur pulas di bahunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!