Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan di pesantren
Berita itu meledak seperti petir di siang bolong. Belum selesai urusan klaim anak dari Anis, media sosial kembali diguncang dengan munculnya foto-foto dan video masa lalu Zayn yang sangat kontras dengan imej "Gus" yang ia sandang sekarang.
Dalam foto-foto yang beredar, Zayn terlihat mengenakan jaket kulit, rambutnya acak-acakkan, tangan kirinya memegang botol whisky, sementara tangan kanannya menjepit rokok. Bahkan, ada potongan video buram yang menunjukkan Zayn tengah berada di tengah hiruk-pikuk lantai dansa sebuah klub malam di Jakarta.
"Gus Zayn: Suci di Pesantren, Liar di Masa Lalu?" begitulah judul tajuk berita utama di mana-mana.
Suasana pesantren menjadi sangat mencekam. Para wali santri mulai bertanya-tanya, dan kasak-kusuk di antara pengurus semakin kencang. Abi Rahman terlihat terduduk di kursi ruang tamu dengan wajah pucat, sementara Umi Khadizah tak henti-hentinya memutar tasbih dengan mata berkaca-kaca.
Di dalam kamar, Abigail hanya bisa terpaku menatap layar ponselnya. Foto-foto itu nyata. Itu memang suaminya.
Pintu kamar terbuka. Zayn masuk dengan langkah berat. Wajahnya terlihat sangat lelah, namun matanya tetap tajam. Ia melihat Abigail yang sedang menatap foto-foto masa lalunya yang kelam.
"Abby..." suara Zayn terdengar serak.
Abigail mendongak, matanya merah karena menahan tangis. "Jadi ini benar? Botol ini... rokok ini... klub ini?"
Zayn duduk di lantai, tepat di depan kaki Abigail. Ia tidak mencoba mengelak. "Iya, itu benar. Itu saya sepuluh tahun yang lalu. Saya tidak pernah bilang saya suci sejak lahir, Abby. Saya sudah pernah bilang kalau saya dulu sangat nakal, pernah minum, dan pernah jatuh ke lubang hitam."
Zayn menarik napas panjang, mencoba menahan emosinya. "Foto itu diambil saat saya sedang dalam titik terendah hidup saya. Tapi Abby, tolong dengar... foto-foto itu sengaja disebarkan oleh pihak Anis untuk menghancurkan kredibilitas saya supaya orang-orang percaya pada fitnah anak itu."
Zayn menggenggam tangan Abigail, mengusapnya dengan ibu jari. "Aku memang memegang botol itu, tapi aku tidak pernah meniduri wanita mana pun. Aku memang merokok dan joget di sana, tapi itu adalah masa yang sudah aku kubur dalam-dalam dengan taubat nasuha."
Zayn berdiri, ia mengambil jubah dan pecinya. "Aku akan keluar sekarang. Aku akan menghadapi media dan seluruh santri. Aku tidak akan lari dari masa laluku, karena masa laluku yang pahit itulah yang membawaku menjadi pria yang mencintaimu sekarang."
Abigail melihat suaminya begitu tegar. Ada rasa bangga sekaligus sakit di hatinya. Sebelum Zayn keluar, Abigail menarik tangan suaminya.
"Zayn, tunggu," Abigail berdiri, merapikan kerah baju koko Zayn. "Kalau mereka menghujatmu karena masa lalumu, biar aku yang mengingatkan mereka bahwa Allah saja Maha Pengampun. Aku akan berdiri di belakangmu."
Zayn tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kekuatan. Ia mengecup dahi Abigail dengan sangat lama. "Terima kasih, istriku. Doakan aku agar lisan ini tetap dijaga oleh-Nya."
Zayn berjalan keluar gerbang pesantren di mana puluhan kamera wartawan sudah menunggu. Dengan tenang, ia berdiri di depan pengeras suara.
"Saya tidak akan menyangkal foto-foto itu," suara Zayn menggema, tenang dan berwibawa. "Itu adalah masa jahiliyah saya. Saya adalah pendosa yang sedang berusaha memperbaiki diri. Namun, satu hal yang perlu saya tegaskan, masa lalu yang nakal tidak membuat fitnah tentang anak itu menjadi benar. Saya tetap menantang tes DNA hari ini juga!"
Keberanian Zayn membuat para wartawan terdiam. Sementara di kejauhan, Anis tampak mulai panik karena rencananya untuk menghancurkan mental Zayn justru membuat sosok Zayn terlihat lebih ksatria karena mau mengakui kesalahannya di masa lalu.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading😍